We Got A Baby [Part 8]

Tittle      : We Got A Baby

Author  : Little Fairy

Cast       : Tiffany Hwang, Lee Jinki

Cameo  : Kim Jonghyun , Park Jiyeon, & Other

Genre   : Romance, Angst

Rating   : PG+13

Length  : Chaptered

Disclaimer : I don’t own Tiffany,Jinki,Jonghyun, & Jiyeon . They belong’s to themselves and SM entertainment. I’m just the owner of the story

***

 

WE GOT A BABY

Written By Little Fairy

 

***

Jinki menatap foto di tangannya dengan nanar, di foto itu ada Dirinya dan Jiyeon yang tengah tidur berdua dengan posisi Jiyeon memeluk Jinki dan tubuh yang tertutup selimut.

“Shit! Kenapa ada masalah baru lagi!” pekiknya kesal. Jinki bangkit dan memasukan foto-foto itu ke dalam amplop coklat di dekatnya, ia memasukan amplop itu ke dalam saku di balik jasnya dan berjalan keluar rumah.

***

21.00 KST

Jonghyun sibuk membersihkan cafénya, seluruh kariawan ia perintahkan untuk segera pulang dan café miliknya itu tutup lebih awal.

Jonghyun meletakan kemocengnya di atas meja casir seraya melap peluh yang bercucuran dari kepalanya. “Ini sangat melelahkan.” Keluh Jonghyun

Tiba-tiba pintu café terbuka, Jonghyun menoleh dan di lihatnya Tiffany berdiri tepat di tengah-tengah pintu café dengan kondisi yang cukup menyedihkan.

“Fany…” Gumam Jonghyun pelan , Air mata Tiffany lagi-lagi tumpah. Ia menangis dan berlari memeluk Jonghyun.

“Fany!” pekik Jonghyun kaget ketika Tiffany memeluknya

“Jjong!!” jerit  Tiffany histeris

“K-kau kenapa?”

***

Jinki keluar dari ruang kerjanya dengan wajah yang nampak resah, ia menghela nafas pelan untuk menghilangkan sedikit rasa stresnya.

“Jinki annyeong!” sapa seseorang dengan suara yang sudah tak asing lagi bagi telinga Jinki

Jinki mengangguk dan menatap sosok Jiyeon dengan nanar.

“Jinki gwenchana?” tanya Jiyeon lagi , Jinki makin menatapnya nanar.

“Kebetulan sekali, bisa kita bicara Jiyeon~sshi?” tanya Jinki dingin

Jiyeon menaikan alisnya,ia sempat menatap Jinki aneh dan curiga namun segera di hapusnya pikiran itu dan mengangguk pelan.

“Baiklah, ayo ikut aku.” Kata Jinki dingin seraya berjalan mendahului Jiyeon

***

“Jadi apa yang mau kau katakan?” tanya Jiyeon to the point saat mereka tengah duduk di bangku panjang di sebuah taman.

Jinki membuka jasnya dan mengambil amplop coklat di dalamnya, ia lantas melemparkan amplop itu tepat pada Jiyeon.

“Igeo mwoya?” tanya Jiyeon bingung

“Kau lihat saja sendiri!” kata Jinki dengan sinis

Jiyeon membuka amplop tersebut dan melihat foto-foto itu, ia sempat tersenyum licik namun senyumannya itu langsung berubah jadi ekspresi kekecewaan.

“Ini foto kit-“

“Aku tidak pernah melakukan itu bersamamu, kau tahu!” potong Jinki dengan sedikit membentak

Jiyeon kaget dan setetes air matapun jatuh di pipinya “Ji-jinki… kau …. Kau melupakan kejadian itu?! Kejam sekali!!” jerit Jiyeon

Jinki menyeringai kecil “Melupakan kejadian apa?! Aku tidak pernah merasa melakukan itu denganmu!! Kau tahu aku sudah memiliki istri dan untuk apa aku melakukan itu denganmu!” bentak Jinki

“Hiks…hiks…” Jiyeon terisak “Waktu itu aku hanya mabuk dan kau membawaku ke kamar hotelku. Itu mungkin bisa menjadi peluangmu untuk merekayasa suatu kejadian untuk merusak pernikahanku.” Kata Jinki tak suka.

“Kau menuduhku merekayasa kejadian itu?”

“Ne…”

“Aku tidak menyangka kau bisa sepicik itu.” Lirih Jiyeon

“HARUSNYA AKU YANG BICARA SEPERTI ITU!!! TAK KUSANGKA KAU BISA MENJADI SEPICIK ITU PARK JIYEON!!!” kata Jinki penuh penekanan.

