We Got A Baby [Part 7]

Tittle : We Got A Baby

Author : Little Fairy

Cast : Tiffany Hwang, Lee Jinki

Cameo : Kim Jonghyun, Park Jiyeon & other

Genre : Romance, a little bit comedy

Rating : PG+13

Length : Chaptered

Disclaimer : Only plot my own. The cast in here belong’s their agency.

***

We Got A Baby

Written By Little Fairy

***

 “Yeobse-“

“Jjong…. hiks…hiks…” potong Tiffany dengan terisak

“Fany~ah… wae? kau menangis eh?” tanya Jonghyun khawatir

“Kau ada di mana? hiks?”

“Aku ada di cafe sekarang, kenapa memangnya?”

“Bisa kita bertemu?” tanya Tiffany tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun

“Hemmm… yya, kau bisa ke cafeku sekarang akan ku tunggu.”

“Gomawo jjong…”

Tut…tut…tut…

***

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar Jinki, Jinki mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat sebelum seluruh nyawanya terkumpul.

Ia merubah posisinya menjadi duduk dan melihat ke sekitarnya. Sedikit bingung dan nampak seperti orang linglung, begitulah keadaan Jinki saat ini.

Ia menatap ke arah cermin yang berada agak jauh dari tempat tidrunya.

“Siapa yang membawaku kemari? bukannya semalam ada di kedai? teman-temanku kah yang membawaku kembali? dan kenapa… oh kenapa aku bertelanjang dada sekarang?”

Jinki mengacak rambutnya bingung dan ia mulai berfikir yang tidak-tidak atau berfikiran negatif. Namun ia berusaha menepis fikiran negatif itu dari kepalanya dan mencoba berfikir positif.

“Always positive thinking Jinki.” katanya pada dirinya sendiri, sebelum bangkit dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.

***

Jonghyu menyesap vanilla latte yang ada di hadapannya perlahan, seraya kemudian meletakannya kembali ke atas meja.

Di tatapnya cangkir vanilla latte itu dengan bosan, bagaimana tidak sudah hampir setengah jam ia menunggu seseorang dan vanilla lattenya pun sudah hampir habis sekarang, ini adalah vanilla latte ke tiganya jika kalian mau tahu.

“Fany mana sih? katanya mau datang kesini.” Jonghyun mulai bosan dan mulai marah-marah tak jelas pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba suara bel cafenya berbunyi, bel yang menandakan ada seorang pengunjung baru. Jonghyun mendongak dan melihat seorang gadis yang di carinya sedari tadi tengah berjalan masuk ke dalam cafe dengan wajah yang tertunduk.

Jonghyun segera berdiri saat melihat gadis itu berlari ke arahnya dan tiba-tiba saja gadis itu langsung memeluknya dan menangis di dadanya.

Ok, Jonghyun tahu benar apa permasalahan gadis ini sampai dia menangis sebegininya.

“ada apa denganmu? apa kau ada masalah?” tanya Jonghyun lembut

Tiffany mengangguk pelan “A-aku… aku kecewa.” ucapnya terisak

“Ke-kecewa?” tanya Jonghyun terbata “kecewa kenapa?” sambungnya

“Jinki…”

“Jinki? kenapa dengan Jinki?” tanya Jonghyun pura-pura tak tahu

“Di-dia…hiks..hiks…”

“Duduklah,, dan tenangkan dirimu dulu. Baru kau ceritakan padaku pelan-pelan. Ok.” kata Jonghyun seraya melepas pelukannya dan mengajak Tiffany duduk.

Tiffany menyeka air matanya dan mulai menceritakan semua hal yang membuatnya benar-benar kecewa dan menangis sejadinya hari ini.

***

Jinki keluar dari kamarnya semalam dan kemudian berjalan turun ke lantai bawah, berjalan menuju restaurant yang berada di hotel tempatnya menginap bersama rekan-rekannya.

Sesampainya di resturant, ia sudah melihat rekan-rekannya berkumpul di meja sambil berbincang-bincang.

Ia kemudian duduk di sebelah salah satu partnernya. Ia menyapanya sebentar sebelum memesan sarapan pagi untuknya.

Setelah memesan sarapan untuknya, ia kemudian menyandarkan dirinya ke punggung kursi dan melihat semua orang yang berada di situ secara bergantian.

Mana Jiyeon? kemana dia? batin Jinki.

Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang janggal saat melihat Jiyeon tak berada di sekitar mereka.

“Hyung…” Jinki menyenggol salah satu partner di sampingnya, orang yang merasa di panggil itu pun segera menoleh dan meresponnya.

“Wae?”

“Apa kau tahu di mana manager Jiyeon?” tanyanya pada partner itu

“Hahaha … memangnya kenapa?” tanya partnernya

“Eh aniyo… hanya saja dia tidak ada di sini.” tutur Jinki

“Oh begitu, dia sejak tadi pagi sudah kembali ke Seoul. Katanya ada urusan mendadak.” jelas partner Jinki itu

“Oh begitu ya. Oh iya siapa yang tadi mengantarku kembali ke kamar?” tanya Jinki lagi

“Oh… itu … yang membawa mu ke kamar adalah manager Jiyeon.”

“Mwo???!!!! O.O”

***

Brakkk… Jonghyun menggebrak meja, pura-pura geram. Semua orang yang ada di situ sontak langsung menoleh ke arahnya dan Tiffany.

Jonghyun yang menyadari itu hanya tersenyum malu sambil bergumam pelan pada orang-orang disekitar situ “jeosohamnida.” gumamnya pelan

“Keterlaluan si Jinki itu!!” umpatnya kesal “apa dia itu tidak ingat kalau dia masih mempunyai istri huh? bagaimana bisa ia tidur dengan wanita lain sementara istrinya di rumah tengah mengandung anaknya. Dasar laki-laki breng***!!” Jonghyun memaki Jinki habis-habisan sedang Tiffany, ia masih terus menangis.

Jonghyun menghela nafas dan mengelus puncak kepala Tiffany, mencoba menenangkannya.

“Uljimma.”

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Tiffany lirih

“Apa aku harus menyelesaikan ini secara baik-baik dan meminta suatu kejelasan?” sambungnya lirih

“Tidak, kau tidak boleh menyelesaikannya secara baik-baik.” kata Jonghyun yang langsung membuat Tiffany menatapnya sedikit dengan tatapan aneh.

“Maksudku… tidak perlu meminta kejelasan lagi, toh semua foto-foto itu sudah menjadi bukti. Bagaimana mungkin foto itu hanya editan dari photoshop.” kata Jonghyun mendesak Jiyeon

“Tapi…”

“Kalau menurutku, lebih baik kau langsung ceraikan saja Jinki. Biar dia juga merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kau alami.”

“Tapi jjong, aku tidak bisa melakukan itu karena aku-“

“Kau harus bisa, mana mungkin bisa kau bertahan dengan orang yang kerjanya hanya bisa menyakitimu dan melukaimu. mana mungkin.” potong Jonghyun

“Kata-kata mu memang benar Jjong. Tapi-“

“Fany~ah…” lagi-lagi Jonghyun memotong perkataan Tiffany “Dengarkan aku? deurobwa jeongmal! kau tidak akan pernah bahagia bila hidup dengan Jinki, laki-laki yang hanya bisa membuatmu menangis. Tidak akan pernah bisa. Kau harus segera menceraikannya atau kau tidak akan pernah lagi tersenyum.” kata Jonghyun mencoba meracuni pikiran Tiffany

“Jjong…”

“Kau harus pikirkan perkataanku barusan! arra?!”

“Ne…” Tiffany mengangguk pelan.

“Kalau begitu aku pulang dulu Jjong. Aku butuh waktu untuk sendiri.” Tiffany beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Jonghyun.

***

Jonghyun bangkit dari tempat duduknya dan menatap Jiyeon tajam.

“Wae?” tanya Jiyeon santai

“Kau lama sekali eh?!” bentak Jonghyun

“Maaf-” jawab yeoja itu singkat

“Duduklah…” kata Jonghyun dan Jiyeon kemudian duduk di hadapan pria itu

“So? apa yang tadi kau katakan pada yeoja itu?” tanya Jiyeon

“Mempengaruhi dan terus mendesaknya.” ucap Jonghyun singkat

“Ooh… lantas apa yang akan di lakukan yeoja itu?” tanya Jiyeon lagi

Jonghyun mengangkat bahunya “tidak tahu.”

“Huh?!”

