We Got A Baby (Part 5)

Tittle : We Got A Baby

Author : Little Fairy ( @LittleFairy2317)

Cast : Tiffany Hwang, Lee Jinki

Cameo : Kim Jonghyun,Park Jiyeon, Lee Taemin,Han Hyuna

Genre : Romance,A little bit comedy

Rating : PG+15

Length : Chaptered

Disclaimer : Only plot my own. Cast belongs their agency and my imagination

Poster : yayahartwork@sujumalayff

***

WE GOT  A BABY

WRITTEN BY LITTLE FAIRY

Jinki menarik wajahnya dari wajah Jiyeon, seraya kemudian mencari sosok Tiffany di tempatnya tadi. Tapi hasilnya, ia tak menemukan sekali sosok Tiffany di situ.

Jinki bangkit dari tempat duduknya, bermaksud mencari Tiffany. Tapi tiba-tiba pergelangan tangannya di cengkram oleh Jiyeon, ok tujuannya untuk menahan Jinki.

Jinki melirik Jiyeon tajam “Lepaskan.” Katanya pelan “Shireo.” Tolak Jiyeon kasar

“Lepaskan!!” bentak Jinki seraya menghempaskan tangannya dan kemudian berjalan keluar.

Sedang Jiyeon, ia masih shock dengan sikap Jinki barusan, dalam sekejap ia berani mencium Jiyeon yeah meski di hadapan Tiffany namun sesaat kemudian ia langsung berubah menjadi kasar dan garam, seolah tak mengingat apa yang ia lakukan tadi.

Jinki keluar dari dalam pub, di lihatnya jalanan yang berada di luar pub cukup ramai dan tiba-tiba saja perasaan Jinki berubah menjadi sedikit khawatir dan panik,errr tidak hanya sedikit tapi sangat.

Jinki berlari dan menyerobot masuk di antara kerumunan itu, saat ia berhasil sampai di tempat paling depan matanya seketika langsung membulat dan ia langsung shock, tak percaya.

“Fany~ah!!” teriaknya seraya menghampiri sosok manusia yang tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah. Jinki menangis dan berbicara kasar kepada kerumunan yang hanya melihat Tiffany.

“Kalian itu bodoh!! Tidak berperi kemanusian!! Harusnya jika kalian melihat orang yang di tabrak kalian langsung membawanya ke rumah sakit!! Bodoh!!” ujar Jinki mencak-mencak pada kerumunan orang itu.

Tanpa basa-basi lagi Jinki langsung mengangangkat Tiffany masuk ke dalam mobilnya, ia tidak mau menunggu ambulance lagi, ia takut jika tidak segera di bawa ke rumah sakit ia bisa kehilang Tiffany bukan hanya untuk sementara tapi selamanya.

Sementara itu dari jauh Jiyeon terus memandangi Jinki.

 

***

 

“Lindungilah dia, jagalah dia. Tuhan kumohon jangan biarkan dia pergi dari hidupku.” Batin Jinki berulang kali dalam hatinya, seolah itu adalah mantra yang mampu menyembuhkan Tiffany.

Ia sampai di depan ruang UGD dan saat ia henda masuk seorang perawat langsung melarangnya.

“Maaf pak, sebaiknya anda menunggu di luar saja biar tim dokter yang menanganinya.” Kata perawat itu seraya kemudian berjalan masuk dan menutup pintu UGD.

“Sial!!” Jinki memukul pintu UGD dengan kerasnya, rasa sakitpun tak terasa di tangannya saat itu. Ia benar-benar menyesal atas apa yang di lakukannya tadi.

“Kau memang bodoh Jinki!!” umpatnya seraya bersandar di dindir dan memerosotkan tubuhnya.

Seolah tak kuat merasakan sakit yang teramat sangat, Jinkipun menitikkan air mata dan kemudian ia segera menelpon seluruh keluarganya.

 

***

 

Beberapa saat kemudian…

Seorang dokter keluar dari ruang UGD , Jinki yang tadi sedang duduk di kursi tunggu langsung berdiri dan menghampiri dokter.

“Apa anda keluarga pasien?” tanya Dokter tersebut pada Jinki, dan Jinki langsung mengangguk mantap.