Jinki bangkit dari bangku dan menatap Jiyeon nanar “aku kira kau adalah gadis manis ternyata…sudahlah lupakan.” Jinki kemudian pergi meninggalkan Jiyeon.

“Ish…” Jiyeon berdecak pelan

“Sial!!”

***

Jinki membuka pintu rumahnya , ia melangkahkan kaki masuk dan melihat rumahnya begitu gelap.

“Kemana Tiffany? Apa dia belum pulang?” batin Jinki , Ia menghidupkan saklar dan mendapati keadaan rumahnya masih sama seperti tadi pagi setelah ia tinggal.

“Dia kemana ya? Apa dia marah padaku?” tanya Jinki pada dirinya sendiri, Jinki mulai bimbang. Ia kemudian keluar dari dalam rumahnya dan memutuskan untuk mencari Tiffany.

***

“Jadi Jiyeon hamil?!” tanya Jonghyun histeris

Tiffany mengangguk pelan “Ia bilang bahwa ia hamil dan ia menginginkan Jinki untuk bertanggung jawab.” Lirihnya

Jonghyun menghela nafas pelan dan tersenyum kecil tanpa di ketahui Tiffany “Jika begini kau harus menceraikan Jinki.” Kata Jonghyun memberi jawaban

Tiffany tersentak mendengar perkataan Jonghyun barusan, entah mengapa ia begitu sakit mendengar kata cerai dari bibir Jonghyun, seolah ia tak mau untuk berpisah dengan Jinki.

“bisakah jika-“

“hanya cerai… ya bercerai itulah jalan satu-satunya.” Potong Jonghyun

Tiffany menunduk dan mendesah pelan, ia kemudian mengangkat cangkir cappucino yang di berikan Jonghyun tadi dan menyesap capucinnonya itu perlahan.

“Aku tak yakin aku akan mampu.” Gumam Tiffany

“Kurasa kau mampu.” Kata Jonghyun pelan

“Semoga.”

***

Jinki sudah mengelilingi seluruh kota Seoul dan mengunjungi semua tempat yang sering di kunjungi Tiffany, tapi yeah ia belum menemukanTiffany sampai sekarang.

“Kau di mana sekarang? Tahukah kau aku begitu mencemaskanmu?” celoteh Jinki sambil menyetir mobil.

Tiba-tiba ia teringat akan Jonghyun dan cafenya. Rasanya ia tahu Tiffany ada berada di mana, Jinki segera memutar balik mobilnya dan melaju kencang menuju café milik Jonghyun.

***

Jinki menghentikan mobilnya tepat di depan café Jonghyun, ia turun dari mobil dan menatap café Jonghyun itu lekat-lekat. Ia menarik nafas sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam café.

Cklek…

“Hhhh…” Jinki menghela nafas ketika mendapati Tiffany yang tengah di peluk oleh Jonghyun

“Jinki!!” Tiffany terkesiap, ia segera menarik tubuhnya dan berdiri. Ia menatap Jinki dengan sangat terkejut, tapi ketika ia mengingat foto dan pernyataan Jiyeon tadi siang raut wajahnya seketika langsung berubah. Ia kembali duduk dan membuang muka.

Jinki menghela nafas pelan dan menghampiri Tiffany.

“Kita pulang.” Katanya lembut seraya mengulurkan tangannya pada Tiffany

“…” tak ada jawaban

“Fany…” lirihnya

“Pulanglah, aku ingin disini.” Katanya pelan

“Ayo kita pulang dan selesaikan masalah ini.”  Kata Jinki lagi

“Aku tidak mau! Aku mau tetap disini!” pekik Tiffany

Jinki mendengus kesal dan meraih pergelangan tangan Tiffany serta mencengkramnya dengan kuat.

“Kau harus mengikuti perintah Suami!!” kata Jinki keras seraya menarik tangan Tiffany

Jonghyun berdiri dan mendelik pada Jinki “Dia bilang dia tidak mau dan tetap ingin disini!!”

Jinki tersenyum kecut “Lantas apa peduliku? Dia istriku dan aku harus membawanya pulang!!” pekik Jinki

“Jinki lepaskan aku!!” Tiffany mencoba melepaskan cengkraman Jinki

“Kau harus pulang!!”

“Ya lepas-“

Bughhh Jinki melayangkan tinjuan ke pipi Jonghyun saking geramnya “Jangan ikut campur!”

