We Got A Baby (Part 2)

Tittle : We Got A Baby

Author : Little Fairy

Cast : Lee Jinki, Tiffany Hwang

Cameo : Shin Dongho

Genre : Romance, A little bit comedy

Rating : PG+14

Length : Chaptered

Disclaim : Only plot my own

Note : Sequel We Got Married

Poster : yayahartwork@sujumalayff

Bisa memilikimu…

Adalah suatu anugerah terindah…

Dalam Hidupku…

***

Kring…kring…kring…

Suara telpon yang berbunyi cukup keras membuat Tiffany harus berhenti dari aktifitasnya membaca majalah tentang ibu hamil.

Tiffany bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja bar yang terdapat di dapur rumhanya, ia kemudian duduk di salah satu kursi dan mengangkat gagang telpon.

“Yeobseyo…”

“Fany~ah…!!” teriak Mrs. Hwang pada Tiffany , membuat Tiffany langsung menjauhkan gagang telpon beberapa centi dari daun telinganya

“Ya! Ibu! Tidak usah berteriak aku dengar!” omel Tiffany pada Mrs. Hwang

“Hehe.. mianhae…” kata Mrs. Hwang di iring tawa, mendengar itu Tiffany hanya berdecak pelan.

“Ada apa bu?” tanya Tiffany

“Begini, nanti malam ibu, ayah dan keluarga Lee akan datang ke rumahmu.” Jawab Mrs. Hwang

Tiffany membulatkan matanya “Untuk apa?” tanya Tiffany sedikit kaget

“Hanya ingin menengok keadaanmu , sudah dua bulan sejak kau di kabarkan hamil ayah dan ibu belum pernah sekalipun menengokmu.” Tutur Mrs. Hwang

“Oh begitu…”

“Kalau begitu sudah ya, ibu masih mau berbelanja keperluan bayi untuk calon bayimu.” Kata Mrs. Hwang

“Ne…” kata Tiffany mengiyakan, sedetik kemudian telpon pun terputus dan Tiffany langsung meletakan gagang telponnya kembali ke tempat semula.

Jinki turun dari anak tangga rumahnya sambil memasang jam tangannya, seraya kemudian melihat Tiffany dari jauh.

“Telpon dari siapa?” tanya Jinki dengan suara agak keras

“Dari ibuku.” Sahut Tiffany, Tiffany bangkit dan berjalan menuju sofa yang terdapat di depan televisi.

“Ibumu bilang apa?” tanya Jinki, ia kemudian mengikuti Tiffany duduk di sofa.

“Katanya keluargaku dan keluargamu akan datang ke sini nanti malam.” Jawab Tiffany tanpa mengalihkan pandangan dari majalah ibu hamilnya.

“Jinca? Berarti kita harus masak makan malam nanti.” Kata Jinki sumringah

Tiffany mendongak dan menatap Jinki “Persediaan makanan habis, ayo kita pergi ke mini market.” Pekik Tiffany

“Eh?” Jinki masih melongo

“Ayo cepat.” Tiffany berdiri dan menarik tangan Jinki.

***

Dongho keluar dari pagar sekolahya di ikuti dengan dua orang temannya.

“Aku tidak mau ikut triple date!” ujarnya pelan namun tegas

“Aish… Dongho kau ini keterlaluan sekali! Kau tidak pikirkan perasaan Jiyoung huh?” pekik Kevin salah satu temannya.

“Hey! Yang mengajak mereka untuk triple date kan kalian bukan aku!!” Kata Dongho kesal

“Oppa!” tiba-tiba terdengar suara Jiyoung

Kevin berbalik dan tersenyum pada Jiyoung “Kita pergi sekarang?” tanya Jiyoung pada Kevin

“Ah iya… ayo kita pergi sekarang.” Kata Kevin sambil menyunggingkan senyum yang terkesan di paksakan. Kevin berbalik dan berbisik pada Dongho pelan “Aku tidak perduli, mau tidak mau pokooknya kau harus ikut.” Bisik Kevin pelan namun penuh penekanan.