“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Jinki cemas

“Ini sebuah mukjizat.” Ujar dokter tersebut

“Eh?” Jinki menaikan sebelah alisnya “Maksud dokter?” tanyanya

“Istri anda meski banyak mengeluarkan darah tapi kondisinya tidak sangat-sangat parah dan yang paling menakjubkan bayi di dalam kandungannya bisa selamat, padahal jika pasien mengalami pendarahan bisa jadi bayi di dalam kandungannya keguguran atau dengan sangat terpaksa harus di angkat oleh dokter demi keselamatan sang ibu. Tapi ini, oh benar-benar mukjizat dari Tuhan. Anda patut bersyukur atas ini.” Kata dokter panjang lebar, membuat Jinki sedikit bernafas lega tapi tetap saja ia khawatir.

“Dok boleh saya errrr menengoknya dok?” tanya Jinki

“Untuk saat ini jangan dulu , karena pasien butuh istirahat yang cukup. Sebaiknya bapak mengurus biaya registrasi pemindahan ruangan pasien.” Kata dokter itu sebelum pergi meninggalkan Jinki.

Sesaat kemudian, nampak keluarga Jinki dan Tiffany yang berkerumun menghampirinya.

“Bagaimana keadaan Fany? Baik-baik saja kan?” tanya Umma Jinki

“Ne umma, Tiffany baik-baik saja kok tenang saja J” kata Jinki membuat seluruh keluarga yang ada di situ bernafas lega.

“Oppa… bagaimana keponakanku? Dia baik-baik saja kan?” tanya Eunji

Jinki mengangguk pelan “Ne… untungnya tidak terjadi apa-apa pada bayi itu, baiklah aku urus registrasi dulu ya.” Jinki kemudian berjalan pergi meninggalkan keluarganya.

 

***

Jonghyun duduk termenung di salah satu tempat duduk di cafenya, tempat dirinya biasa mengobrol bersama Tiffany selama beberapa minggu ini.

“Tumben anak itu tidak kesini.” Keluhnya , ia memainkan jari-jarinya di atas meja untuk mengusir rasa bosan, tapi lama-lama ia malah bosan sendiri memainkan jari-jarinya. Akhirnya Jonghyun pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Tiffany, dan ia pun tidak peduli dengan apa yang mungkin akan di lakukan Jinki nanti padanya.

Jonghyun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan namun tanpa sengaja ia menabrak seorang gadis, tapi untung tidak sampai jatuh.

“Jeoseonghamnida.” Kata Jonghyun sopan

“Gwenchana.” Gadis itu mengangkat kepalanya dan sangat kaget ketika melihat Jonghyun.

“Jjonghyun?!”

 

***

 

“Aku tidak menyangka sekarang kau ada di Seoul, terakhir ku dengar kau pergi ke Italy saat Tiffany memutuskanmu.” Kata gadis itu seraya menyesap cappucino yang ada di hadapannya secara pelan dan sopan, bak seorang gadis elegan (memang elegant kalee -_-)

“Errr… aku baru saja kembali dari Italy.” Tutur Jonghyun

“Jjong, apa aku boleh bertanya sesuatu ?” tanya Gadis itu dengan memamerkan senyum licik.

Jonghyun menyipitkan matanya, menatap gadis itu curiga. “Bertanya apa?” tanya Jonghyun dengan sedikit was-was.

“Apa kau masih mencintai Fany?” tanyanya dengan sangat berhati-hati

Jonghyun terdiam , seolah sedang memikirkan sesuatu. Ok dia tengah berargumentasi dengan perasaannya sendiri, di satu sisi perasaannya mengatakan ia masih cinta tapi di sisi lain perasaannya mengatakan bahwa ia sama sekali tak mencintai Tiffany lagi, hanya menganggapnya sebagai sahabat.

Tapi entah apa yang ada di pikiran Jonghyun saat itu, pria itu tiba-tiba saja mengangguk pelan. Membuat gadis di hadapannya itu menyeringai.

“Sedikit,tapi entahlah aku juga masih bingung akan perasaanku. Memangnya kenapa?” tanya Jonghyun, kali ini tanpa pandangan curiga.

“Bagaimana kalau kita menjadi partner untuk mendapatkan hal yang sama-sama kita inginkan.” Ucap gadis itu membuat Jonghyun spontan menaiakan sebelah alisnya.