“Aku sungguh tidak tahu. Dia bilang dia harus memikirkannya dan butuh waktu untuk berpikir.” jelas Jonghyun

“Aish… repot sekali sih yeoja itu.!” batin Jiyeon

“Errr…Jiyeon~a…” Jonghyun memanggil Jiyeon pelan

“Wae?” tanya Jiyeon dengan sedikit sarkastik.

“Kurasa Tiffany mencintai Jinki.”

“Mwo? Mworago?! apa kau bilang barusan? mana uhuk uhuk mana mungkin.” kata Jiyeon sedikit terkejut sampai terbatuk-batuk

“Aku bilang kurasa Tiffany mencintai Jinki.” ulang namja itu sekali lagi

“Hahahhahaha…” Jiyeon tertawa terbahak-bahak

“Kenapa?”

“Aniya. tapi dari mana kau bisa berkata seperti itu? hey dia mengatakan langsung padaku bahwa dia tidak mencintai Jinki dan hanya menikah dengan Jinki karena ter.pak.sa!” katanya penuh penekanan pada bagian terpaksa.

“Ok… aku percaya dengan kata-katamu itu. Tapi dari sinar mata Tiffany menunjukan bahwa ia begitu…errr ya kau tahu mencintai Jinki.” ucap Jonghyun

“Kau bahkan tidak tahu isi hati Tiffany yang sesungguhnya Jjong. Jadi jangan katakan seolah kau tahu sesuatu dari matanya Ok?!”

Jiyeon beranjak dari hadapan Jonghyun dan berjalan pergi , namun sesaat kemudian yeoja itu berbalik dan kembali menghampiri Jonghyun.

“Aku akan membuat yeoja itu shock dan segera menggugat Jinki, tanpa perlu pikir-pikir lagi.”

“Ma-maksudmu?”

“Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan.” Jiyeont tersenyum evil da kemudian pergi dari hadapan Jonghyun.

***

Tiffany duduk di tepi tempat tidurnya, ia masih memandangi satu persatu foto yang ada di hadapannya.

Ia sedikit tidak percaya dengan keaslian foto itu, tapi setiap ia mengingat hubungan Jinki dan Jiyeon dulu, ia kembali berfikir bahwa foto-foto itu bisa saja benar.

“Hhhhh…” Tiffany menghela nafas sesaat dan kemudian menghempaskan tubuhnya dengan pelan ke atas kasur.

Sesaat kemudian ia teringat dengan kata-kata Jonghyun di Cafe tadi.

“Apakah perceraian dapat menyelesaikan segalanya? Apakah jika aku bercerai itu berarti aku tidak akan pernah bersedih lagi? tapi selama ini aku tidak pernah sedih karenanya. Aku malah bahagia. hhhh….” Tiffany lagi-lagi menghela nafas.

“Ottohke? jika aku bercerai dengan Jinki belum tentu aku akan bahagia bisa jadi aku malah makin terluka. Jika aku bercerai dengannya bagaimana dengan anak kami?” Tanya Tiffany terus menerus pada dirinya.

“Hhhh… aku harus berfikir positif sekarang. Siapa tahu ada pihak tertentu yang ingin membuat rumah tanggaku dan Jinki berantakan. Aku harus berfikir positif.” kata Tiffany mantap seraya kemudian menutup matanya perlahan.

***

Ting… tong…

Tifanny mengerjapkan matanya beberapa saat, mengumpulkan seluruh nyawanya. Sesaat kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya, ia menatap ke arah jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya.

“malam-malam begini siapa yang bertamu?” batinnya, ia kemudian membereskan foto-foto Jinki dan Jiyeon yang berserakan di ranjangnya, ia memasukannya ke dalam amplop dan kemudian ia letakan di laci meja.

Tiffany keluar dari kamarnya, ia kemudian mengikat rambutnya dan membuka pintu rumahnya.

“J-Jinki?? kau sudah pulang eh?” tanya Tiffany yang kaget, Jinki tersenyum dan mengangguk pelan , ia lantas memeluk Tiffany erat sangat erat.

“Nan jeongmal bogoshipo…”

“Nado…” jawab Tiffany lembut

Jinki melepas pelukannya dan sesaat kemudian ia tersenyum simpul.

“Aku lapar, apa kau sudah masak?” tanya Jinki bersamaan dengan suara music dari perutnya.

