We Got A Baby (Part 4)

Tittle      : We Got A Baby

Author  : Little Fairy

Cast       : Tiffany Hwang, Lee Jinki

Cameo  : Kim Jonghyun,Shin Dongho, Han Seungyeon , & Park Jiyeon

Genre   : Romance,A little bit comedy

Rating   : PG+15

Length  : Chaptered

Disclaimer : Only plot my own. Tiffany,Jinki,Jonghyun,Dongho and Seungyeon belong’s their agency and their parents.

Poster : yayahartwork@sujumalayff

Sebelumnya Saya Little Fairy alias Vhii Kikey Shawol Alias Vhii alias Devi Hardiyanti Rahayu mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri Tahun 1432 Hijriyah mohon maaf lahir batin semua. Maaf kalau selama ini ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

Ok selamat membaca!

***

“Tiffany!!” teriak  Jonghyun ketika mendapati sosok yang ia kenal tengah berlari ke luar dari cafenya.

Tiffany mendengar teriakan itu tapi ia tak menghiraukannya dan tetap berlari keluar, Jonghyun kemudian seger turun dari atas panggung dan kemudian ikut berlari keluar dari dalam cafe.

Di lihatnya Tiffany yang sudah berada cukup jauh darinya, Jonghyun kemudian mempercepat larinya dan mencoba untuk menyamai langkah Tiffany.

Jarak antara Jonghyun dan Tiffany saat ini kurang dari 50 cm, memudahkan Jonghyun untuk meraih tangan Tiffany dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.

“Hhhhh…hhhh…” Jonghyun terengah-engah di samping telinga Tiffany, membuat gadis itu sedikit bergidik ngeri.

“J-jong…” Tiffany menyebut dengan sedikit terbata

“Kenapa kau lari? Kenapa kau tidak menghiraukan teriakanku tadi?” tanya Jonghyun yang langsung membuat Tiffany diam seribu bahasa.

“Fany… kenapa kau diam?”

“A-aku…” Tiffany tak melanjutkan kata-katany, ia benar-benar bingung harus bicara apa saat ini, ia benar-benar tak dapat berbicara barang sedikitpun.

“Baiklah aku mengerti.” Jonghyun melepas pelukannya dan membalik tubuh Tiffany menjadi menghadap dirinya.

Jonghyun tersenyum dan melambaikan tangannya pada Tiffany “Fany Annyeong! Ottosimnika?” tanya Jonghyun “Neoul gwenchanayo?” tanya Jonghyun lagi sambil terus menyunggingkan senyum manis di bibirnya

“Errr… nan gwenchanayo…” jawab Tiffany ragu-ragu

“Ayolah… sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kau dan Jinki? Apa kalian sudah menikah?” tanya Jonghyun dan Tiffany ia hanya dapat mengangguk-angguk dengan memasang wajah polosnya.

“Lalu apa kalian sudah punya anak?” tanya Jonghyun lagi dan dengan segera Tiffany menggeleng.

Jonghyun membelelalakan matanya “Belum?!” pekik Jonghyun yang langsung membuat Tiffany sedikit kaget.

“Ia belum tapi akan…”

“maksudmu kau sedang hamil?” tanya Jonghyun memastikan dan Tiffany hanya dapat mengangguk mantap.

“cukhae…” kata Jonghyun memberikan selamat

“Ah ne go-gomawo…” kata Tiffany gugup

“errrrr kembali ke cafe ku?” tanya Jonghyun, Tiffany mengangguk seraya kemudian berjalan bersama Jonghyun menuju cafe milik Jonghyun.

***

Sudah dua minggu Jinki berada di luar kota untuk menyelesaiakan urusan bisnisnya, membuat Tiffany sangat kesepian dan hanya melewati hari-harinya bersama Yuri ataupun Jonghyun.

Peep…peep…peep…peep

Tiffany meraih ponselnya dan mengangkat telpon untuknya.

“Yeobseyo…”

“Ah ne aku akan kesana.” Tiffany menutup flip ponselnya dan segera beranjak dari atas sofa. Ia berlari ke kamarnya dan sesaat kemudian ia keluar dengan pakaian yang berbeda.