“Maksudmu?” tanyanya bingung

“Come here.” Ujar Gadis itu seraya menyuruh Jonghyun untuk mendekat padanya. Jonghyun mendekatkan wajahnya dan gadis itu mulai membisikan kata demi kata pada Jonghyun.

“Kau gila!” ujar Jonghyun tiba-tiba, tapi gadis di hadapannya itu hanya menyeringai kecil.

“Hey! Apa kau rela melihat orang yang kau cintai di sakiti huh?! Mungkin ini memang gila tapi setidaknya jika kita melakukan ini dan menjalankan kerjasama dengan baik, kita bisa melihat orang yang kita cintai bahagia.” Tutur gadis itu membuat Jonghyun makin bingung.

“M-maksudmu di sakiti? Kenapa dengan Tiffany? Apa Jinki menyakitinya?!” tanya Jonghyun penasaran

“Jinki dia telah membuat Tiffany tertabrak oleh mobil karena terlalu cemburu olehmu. Sepertinya.” Kata gadis itu sok tahu membuat Jonghyun membulatkan mataku.

“Ceritakan padaku secara detail. Jika memang benar begitu adanya aku akan menjadi partner mu untuk memisahkan mereka berdua.” Kata Jonghyun yang membuat gadis itu tersenyum senang.

 

***

Jinki masih tertidur di samping Tiffany dengan tangan yang menggenggam erat tangan istrinya tersebut. Sudah lebih dari delapan belas jam namun Tiffany belum sadar juga.

Cklek, Taemin membuka pintu kamar rawat Tiffany dan ia begitu miris ketika mendapati Hyungnya yang masih terjaga di samping istrinya.

“Ckck… ia bahkan belum mandi dan sarapan. Sebegitu khawatirkah?” batin Taemin seraya berjalan menghampiri Jinki dan menepuk bahunya.

“Hyung! Hyung!” panggil Jinki, seraya mengguncang tubuh Jinki pelan.

Jinki mengerang pelan dan kemudian sadar akan adanya Taemin di sekitarnya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk secara tegak.

“Ada apa?” tanya Jinki “Kau tidak sekolah?” tanyanya lagi

“Hyung hari ini hari minggu.” Kata Taemin mengingatkan “Oh maaf aku lupa.” Kata Jinki apa adanya, memang benar ia lupa bukan?!

“Hyung kau mandi dulu sana, biar aku yang menjaga noona.” Kata Taemin pada Jinki

“Tidak usah, biar aku saja. Kau lebih baik belajar di rumah.” Tolak Jinki halus

“aku di suruh umma kesini, kau juga harus menjaga dirimu hyung. Mandi dulu sana, biar aku yang menjaga Tiffany noona, setelah mandi baru kau kesini lagi.” Kata Taemin

“Baiklah kalau begitu, kau jaga noona mu baik-baik ya. Jika noonamu sadar langsung hubungi aku ya.” Kata Jinki mengingatkan seraya kemudian berjalan meninggalkan Taemin.

“Dasar dasar, memang susah kalau sudah terlanjur cinta mati. Bawaannya Cuma pingin berada di samping orang yang di cintai.” Kata Taemin sok dewasa padahal pada kenyataanya dia belum dewasa.

***

Brakkk…

Jonghyun menggebrak meja di hadapannya, membuat semua mata di dalam cafenya itu tertuju padanya.

“Hey! Kau itu masih normal atau tidak huh?! Jika mau marah dan menggebrak meja jangan di tempat umum, punya rasa malu sedikit donk.” Kata gadis itu

“Dia keterlaluan sekali, sampai terjadi apa-apa pada Tiffany tak akan pernah bisa ku maafkan dia. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan kembali Tiffany.” Kata Jonghyun seolah ia terobsesi dengan Tiffany,

“So… apa kau mau menjadi partner ku?” tanya gadis itu dengan senyum setan.

“Baiklah, aku mau menjadi partnermu. Kau dapat Jinki aku dapat Fany. Deal?!”

“Deal.”

“Sudahlah aku mau pergi ke rumah sakit sekarang.” Kata Jonghyun seraya kemudian beranjak pergi.

 

***

 

Jinki memasuki ruang rawat Tiffany, di lihatnya Taemin yang sedang menjaga Fany sambil mengocek ponselnya.

“Kalau menjaga yang benar. Jangan main ponsel terus.” Sindir Jinki seraya kemudian berjalan menghampiri Taemin.