“Hahaha…” Tiffany terkekeh kecil sambil menepuk dahinya “Aigo… aku tadi ketiduran jadi gak sempat masak. Mau masak sama-sama?” tawar Tiffany

Jinki tersenyum seraya lantas merangkul lengan Tiffany “Ne,, kajja… Masak nasi goreng kimchi lagi ya. Sekarang ala Jinki dan Tiffany hehehe…”

Tiffany tertawa mendengar perkataan Jinki barusan. Tiba-tiba saja ia kembali mengingat foto-foto itu.

“Ottohke?” batinnya

***

Tiffany dan Jinki selesai memasak nasi goreng Kimchi. Mereka berdua kemudian menyiapkan makanan itu di meja makan dan makan malam dengan keadaan hikmat (?).

Jinki meletakan sendok dan garpunya, seraya menyandarkan tubuhnya di punggung kursi sambil menepuk-nepuk perutnya.

“Kenyang!! wah masakan kita berdua ternyata enak ya.” celoteh Jinki membuat Tiffany tertawa kecil.

“Errr… Yeobo… boleh aku tanya suatu hal?” kata Tiffany pelan dan nampak ragu-ragu

“Apa?” tanya Jinki balik seraya kemudian mengubah posisinya menjadi tegak.

“A…apa kau masih mencintai Jiyeon?” tanya Tiffany pelan seraya menunduk dan kemudian mengubek-ubek (?) nasi gorengnya dengan sendok.

“Hahaha… kenapa kau bertanya seperti itu huh? jelas-jelas aku ini sekarang sudah sangat sangat mencintaimu.” jawab Jinki yang langsung membuat Tiffany bernafas lega dan kemudian muali kembali berfikir positif.

“Kau bertanya seperti itu memangnya ada apa? apa kau sudah tidak percaya lagi akan cintaku yang tulus suci dan murni ini hahaha?” tanya Jinki dengan sedikit bercanda,gombal, dan sedikit di lebih-lebihkan.

Membuat Tiffany langsung tertawa ngakak sambil memukul lengan Jinki pelan.

“Hahahaha…ani, kau ini berlebihan sekali.”

“Hahaha tapi kau suka kan?” Kata Jinki sambil mengerlingkan matanya membuat Tiffany hanya menggeleng pelan.

***

2 Week Later

“Fany~ah aku berangkat dulu ya… Bye…”

Cklek…

Pintu rumah tertutup, Tiffany masih diam di atas sofa sambil menonton acara televisi hari ini.

Sesaat kemudian ia mendengar suara mobil Jinki yang meraung keras dan kemudian menghilang secara perlahan.

Tiffany bangkit dan hendak berjalan menuju kamar mandi, namun ia membatalkan niatnya tersebut ketika ia mendengar suara telpon rumahnya berbunyi.

“Yeobseyo…”

“Ah yeobseyo Tiffany~sshi. Ini aku Jiyeon, apa kau sibuk hari ini?” tanya Jiyeon

Tiffany menjawab dengan pelan “Tidak. Memangnya ada apa Jiyeon~sshi?” tanya Tiffany

“Aku ingin bertemu denganmu. Bisa? ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting. Bisakan?” tanya Jiyeon dengan sedikit mendesak

Tiffany menaikan alisnya bingung “errr…baiklah, kita bertemu dimana?” tanya Tiffany

“Di cafe Yooshin yang berada tepat di pinggir jalan pusat.”

“Ah ne, kau tunggu saja ya. Aku akan datang.” Kata Tiffany sebelum mematikan telponnya.

“Mau bicara apa dia?” batin Tiffany seraya melengos masuk ke dalam kamar mandi.

***

Jinki memarkirkan mobilnya di pinggir jalan rumahnya.

“Bagaimana bisa aku sampai lupa begini.” omel Jinki sambil menepuk jidatnya sendiri. Jinki melepas sabuk pengamannya, turun dan berlari masuk ke dalam rumahnya.

Cklek…

“Fany!! Fany! oddiseo?” tanya Jinki dengan suara keras namun tidak ada jawaban.

“Huh, kemana Fany? masa pergi tidak mengunci rumah.” batin Jinki

Tapi Jinki sudah tidak memikirkan itu lagi, sekarang yang ia pikirkan adalah proposalnya yang tertinggal.

Jinki masuk ke dalam kamarnya dan membuka laci meja kamarnya, seraya mencari-cari proposalnya.