“Jonghyun gwenchanayo?!” tanya Tiffany panik seraya segera menghampiri Jonghyun, namun tiba-tiba tangan Jinki menahan pergelangan tangannya dan menariknya keluar.

“Kita pulang!” kata Jinki sebal

“Ya! Lepaskan aku! Aku tidak mau pulang!!” teriak Tiffany seraya mencoba melepas cengkraman tangan Jinki.

“Ikut aku!” paksa Jinki seraya menarik Tiffany keluar dari dalam café Jonghyun.

Jonghyun terdiam dan menatap punggung Jinki dengan sinis.

“Akan kupastikan kau tak akan pernah bisa menyakiti Tiffany lagi.” Gumam Jonghyun

***

Cklek…

Jinki menarik Tiffany masuk ke dalam kamarnya dan menorong tubuh istrinya itu pelan di ranjang, ia berdiri di hadapan Tiffany dan menatap istrinya itu nanar begitu juga sebaliknya.

“Foto-foto itu , semuanya bohong.” Ujar Jinki pelan

Tiffany tersenyum kecil “sudahlah tidak usah di pikir! Aku sudah tak peduli lagi dengan foto-foto itu!!” kata Tiffany dingin.

Jinki menghela nafas pelan “Aku bersungguh-sungguh, ku mo-“

“Aku juga bersungguh-sungguh.” Potong Tiffany “Aku sudah tidak peduli lagi dengan itu dan aku sudah lelah.” Sambung Tiffany.

Jinki menaikan sebelah alisnya dan menatap Jiyeon bingung “Maksudmu?”

Tiffany menghela nafas dan sebisa mungkin untuk tersenyum “Aku mau kita bercerai.” Lirihnya

“Mwo? Michyeoso!! Geotjimal!!” kata Jinki tak percaya

Tiffany tertawa pelan nan hambar “ani… aku tidak bohong dan aku tidak gila.” Kata Tiffany

“Kau gila Tiffany! Jika kita bercerai bagaimana nasib an-“

“Bagaimana juga nasib anak Jiyeon.” Potong Tiffany lirih

“Anak Jiyeon?” Jinki mulai bingung “Maksudmu?”

Tiffany tersenyum kecut “Jiyeon hamil dan kau harus bertanggung jawab.” Jawab Tiffany lirih

“Mwo?! Mworago?! Kau bercanda Fany!! Bagaimana mungkin Jiyeon bisa hamil?! Kami tidak pernah melakukan apa-apa bagaimana mungkin itu bisa terjadi, gila!!” pekik Jinki tak percaya

“Sudah ada bukti dan kau masih mengelaknya?! Kau memang bajingan!!” benta Tiffany “Jiyeon sendiri yang mengatakan padaku bahwa dia hamil dan Kau harus bertanggung jawab atas perbuatan bejatmu itu.”

“Tap-“

“Sudahlah aku lelah dan ingin istriahat, bisakah kau keluar?” tanya Tiffany terisak

“Fany…”

“Please…”

“Hmmm… baiklah.” Jinki keluar dan menutup pintu kamar , ia menjambak rambutnya frustasi dan bertanya dalam hati ‘bagaimana bisa masalah seperti ini menimpaku?”

Sedangkan Tiffany di dalam kamar ia hanya bisa menangis dalam diam sabil mencengkram separi kasurnya.

***

Jinki duduk di sofa sambil termenung. Ia masih terus memikirkan ucapan Tiffany sesaat yang lalu.

“Bercerai, apakah ia benar-benar menginginkan itu?  Ah tidak, itu tidak mungkin. Aku tahu Tiffany mencintaiku dan dia tidak mungkin begitu saja ingin melepasku. Ia pasti hanya termakan emosi sesaat.” Jinki masih kalut atas semua hal yang benar-benar menakutkan baginya.

Cklek…

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Jinki mendongak dan di lihatnya Tiffany yang tengah berjalan menghampirinya.

“Kau tidak sungguh-sungguhkan dengan perkataanmu tadi.” Kata Jinki to the point

“Aku bersungguh-sungguh. Kau harus menjaga Jiyeon.” Lirih Tiffany

“Hahahaha… bagaimana mungkin bisa!”