“Mana makanannya?” tanya Jinki

“Eh?!” Taemin menoleh dan sejenak ia terdiam, seolah mengingat sesuatu.

“Ya Tuhan.” Taemin menepuk jidatnya sendiri “Saat hyung mandi aku tadi memakannya hhe. Mianhae Hyung peace ^^V” kata Taemin meminta maaf

“Hhh…” Jinki menghela nafas pelan “Biar aku belikan.” Kata Taemin

“Tidak usah.” Tolak Jinki “Aku beli sendiri, kau jaga Tiffany. Jika kau yang pergi aku tak yakin kau akan kembali mengingat.

“tidak aku saja, tenang hyung aku pasti kembali.” Kata Taemin seraya beranjak dari tempat duduknya dan berlari pergi.”

“Dasar anak itu.” Jinki berdecak pelan.

 

***

 

“Berapa?” tanya Taemin

“Lima ribu won.” Jawab panjaga kantin rumah sakit tersebut

“Ini.” Taemin menyerahkan beberapa lembar uang dengan mata uang korea seraya kemudian mengambil plastik yang ada di depannya dan berjalan pergi.

Taemin berjalan dengan sedikit cepat menuju ruang rawat kakak iparnya tersebut sambil terkadang bersenandung kecil, tiba-tiba saja sebuah suara membuat Taemin terdiam.

Suara yang begitu merdu dan terdengar begitu indah di telinga Taemin, Taemin segera mencari-cari sumber suara tersebut. Matanya berhenti pada sosok seorang gadis yang tengah duduk di kursi roda di bawah pohon bunga sakura yang terdapat di taman rumah sakit tersebut.

Entah apa yang merasuki Taemin, tiba-tiba saja adik dari Lee Jinki itu berjalan mendekati Taman, tepatnya mendekati gadis itu. Di dengarnya gadis itu tengah menyanyikan sebuah lagu jepang yang dinyanyikan oleh Yui, lagu yang berjudul Love and Truth.

“Ehm…” Taemin berdehem pada gadis itu, ya Taemin memang suka sok kenal dan sok dekat dengan orang lain.

Gadis itu terkejut dan menatap Taemin “Ahh.. nuguseyo?” tanya gadis itu takut-takut

Taemin terkekeh pelan “Hey, kau jangan takut padaku. Namaku Taemin, Lee Taemin. Kau?” Taemin berjongkok di depan gadis itu mencoba menyamakan tinggi mereka ia lantas juga mengulurkan tangannya , berniat mengajak gadis itu berkenalan.

“Han Hyuna, Hyuna panggil saja aku Hyuna.” Kata gadis bernama Hyuna itu seraya berjabat tangan dengan Taemin, dengan kata lain Hyuna menerima uluran tangan Taemin.

Taemin tersenyum “Hey suaramu tadi terdengar sangat indah. Aku suka dengan suaramu.” Puji Taemin tulus.

“Benarkah? Terimakasih.” Kata gadis itu

“Errrr… boleh aku menjadi temanmu?” tanya Taemin sedikit ragu

Gadis itu menoleh pada Taemin “Memangnya kau mau menjadi temanku? Tentu saja siapapun boleh menjadi temanku bahkan lebih dari temanpun boleh, arti kata sahabat hehe…” tutur gadis itu.

“Tentu saja aku ingin menjadi sahabatmu, errr boleh aku tahu?” tanya Taemin

“Apa?” tanya Hyuna balik “Kenapa kamu di taman ini sendirian? Kamu tidak takut orang tuamu mencemaskanmu?” tanya Taemin membuat Hyuna tertawa kecil.

“Haha… orangtuaku tidak akan mencemaskanku, karena ini sudah menjadi kebiasanku setiap pagi pergi ke taman.” Terang Hyuna yang membuat Taemin terkejut.

“Huh?! Setiap pagi?! Berarti kamu sudah lama mendekam di rumah sakit ini?! Eerrr maksudku di rawat di rumah sakit ini.” Kata Taemin sambil menggruk tengkuknya yang tak gatal

“Begitulah dan jangan tanya kenapa aku di rawat di rumah sakit ini dalam jangka waktu yang lama.” Kata Hyuna membuat Taemin terkekeh.

“Kau sepertinya tahu saja kalau aku mau menanyakan tentang hal itu.” Kata Taemin dengan tawa renyah.

