We Got A Baby (Part 6)

Tittle      : We Got A Baby
Author  : Little Fairy
Cast       : Tiffany Hwang, Lee Jinki
Cameo  : Kim Jonghyun, Park Jiyeon,Shin Dongho, & other
Genre    : Romance, a little bit comedy
Rating   : PG+13
Length  : Chaptered
Disclaimer : Only plot my own. The cast in here belong’s their agency.
 
 

***

We Got A Baby

Written By Little Fairy

 
***
 
Jinki berjalan melewati koridor rumah sakit untuk menuju ruang rawat Tiffany, ia baru saja dari ruang administrasi untuk melakukan pembayaran rawat inap Tiffany. Hari ini Tiffany sudah di izinkan pulang oleh dokter karena keadaannya sudah mulai membaik.
Langkahnya sempat terhenti ketika mendapati sosok Taemin, adiknya tengah berjalan menuju sebuah ruangan.
“Hey! Itukan Taemin. Mau apa dia kesini?” tanya Jinki pada dirinya sendiri.
Beberapa hari ini memang Jinki sering melihat Taemin datang ke rumah sakit dalam keadaan masih mengenakan seragam sekolah, Taemin memang menjenguk Tiffany tapi sesudah ia kembali dari salah satu ruangan yang entah berada di mana Jinki tidak tahu, karena ia merasa tidak peduli dan tidap perlu ikut campur pada urusan adiknya.
 
***
 
Tiffany dengan hati-hati menghempaskan tubuhnya di sofa, ia sangat senang karena hari ini ia sudah bisa kembali ke rumahnya.
“Hhhh… akhirnya aku boleh pulang juga.” Ungkapnya dengan sangat senang, ia merentangkan kedua tangannya dan meletakannya di punggung sofa.
“Kau lapar tidak?” tanya Jinki
Tiffany merubah posisinya menjadi tegap dan mengangguk. “Aku sangat lapar, kenapa kau mau memasak untukku?” tanya Tiffany pada Jinki
“Iya, kau mau makan apa?” tanya Jinki lembut bahkan lebih lembut dari biasanya, membuat Tiffany menaikan sebelah alisnya.
“Memangnya kau bisa masak?” tanya Tiffany ragu dengan memberikan tawa kecil di akhir kalimatnya
Pletak, sebuah jitakan pelan mendarat di kepala Tiffany membuat gadis itu meringis pelan.
“Aku bisa membuat nasi goreng kimchi.” Kata Jinki membanggakan
“Tapi hanya itukan?” tanya Tiffany lagi dan di jawab oleh sebuah anggukan oleh Tiffany
“Ya sudah kalau begitu kau masak sekarang, aku ingin bersantai dan setelah itu memakan makanan yang telah di buat oleh suamiku hehe…” kata Tiffany
“Baiklah, kau tunggu di sini aku masak dulu.” Jinki kemudian pergi ke dapur namun sesaat kemudian ia keluar dan mengambil kunci mobil.
“Kau mau kemana?” tanya Tiffany
“Ke supermarket sebentar, bahan-bahan makanan di kulkas sudah habis.” Jelas Jinki sebelum ia kemudian pergi keluar rumah.
 