“Jinki!! Jiyeon hamil dan kau harus menjaganya!!” kata Tiffany dengan nada tinggi dan penuh penekanan “bagaimanapun juga, bayi dalam kandungannya adalah anakmu.” Suaranya mulai mengecil

“Lalu bagaimana denganmu? Kau juga tengah mengandung anakku Fany~ah.” Kata Jinki lembut

“Aku bisa mengurusnya sendiri.” Kata Tiffany pelan

“Bohong! Kau tidak akan mungkin bisa mengurusnya sendiri!!” pekik Jinki tak suka

“Kalaupun tak bisa, masih ada umma dan appa yang akan membantuku. Juga Jonghyun.” Kata Tiffany lagi

Jinki berdecak sebal “Jonghyun?! Ooh aku tahu, pasti itu alasanmu ingin bercerai denganku? Laki-laki itukan?” pekik Jinki

“Ani… aniyo… bukan Jonghyun, Jonghyun tak ada hubungannya dengan semua ini.”

“Uhuh? Benrkah itu? Aku tak yakin.” Kata Jinki acuh dan tak suka

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Hhhhh…” Jinki menghela nafas

“Baiklah, Jika itu yang kau mau, aku akan melakukannya.” Kata Jinki pada akhirnya.

Sesaat kemudian keadaan di dalam ruangan itu mendadak hening.

“Tapi…” Jinki kembali membuka suara, Tiffany mendongak dan menatap Jinki sendu

“Bisakah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?” Tanya Jinki pelan dan dengan nada yang cukup sedih.

Mata Tiffany berkaca, kepalanya perlahan mengangguk pelan dan tanpa perlu di beri aba-aba kedua tangannya langsung melingkar memeluk tubuh Jinki dan Jinki membalas pelukan dari istrinya itu.

Tiffany menangis dalam diam di pelukan Jinki, sesungguhnya ia masih tidak mau jika harus berpisah dengan Jinki, tapi apa mau di kata semua ini harus berakhir.

Perlahan Jinki menarik Tiffany keluar dari kepalanya, di angkatnya dagu Tiffany dan di tatapnya mata Tiffany yang berkaca, matanya yang sembab, pipinya yang basah , dan wajah sendunya, ia benar-benar merasa bersalah.  Pelan-pelan Jinki mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany dan ia kemudian mencium bibir Tiffany pelan dan dengan lembut.

Mereka masih terus berciuman, ciuman yang dapat di sebut dengan ciuman basah karena di bumbui dengan air mata.

***

Tiffany selesai mengepak baju-bajunya ke dalam koper, mulai hari ini ia akan tinggal di rumah orangtuanya sampai siding perceraiannya dan JInki di laksanakan.

Tiffany kemudian keluar dari kamar dan mendapati Jinki yang tengah duduk di sofa dengan wajah kusut. Ia berjalan menghampiri Jinki dan duduk di samping suaminya itu.

“Gwenchana?” Tanya Tiffany pelan

“Kau bisa lihatkan? Keadaanku sangat buruk.” Jawab Jinki frustasi.  Tiffany yang mendengar itu sebenarnya merasa sakit, terutama hatinya. Tahukah Jinki bahwa sebenarnya bukan hanya dia yang keadaannya buruk tapi Tiffany juga. Tiffany menghela nafas dan mencoba tersenyum. Ia kemudian mencubit pipi Jinki dan menariknya “Kau tidak boleh  dalam keadaan buruk! Kau harus dalam keadaan baik! Arra?!” kata Tiffany sambil cengengesan.

Jinki menarik tangan Tiffany dan menatap istrinya itu tajam, membuat Tiffany sedikit salah tingkah.

“Bagaimana mungkin aku bisa baik jika tidak ada kau di sampingku.” Katanya pelan

Deg…

Jantung Tiffany berdegup tak karuan, ingin rasanya saat itu juga ia bilang ‘AKU JUGA SAMA SEPERTIMU’ tapi ia tidak bisa.

“Hahaha… sudah aku tidak mau mendengar itu. Lebih baik sekarang kau antarkan aku ke tempat umma.” Tiffany bangkit dan menarik kopernya keluar.

Sedang Jinki ia hanya dapat menghela nafas pelan dan kecewa.

***

Jiyeon berjalan masuk ke dalam café Jonghyun dan menghampiri Jonghyun yang tengah duduk sambil memainkan piano.

“Ya!” pekik Jiyeon membaut Jonghyun menghentikan permainan pianonya

“Wae? Wae gurae?” Tanya Jonghyun bingung seraya menatap Jiyeon aneh

“Apakah Tiffany dan Jinki akan segera bercerai?” tanyanya pada Jonghyun harap-harap cemas

“Entahlah, tapi menurutku mereka akan bercerai.” Jawab Jonghyun santai sambil kembali memainkan pianonya.