***

Tiffany berjalan melewati jalanan komplek rumahnya, sampai saat ini ia belum melihat satupun taxi lewat di depannya membuatnya terpaksa harus berjalan.

“Noona!!” teriak suara seorang laki-laki yang cukup di ingat oleh Tiffany, Tiffany berbalik dan melihat Dongho yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangan kepadanya.

Tiffany tersenyum dan ikut melambaikan tangan. Dongho kemudian berlari menghampiri Tiffany.

“Hi noona apa kabar?” tanya Dongho

“Errrr… aku baik-baik , kau bagaimana?” tanya Tiffany balik

“Aku sedang tidak baik dua minggu ini.” Wajah Dongho berubah murah

“Eh? Kenapa? Maksudku memangnya kau kenapa?” tanya Tiffany sedikit penasaran

“Karena dua minggu tidak bertemu noona perasaanku jadi tidak baik…” kata Dongho serius namun di anggap sebuah candaan oleh Tiffany.

“Haha…” Tiffany terkekeh kecil , Dongho yang melihatnya pun ikut tertawa.

“Errrr…noona bisakah kita bicara sebentar?”

***

Dongho dan Tiffany duduk di salah satu bangku panjang yang terdapat di bawah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan tempat mereka bertemu tadi.

“Kau mau bicara apa?” tanya Tiffany, membuat Dongho sedikit tersentak kaget.

“A-aku mau errr…” Dongho nampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.

“Kau mau apa?” Tiffany mengerutkan keningnya dan menaikan sebelah alisnya, menatap Dongho aneh.

“Aku bingung mau mengatakannya seperti apa…” Kata Dongho gugup

“Tidak perlu bingung, katakan saja.” Kata Tiffany, sesaat kemudian Dongho menarik nafas panjang dan menatap Tiffany dalam.

“Noona aku mau jujur padamu…”

“Ye…”

“Errrr… jika aku tidak mengatakannya sekarang mungkin aku akan errrrr terus tersiksa…” kata Dongho membuat Tiffany menaikan sebelah alisnya lagi “Maksudmu…?”

“Noona saranghae…”

Tiffany terdiam, matanya tak berkedip. Ia hanya bisa melongo mendengar perkataan Dongho barusan dan sesaat kemudian terdengar suara tawa yang begitu keras keluar dari mulut Tiffany.

“Hahahahahahahahhahahahahah…” Tiffany tertawa ngakak

Dongho mengerutkan keningnya “apa ada yang lucu noona?” tanya Dongho yang langsung membuat Tiffany terdiam dan langsung menggeleng.

“Ani… hanya saja kau menyatakan cinta pada orang yang salah.” Jawab Tiffany.

Dongho menggeleng pelan “Ani… aku tidak salah. Aku menyatakan cinta pada orang yang benar.”

Tiffany tersenyum “Kau salah Dongho. Kau menyatakannya pada wanita yang sudah memeliki seorang suami dan wanita yang sedang dalam keadaan hamil…” tutur Tiffany dan Dongho hanya bisa terdiam.

“Aku sudah memiliki suami dan akan memiliki anak, mana mungkin bisa aku menjadi kekasihmu . Dan lagi bagiku kau hanyalah seorang adik kecil yang menyayangiku tidak lebih.”

Dongho tersenyum yang terkesan di paksakan “Mianhae noona…” lirih Dongho

“Apa yang harus di maafkan eum? Kau tidak salah apa-apa…” kata Tiffany

“Maafkan aku karena telah mencintai noona.” Ujar Dongho datar

“Kau tidak salah, mencintai seseorang itu adalah suatu yang wajar bukan sebuah kesalahan. Kau harus tahu itu.”

Dongho mengangguk “Ne arraso… noona bolehkah aku meminta sesuatu darimu?” tanya Dongho hati-hati.

“Minta apa?” tanya Tiffany

“Bolehkah aku memelukmu? Sekali saja?” tanya Dongho penuh harap membuat Tiffany sempat mengerutkan alisnya bingung.

“Errrr… baiklah.”

