(Ficlet) Triangel Love

Tittle      : Triangel Love

Author  : Vhii Kikey Shawol

Cast       :Choi Hye Soo, Choi Minho

Cameo  : Kim Ryeowook

Genre   : Romance, Friendship

Rating   : PG+13

Lenth    : Ficlet

Disclaimer : Plot My Own, semua di ambil dari sudut pandang Hye Soo

Note : karena ini ku post di ffi dan udah lama bgt ngepostnya jadi klu dicari mungkin udah di belakang2 bgt, jadi makanya ku publish ke sini,, semoga onnie nisa suka…^^ mian bru publish di fb,, habis males gitu dan mian juga kalau critanya geje.

(Hye Soo Pov)

Jatuh cinta, hampir semua orang pernah merasakan yang namanya jatuh cinta begitu juga denganku, aku juga tengah jatuh cinta , tapi aku tidak yakin aku jatuh cinta atau tidak padanya aku bingung.

Aku duduk memandang langit biru, memandang burung-burung yang berterbangan di langit dengan bebas dan leluasa, angin berhembus kencang membuat rambutku terkibas sepenuhnya kebelakang.

“kau sedang apa di sini Hye Soo ?”

Suara seseorang menyadarkanku, aku menoleh kebelakang dan kulihat Minho berjalan menghampiriku.

“menenangkan diri.” Kataku kembali melihat kedepan “mungkin.” Tambahku

Minho duduk di sebelahku dan menatap langit mengikutiku.

“Kau kenapa? Kau bisa cerita padaku jika kau mau.” Tawar Minho

Cerita pada Minho? Aku mau tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan pada Minho tentang perasaan yang kurasaan terhadap lelaki yang juga sahabatku dan Minho.

“hum, bercerita padamu?” tanyaku, Minho mengangguk seraya menatap ku sambil tersenyum manis.

“aku ingin bercerita tapi aku tidak yakin…” aku menunduk dan mencabut-cabut rumput-rumput yang sudah berwarna kuning.

“memang apa yang membuatmu tidak yakin?” Tanya Minho

Aku tidak menjawab pertanyaan Minho dan hanya mengangkat bahuku pelan. Suasana hening sejenak sampai aku menjawab pertanyaan Minho tadi “Hanya saja aku masih tidak yakin atas perasaan dan yang ingin ku katakan.” Tuturku

“Yakinlah, bukankah sebuah keyakinan lebih baik dari pada ketidak yakinan.” Kata Minho

Aku mendesah pelan dan menarik nafasku sebelum mulai mengatakan apa yang kurasakan pada Minho.

“Aku merasa aku menyukainya…” kataku pelan seraya kemudian menarik nafas untuk melanjutkan perkataanku.

“Aku menyukai Ryeowook, tapi aku…” aku menggantungkan kata-kataku dan melihat kelangit luas, menarik nafas lagi sebelum mulai berbicara.

“tapi aku tidak yakin dengan perasaanku ini, aku tidak tahu aku mencintainya atau tidak.” Lanjutku seraya tersenyum nanar pada rerumputan.

Aku menengok Minho dan kulihat wajahnya nampang murung dan tidak menampakkan kecerian seperti biasa dan seperti saat dia datang menghampiriku, ada apa dengannya?

“kau baik-baik saja kan?” tanyaku pada Minho

Minho menoleh kepadaku dan menatapku, seraya kemudian tersenyum dan mengangguk pelan, tapi ada yang aneh pada senyumannya, seperti di paksakan.

“aku mau kembali ke kelas dulu.” Kata Minho seraya kemudian berdiri dan membersihkan celana sekolahnya, ia kemudian berjalan meninggalkanku.

“Minho!! Minho!! Tunggu aku!!” teriak ku, aku kemudian berdiri dan membersihkan rok ku, berlari menyusulnya dan mencomba menyamakan langkah dengannya.