“Ini jawaban pasti atau tidak Kim Jonghyun?” Tanya Jiyeon sebal dan penuh penekanan

“Jika kau mau jawaban pasti , kau langsung tanyakan saja pada mereka berdua.” Ujar Jonghyun tak peduli

“Kau…ish… sudahlah aku malas berdebat denganmu.” Jiyeon kemudian berjalan meninggalkan Jonghyun dan keluar dari dalam café itu.

Jonghyun menghentikan permainan pianonya dan menoleh ke belakang, menatap punggung Jiyeon yang makin menjauh.

“Kenapa ia begitu menggebu-gebu seperti itu?” batin Jonghyun.

Jonghyun mengangkat bahunya tak tahu, di satu sisi ia mulai mencurigai Jiyeon tapi di sisi lain ia merasa tak perlu mencuriga Jiyeon.

Jonghyun kemudian kembali memainkan pianonya.

***

“Aku antar sampai sini saja ya. Sampaikan salamku pada umma.” Kata Jinki pada Tiffany

“Ne… hati-hati di jalan.” Pesan Tiffany

“Ya… aku pergi dulu.” Jinki kemudian membawa laju mobilnya dari pekarangan rumah Tiffany.

Sesaat kemudian Tiffany berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan menarik koper yang di bawanya dari rumah tadi.

***

“Annyeong~… Jiyeon~ah bisa kita bertemu? Ne ada yang ingin ku bicarakan, penting.” Jinki mengakhiri percakapannya di telpon dengan Jiyeon. Seraya kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku kemejanya.

Ia memutar balik mobilnya dan membawa laju mobilnya menuju tempat ia dan Jiyeon akan bertemu.

***

Jinki turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam sebuah restaurant yang berada di pinggir jalan raya Seoul. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari sosok Jiyeon.

“Itu dia.” Batin Jinki saat ia berhasil menemukan tempat Jiyeon duduk.

Ia kemudian segera berjalan menghampiri JIyeon.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Kata Jinki seraya kemudian duduk di hadapan Jiyeon

“Gwenchana, aku juga barusan saja datang. Kau mau bicara apa?” Tanya JIyeon langsung

Jinki menghela nafas dan menatap Jiyeon lekat “Apa kau benar-benar tengah mengandung anakku?” Tanya Jinki dingin

Jiyeon menelan ludahnya dan entah kenapa ia merasa tubuhnya bergetar hebat.

“Eh…ahh…i..iya.” katanya tergagap

“Apa kau yakin dengan jawabanmu itu? Kau sudah melakukan tes kehamilan? Apa kau sudah mengeceknya dengan tespack?” Tanya Jinki mendesak

“Tentu saja kau yakin. Aku sudah mengeceknya dengan testpack.” Jawab Jiyeon

“Benarkah? Boleh aku lihat hasil tespacknya?” Tanya Jinki lagi yang membuat Jiyeon bingung setengah mati

“Aku sudah membuangnya, lagi pula untuk apa aku menyimpan testpack di dalam tas.” Sanggah Jiyeon

“Ooh begitu. Tes kehamilan melalui lab? Sudah?” Tanya Jinki lagi semakin mendesak.

Lagi-lagi Jiyeon berbohong “sudah.” Jawabnya enteng

“Oh, boleh aku lihat hasilnya?” Tanya JInki

“Kenapa aku begitu ingin tahu huh?!” bentak Jiyeon kesal, ia sangat kesal dengan Jinki yang terus bertanya seolah mendesak ia berkata bahwa ia telah membohongi Tiffany.

“Memang salah ya aku bertanya?” Tanya JInki balik

“Hhh…tidak tapi…”

“Kalau begitu kau tidak usah marah.” Potong Jinki

“Hhhh…” lagi-lagi Jiyeon menghela nafas  “Baiklah aku tidak akan marah.” Kata Jiyeon akhirnya

“Bagus.” Jinki tersenyum puas.

“Jiyeon~a, mau ikut aku pergi sebentar?”

“Kemana?”

“Kerumah sakit?”

“O.o” Jiyeon membulatkan matanya “Untuk apa?!” tanyanya panic

“Memeriksa kau hamil atau tidak…”

“Mwo…?!”

Jinki berdiri dan meraih tangan Jiyeon seraya kemudian menarik Jiyeon keluar dari café dengan sedikit memaksa.

TBC….

Advertisements

One response to “We Got A Baby [Part 8]

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s