***
 
“Hahaha… itu sangat lucu hahaha…” seru Tiffany dengan tawa yang bisa di bilang cukup keras, saat ini ia tengah menonton acara televisi star king yang berada di channel sbs saat ini. Tingkah dan gaya presenter Kang Hodong yang benar-benar lucu dan aneh membuatnya tak bisa berhenti mengakak, apalagi dengan artis-artis yang menjadi bintang tamunya.
Ting…tong…
Tiffany merubah posisi duduknya menjadi tegak karena kaget mendengar suara bel tadi, ia bangkit dan berjalan menuju pintu utama.
“Apa itu Jinki? Tapi kenapa ia tak langsung masuk?” batin Tiffany  seraya kemudian membuka pintu.
Tiffany terdiam memandang wanita di hadapannya, wanita yang tengah menyunggingkan sebuah senyum yang entah itu tulus atau apa.
“Annyeong Tiffany.” Sapa Jiyeon pada Tiffany
“Ada apa Jiyeon~sshi? Mencari Jinki?” tanya Tiffany to the point pada Jiyeon.
Jiyeon menggeleng pelan dan terkekeh kecil “Aniyo… aku kesini hanya mau menjengukmu. Oh iya ini bunga untukmu.” Jiyeon menyerahkan sebucket bunga pada Tiffany.
“Gomawo, silahkan masuk.” Tiffany membuka lebar pintunya dan mempersilahkan Jiyeon masuk.
Jiyeon masuk ke dalam rumah Tiffany, dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Ia juga menatap frame-frame photo Tiffany bersama Jinki yang tersusunrapi di atas kabinet-kebinet yang menempel di dinding. Matanya juga melihat ke arah sebuah frame berukuran jumbo yang tertempel di dinding, dua orang pengantin yang terlihat cukup serasi dan bahagia.
Jiyeon menyeringai “Sebentar lagi foto itu akan lenyap.” Batinnya
Tiffany menaikan sebelah alisnya saat melihat Jiyeon yang sepertinya sangat fokus memperhatikan foto-fotonya bersama Jinki “Jiyeon~sshi.” Panggil Tiffany membuat Jiyeon terkesiap dan langsung memasang senyum di wajahnya.
“Eh ada apa Tiffany~sshi?” tanya Jiyeon mencoba sesantai mungkin
“Ah… ani, duduklah di sini aku buatkan minuman dulu.” Tiffany mempersilahkan Jiyeon duduk dan ia kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan tamunya itu minuman.
 
***
 
“Aku pulang!” kata Jinki sumringah dengan membawa banyak barang belanjaan di tangannya. Jinki melihat ke sofa dan ia cukup terkejut saat mendapati Tiffany dengan Jiyeon yang tengah berbincang layaknya seorang sahabat.
“Errrr…Jiyeon. Kenapa kamu-”
“Jiyeon kesini untuk menjengukku.” Potong Tiffany dan Jinki hanya membentuk mulutnya seperti huruf “o”
“Katanya kau tadi mau memasakan ku nasi goreng kimchi, cepat sana ke dapur aku sudah lapar.” Perintah Tiffany dengan sedikit galak, dan Jinki segera berlari ke dapur membuat Tiffany dan Jiyeon terkekeh.
 
***
 
“Ayo makan, nasi gorengnya sudah matang!!” seru Jinki seraya mengangkat sebuah mangkuk besar dari pantry dan membawanya ke meja makan.
Tiffany dan Jiyeon menghampiri Jinki yang tengah berdiri di meja makan.
“Hmmm… wanginya benar-benar menggoda. Sepertinya enak.” Kata Tiffany membuat Jinki terkekeh pelan.
Tiffany duduk dan siap untuk menyantap nasi goreng Kimchi buatan Jinki tapi sesaat kemudian ia tersadar akan keberadaan Jiyeon dan mengurungkan niatnya sesaat, bermaksud menawarkan Jiyeon.
“Jiyeon~sshi ayo makan bersamaku.” Ajak Tiffany
“Ah ani…” Jiyeon melambai-lambaikan tangannya arti kata ia menolak ajakan Tiffany. “Ini sudah terlalu malam, sebaiknya aku pulang dan makan di rumah.” Tolak Jiyeon lembut
“Oh begitu ya..”
“Errr Tiffany~sshi , Jinki~a aku pulang dulu. Annyeong” Jiyeon membungkukkan badannya empat puluh lima derajat sebelum akhirnya berjalan keluar.
“Ya! Temani Jiyeon keluar.” Pekik Tiffany galak sehingga membuat Jinki langsung lari keluar menyusul Jiyeon.
“Hahaha…” Tiffany langsung tertawa terbahak-bahak melihat sikap Jinki barusan, sikap yang terkesan sangat lucu.
“Dia pantas di sebut sebagai suami takut istri kkkkk~…” gumam Tiffany seraya kemudian menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
 