***

Tiffany masuk ke dalam cafe Jonghyun dan duduk di meja yang bersebelahan dengan sebuah jendela kaca transparant.

Jonghyun datang menghampirinya dengan membawakan dua cangkir moccachino.

“Ini…” kata Jonghyun seraya menyodorkan secangkir moccachino di hadapan Tiffany.

Tiffany menerimanya dengan senang hati dan segera meminumnya.

“Jadi kau di rumah hanya sendirian?” tanya Jonghyun tiba-tiba membuat Tiffany menatapnya.

“Errr…begitulah. Memangnya kenapa?” tanya Tiffany

“Tidak apa-apa. Tapi masa dia meninggalkanmu sendirian di rumah sendirian padahal kau kan sedang hamil. Setidaknya ia bisa meminta adiknya untuk tinggal di rumah kalian dan menjagamu.” Celoteh Jonghyun yang membuat Tiffany terkekeh kecil.

“Kau tidak berubah Jjong… kau masih sama seperti dulu… Kim Jonghyun yang selalu mencemaskan Tiffany haha…” kata Tiffany sambil tertawa ringan

“Yeah… I’m never change , like that my love for you never change…”

***

Jinki menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe kecil yang berada di pinggir jalanan raya tidak jauh dari rumahnya.

“Kau mau apa Seungyeon~a?” tanya Jinki dengan jengkel pada sekertarisnya itu, sudah lebih dari enam kali Seungyeon memintanya berhenti di pinggir jalan.

“Errrr… aku mau membeli air mineral di toko di pinggir sana.” Kata Seungyeon membuat Jinki mendengus pelan.

“Oh ayolah, sebentar lagi kita akan sampai rumah masing-masing jadi tidak perlu membeli minuman lagi.” Kata Jinki kesal.

“Hanya sebentar pak tidak lama.” Seungyeon kemudian turun dari mobil Jinki dan berjalan keluar.

“Hhhh…” Jinki mendengus pelan seraya kemudian menunggu Seungyeon sambil memainkan jari-jarinya di atas setir mobilnya.

Jinki tanpa sengaja melirik papan besar di depan cafe tersebut ‘Fany Fany Tiffany’

“Eh? Nama cafe itu kenapa mirip sekali dengan nama panggilan Tiffany semasa kuliah?” batin Jinki tapi ia berusaha untuk tidak mengambil pusing itu, baginya mungkin itu hanya kebetulan saja. Jinki kembali memainkan jari-jarinya di setir mobilnya sambil bersiul.

Tanpa sengaja matanya kembali melirik ke jendela cafe itu, di lihatnya dua orang yang sudah tak asing lagi di matanya sedang berbincang-bincang. Membuatnya benar-benar shock dan kaget setengah mati.

Jinki keluar dari mobilnya dan mencoba memastikan kebenaran yang di lihatnya, saat ia hendak berjalan mendekati jendela cafe tersebut tiba-tiba Seungyeon datang menghampirinya.

“Anda mau kemana pak?” tanya Seungyeon tiba-tiba membuat Jinki sedikit terkejut.

Jinki menggeleng pelan ia lantas masuk ke dalam mobilnya di ikuti oleh Seungyeon, ia menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dari cafe itu.

***

Entah apa yang mengganggu pikiran Tiffany, tiba-tiba saja ia ingin sekali melihat keluar jendela. Tiffany menghela nafas dan menoleh ke luar jendela, sekilas di lihatnya sebuah mobil hyundai berwarna hitam yang mirip dengan mobil Jinki baru saja berlalu.

“Apakah itu mobil Jinki?” batin Tiffany, tapi ia merasa bahwa itu bukan mobil Jinki karena Jinki masih ada di luar kota dan yang memiliki mobil seperti itu bukan hanya Jinki.

Tiffany kembali melihat ke seliling cafe dan sekali lagi ia menyerup moccachino yang tadi di berikan Jonghyun.

“Errrr…kurasa sekarang waktunya untuk aku pulang.” Kata Tiffany seraya melirik ke arah jam besar yang terpajang di dinding cafe Jonghyun

“Hey… kau baru dua jam di sini cepat sekali kau mau pulang.” Omel Jonghyun

“Ya! Dua jam itu lama tahu!” pekik Tiffany yang langsung membuat Jonghyun nyengir-nyengir tidak jelas.

“Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya. Sampai jumpa lain waktu.” Tiffany bangkit dari tempat duduknya dan melambaikan tangannya sekilas pada Jonghyun, ia kemudian segera meninggalkan cafe itu.

***

Jinki keluar dari dalam kamar mandinya dengan bertelanjang dada dan handuk yang menutupi bagian bawahnya, ia kemudian berjalan menuju ruang televisi dan duduk di sofa sambil terus menerus mengganti channel televisi.

Tiba-tiba saja ia kembali teringat kepada dua orang yang tengah mengobrol di cafe tadi, ia tidak perlu mengira-ngira lagi benar orang itu adalah Tiffany dan Jonghyun.  Tiffany sedang tidak ada di rumah , jadi itu berarti wanita yang dilihatnya tadi benar-benar Tiffany dan bukan matanya yang salah lihat.

Cklek… pintu rumahnya terbuka Jinki spontan langsung menoleh ke sumber suara, di lihatnya Tiffany yang berjalan masuk ke dalam rumah.

“Dari mana saja kau?”

“Eh?”

***

Jinki dan Tiffany duduk di sofa berdampingan, keduanya sama-sama diam. Larut dalam pikiran masing-masing.

“Kau belum menjawab pertanyaanku… dari mana saja kau?” tanya Jinki lagi

“Aku errr….” Tiffany nampak ragu untuk berbicara “habis bertemu dengan Jonghyun.” Kata Jinki yang langsung membuat Tiffany terkejut setengah mati.

“Errr dari mana kau bisa tahu? Errr maksudku kau tahu dari mana?” tanya Tiffany kaget

“Errrr… kau tidak usah bertanya balik, benarkah kau bertemu dengan Jonghyun?” tanya Jinki dengan nada  tak suka, Tiffany tak bersuara ia hanya mampu mengangguk.

“Oh… cinta lama bersemi kembali.” Kata Jinki yang langsung membuat Tiffany mendelik dan menatap Jinki tajam “Maksudmu?!” pekik Tiffany.

“Tidak… hanya berbicara sesuai fakta!”

“Ya! Lee Jinki, bisakah kau tidak berpikir yang macam-macam terhadapku?!” tanya Tiffany dengan cukup keras dan sedikit membentak.

“Aku tidak berpikir yang macam-macam terhadapmu kok… tapi dua minggu itu waktu yang cukup untuk menumbuhkan kembali cinta yang telah lama pudar.” Sindir Jinki membuat Tiffany benar-benar merasa jengkel.

Tiffany bangkit dan melemparkan bantal  pada Jinki seraya kemudian berjalan dengan kesal menuju kamarnya.

“Dasar menyebalkan!!” decak Tiffany kesal seraya kemudian membanting pintu kamar.

Jinki terdiam seraya memikirkan semua yang di katakannya barusan “Apakah aku salah?” tanyanya dalam hati.

***

06.00 AM

Tiffany keluar dari kamarnya, sudah hampir 15 jam ia di dalam kamar sejak tadi malam berdebat dengan Jinki. Di lihatnya Jinki yang tengah duduk di meja makan sambil membaca koran pagi, Jinki meliriknya dan Tiffany sadar akan itu namun ia bersikap acuh dan segera berjalan ke dapur untuk meneguk segelas air, kerongkongannya saat ini benar-benar sangat kering.

Tiffany menaruh gelasnya di atas bar, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu.

“Aigo… kenapa aku bisa lupa akan itu!” pekik Tiffany seraya menepuk jidatnya membuat Jinki menoleh padanya.

Tiffany berjalan menghampiri Jinki dan duduk di meja makan.

“Errr… apa kau bisa menemaniku pergi ke dokter kandungan?” tanya Tiffany sedikit ragu.

Jinki menurunkan koran pagi yang sedari tadi menutupi setengah wajahnya, dan menatap Tiffany dengan sedikit sinis.