***

Setelah memberitahu pada Minho tentang apa yang aku rasakan terhadap Ryeowook, Minho jadi sering membantuku dalam mendekati dan menarik perhatian Ryeowook. Minho juga sering meninggalkanku berduaan dengan Ryeowook pada saat-saat tertentu.

Kurasa Minho sangat baik padaku, dan ia juga membantuku dengan tulus.

Aku menghampiri Ryeowook di kantin dan duduk di sebelahnya.

“kau lihat Minho?” tanyaku pada Ryeowook

“aku tidak melihatnya sejak tadi pagi, memangnya ada apa?” Tanya Ryeowook balik

“Humm, hanya bertanya.” Kataku

Aku melihat ke seliling sambil mengetuk-ngetuk jari-jariku di meja kantin.

“Hey, kau tidak memesan makanan atau minuman?” Tanya Ryeowook yang membuatku sedikit kaget.

“Tidak, aku tidak lapar.” Kataku, aku memang tidak lapar. Tadi pagi aku sudah makan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya dan juga aku sudah meminum segelas susu.

Aku bangkit dari kursi kantin dan hendak berjalan keluar kantin, tapi tangan Ryeowook menahanku.

Aku menoleh ke belakang dan melihat Ryeowook yang tengah menatapku dengan tatapan penuh tanda Tanya, “kau mau kemana?” Tanya Ryeowook penasaran

“errr… ketempat biasa.” Kataku, seraya kemudian perlahan melepaskan tangan Ryeowook

Aku berjalan menuju taman yang terletak di belakang sekolah, duduk di bawah pohon akasia seperti hari-hari biasanya, memandang langit biru yang cerah dan luas, juga melihat burung-burung yang tengah berterbangan bebas di atas sana.

Bingung, saat ini aku tengah bingung dengan perasaanku. Kenapa di saat Minho tidak ada aku malah merasa kesepian, padahal jika Minho tidak ada, waktuku untuk bisa lebih lama bersama Ryeowook akan bertambah banyak.

“Sedang memikirkan apa?” Tanya sebuah suara yang berasal dari sampingku.

Aku menengok ke sampingku dan begitu terkejut ketika mendapati Ryeowook tengah duduk di sebelahku.

Aku tersenyum dan melihat ke langit sebelum menjawab pertanyaan Ryeowook.

“Tidak memikirkan apa-apa, kosong.” Kataku berbohong pada Ryeowook

“huh? Benarkah? Mengapa aku kurang yakin dengan pertanyataanmu barusan ya haha…” kata Ryeowook dengan tawa yang terdengar cukup hambar atau di paksakan.

Hening, tidak ada kalimat atau pertanyaan lagi yang terlontar dari bibir kami masing-masing, terus begini sampai beberapa saat .

“Hye Soo…” panggil Ryeowook pelan , aku menoleh ke Ryeowook dan menatapnya dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahku.

“Apa?” tanyaku, memalingkan wajah dan menatap lurus ke depan.

“Aku mencintaimu, dan mau kah kau menjadi pacarku?”

Deg , kenapa denganku? Wajahku memanas dan aku yakin sekarang wajahku sudah berwarna merah seperti udang rebus.  Senang? Tentu saja senang , karena ternyata tidak hanya aku yang menyukainya tapi ternyata dia juga menyukai, dan senang juga karena ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Tapi aku merasa aneh, aku seperti merasa kalau Ryeowook bukanlah orang yang kucinta? Tapi jika bukan Ryeowook lantas siapa orang yang kucintai? Minho? It’s impossible.

“Hye Soo.”

Ryeowook memanggil namaku seraya mengibaskan tangannya di hadapanku.

“eh?” aku tersentak kaget

“kau tidak apa?”

“ya kurasa begitu.” Aku tersenyum tipis padanya

“bagaimana ? apa kau mau jadi pacarku?” Tanya Ryeowook seolah memaksaku untuk segera memutuskannya, apa yang harus katakan? Tidak mungkin aku mengatakan perasaan bimbang yang sekarang tengah melandaku. Bagaimana ini?