***
 
“Jiyeon~a gomawoyo.” Kata Jinki , ia menyunggingkan senyum pada Jiyeon.
“tidak usah berterimakasih, aku memang harus menjenguknya. Lagi pula Tiffany kecelakaan itu karena salah ku juga.” Tutur Jiyeon
“Itu bukan salahmu, aku yang salah.” Timpal Jinki
“Hahaha…” Jiyeon terkekeh kecil
“Wae?” tanya Jinki seraya menaikan sebelah alisnya
“Errrr… tidak hanya saja ternyata kau masih sama saja seperti dulu.”
“Sama? Maksudmu? Aku memang masih sama seperti dulu, aku tetaplah Lee Jinki.”
“ya kau memang masih sama seperti dulu memang, Jinki yang selalu berusaha melindungiku dan mungkin juga mungkin kau masih mencintaiku haha…”
“Hey, melindungi? Jangan bilang kau salah mengartikan perkataanku tadi.”
 
***
 
Tiffany meletakan piring bekas makannya tadi di pantry dapur dan kemudian keluar, di lihatnya Jinki yang berjalan menuju ruang keluarga.
“Kau lama sekali, pacaran dulu kah?” tanya Tiffany dengan nada sedikit sinis, wanita ini memang sedikit aneh tadi saat suaminya di dalam rumah ia memintanya menemani Jiyeon yang mau pulang, dan saat suaminya berada di luar terlalu lama ia marah-marah.
Untung Jinki dapat memakluminya, yeah wanita yang tengah hamil memang sering berprilaku sedikit aneh jadinya Jinki dapat mengerti.
“Kenapa? Kau cemburu ya?” goda Jinki membuat Tiffany membuang muka.
“Tidak. Aku tidak sepertimu yang kekanakan.” Cibir Tiffany
“Sudah akui saja kalau kau cemburu.” Jinki makin menggoda, sekarang ia duduk di samping Tiffany.
“Kau cemburukan?”
Bugh… sebuah bantal mendarat dengan mulus di kepala Jinki.
“Ukh…appo.” rintihnya seraya mengusap-usap kepalanya
“Makanya jangan menggodaku terus.”
 
***
 
Suara music up beat yang menggema di seluruh ruangan, hentakan kaki setiap insan yang berada di dalamnya dan sorotan lampu yang mengarah kemana-mana benar-benar membuat tempat itu menjadi surga dunia bagi seluruh kaum yang menggilai tempat ini.
Seorang gadis berambut panjang sebahu berjalan menghampiri seorang pria yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja bar dengan jari-jari yang memainkan pinggiran gelas yang berisi rum.
Jonghyun mengangkat kepalanya dan menyeringai kecil pada Jiyeon.
“Apa yang tadi kau lakukan selama di rumah Jinki?” tanya Jonghyun sambil menyesap rum di hadapannya
“Hanya mengobrol santai dengan Tiffany dan mengobrol sedikit serius bersama Jinki di luar rumah mereka.” Tutur Jiyeon singkat,padat, namun tak jelas bagi Jonghyun
“Eh? Maksudmu?” Jonghyun menaikan alisnya sebelah
“Ya mengobrol santai dengan Tiffany, berbicara ten-”
“Stop. Langsung katakan pada intinya saja, errrr maksudku apa saja yang kau tanyakan pada Tiffany.” Kata Jonghyun seraya kemudian mengalihkan pandangannya pada gelas di hadapannya.
“Bagaimana hidupnya setelah menikah dan ia menjawab sangat buruk.” Kata Jiyeon “Bagaimana dengan bayi yang kau kandung, cukup baik tapi Jinki tidak pernah mau memperhatikan kandunganku, aku juga bertanya apa kau mencintai Jinki dan jawabannya cukup fantastis untuk di dengar di telingamu, dia bilang ia tidak mencintai Jinki tapi mencintaimu.” Kata Jiyeon berbohong, Ok ia berbohong agar Jonghyun semakin menggebu-gebu dalam usaha untuk menghancurkan rumah tangga Jinki dan Tiffany.
“Kamu tahu, Tiffany tadi menangis. Dia bilang ia cukup tersiksa hidup bersama Jinki, ia ingin hidup bersama denganmu. Dan ia bilang sejujurnya ia menikah dengan Jinki hanya karena paksaan dari orang tuanya. Dia bilang juga dia ingin kembali padamu, tapi ia tak yakin bahwa kau akan menerimanya lagi atau tidak, mengingat dirinya yang saat ini tengah berbadan dua, dia yakin sekali ka-”
“Cukup.” Lagi-lagi Jonghyun memotong ucapan Jiyeon “Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kita harus memisahkan mereka berdua. Aku tidak mau Tiffany terus menerus di sakit oleh Jinki.”
Jiyeon menyeringai mendengar penuturan Jonghyun barusan. “Dasar laki-laki bodoh.” Batinnya.
 