“Errr… kau sepertinya pandai bergaul ya xD. Oh iya sepertinya kau sedang di tunggu seseorang.” Kata Hyuna asal , maksud dari perkataannya itu agar Taemin segera menjauh dan tak melontarkan banyak pertanyaan lagi padanya.

“Ahhh iya aku sampai lupa.” Taemin menepuk kepalanya sendiri “Baiklah kalau begitu aku pergi dulu , besok aku akan kesini lagi tapi…” Taemin menggantungkan kalimatnya

“Tapi apa?” tanya gadis itu

“Besok aku sekolah, jadi bolehkah aku tahu nomor ruang inapmu?” tanya Taemin

 

***

 

Tok…tok…tok…

Jinki mengangkat kepalanya. Dia menoleh ke arah pintu dan kemudian bangkit.

Sudah kuduga anak ini pasti akan kembali dalam jangka waktu yang cukup lama, batin Jinki.

Jinki membuka pintu ruangan dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Jonghyun yang tengah berdiri di depan pintu.

“Kau!!” pekik Jinki

“Annyeong, lama tak berjumpa.” Sapa Jonghyun basa-basi seraya menyeringai kecil

“Mau apa kau kesini huh?!” tanya Jinki kasar

“Hanya ingin menjenguk Tiffany,dia kecelakaan dan apakah salah aku sebagai sahabat sekaligus mantan kekasihnya menjenguknya yang sedang sakit?” tanya Jonghyun dengan menekankan suaranya pada kalimat mantan kekasih.

Jinki berdecak kesal “Jangan harap kau bisa menjenguknya, cepat enyah dari hadapanku!!” usir Jinki

“Hey! Hey! Kenapa kau begitu galak bung?! Ayolah aku kesini hanya ingin menjenguk Fany, tidak ada niatan jahat sama sekali.” Kata Jonghyun seraya mencoba melangkah masuk.

“Ya mau apa kau?! Kubilang pergi tinggalkan tempat ini dan jangan pernah lagi kau mencoba untuk menginjakan kaki di sekitar sini arraso?!” bentak Jinki

“Ok… ok… jika itu mau mu aku akan pergi, tapi ku harap kau mau menerima bunga mawar dan parcel buah ku ini.” Kata Jonghyun seraya menyodorkan sebucket bunga mawar merah dan parcel buah-buahan.

Jinki menatap benda-benda itu curiga, Jonghyun yang sadar akan kecurigaan Jinki buru-buru menepis. “Tenang saja ini tidak berbahaya untuk Tiffany.” Kata Jonghyun sesuai fakta.

“Baiklah.” Jinki mengambil parcel dan bunga itu “Sekarang cepat kau pergi.” Jinki kembali mencak-mencak pada Jonghyun.

“Ok, aku akan pergi. See you leter.” Kata Jonghyun seraya kemudian pergi meninggalkan Jinki.

Jinki menatap punggung Jonghyun dengan kesal “Dasar manusia bejat.” Pikirnya

“Hyung siapa dia?” tanya Taemin yang tiba-tiba saja muncul di situ.

“Bukan siapa-siapa hanya teman semasa kuliah.” Jawab Jinki

“Sebenarnya memang dulu  teman, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang menjadi musuh dan mungkin akan menjadi saingan.” Lanjut Jinki di dalam hati.

“Ini hyung makananmu.” Taemin menyodorkan kantong plastik pada Jinki dan…

Pletak…

Sebuah jitakan mendarat dengan manis di kepala Taemin membuat Taemin meringis pelan

“Auwwww… sakit hyung!” Taemin meringis kesakitan

“Siapa suruh kau datangnya lama.” Jinki berkacak pinggang seraya kemudian masuk ke dalam ruang rawat Tiffany dan melemparkan bunga mawar yang di berikan Jonghyun kedalam tempat sampah.

 

***

 

Tiffany mengerjapkan matanya,  sudah dua puluh empat jam lebih dia terbaring di atas tempat tidur tanpa membuka mata.

Ia melihat ke seluruh ruangan dan juga melihat Jinki yang tengah tertidur di sampingnya sambil menggenggam tangannya erat , Tiffany sempat tersenyum melihat itu. Namun lagi-lagi hatinya sakit ketika mengingat kejadian tempo hari.

