We Got A Baby (Part 1)

Tittle : We Got A Baby

Author : Devi Hardiyanti

Cast : Lee Jinki, Tiffany Hwang

Cameo : Shin Dongho

Genre : Romance, A little bit comedy

Rating : PG+14

Length : Chaptered

Disclaim : Only plot my own

Note : Sequel We Got Married

Poster : yayahartwork@sujumalayff

Bisa memilikimu…

Adalah suatu anugerah terindah…

Dalam Hidupku…

***

(Author Pov)

Tiffany bangkit dari kloset kamar mandinya dengan senang, wajahnya nampak sangat riang. Ia berjalan dengan membawa sebuah benda kecil yang bernama tespeck.

Ia membuka pintu kamar mandinya dan berjalan menghampiri Jinki yang tengah duduk di meja makan sambil membaca koran.

“Oppa…” kata Tiffany seraya berjalan menghampiri Jinki dan duduk di sampingnya.

“Ayolah… bisakah kau memanggilku dengan sebutan jagi atau yeobo?”

“Hehe… baiklah jagia…” kata Tiffany di iringi tawa.

Jinki meletakan korannya di atas meja dan menatap Tiffany.

“Ada apa?” tanya Jinki, ia lantas mendekatkan kepalanya dengan wajah Tiffany dan menatap istrinya itu dengan sangat intens.

“Aku…” Tiffany nampak sedikit ragu

“kau kenapa?” tanya Jinki tak sabaran sekaligus penasaran

“Aku hamil.” lanjut Tiffany, kini giliran ia yang menatap Jinki.

Jinki ternganga “Jin…jinca?” tanya Jinki

Tiffany hanya mengangguk dan menyunggingkan seulas senyum manis.

“Benar? Kau tidak bohong kan?” tanya Jinki lagi

Dan Tiffany menggeleng , ia mengangkat tespecknya dan menunjukannya tepat di depan mata Jinki.

Mata Jinki benar-benar berbinar saat melihat dua garis merah yang terpampang jelas di depan matanya.

“Hwaaaaaaa!! Jagiya!!” serunya sumringah, ia memeluk Tiffany erat.

“Yya! lepaskan aku tidak bisa bernafas.” keluh Tiffany, mencoba mendorong Jinki pelan.

Jinki melepas pelukannya, tersenyum sembari memamerkan jajaran gigi putihnya yang rapih dan bersinar (?)

“Aku harus memberikan ini pada appa dan umma kita.” Jinki beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke arah meja bar yang terdapat di dapur mereka untuk menelpon kedua orang tua mereka. Memberitahukan kabar gembira ini pada kedua orang tua mereka.

***

[Rumah Orang Tua Jinki]

“Ne yeoboseyo. Jinca?? ahhh ne ne ne…. ahhh ibu sangat bahagia mendengarnya. Baiklah annyeong.”

Mrs. Lee meletakkan kembali ganggang telponnya ke tempat asal, nampak sekali senyum yang begitu manis tersungging di wajahnya.

Ia berjalan menghampiri suami dan kedua anaknya yang sedang sibuk menikmati sarapan pagi di meja makan.

“Umma kenapa? sepertinya senang sekali setelah menerima telpon tadi.” celetuk Eun Ji saat Mrs. Lee kembali duduk di tempatnya.

“Ya.. umma kenapa? apakah ada kabar gembira?” kini giliran Taemin yang bertanya dan Mrs. Lee mengangguk tanpa mau menghilangkan senyumnya

“Ada kabar gembira apa yeobo?”

“Tiffany.” kata Mrs. Lee

“Kenapa dengan Tiffany Nuna/Onnie.” Kata Mr. Lee, Taemin , Dan Eunji

“Tiff…ahahaha.”  Mrs. Lee tertawa

“Mak…maksudmu Tiffany hamil?” tebak Mr. Lee penuh harap dan Mrs. Lee mengangguk di sela-sela tawanya

“Jinca?” tanya ketiganya bersamaan dan Mrs. Lee mengangguk lagi

“Aigo… aku akan punya cucu!!” seru Mr. Lee sumringah

“Cucu?” Taemin dan Eunji saling menatap satu sama lain.

“Kita akan jadi?” kata keduanya bersamaan

“Yeaaaaaaaaah!! aku akan jadi seorang paman!!” seru Taemin

“Dan aku akan menjadi seorang bibi!” seru Eunji

“Aku akan jadi kakek.”

“Nenek.”

“Hahaa…”

Kediaman keluarga Lee saat ini benar-benar sangat bahagia ketika mendengar kabar menggembirakan itu.