***
 
“Kau mau berangkat kerja sekarang?” tanya Tiffany seraya meletakan majalahnya di atas kasur
“Ya, jika aku tidak berangkat sekarang bisa-bisa aku terlambat. Wae? Kau masih ingin aku disini?” tanya Jinki sambil memasang dasinya
“Tidak aku hanya bertanya saja.” Jawab Tiffany dengan memasang tampang polos.
“Oh… kalau begitu aku berangkat dulu ya.”
“Ne… ya Lee Jinki!!” seru Tiffany, ia bangkit dan berlari menghampiri Jinki.
“Ne…” Jinki berbalik dan
Plakkk…
Sebuah tamparan mendarat manis di pipi kirinya, Jinki meringis dan mengusap pipi sebelah kirinya.
“Ya! Ap-”
Plakkk… lagi-lagi Tiffany menamparnya, kali ini pipi kanan yang menjadi sasaran.
“Ya!! Kau ini kenapa ? apa salahku?” tanya Jinki sambil meringis, mengusap sudut bibirnya dan juga mengusap pipinya yang terasa sangat perih.
“A-aku tidak tahu.”
“Heh? O.o?” Jinki membulatkan matanya dan menatap Fany penuh tanya
“Ayolah jangan katakan bahwa kau melakukan ini semua karena itu?” Jinki menunjuk perut Tiffany.
Tiffany menunduk dan melihat perutnya yang sudah mulai membesar itu.
“Kurasa…” Tiffany mengedikan bahunya
Jinki melongo dan membatin dalam hati “Oh Tuhan, jangan pernah katakan bahwa Fany akan melakukan hal yang lebih mengerikan dari pada ini.” Batinya
 