Entah apa yang membuatku melakukannya, tapi aku mengangguk pelan, anggukan yang mengisyaratkan bahwa aku mau untuk jadi pacarnya.

“Kau mau?” Tanya Ryeowook dengan nada penuh harap padaku

Aku menoleh ke arah Ryeowook dan tersenyum padanya kemudian kembali mengangguk “aku mau.” Kataku mantap, semoga ini bukan keputusan yang salah.

***

Aku melemparkan tasku ke atas sofa kamarku, melepas kaos kaki dan sepatu ku kemudian meletakkannya di atas rak sepatu. Berjalan menghampiri daun jendela dan melihat keluar, dedaunan yang berterbangan karena terbawa angin yang berhembus agak kencang.

Rambutkupun ikut berterbangan ke belakang, kurasakan suhu kamarku menjadi sedikit dingin, kututup jendela kamarku agar angin tidak terlalu banyak yang masuk ke dalam kamarku.

Ku hempaskan tubuhku ke atas kasur dan berguling-guling, bangkit dan duduk di atas kasur.

Minho? Kenapa aku tiba-tiba merasa khawatir padanya? Apa yang terjadi padanya?

Ish, kenapa aku jadi memikirkan Minho terus sih? Apa karena aku jatuh cinta padanya? Mana mungkin aku dan Minho selama ini hanya sahabat dan aku juga jatuh cinta bukan padanya tapi melainkan dengan Ryeowook.

Atau mungkin aku mengkhawatirkannya karena kami sering berdua ? maka dari itu sehari ia tidak masuk sekolah aku jadi mengkhawatirkannya.

Aku mengambil ponselku dari saku seragam sekolahku, membuka flip ponselku dan mencari-cari nama Minho di dalam kontak ponselku, kemudian setelah dapat akupun segera menghubunginya.

“Yeobseyo…” terdengar suara parau Minho dari seberang sana

“kau kenapa tidak masuk hari ini?” tanyaku spontan, mungkin karena begitu khawatir pada Minho

“aku sedang tidak enak badan, jadi aku tidak masuk sekolah.” Kata Minho

“Eh? Kau sakit?”

“tidak ak…”

“aku ke apertemenmu sekarang.”

Aku mematikan sambungan telpon kami dan segera bersiap ke apertemen Minho.

Dalam perjalanan Ryeowook menelponku dan menyakan keberadaanku, dan aku bilang padanya bahawa aku akan menengok Minho di apertemennya.

Yeah Minho tinggal di apertemen sendirian di apertemennya. Orangtuanya, orangtuanya tinggal di Jepang, sedang Minho tinggal di Seoul sendirian jadi jika dia sakit sudah pasti tidak ada yang mengurusnya.

Ini membuatku sungguh khawatir, eh ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat sangat begitu khawatir pada Minho? Errrrr… mungkin hanya rasa khawatir dari seorang sahabat.

Aku membuka pintu apertemen Minho dan pintunya langsung terbuka.

Tidak di kunci? Kemana perginya anak itu sampai ia lupa mengunci pintu apertemennya.

Aku berjalan menuju kamar Minho, dan kulihat Minho sedang berada di atas kasur dengan posisi setengah duduk dan punggung bersandar pada bantal-bantal yang ditumpuk tinggi sambil membanca komik.

“Kau tidak apakan?” tanyaku khawatir seraya langsung duduk di pinggir kasur dan menggenggam tangannya erat.

“kau begitu mengkhawatirkanku ya?” tanyanya dengan tersenyum tipis, wajahnya Nampak begitu pucat.

Aku mengangguk kecil, dia tersenyum ketika melihatku mengangguk.

Minho menatapku lekat, membuatku sedikit kikuk.

“apa kau sudah makan?” tanyaku mencoba mendinginkan suasana kikuk tadi

“errr… belum? Kau bawa makanan untukku?” tanyanya

“aku bawa bubur dan susu untukmu, kau mau makan kan?” tanyaku

Dia Nampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan.

“baiklah akan kusiapkan makanan untukmu, kau tunggu di sini ya.”