“Ish… Seenaknya sekali kau ini.”

***

Saat ini tengah ada tiga muda mudi yang duduk secara berhadapan-hadapan, saling melihat satu sama lain dengan tatapan sedikit malu-malu dan dengan wajah yang bisa di katakan merah.

Dongho, salah satu manusia yang mengikuti acara triple date itu hanya duduk diam sambil menatap Jiyoung dan sekelilingnya datar. Berbeda dengan gadis di hadapannya yang terus menunduk karena malu di lihat oleh Dongho.

Kevin menyenggol  Dongho dengan sikunya “Ya! Ajak Jiyoung ngobrol.”

“Shiro!” tolaknya pelan

“Ya!”

“Shi…” Dongho tak melanjutkan kata-katanya saat ia menangkap sosok wanita yang selama dua bulan ini terus menghantui kepalanya.

“Aku permisi ke toilet sebentar.” Dustanya kepada ke lima orang temannya. Ia berdiri dan berjalan menjauh dari tempatnya duduk tadi.

“Jinki lama sekali sih.” Gumam Tiffany sedikit kesal.

“Annyeong noona.” Kata Dongho membuat Tiffany sedikit terkejut

“Ah… ne… nugu?” tanya Tiffany lupa.

‘Dia bahkan telah melupakanku.’ Gumam Dongho dalam hati

“Kau melupakanku noona?” tanya Dongho lirih dan menatap Tiffany dengan tatapan sendu

“Hahahahaha…” tawa Tiffany membeludak mendengar itu, ia lantas menggeleng-geleng pelan membuat Dongho sedikit bingung.

Tiffany menutup mulutnya, mencoba menahan tawa. Setelah tawanya berhenti Tiffany menatap Dongho sambi menyunggingkan senyuman “Mana mungkin aku bisa melupakan kau Shin Dongho.” Kata Tiffany yang langsung membuat mata Dongho berbinar dan senyumannya mengembang.

“Hahahaha…” Dongho terkekeh pelan “sedang apa noona di sini?” tanya Dongho

“Aku sedang menunggu Jinki.” Jawab Tiffany

Dongho terdiam sejenak “Jinki? Namjachingu noona yang kemarin menjemput noona?” tanya Dongho

Tiffany terkekeh pelan sambil menggeleng “ani… dia bukan namjachinguku.” Kata Tiffany

Dongho bernafas lega sekaligus tersenyum senang “Tapi dia suamiku.” Lanjut Tiffany

Senyum Dongho tiba-tiba memudar dan tiba-tiba saja ia langsung terdiam.

“Gwenchana?” tanya Tiffany , Dongho menggerakan sedikit kepalanya dan mencoba untuk tersenyum.

“Nan gwenchanayo.” Jawab Dongho

“Oh iya kau sendiri sedang apa di sini?” tanya Tiffany pada Dongho sambil menyeruput mochachino yang di pesannya barusan.

“A-aku…” kata Dongho gugup , seraya menggaruk-garuk kepalanya

“Entah kenapa firasat baik yang membawaku kemari hehe…” dusta Dongho sambil tertawa kecil.

“Hahaha… benarkah?” tanya Tiffany sambil melirik ke sebuah meja yang berada tak jauh dari tempatnya.

“Hehe iya…” jawab Dongho

“Aku tahu , lebih baik kau kembali bersama teman-temanmu.” pinta Tiffany, saat ini matanya tengah menangkap sosok Jiyoung yang tengah memandang ke arahnya dan Dongho lirih.

“Ahh… shiro. Aku mau menemani noona di sini sampai suami noona menjemput noona.” kata Dongho sambil menyunggingkan senyuman manisnya.

“Hahaha… tapi teman-temanmu menunggumu, lihat gadis yang di sana itu.” Kata Tiffany seraya mengangkat dagunya secara tak kentara ke arah Jiyoung.