Jinki mengambil proposalnya yang berada di dalam map berwarna biru. Jinki kemudian berdiri dan tanpa sengaja ia melihat sebuah amplop berwarna coklat yang berukuran cukup besar.

“Apa itu?” batinnya seraya menaikan sebelah alisnya, karena penasaran Jinki pun akhirnya mengambil amplop itu dan membukanya perlahan.

Ia mengambil isinya, dan saat melihat apa yang terdapat di dalamnya.

Jinki langsung membulatkan matanya dan menatap benda yang tengah di pegangnya itu dengan sangat-sangat tidak percaya.

***

Tiffany berjalan memasuki cafe yang di katakan oleh Jiyeon tadi, seraya kemudian mencari sosok Jiyeon di dalam cafe itu.

“Fany~sshi!!” terdengar suara Jiyeon yang agak keras tengah memanggilnya.

Tiffany berbalik dan menemukan Jiyeon yang tengah berdiri sambil melambai padanya di salah satu tempat di cafe itu.

Tiffany tersenyum tipis seraya berjalan menghampiri meja Jiyeon.

“Annyeong Jiyeon~sshi. Apa yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Tiffany langsung dan saat itu juga ekspresi wajah Jiyeon langsung berubah.

“Duduklah…” ujar Jiyeon, Tiffany mengangguk dan kemudian duduk di hadapan Jiyeon.

“Mianhae… aku harus mengatakan ini padamu.”

“Eh?” Tiffany menaikan sebelah alisnya

“Minta maaf? untuk?” tanya Tiffany tak mengerti

“Tiffany~sshi… A-aku hamil… A-aku hamil anak Jinki…” ujar Jiyeon terbata

“Mwo? apa yang kau katakan barusan? jangan main-main Jiyeon~sshi!!!” bentak Tiffany

“Aniya… aku tidak main-main, aku bersungguh-sungguh aku hamil anak Jinki.” kata Jiyeon ngotot

“Benarkah itu? benarkah yang kudengar barusan eh?” suara Tiffany terdengar melemah, Jiyeon hanya mengangguk pelan.

“Lantas apa yang kau inginkan?” tanya Tiffany

“Jinki bertanggung jawab atas yang ia lakukan.” kata Jiyeon yang membuat Tiffany menatapnya tidak percaya.

“Jiyeon~sshi!!” pekik Tiffany

“Jebal… aku tidak mau menanggung beban ini sendiri.” ujar Jiyeon seraya kemudian menunduk lesu.

Tiffany berdiri dan menggebrak meja, menatap Jiyeon kesal dengan mata berkaca dan sudah siap untuk mengeluarkan air mata.

“Baik jika itu yang kau mau!” kata Tiffany pasrah, seraya kemudian berlari keluar dari cafe itu. Air matanya sudah tak dapat di bendung lagi, dan saat itu juga saat ia tengah berlari ia tak bisa menahan air matanya, air matanya tumpah begitu saja.

***

Jiyeon menatap kepergian Tiffany dengan senyuman yang tak dapat di artikan.

Ia menyeringai pelan dan bersandar pada punggung kursi.

“Kau sekarang bisa merasakan bagaimana di khianati oleh orang yang kau cintai bukan?” kata Jiyeon pada sosok Tiffany yang sudah menghilang dari pandangannya.

TBC….

Arraso…. ini part yang paling ancur di bandingin dengan part-part yang lain. Ini aku bikinnya ngebut asli, soalnya banyak ulangan sekarang dan sebentar lagi juga bakal ada uts jadinya gini deh harus cepet-cepet bikinnya. Oh iya reader semua wajib komentar loh hehe,, aku pingin banget liad ff ku komentarnya di atas seratus wkwkwkwkw #khayalantingkatinggi. soalnya selama ini ku liat-liat ffku itu jarang banget ada yang komen padahal statnya tinggi banget huh >.< . Ayo donk reader…. mana komentarnya, belajarlah menghargai orang dengan memberikan komentar walau hanya sekecap dua kecap ok 😉 . Semakin banyak komentar, semakin cepat aku publish wkwkwkwkwkwkkw. Oh ya mian kalau kalian gak suka sama part ini. Gomawo ^^

Advertisements

3 responses to “We Got A Baby [Part 7]

  1. lnjut terur Thor !! 😀
    ceritanya bgus 😀
    dan aku penggemar tiffany, aku suka bgt sma ini FF 😀
    kajja Thor ^^ maju terus ^^

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s