Aku berjalan keluar dari kamar Minho dan mempersiapkan bubur dan susu yang kubawa tadi ke dalam mangkuk dan gelas, menaruhnya di atas nampan kemudian membawanya masuk ke kamar Minho.

“Sudah siap, sekarang kau makan ya.” Kataku sambil menyiapkan sesondok bubur di hadapan Minho.

Minho membuka mulutnya dan akupun memasukan sendok-sendok berisi bubur itu ke dalam mulutnya sampai mangkuk berisi buburnya kosong.

“ini…” aku menyerahkan segelas susu pada Minho dan Minho meminumnya sampai habis.

“Aku taruh ini ke belakang dulu ya.” Kataku, Minho mengangguk pelan sambil tersenyum.

Aku membawa keluar nampan dengan mangkuk dan gelas itu, kemudian mencucinya, dan setelah semuanya tercuci aku segera kembali ke kamar Minho.

“kau harus cepat sembuh dan masuk ke sekolah, arra?” kataku

“iya…” jawabnya lemah

Aku tersenyum. “Hye Soo…” Minho memanggilku, aku menoleh ke arahnya dan mendapatinya tengah menatapku lekat-lekat.

“Apa?” tanyaku

“kenapa kau begitu perhatian padaku?”

Kata-kata Minho barusan benar-benar sukses membuatku membeku dan terdiam di tempat, kata-kata yang tak pernah ku bayangkan akan keluar dari mulut Minho.

Aku membuang muka dan melihat ke langit-langit kamarnya “entahlah, mungkin karena perasaan seorang sahabat.” Kataku

“benarkah?” , aku mengangguk pelan

“Hye Soo, aku mau mengatakan sesuatu padamu…” tutur Minho

Dan entah mengapa aku langsung menjadi deg-degan, jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Apakah orang yang kucintai Minho?

“Katakanlah…”

“I…” Minho menunduk “I Love You,Saranghaeyo” katanya tanpa melihat ke arahku

Deg…

Jantungku seperti tersengat oleh listrik, berdebar seribu kali lebih cepat dan darahku seperti berhenti. Kenapa saat Minho yang mengatakannya aku sampai seperti ini? Padahal waktu dengan Ryeowook aku tidak setegang ini.

Jadi benar orang yang ku cintai itu Minho? Dan Ryeowooklah sebenarnya yang ku anggap sebagai teman biasa?

“tapi aku…” aku menggantungkan kalimatku

Sedang Minho menatapku seakan memintaku untuk melanjutkan kalimatku.

“aku sudah berpacaran dengan Ryeowook.” Kataku tertunduk

“apa kau mencintainya?” Tanya Minho dengan nada dan raut wajah kecewa

“ani… aku baru sadar, bahwa aku tidak mencintainya tapi aku…” aku menggantungkan kalimatku, menarik nafas sejenak dan lanjut berbicara.

“Tapi aku baru sadar bahwa aku mencintaimu, na do saranghae.” Kataku tanpa berani melihat wajah Minho.

Minho memegang daguku dan mengangkat wajahku, ia tersenyum begitu manis padaku dan mencium bibirku sekilas, membuat wajahku benar-benar terasa panas.

“Ku kira cintaku bertepuk sebelah tangan.” Katanya, aku tersenyum

Tapi tiba-tiba aku teringat kembali akan Ryeowook, bagaimana jika nanti akan marah padaku dan Minho? Akan membenci dan memusuhi ku atau Minho, bahkan memusuhi kami berdua.

“kau kenapa Hye Soo?” Tanya Minho

“…” aku diam

“wajahmu Nampak pucat.”

“aku adalah orang yang jahat.” Kataku

“eh?” Minho mengangkat sebelah alisnya

“Aku pasti akan membuat hati Ryeowook terluka.” Kataku terisak, yeah air mata telah mengalir di pipiku.

Minho menarikku ke dalam pelukannya, membelai puncak kepalaku dan meletakkan dagunya di bahuku.