Dongho menoleh dan secara spontan Jiyoung langsung berbalik.

“Biarkan saja, lagi pula aku dari awal tidak berminta ikut triple date dengan mereka -,-.” kata Dongho acuh.

“Kau tidak boleh begitu, teman-temanmu sudah menunggumu.” kata Tiffany

“Ish… aku mau di sini menemani noona sampai suami noona pulang.” Kata Dongho ngotot

Tiffany menghela nafas pelan, seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Ya sudah kalau begitu terserahmu saja.” kata Tiffany pelan sambil menyunggingkan senyum kecil.

Sesaat kemudian pintu cafe terbuka dan nampak Jinki masuk ke dalam, matanya menelusuri setiap sudut cafe dan dilihatnya Tiffany tengah duduk dengan seorang anak remaja di salah satu bangku cafe tersebut.

Jinki berdecak kesal seraya kemudian berjalan menghampiri meja Tiffany dengan agak tergesa-gesa.

“Ehm..ehm..” Jinki berdehem seraya kemudian duduk di samping Tiffany sambil melipat tangan di depan dada.

“Hey! Kau yang dua bulan lalu di tolong oleh Tiffany itukan?” tanya Jinki basa-basi sambil menyunggingkan sebuah senyum kecut.

“Ne…” jawab Dongho sambil menyunggingkan senyum yang tak kalah kecutnya dengan senyum Jinki.

“Ooh… sedang apa kau di sini?” tanya Jinki penuh penekanan, seraya melirik Tiffany.

“Aku…”

“Dia tadi mampir ke sini dan kami tidak sengaja bertemu, dia kemudian duduk dan menemaniku menunggumu disini.” kata Tiffany berbohong

“Ooh…” gumam Jinki seraya melirik ke arah jam tangannya.

“Sepertinya kami harus pulang sekarang Dongho~sshi, dan kau juga harus pulang. Seorang pelajar sepertimu baiknya berada di rumah saat ini bukannya di cafe.” sindir Jinki seraya memegang pergelangan tangan Jinki dan menariknya keluar dari dalam cafe.

Dongho hanya melongo melihat sikap Jinki barusan namun matanya tetap terfokus pada Tiffany yang kini tengah tersenyum padanya sekilas sebelum kemudian kembali menghadap kedepan.

“Tch… sungguh di sayangkan. Tiffany noona ternyata telah salah memilih suami.” decaknya kesal

***

“Ya! Ya! Ya! Lee Jinki! Ada apa denganmu?!” kata Tiffany kesal seraya menatap Jinki nanar.

Jinki memasang sabuknya dan menatap Tiffany “Aku?” dia menunjuk dirinya sendiri “aku tidak kenapa-kenapa.” jawab Jinki dengan suara dan ekspresi yang sangat datar.

“Uhuh? ku rasa tidak. Aku tahu kau pasti cemburu.” ujar Tiffany yang langsung membuat Jinki tertawa keras.

“Hahahaahahahahahaha…” tawanya “cemburu?” ekspresi wajahnya berubah menjadi serius, ia menatap Tiffany tajam “Ani… untuk apa aku cemburu dengan anak ingusan seperti dia.” katanya dingin , seraya kemudian menyalakan mesin mobilnya.

“Kalau bukan cemburu lalu apa namanya?” tanya Tiffany dengan sedikit menyindir

“Bukan apa-apa.” jawab Jinki datar “Kau…”

“Sudahlah tidak usah di bahas.” potong Jinki seraya kemudian menjalankan mobilnya.

***

Dongho beranjak dari tempat duduknya dengan malas, seraya kemudian hendak berjalan keluar dari dalam cafe.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika pergelangan tangannya di tahan oleh seorang gadis yang memakai seragam yang sama dengannya, gadis yang tak lain adalah Kang Jiyoung.