***
 
Hari ini suasana kota Seoul masih sama seperti biasanya, ramai dan banyak makhluk yang berlalu lalang di jalanan.
Tiffany duduk di bangku yang terdapat di pinggir jalan, mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena berjalan dari rumahnya menuju cafe milik Jonghyun.
“Noona annyeong.” Tiffany terkesiap kaget saat mendengar suara orang yang menyapanya barusan. Ia menoleh dan ekspresi wajahnya yang kaget tadi langsung berubah jadi ekspresi wajah ceria.
“Annyeong Dongho.” Sapa Tiffany balik
“Bolehkah aku duduk di sini?” tanya Dongho “Tentu saja, tidak ada larangan untuk duduk di tempat ini bukan hehe…” kata Tiffany sedikit bercanda.
Dongho duduk di samping Tiffany dan mengajaknya mengobrol santai, membicarakan hal lucu hingga membuat keduanya tertawa lepas.
“Hey kurasa perut noona sudah semakin buncit haha…” canda Dongho dengan sedikit tawa di akhir kalimat begitu pula dengan Tiffany.
“Ya, itu karena aku dan bayiku makan dalam porsi yang banyak.” Tutur Tiffany
“Haha… ne arraso.” Dongho mengangguk mengerti
“Oh ya noona menurutmu apa yang harus ku lakukan?” tanya Dongho dengan pelan
Tiffany mengerutkan keningnya “maksudmu?” tanya Tiffany tak mengerti
“Begini, setelah lulus nanti appa menginginkanku untuk melanjutkan study ke amerika tapi…” Dongho menggantungkan perkataannya
“Tapi itu semua tidak sesuai dengan keinginanmu? Eh…” tebak Tiffany dan Dongho mengangguk pelan.
“Jadi apa yang harus kulakukan? Menuruti orang tuaku ataukah-”
“Menuruti orangtuamu.” Potong Tiffany membuat Dongho menatapnya aneh.
“menuruti orangtuaku?”
“Ne, menuruti orang tuamu. Ingatlah menuruti keinginan orang tua adalah salah satu cara membalas budi baik dan kasih sayang mereka terhadap kita.” Tutur Tiffany.
Yeah, Tiffany tahu benar seperti apa perasaan Dongho, karena ia sendiri dulu pernah merasakan hal semacam itu namun bedanya jika Dongho tentang pendidikan ia tentang perasaan. Di mana di saat ia mencintai seorang bernama Kim Jonghyun ia ternyata malah di Jodohkan dengan seorang Lee Jinki yang selalu menjahilinya. Dan ia kemudian mengorbankan persaannya demi orangtuanya, namun ia bersyukur karena setelah itu ia dan Jinki malah menjadi saling mencintai.
“Baiklah, aku tahu yang di katakan noona selalu benar dan baik untukku.” Kata Dongho
“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanya Tiffany
“Yang akan aku lakukan adalah menuruti kedua orangtuaku.”
 
***
 
Seorang wanita dengan memakai kemeja warna putih dan blazer berwarna hitam beserta skirt dengan warna senada berjalan masuk ke dalam sebuah Lift dalam sebuah perusahaan, saat pintu lift hampir tertutup sebuah seringaian kecil tertera di wajahnya.
 
***
 
“Apakah manager perusahaan Aqua belum datang?” tanya Jinki yang baru memasuki ruang rapat
“Yeah, dia belum datang. Kau bisa bernafas lega karena setidaknya kau masuk ke ruangan ini sebelum ia datang.” Kata Salah seorang yang turut hadir dalam ruangan itu
“Haha…” Jinki terkekeh kecil dan duduk di samping partnernya yang barusan saja berucap.
Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka kembali, seorang wanita dengan penampilan yang terkesan elegan berjalan masuk ke dalam ruangan tadi, membungkukkan badannya sekilas dan mengucap salam sebelum akhirnya ia duduk di salah satu kursi yang berada di situ.
Jinki membulatkan matanya ketika mengetahui bahwa manager dari perusahaan Aqua itu adalah Jiyeon, ok dua tahun tidak berjumpa membuatnya benar-benar tidak tahu apa-apa lagi tentang Jiyeon.
“Bersyukurlah karena dia datang sebelum kau datang.” Bisik partner yang duduk di sampingnya.
Jinki hanya tersenyum samar mendengar bisikan partnernya barusan.
 