“Kenapa harus aku ? kenapa tidak Jonghyun saja?” tanya Jinki setengah menyindir

“Ya!! Yang ku kandung ini anakmu, kenapa aku harus meminta Jonghyun yang mengantarku sementara yang ku kandung ini adalah buah hasil dari perbuatanmu!!” bentak Tiffany

“Mungkin saja itu anak Jonghyun bukan anakku.” Kata Jinki sedikit keterlaluan

“Apa?!” pekik Tiffany ia berdiri dan menatap Jinki tajam dan plakkk sebuah tamparan mendarat dengan manis di pipi kiri Jinki.

“Kau keterlaluan!” pekik Tiffany ia kemudian berlari ke dalam kamar dan membanting pintu kamarnya.

Jinki terdiam dan ia kemudian menelan ludahnya.

“Apa yang barusan kau katakan Jinki!” ia merutuki dirinya sendiri sekarang.

***

Tiffany keluar dari kamar dan Jinki yang tadi sedang duduk di sofa dengan wajah pucat segera berjalan menghampiri Tiffany.

“Fany~ah mianhae… jeongmal mianhae…” kata Jinki penuh penyesalan seraya meraih bahu Tiffany dan membalik badan Tiffany.

“Minta maaf untuk apa?” tanya Tiffany dingin

“Soal tadi, maaf perkataanku tadi memang benar-benar bodoh! Aku benar-benar termakan api cemburu.” Tutur Jinki

“Tidak perlu minta maaf, toh benar yang kau katakan! Yang ku kandung itu anak Jonghyun bukan anakmu.” Kata Tiffany emosi sekaligus sedikit menyindir.

“Fany aku benar-benar minta maaf, lidah ku benar-benar keseleo (?) tadi, aku benar-benar termakan api cemburu.” Kata Jinki penuh penyesalan

“Sudahlah, aku tidak mau bicara denganmu aku mau pergi sekarang.” Kata Tiffany seraya menepis tangan Jinki yang sedari memegang pundaknya.

“Biar aku antar.” Kata Jinki meraih pergelangan tangan Tiffany saat istrinya itu hendak berbalik.

Tiffany tersenyum kecut seraya kemudian menghempaskan tangannya “Tidak perlu!” pekik Tiffany seraya kemudian berjalan keluar dari dalam rumah.

“Kau memang bodoh Jinki!! Lihatlah sekarang istrimu benar-benar sudah sangat marah!! Kalau sampai masalah ini tidak selesai-selesai lebih baik kau mati saja Jinki!!” Jinki merutuki kebodohannya sendiri.

***

Tiffany duduk di halte bus sambil mengayun-ayunkan kakinya, sudah hampir setengah jam ia menunggu bus yang berhenti di depan halte ataupun taxi yang lewat, tapi sejak tadi tak ada satu pun bus yang berhenti ataupun taxi yang lewat.

Tiffany mendengus pelan, tiba-tiba saja bulir-bulir air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Kenapa Jinki bisa berbicara seperti itu tadi.” Lirih Tiffany “dia menyangka ini anak Jjong? Padahal aku bertemu dengan jjong baru dua minggu yang lalu tapi dia, apa dia tidak sadar apa yang dia katakan tadi. Aku sudah mengandung anaknya sejak empat bulan yang lalu tapi…tapi…aishhh kau benar-benar keterlaluan Jinki!!!”

Tiba-tiba sebuah mobil bmw berwarna silver berhenti di depannya dan kaca mobil itu terbuka.

“Kau sedang apa di situ?!” tanya Jonghyun setengah berteriak , membuat Tiffany buru-buru menyeka air matanya dan mendongak menatap Jonghyun.

“Menunggu bus, tapi tidak ada yang lewat sejak tadi!” seru Tiffany

“Memangnya kau mau kemana?!” tanya Jonghyun

“Kerumah sakit, aku mau memeriksa kandungan!!” sahut Tiffany

“Ooh kalau begitu biar aku antar.” Kata Jonghyun

“Aahh tidak perlu, itu sangat merepotkan.” Tolak Tiffany halus.

Jonghyun tersenyum , ia turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Tiffany.