“Hhhh…” Fany menghela nafas , seraya kemudian bergerak dan mengubah posisi tubuhnya menjadi bersandar di punggung tempat tidurnya. Tanpa Fany sadari ternyata gerakannya barusan membuat Jinki sadar dan kemudian terbangun.

“Kau sudah sadar?” tanya Jinki dan Tiffany hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

“Kau masih marah?” tanya Jinki lagi dan Tiffany hanya diam, Jinki menunduk pertanda ia merasa sangat sangat merasa bersalah.

“Mianhae, waktu itu aku benar-benar cemburu.” Lirihnya “Maaf , aku tidak bermak…” Jinki menghentikan kalimatnya ketika mendengar isak tangis Tiffany.

Jinki mendongak dan menatap Tiffany “Kenapa kau…”

Lagi-lagi ucapnnya terpotong “Harusnya kau mendengarkan penjelasanku! Harusnya kau tidak langsung menjudgeku seperti itu! Harusnya kau mengerti aku! Aku dan Jjong hanya bersahabat! Dan yang kau lihat di dalam mobil itu hanyalah salah paham, Jonghyun tidak menciumku begitu pun sebaliknya , ia hanya mengambilkan bulu mataku. Tapi kau , kau menuduhku berciuman dengannya dan kau mencium Jiyeon! Kau tak mengerti aku… k-kau… k-kau jahat…huhuhuhu…” celoteh Tiffany dengan air mata yang berurai, membuat Jinki makin di hantui oleh perasaan bersalah.

“Mianhae… jeongmal mianhaeyo!! Maaf… aku mungkin terlalu cemburu padamu tapi jujur itu karena aku tidak mau kehilanganmu.” Jinki mulai memeluk Tiffany, mencoba menenangkan istrinya itu , meletakan kepala Tiffany di dadanya yang bidang (?) , mendekapnya erat penuh kehangatan dan cinta.

“Aku janji, aku akan mengontrol emosiku dan tidak akan mudah cemburu lagi. Aku janji demi kau dan calon bayi kita.” Ikrar Jinki

Tiffany mendongak dan menatap Jinki dalam “Yaksok?!” tanyanya seraya mengacungkan jari kelingkingnya

“Ne yaksok.” Jinki menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany, mereka berdua tersenyum dan saling tertawa.

“Hey kurasa kita seperti anak kecil.” Kata Jinki

“Kau yang seperti anak kecil, bukan aku.” Tiffany mendorong kepala Jinki pelan

“Ya…ya…aku memang seperti anak kecil.” Jinki mengalah membuat Tiffany tersenyum puas.

 

***

Sorotan lampu pub mengarah kesana kemari, berkelap kelip menyinari dunia malam di pub ini.

Jonghyun kembali menyesap rumnya dan menatap kosong pada meja bartender.

Seorang gadis menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Apa kau tadi bisa bertemu dengan Fany?!” tanya gadis yang tak lain adalah Jiyeon, Park Jiyeon.

“Suaminya mengusirku dengan sangat tidak sopan.” Kata Jonghyun kesal seraya memukul meja bartender pelan.

“Hari ini kau mungkin bisa di usir, tapi besok ketika Fany sadar ia tak akan mungkin bisa mengusirmu.” Ujar Jiyeon dengan nada yang terkesan licik.

“Hhhh… aku tahu itu. Mana mungkin Jinki berani mengusirku di depan Tiffany.” Kata Jonghyun percaya diri “Errr… ngomong-ngomong kapan kau memulai aksimu?” tanyanya pada Jiyeon

“Kau tidak perlu tahu kapan, kau hanya perlu menunggu tanggal mainnya.” Jawab Jiyeon dengan seringaian licik.

“Dasar wanita licik -.-” batin Jonghyun

 

***

 

“Sayang waktunya makan.” Jinki meletakan nampan yang berisi bubur dan susu di atas meja.

“Aku tidak mau.” Tolak Tiffany, bermaksud Jinki berniat menyuapinya.

“Ayolah aku tahu sekarang kau sedang ingin bermanja-manjaan.” Kata Jinki seraya kemudian mengangkat mangkuk berisi bubur dan menyendoknya.

“Buka mulutmu… Aaaaaa….”

Tiffany membuka mulutnya dan satu sendok bubur sudah masuk ke dalam mulutnya dengan manis.