***
 
“Baiklah apa ada yang mau mengajukan pertanyaan lagi?” tanya pemimpin rapat hari ini pada beberapa orang yang tengah duduk sambil memperhatikan kertas-kertas penting di hadapan mereka.
“Baiklah jika tidak ada, maka rapat hari ini bisa kita tutup.” Kata pemimpin rapat kemudian meringkasi barang-barangnya dan keluar di ikuti oleh beberapa orang lainnya.
“Hey, aku tidak pernah menyangka bahwa kau errrr manager dari perusahaan aqua.” Kata Jinki pada Jiyeon
“Haha… benarkah?” tanya Jiyeon dengan tawa pelan
“Ne… oh iya apa kau akan ikut mempromosikan produk keluaran perusahaan kita?” tanya Jinki
“Tentu saja.” Jawab Jiyeon mantap
“Tentu saja aku ikut, demi memuluskan rencanaku…” batin Jiyeon dalam hati sambil tersenyum iblis.
“Oh… baguslah kalau begitu. Ok aku duluan ya, see u later.” Jinki kemudian berjalan meninggalkan Jiyeon.
 
 
***
 
Tiffany menatap cangkir vanilla latte di hadapannya sambil memainkan jari-jarinya di pinggir cangkir vanilla late yang di pesannya tadi dengan bosan.
“Hey! Itu minuman untuk di minum bukan untuk di pandangi.” Tegur Jonghyun membuat Tiffany sedikit terkejut.
“Mian-” katanya pelan seraya kemudian menyeruput vanilla latte di hadapannya itu sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
Jonghyun memiringkan kepalanya dan menatap Tiffany penuh tanya.
“Apa kau ada masalah?” tanya Jonghyun ketika ia mengingat ucapan Jiyeon semalam.
“Tidak.” Jawab Tiffany datar
“Benarkah?” tanya Jonghyun seolah tak percaya
“Yeah, aku tidak sedang ada masalah saat ini.” Jelas Tiffany “Kecuali beberapa hari sebelum aku kecelakaan.” Terangnya
“Oh…” Jonghyun membulatkan bibirnya.
“Oh well, sepertinya aku harus pulang sekarang.” Tiffany beranjak dari kursinya dan bersiap pergi namun suara Jonghyun membuatnya harus berbalik lagi.
“Tiffany…”
“Ada apa?”
“Bagaimana jika aku mengantarmu pu-”
“Tidak usah.” Potong Tiffany seolah tahu apa yang hendak di ucapkan Jonghyun selanjutnya “Aku tidak mau terjadi kesalah pahaman lagi.” Tuturnya kemudian berjalan pergi meninggalkan Jonghyun yang masih terdiam menatap punggungnya yang semakin menjauh dan kemudian hilang atau lenyap dari pandangannya.
 
***
 
“Ya…ya itu ke pinggir sedikir,,, ahhh enak… terus-terus yang kuat …” kata Tiffany mengarahkan Jinki.
Sedang Jinki tersenyum kecut, ia masih terus memijat pundak istrinya dengan sebal.
Ok siapa yang capek? Batinnya dalam hati.
“Sudah, badanku sudah tidak pegal lagi. Kau mau aku memijatmu?” tanya Tiffany
“Haha… tentu saja aku sangat lelah setelah bekerja seharian.” Ungkap Jinki
Kini Jinki berbalik membelakangi Tiffany dan Tiffany kemudian mulai memijit Jinki dengan pelan dan lembut, membuat Jinki benar-benar terlepas dari rasa capek. Namun pijatannya makin kuat dan makin terasa menyakitkan.
“Arrrrrrrrrrrrghhhhhhh!!!!” teriak Jinki kencang, Tiffany segera melepas tangannya yang berada di atas pundak Jinki dan dengan segera Jinki berbalik menatap Tiffany dengan tatapan horor.
“Kau kenapa?” tanya Tiffany dengan memasang tampang innocent.
“Menurutmu?” tanya Jinki ketus
“Molla.” Tiffany mengedikan bahunya
“Kau-” baiklah Jinki menahan amarahnya sesaat ketika mendengar suara bel rumah mereka berbunyi.
Ia bangkit dan berjalan membukakan pintu rumahnya.
“Annyeong hyung.” Sapa Dongho seraya membungkukkan badannya.
“Ya ada apa?” tanya Jinki dingin
“Apakah Tiffany noona ada ?” tanya Dongho sopan
“Memangnya kau ada perlu apa?” tanya Jinki to the point
“Ak-“
“Dongho…” Tiba-tiba Tiffany keluar dan tersenyum padanya.
“Ada apa? Tumben kau kemari?” tanya Tiffany sambil menyunggingkan senyum manis
“A-aku mau bicara dengan noona sebentar, bisa?”
 