“Biar aku antar, dari pada waktumu banyak terbuang untuk menunggu bus.” Jonghyun merangkul bahu Tiffany dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

***

Jinki masuk ke dalam ruang kerjanya dengan tampang yang sangat sangat kusut seperti baju yang di cuci berkali-kali tapi tidak pernah di gosok, seperti itulah tampang Jinki sekarang.

Seungyeon melirik Jinki sekilas, sekertaris itu seperti merasa Jinki sedang ada masalah dan ia tahu pasti masalahnya dengan istrinya. Karena tidak mungkin ia bermasalah dengan pekerjaan, karena urusan bisnisnya di luar kota kemarin saja sukses besar.

Seungyeon mencoba mencari perhatian Jinki, ia bangkit dari tempat duduknya dan duduk di hadapan Jinki.

“Apa anda ada masalah pak?” tanya Seungyeon sok perhatian

Jinki tersenyum kecut “Begitulah.”

“masalah apa kalau saya boleh tahu? Masalah dengan istri anda?” tanya Seungyeon mencoba mengorek-orek (?) Jinki.

“Ya begitulah, karena salah berbicara dan cemburu buta kami jadi yya begitulah.” Kata Jinki frustasi

“Memangnya bapak bicara apa?” kata Seungyeon penasaran

“Errrr… mengatakan bahwa anak yang di kandung olehnya itu adalah anak orang padahal jelas-jelas yang di kandungnya itu anakku.” Kata Jinki frustasi

Seungyeon tersenyum licik. “Waktunya untuk mengompor-ngompori.” Batin Seungyeon.

“Errrr… menurut saya bapak tidak salah bicara, mungkin saja yang bapak katakan ada benarnya. Istri bapak berselingkuh dengan pria lain lalu mengandung dan kemudian…”

“Stop!! Kembali ke mejamu!!” potong Jinki seraya memekik menyuruh Seungyeon kembali ke meja kerjanya.

“Tapi saya belum selesai memberikan pen…”

Lagi-lagi ucapan Seungyeon terpotong “Mendengar pendapatmu malah makin membuatku pusing , jadi lebih baik kau kembali.” Kata Jinki terang-terangan.

Seungyeon membulatkan mulutnya , usahanya untuk mengompor-ngompori ternyata gagal padahal biasanya dia selalu berhasil mengompor-ngompori orang.

Seungyeon berdiri dan kembali ke mejanya dengan kesal.

***

Tiffany dan Jonghyun keluar dari dalam ruangan yang tak lain adalah ruangan dokter kandungan, mereka kemudian berjalan berdua melewati koridor rumah sakit.

“Terimakasih Jonghyun , kalau tidak ada kau mungkin aku tidak bisa memeriksakan kandunganku sekarang.” Lirih Tiffany

“Gwenchana sudah seharusnya kan aku membantumu.” Kata Jonghyun

“Oh iya apa Jinki sudah kembali?” tanya Jonghyun

Tiffany terdiam sejenak dan menarik nafas “Dia sudah kembali, tapi …”

Jonghyun menaikan sebelah alisnya “tapi kenapa?”

“terjadi kesalah pahaman di antara kami, dan dia … dia marah padaku.” Lirih Tiffany

“Salah paham? Pasti karena aku.” Kata Jonghyun

“Bukan bukan, bukan karena kamu.” Sanggah Tiffany

“Lalu…?” tanya Jonghyun meminta sebuah kepastian

“Errr… i can’t say that…” ucap Tiffany

“Ok… i know… sebaiknya sekarang aku mengantarmu pulang ke rumah sebelum terjadi kesalah pahaman lagi di antara kalian.” Kata Jonghyun

“Ne…”

***

Jinki benar-benar jenuh berada di dalam kantor , ia kemudian berniat untuk pulang dan menyiapkan sebuah kejutan untuk Tiffany sebagai permohonan maafnya.

Jinki bangkit dari tempat duduknya dan meraih jasnya, ia kemudian menyampirkan jasnya di lengannya.

Seungyeon ikut bangkit dari tempat duduknya dan menatap Jinki penuh tanya.