“Haha… lucu juga kalau melihatmu makan dengan di suapi.” Kata Jinki dengan tawaan kecil

“Aku kan dari sananya memang sudah lucu.” Kata Tiffany kepedean

“ baru sadar kalau aku punya istri yang narsis.” Canda Jinki

“Tapi kau suka kan…” Tiffany mengedipkan sebelah matanya pada Jinki yang langsung membuat Jinki tertawa.

Tumben sekali istriku bergaya aegyeo seperti ini, batin Jinki.

Tok…tok…tok… tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Masuk…” Kata Jinki dan Tiffany bersamaan.

Pintu terbuka dan di lihat oleh mereka berdua Jonghyun yang berjalan masuk ke dalam dengan sudah mengenakan pakaian rapih, dan membawa sebucket mawar merah (lagi) beserta parsel berisi buah-buahan (lagi).

“Jonghyun…” kata Tiffany sumringah

“Hai…. Tiffany.” Sapa Jonghyun seraya tersenyum pada Tiffany kemudian melirik Jinki.

Jinki berdecak pelan dan menatap Jonghyun sinis.

“Pria itu lagi, pria itu lagi.” Batin Jinki kesal.

“Duduklah…” perintah Tiffany

“Ne…” Jonghyun masuk dan duduk di sebelah kanan Tiffany

“Igeo…” Jonghyun menyerahkan bunga mawar itu pada Tiffany.

“Aaaaaa… gomawoyo… bunganya sangat indah.” Puji Tiffany mendengar itu Jonghyun hanya nyengar-nyengir tidak jelas.

“Oh ya apa bunga yang kemarin kau suka?” tanya Jonghyun

“Eh? Bunga yang kemarin?” tanya Jinki bingung

“Habislah kau Jinki.” Batin Jinki ketakutan

“Ehhh tidak maksudku…”

“Ya aku suka.” Jawab Tiffany asal seraya menatap Jinki dengan tatapan membunuh.

“Terimakasih atas bunganya.” Kata Tiffany tulus “Harusnya kau tidak usah repot-repot membawakanku bunga seperti ini.” Kata Tiffany tak enak

“Tidak apa. Oh iya aku bawakan parsel lagi ini.” Jonghyun meletakan parsel itu di atas meja Tiffany

“Gomawo Jjong, kau memang sangat baik.” Puji Tiffany tanpa sadar yang membuat Jinki sedikit kesal.

“Kau bisa saja, oh iya aku masih ada banyak urusan aku pergi dulu.”

“Huh… cepat sekali.” Kata Tiffany

“Aku masih banyak urusan, jika aku berlama-lama di sini bisa-bisa pekerjaanku terbengkalai.” Tutur Jonghyun

“Oh begitu.”

“Ya sudah ya aku pulang dulu. Bye.” Jonghyun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar, saat ia hendak keluar ia melihat sebucket bunga yang di berinya kemarin berada di tong sampah.

“Oh ternyata di buang…” batin Jonghyun kesal seraya kemudian berjalan keluar dari ruang inap Tiffany dengan persaan sangat-sangat kesal.

 

TBC…

Please di mohon dengan sangat kesadaran dari silent reader.

Selama ini saya tidak pernah memaksa kalian untuk memberikan komentar di fanfic saya ini, tapi setiap saya liad stat post’n wgab yang ngeliat sangat banyak tapi komentarnya, sangat sedikit. Membuat saya jujur kecewa. Saya sempat malas melanjutkan fanfic ini dan kalaupun di lanjutkan itu akan saya post di wp saya sendiri dan di beri password. Please di mohon kesadarannya , thanks.

Buat good reader, thanks ya udah baca dan setia memberi komentar pada fanfic saya yang nista ini kekeke … love u all :* 🙂

Advertisements

4 responses to “We Got A Baby (Part 5)

  1. bgus bgt ceritanya 😀
    author hebat bgt 🙂
    mau dong yg tokoh utamanya Tiffany lgi xD
    gomawo author ^^~

    • hehe… tapi aku udah banyak ff tiffany chingu ^^ …
      nnti kalau project ff ini selesai aku mau bikin ff yg lain…
      btw thanks yya dah comment dan berkunjung ke sni ^^

  2. Untung z tifany ga sampe kehilangan aeginya.smg z rencana jonghyun dan jiyeon buat pisahin jinki dan tifany ga berhasil

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s