***
 
Tiffany dan Dongho duduk di teras rumah Tiffany berdua, ya mereka saat ini tengah mengobrol seperti seorang kakak dan adik.
“Jadi kau akan pergi amerika setelah pengumuman kelulusan nanti?” tanya Tiffany
“Ne noona, dan setelah itu aku tidak akan pernah kembali lagi ke Seoul selama beberapa tahun kecuali jika ada libur dari kampusku. Noona tahukan libur musim panas dan natal?”
Tiffany menganggukan kepalanya mengerti “Aku senang kau bisa menjadi anak yang berbakti.” Kata Tiffany menepuk pundak Dongho
“Itu Semua berkat saran dari noona.” Ungkapnya
“Haha… kau bisa saja.”
“Oh iya noona ini.” Dongho menyerahkan sebuah bungkusan besar pada Tiffany
“Apa ini?” tanya Tiffany seraya melihat isi dari bungkusan tersebut “Wahh neomu kyeopta!” pekik Tiffany riang
“Ini untuk bayi noona yang akan lahir nanti.” Kata Dongho tulus
“Ahhh… jeongmal gomawo Dongho.”
“Ne cheonmaneyo. Aku sengaja memberinya sekarang, karena aku takut ketika bayi itu lahir aku sudah tidak ada Seoul dan noona tahu kan apa yang akan ku katakan selanjutnya?”
“ne… arraso.” Tiffany mengangguk
 
***
 
Cklek…
Mendengar suara pintu yang terbuka , Jinki buru-buru berjongkok dan seolah mencari sesuatu di lantai.
“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya Tiffany curiga
“Mencari kunci mobil.” Jawab Jinki asal
“Kunci mobil?” Tiffany menaikan sebelah alisnya “Bukannya itu.” Tiffany menunjuk ke atas meja
Jinki berdiri dan menepuk jidatnya “Ah… aku lupa.”
“Alasan.” Batin Tiffany
“Apa itu?” tanya Jinki penasaran, ia memperhatikan terus bungkusan yang di bawa Tiffany
“Boneka dari Dongho.”
“Huh dia memberimu boneka?!” pekik Jinki tak percaya
“Janga salah paham, ini hadiah untuk bayi kita. Setelah kelulusan nanti Dongho akan pindah ke amerika jadi ia takut ia tak sempat memberi apa-apa pada bayi kita.” Jelas Tiffany
“Baguslah. Tapi dia perhatian sekali sama bayi kita.”
“Memangnya tidak boleh?”
“Bukan beg-”
“Bisakah kita hentikan pembicaraan tidak penting ini? Aku sedang lapar sekarang.” Kata Tiffany ketus seraya kemudian duduk di Sofa
“Huh… repot juga kalau istri sedang hamil.” Batinnya
 
***
 
Hari ini Jinki bangun lebih pagi dari biasanya, yah hari ini ia akan melakukan promosi produk baru perusahaan mereka di Busan jadilah ia harus berangkat pagi agar tak ketinggalan rombongan.
“Kau jaga diri baik-baik ya.” Kata Jinki mengingatkan Fany, ia mengecup pipi istrinya itu sebelum kemudian pergi meninggalkan rumahnya.
 
***
 
Nampak segerombolan orang keluar dari sebuah gedung dengan raut wajah gembira. Salah satu di antara mereka adalah Jinki. Yeah kalian tahu promosi mereka kali ini benar-benar berhasil dan benar-benar menarik minat para konsumen terhadap produk baru mereka.
“Well, bagaimana jika kita minum soju untuk merayakan ini semua?” usul Jiyeon
“Ide bagus.” Kata salah satu di antara mereka
“aku tidak ikut.” Kata Jinki
“Hey, kau tidak boleh begitu. Inikan perayaan atas keberhasilan kita.”
“tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian kau tetap harus ikut.” Paksa salah seorang partnernya
Mendengar itu Jinki hanya mendengus pelan dan mengangguk tak kentara.
 