“Kau mau kemana?” tanya Jiyoung lirih

Dongho berbalik dan sama seperti tadi, ia kembali memasang wajah datar.

“Bukan urusanmu.” kata Dongho dingin seraya mengehentakan tangannya ke atas sehingga tangan Jiyoung melepas pegangannya.

Jiyoung terdiam saat Dongho kemudian berjalan keluar dari cafe dan meninggalkannya sendiri di depan pintu cafe.

“Gwencahana?” tanya Kevin yang tiba-tiba berada di sampingnya

Jiyoung menoleh ke arah Kevin dan tersenyum mengenaskan (?).

***

“Noona!!” Taemin berteriak seraya kemudian duduk di samping Tiffany

“Wae ?” tanya Tiffany pada Taemin seraya menyunggingkan sebuah senyum manis, sama seperti biasanya.

“Kau harus punya anak laki-laki ya, agar aku nanti bisa mengajaknya bermain hehe.” kata Taemin di iringi tawa

“Ya! Ya! Ya! Tiffany onnie tidak akan punya anak laki-laki tapi perempuan.” kata Eunji dari dapur.

Taemin menyembulkan kepalanya dari balik sofa dan menatap ke arah adik perempuannya Eunji , menatap gadis manis itu dengan sinis.

“Tidak akan! Bayinya harus laki-laki!” kata Taemin ngotot

“Ya sudahlah! terserah tidak ada gunanya berdebat dengan oppa!” kata Eunji mengalah

“Hahaha… adik pintar. Tumben kau mau mengalah kkkkk~” kata Taemin seraya kemudian kembali duduk di samping Tiffany.

“Ehm…ehm…” Jinki berdehem seraya kemudian duduk di samping Taemin

Tiffany melirik ke arah Jinki dan mendengus sebal

“Ayolah… jangan bilang kau cemburu dengan adikmu sendiri.” ujar Tiffany ketus

“Eh hyung cemburu?” tanya Taemin seraya memasang wajah innocent terhadap hyungnya.

“Ani… untuk apa aku cemburu dengan anak ingusan seperti Taemin.” kata Jinki datar, dan perkataannya barusan sukses membuat Taemin melayangkan sebuah jitakan manis (?) di kepalanya.

“Aku bukan anak ingusan hyung! ingat itu!” katanya penuh penekanan, Tiffany yang mendengar itu hanya bisa cekikikan.

“Taemin oppa memang masih anak ingusan!” sahut Eunji dari dapur

“Ya! diam kau anak kecil!!” pekik Taemin

“Sudah-sudah! jangan ribut-ribut disini.” kata Mrs. Lee menengahi

“Lebih baik sekarang kita melangsungkan makan malamnya, makanannya kan sudah siap.” lanjut Mrs. Hwang

“Ne…” kata mereka serentak.

***

Dongho menatap keluar jendela kamarnya, matanya sama sekali tak bisa berhenti menatapi bulan yang tak henti-hentinya memancarkan sinar yang begitu indah.

Lagi-lagi bayang-bayang wajah Tiffany kembali terngiang di kepalanya.

Senyumnya…

Tawanya…

Caranya berbicara…

Semuanya dapat di ingat jelas oleh otaknya, seolah otaknya merekam semua yang ia lihat dari diri Tiffany.

“Aish… michyeoga!” guamam Dongho pada dirinya sendiri seraya memukul kepalanya pelan.

“Ya! Boleh aku masuk!” kata Kevin dari luar kamar Dongho dengan setengah berteriak.

“Masuklah!” kata Dongho pelan, seraya berdiri dan kemudian duduk di tepi ranjang.

Terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam kamarnya, dan kemudian ia merasakan sesosok manusia telah duduk di sampingnya.

Dongho menoleh dan mendapati sosok Kevin yang tengah memandanginya dengan sangat serius.