“Anda mau kemana pak?” tanya Seungyeon

Jinki mendengarnya tapi ia tak menggubris Seungyeon, ia malah pergi begitu saja meninggalkan Seungyeon, membuat Seungyeon berdecak kesal.

***

Jinki memainkan jari-jarinya di setir mobil sambil menunggu lampu merah berganti menjadi berwarna hijau, warna yang menandakan bahwa mobil sudah boleh kembali melintas.

Tanpa sengaja Jinki melihat ke sebelahnya dan sebuah pemandangan tidak enak membuatnya benar-benar sakit dan kecewa.

***

“Fany~ah ada bulu matamu yang jatuh.” Kata Jonghyun seraya menunujuk ke bawah kantong mata Tiffany

“Errr mana?” Tiffany meraba-raba daerah sekitar matanya

“Itu loh…” Jonghyun kembali menunjuk-nunjuk bagian bawah mata Tiffany

“Apa sudah hilang?” tanya Tiffany

“Belum…”

“Apa sudah hilang?” tanya Tiffany lagi, pertanyaannya masih sama seperti yang tadi

“Aishhh… sini biar aku yang ambilkan.” Jonghyun mendekatkan wajahnya pada wajah Tiffany dan mengambil mengambil bulu mata Tiffany.

“Sudah hilang.” Jonghyun menjauhkan wajahnya dari wajah Tiffany

“Gomawo Jjong~.”

“Ne…”

Tanpa mereka sadari ada dua pasang bola mata yang mengamati mereka berdua.

***

Jinki memacu mesin mobilnya lebih cepat, ia ingin sampai di rumah lebih dahulu dari Tiffany.

Sesampainya di rumah Jinki langsung menghempaskan tubuhnya di sofa dan berteriak frustasi.

“Arghhhh!!!” teriaknya dan bertepatan dengan itu Tiffany berjalan masuk ke dalam rumah.

“Kau kenapa?” tanya Tiffany dingin

Jinki kemudian mengubah posisi tubuhnya yang sedang duduk bersandar menjadi duduk dengan tegap, ia memutar bola matanya dan menatap Tiffany tajam.

“Bagaimana rasanya berciuman dengan mantan kekasih huh?” tanya Jinki sedikit menyindir, membuat Tiffany benar-benar tak mengerti , Tiffany menatap Jinki aneh seraya mengangkat alisnya.

“Maksudmu? Aku tidak mengerti.” Kata Tiffany

“Oh ya? Jangan pura-pura tidak mengerti Fany~ah. Bagaimana rasanya berciuman dengan mantan kekasihmu huh?” pekik Jinki

“Ya! Apa yang kau katakan ?! aku benar-benar tak mengerti!!”  Tiffany benar-benar tak mengerti dengan maksud perkataan Jinki barusan.

“Sudahlah, aku malas beradu mulut denganmu lebih baik aku pergi!!” kata Jinki seraya bangkit dari sofa dan berjalan keluar.

“Ya! Kau mau kemana?!” tanya Tiffany setengah berteriak.

Jinki berhenti dan berbalik “Aku mau mabuk.” Kata Jinki seraya kemudian pergi keluar dari dalam rumahnya.

“O.o”

***

Tiffany duduk di sofa dengan perasaan yang gelisah, ia terus memikirkan kata-kata Jinki tadi. Tangannya tak henti-henti memijit-mijit pelan kepalanya.

Entah kenapa ia benar-benar pusing karena terlalu banyak berpikir, ia juga sepertinya cukup stres atas sikap cemburu berlebihan Jinki.

“Ciuman dengan mantan kekasih? Apa sih maksud Jinki?” tanya Tiffany dalam hati , Tiffany terus berpikir dan berpikir, sampai akhirnya ia mengingat satu kejadian yang membuat  Jinki bisa bertanya seperti itu.

“Oh Tuhan, kenapa ia mudah sekali salah paham.” Batin Tiffany ia kemudian bangkit dari sofa mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumahnya.

***

Jinki terus menyerup rumnya sekali lagi, ia benar-benar frustasi , pikirannya kacau. Hatinya terus merasa kesakitan.