***
Hampir sebagian dari 12 orang yang berada di dalam kedai itu sudah mabuk terutama Jinki. Yeah meski awalnya ia menolak tapi saat ia ikut ia menjadi yang paling mabuk di antara yang lainnya.
“Ok… kepalaku sudah terlalu pening.” Kata Jinki seraya memegangi kepalanya yang benar terasa pusing.
“Mau aku antarkan kau ke hotel?” tawar Jiyeon
“Ide bagus, aku ingin segera tidur sekarang.” Kata Jinki kemudian meletakan (?) kepalanya di atas meja lagi.
Jiyeon mengangkat tubuh Jinki dan meletakan tangan kanan Jinki di pundaknya, membopongnya berjalan menuju hotel tempat mereka menginap yang berada tidak terlalu jauh dari tempat mereka meminum soju.
 
***
 
Jiyeon menghempaskan tubuh Jinki di atas kasurnya dan menyeringai kecil, ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
“Kau ada di mana? Bisakah kau datang kemari? Cepatlah aku butuh kau sekarang! Tapi kau sudah ada di Busan kan? Ok aku tunggu.” Jiyeon menutup flip ponselnya dan menyeringai kecil
Seraya mendekati Jinki dan ok bayangkan sendiri apa yang hendak ia lakukan pada laki-laki yang tengah mabuk itu.
 
***
 
Ting…tong…
“Pagi-pagi seperti ini siapa yang bertamu ke rumahku?” batin Tiffany sedikit kesal.
Tiffany bangkit dari sofa dan menekan tombol  of pada remote televisinya, berjalan keluar dengan kesal.
Ia membuka pintu rumahnya dan merasa sangat kesal ketika ia mendapati tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapannya.
“Ok… ini benar-benar menyebalkan.” Desis Tiffany, ia kemudian hendak berbalik dan masuk namun ia mengurungkan niatnya ketika ia melihat sebuah amplop besar berwarna coklat yang berada di lantai teras rumahnya.
Tiffany berjongkok dan mengambil amplop tersebut.
“Apa ini?” batinnya dalam hati, seraya kemudian berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Ia membuka amplop itu dan melihat isi di dalamnya.
Dan seketika itu pula matanya langsung membulat sebulat-bulatnya ketika melihat isi yang terdapat di dalam amplop tersebut.
“Katakan bahwa ini hanyalah bohong dan rekayasa.” Gumamnya sebelum akhirnya ia merasakan seluruh tubuhnya melemas…
 
TBC…
 

Author Note :

1. Part yang hancur dan membocankan >.<

2. Maaf kalau ceritanya makin ngelantur 😦

3. Maaf kalau konfliknya gak bikin greget

4. Scane dongho pas tanya ke Tiffany itu di ambil dari kisah nyataku sama temen aku, yeah temanku sekarang pindah ke jawa. Oh ya reader ada yg sekolah di smp 5 ungaran, semarang??!!

5. Kemungkinan ff ini akan berakhir 3 atau 4 part lagi,, doain aja cepet kelar ini ffnya dan doain aku juga smoga dapat ending yang mengesankan dan gak tragis kekeke…

6. Disini gak ada kisah Taemin dan Hyuna lagi kekeke,, ceritanya mereka sudah gak di bahas, cuman di bahas kemarin doank itu pun sebagai sampingan aja soalnya kemarin rada gak dapat feel kekeke 😀

7. Thanks buat reader yang udah komen kemarin,,, love u :*


 

 

-Little Fairy-

 

 

Advertisements

3 responses to “We Got A Baby (Part 6)

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s