“aku yakin Ryeowook bisa menerima pengakuanmu.”

“jika bisa… jika tidak…” kataku tak yakin

Minho melepas pelukannya dan menatapku lekat-lekat

“kau harus yakin.”

“baiklah…” kataku , Minho tersenyum seraya kemudian melirik ke arah jam waker yang ada di sampingnya.

“Sudah malam, lebih baik kau pulang sekarang. Aku tidak mau orang tuamu mencemaskanmu.” Kata Minho

“baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Cepat sungguh.”

Aku beranjak dari kasur dan meraih tasku, kemudian keluar dari kamar dan apertemen Minho.

Baru saja aku keluar dari pintu apertemen Minho, ku lihat Ryeowook sudah berdiri  dengan posisi bersandar pada dinding di sebelah pintu Minho.

“Ryeowook.” Gumamku pelan, sangat pelan, bahkan nyaris tak dapat di dengar oleh siapapun termasuk aku.

Ryeowook menoleh dan tersenyum nanar padaku “kau tidak mencintaiku?” tanyanya

Aku tertunduk lemas dan mengangguk, mengiyakan jawaban dari Ryeowook.

Ryeowook memegang lenganku dan menarikku masuk ke dalam pelukannya, mengelus puncak kepalaku seperti yang di lakukan Minho tadi.

“tidak masalah, meskipun cintaku yang bertepuk sebelah tangan dalam kisah ini tapi bisa menjadi kekasihmu dan sempat kau cintai membuatku sedikit senang.” Tuturnya

“Ryeowook.” Aku melepas pelukkannya dan menatapnya lekat

“aku mendengar percakapan kalian tadi

“mianhae.” Kataku seraya tertunduk sedih

“kau tidak salah.” Katanya

“tapi gara-ga…”

“ssssttt….” Dia meletakkan jarinya di tengah bibirnya

“tidak ada yang salah di sini, ini semua terjadi karena takdir bukan?”

Aku terdiam dan hanya bisa menatapnya sesaat kemudian mengangguk.

“kalau begitu jangan pernah merasa kau yang salah, ok.” Kata Ryeowook seraya mengedipkan mata sebelah kirinya.

Aku tersenyum senang, ku kira Ryeowook akan marah tapi ternyata dia bisa mengerti, dan bahkan sikapnya sangat dewasa.

“ini sudah larut, biar ku antar kau pulang.” Ryeowook merangkul pundakku dan mengantarkan ku pulang.

***

Siapa pacarku sekarang? Aku sekarang tengah berpacaran dengan Minho.

Lelaki yang sesungguhnya ku cintai.

Bagaimana dengan Ryeowook? Dia bisa memahaminya dan sekarang dia juga sedang menjalin hubungan dengan adik kelasku.

Tidak pernah sebelumnya terpikir olehku, persahabatan yang kami jalin menjadi sebuah kisah cinta segitiga, dan yang bisa bersama adalah aku dan Minho sedangkan Ryeowook, seperti orang yang tersingkirkan dari kisah ini.

Tapi aku senang, meski aku tidak menjalin hubungan dengan Ryeowook, kami masih tetap bisa menjalan persahabatan kami dengan baik, persahabatan yang telah kami bina selama 2 tahun lebih ini.

Aku beruntung mempunyai sahabat seperti Ryeowook dan beruntung memiliki kekasih seperti Minho.

Jika kau menjadi aku siapakah yang akan kau pilih?

Minho ataukah Ryeowook?

Kuharap bukan Minho, karena Minho adalah kekasihku.

“Hye Soo kau sedang apa?!” Tanya Minho dari kejauhan dengan sedikit berteriak

Aku menoleh ke belakang dan tersenyum padanya “seperti biasa!” jawabku seraya kemudian berdiri dan membersihkan rok ku, kemudian berjalan menghampiri Minho.

Minho merangkul pundakku dan mengajakku kembali ke kelas.

Fin

Advertisements

3 responses to “(Ficlet) Triangel Love

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s