“Jinki…” samar-samar Jinki mendengar suara seseorang yang cukup familiar di telinganya

Jinki mendongak dan menatap sesosok wanita yang saat ini tengah duduk di sampingnya.

“Jiyeon~a..” gumam Jinki

“Kau benar Jinki?” tanya Jiyeon ragu dan Jinki mengangguk mantap

“Kau sedang apa disini? Dan astaga kau mabuk!” kata Jiyeon terkejut

“Aku , aku frustasi…” Kata Jinki membuat Jiyeon menaikan sebelah alisnya

“Frustasi? Kenapa?”

***

Tiffany berhenti di sebuah pub, ia turun dari mobil taxi dan ia melihat mobil Jinki berada di parkiran mobil pub tersebut. Tiffany kemudian berjalan masuk ke dalam pub dan mencari-cari sosok Jinki.

Dari jauh samar-samar Tiffany melihat sosok Jinki bersama seorang wanita, Tiffany melongo ia benar-benar tidak percaya bahwa emosi Jinki benar-benar tak dapat terkontrol.

Tiffany segera menghampiri Jinki dan wanita itu.

“Ya!! Lee Jinki!!” pekik Tiffany membuat Jinki mengangkat kepalanya

“Hi! Fany~ah bagaiman rasanya ciuman dengan mantan kekasihmu?!” tanya Jinki dalam keadaan setengah sadar.

“Aku tidak berciuman dengan Jonghyun!” tegas Tiffany

“Eh?! Benarkah? Aku tidak yakin akan itu. Dengar ya Tiffany! Jika kau bisa berciuman dengan mantan kekasihmu berarti aku pun juga bisa!” kata Jinki seraya meraih kepala Jiyeon dan segera mencium bibir Jiyeon di hadapan Tiffany.

Tiffany membulatkan matanya, ia menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Matanya memanas dan sedikit memburam , dan selang beberapa detik air matanya pun menetes.

“Terimakasih.” Gumam Tiffany seraya kemudian berlari keluar dari dalam pub tersebut, menerobos kerumunan orang yang tengah menari-nari riang. Menubruk semua orang yang ia lewati tanpa memperdulikan suara omelan-omelan mereka.

Ia benar-benar kecewa dengan Jinki, perasaannya kacau, sakit hati, Jinki selalu melakukan sesuatu yang membuatnya sedih, dari mulai cemburu,curiga, salah paham dan semuanya membuat Tiffany muak, ia benar-benar lelah dengan semuanya.

Tiffany berlari ketengah jalan tanpa peduli dengan apapun, ia juga tidak memperdulikan suara klakson mobil yang sudah terdengar dari jauh.

Ciiiiittt…

Brakkk…

Tiffany terjatuh, kepalanya berdarah akibat berbenturan dengan aspal dan bau anyir pun tidak hanya tercium dari kepalanya namun juga dari kakinya.

Darah segar terus mengalir di kakinya, Tiffany sempat menggumamkan nama Jinki sesaat sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadaran.

Tbc….

Gimana? panjang belum? kemarin banyak reader yg protes gara2 part 2 dan 3 kurang panjang jadi part 4 ini sudah ku panjangin , semoga panjangnya pas gak kepanjangan kekeke..

Oh yya saya dapat feel untuk bikin ff ini sambil dengerin lagu junsu you are so beautiful and yui love and truth so… mungkin kalian juga akan dapat feel kalau baca ne ff sambil denger lagu2 yang saya dengerin itu kekeke.

Maaf yya kalau part ini kurang greget dan makin ngelantur kaya sinetron indo, dan di sini saya juga akan mengumumkan bahwa ff Marry You akan saya stop dulu soalnya saya bener2 gak dapat feel buat bikin ff itu mianhamnida.

Sekali lagi saya minta maaf kalau ff ini memiliki banyak kekurangan dan saya minta maaf juga kalau ada salah2 kata. 🙂

Annyeong~~

Advertisements

3 responses to “We Got A Baby (Part 4)

  1. Omo…apa tifany akan kehilangan bayinya?karian tifany,lagian jinkh ko bisa2 bicara kaya gitu sama tifany kasian kan tifany,smg tifany ga kenapa2

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s