“Apa yang kau lakukan pada Jiyoung tadi?” tanya Kevin

Dongho menatap Kevin dengan sangat datar “aku tidak melakukan apa-apa.” katanya dingin

“Benarkah? lalu kenapa dia tadi sepertinya sangat sedih?” tanya Kevin lagi

“Mungkin karena aku tadi pergi meninggalkannya.” jawab Dongho datar

“Ya! Shin Dongho kenapa sih kau tidak bisa menerima Jiyoung di hatimu?!” Kevin mulai membentak, membuat Dongho sedikit tidak suka.

“KARNA AKU TIDAK MENYUKAINYA DAN JUGA TIDAK MENCINTAINYA.” Kata Dongho setengah berteriak dan penuh penekanan, membuat Kevin dalam hitungan detik langsung mengunci mulutnya.

“Waeyo?” tanya Dongho “Kenapa kau begitu peduli pada Kang Jiyoung?” tanya Dongho menyelidik.

“Sepertinya kau menyukainya.” kata Dongho pelan, namun berhasil membuat Kevin menatapnya tajam.

“Kau…”

“Sudahlah tidak usah membohongi dirimu sendiri, katakan saja jika kau menyukainya.” potong Dogho

Mendengar itu Kevin hanya diam, karna memang benar yang dikatakan Dongho barusan.

***

“Annyeong!!” seru Jinki dan Tiffany saat keluarga besar mereka masuk ke dalam mobil dan setelah mobil keluarga mereka menghilang dari halaman rumah mereka keduanya secara serempak langsung menutup pintu rumah mereka.

“Yeobo…” panggil Tiffany

“Kenapa?” tanya Jinki datar

“Ada apa denganmu huh? kenapa kau begitu sinis pada Dongho?” tanya Tiffany penasaran

“Tidak apa. Aku hanya tidak suka dengan anak ingusan yang suka mendekati istri orang.” kata Jinki datar seraya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur.

“Ya Tuhan, dia tidak mendekatiku, kami itu hanya berteman.” kata Tiffany mencoba memberi penjelasan, seraya kemudian mengikuti Jinki naik di atas kasur.

“Tapi aku tidak suka kau berdekatan dengannya.” kata Jinki keceplosan

“Hahaha… ternyata benar dugaanku kau cemburu.” Tiffany tertawa kecil

Jinki menggembungkan pipinya “Kau sudah tahu aku cemburu kan? jadi awas sampai kau dekat dengan anak ingusan itu lagi.” kata Jinki memperingatkan

“Aigo… aku dan Dongho hanya berteman. Lagi pula tidak mungkin di antara kami terjadi hubungan apa-apa. Aku tidak suka anak kecil, aku hanya menganggapnya sebagai adikku.” tutur Tiffany

“Ya aku tahu kau menganggapnya hanya sebagai adik, tapi bagaimana dengannya? dengan Dongho itu? apa dia juga hanya sekedar menganggapmu sebagai noonanya? aku rasa tidak, aku yakin dia punya perasaan yang lebih terhadapmu. Jadi aku tetap tidak akan mengizinkanmu dekat dengannya titik.” kata Jinki panjang lebar dan penuh penekanan.

Tiffany tersenyum kecil seraya menyentil hidung Jinki.

“Jangan pernah melarang ku untuk berteman dengan siapapun. Lagi pual jika Dongho menyukaiku aku tidak akan pernah menyukainya , karena yang aku sukai hanya kamu.” jelas Tiffany

“Wowowowowo… baru pertama kali aku mendengarmu menggombal kkkk~”

“Ish… dasar kau.” Tiffany menyenggol lengan Jinki

“Oh ya katamu kau hanya menyukaiku kan? lalu bagaimana dengan Jonghyun?”

“Eh?”

Tbc…

Advertisements

One response to “We Got A Baby (Part 2)

  1. Jonghyun,nugu?aigo jinki ko bisa2nya cemburu ma anak sma emang lucu tp wajar z cemburu wong tifany orang baik dan cantik jadi jinki wajar z takut tifany direbut orang

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s