***

[Rumah Orang Tua Tiffany]

Kring… kring…

Seorang wanita paruh baya dengan berpakaian pembantu berjalan menghampiri sebuah telpon yang tengah bersuara di atas meja.

Wanita itu mengangkat ganggang telpon tersebut.

“Ne yeobseyo… Ah Tuan Jinki ada apa? Tuan dan Nyonya? Oh Tunggu sebentar.”

Wanita paruh baya yang adalah seorang kepala pelayan di rumah itu (Hyun In) menjauhkan ganggang telpon dari telingannya dan meletakannya di atas meja.

Ia berjalan dengan agak cepat menghampiri kedua majikannya yang tengah bersantai di depan televisi.

“Maaf Tuan dan Nyonya mengganggu sebentar.”

“Ada apa Hyun In?”

“Ada telpon dari Tuan Jinki.” kata Hyun In

“Jinki, tumben sekali dia menelpon.” Mr. Hwang bangkit dari tempat duduknya di ikuti dengan Mrs. Hwang.

Mereka berjalan menghmapiri telpon tersebut.

“Yeobseyo, ada apa Jinki?” tanya Mr. Hwang sedang Mrs. Hwang menguping di samping Mr. Hwang

“Iya…ha…hamil? benarkah?” tanya Mr. Hwang tidak percaya.

“Siapa yang hamil?” tanya Mrs. Hwang seraya menyenggol lengan suaminya.

“Ah ne… ne… Kau harus jaga istrimu dengan baik. Ya kalau begitu baiklah annyeong.” sapa Mr. Hwang

“Siapa yang hamil sayang?” tanya Mrs. Hwang

“Anak kita… Tiffany.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Aaaahhh…”

“Aku akan jadi nenek.”

“Dan aku jadi kakek.”

“kita akan punya cucu.” ujar keduanya sumringah!

***

“Kau sudah menghubungi appa dan ummaku?” tanya Tiffany, seraya duduk di samping Jinki.

“Sudah.”

“Apa mereka senang?”

“Tentu saja.”

“Jagia…” panggil Tiffany dengan sedikit manja

“Ada apa?” Jinki membelai lembut rambut Tiffany

“Kau mau punya anak laki-laki atau perempuan?” tanya Tiffany

Jinki memutar bola matanya kemudian kembali menatap Tiffany.

“Laki-laki, tapi bagiku laki-laki sama perempuan sama saja kok.” tutur Jinki

“Tiffany.”

“Ya…?”

“Mulai sekarang kau jangan bekerja terlalu keras, kau harus menjaga kandunganmu. Arra?”

“ne arraso.” kata Tiffany seraya mengangguk mantap.

Jinki memeluk Tiffany dan mengecup keningnya mesra.

Tiffany menarik tubuhnya sedikit.

“Jagi apa kau mau mengantarkanku shopping hari ini?” tanya Tiffany , seraya menatap lekat mata Jinki.

“Aigo… hari ini aku ada urusan jadi tidak bisa.” kata Jinki dengan nada sedikit menyesal

“Gwencahana… kau bisa mengantarkanku ke pusat perbelanjaannya saja, nanti aku pulangnya bisa naik taksi.”

“Tapi tidak bisa begitu, jika nanti terjadi apa-apa bagaimana?”

“Ayolah… aku akan baik-baik saja.”

“Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu padamu cepat hubungi aku.”

“Tentu saja.”

(End Author Pov)

(Tiffany Pov)

“Mian aku tidak bisa menemanimu.” kata Jinki lirih

“Sudahlah, tidak apa. Ada pekerjaan yang lebih penting dari pada menemaniku shopping.” hiburku seraya mengelus pundak Jinki

“Baiklah aku turun dulu ya.” Aku kemudian mengalihkan pandanganku dan hendak membuka pintu, tapi tiba-tiba Jinki memegang pundakku, membuatku harus berbalik dan menatapnya.

“Ada apa?”

“Kalau terjadi apa-apa cepat hubungi aku.” katanya mengingatkanku dengan nada khawatir. Kurasa ia sangat mengkhawatirkanku dan takut sesuatu hal terjadi padaku.

“ya… kau akan menjadi orang pertama yang kuhubungi bila terjadi sesuatu denganku.” kataku mencoba membuatnya tidak cemas.

“Fuih… syukurlah.”

“Apa ada yang mau kau katakan lagi?” tanyaku padanya

Jinki tersipu malu “Popo.” ujarnya dengan malu-malu

“Haha… dasar.” aku kemudian mengecup keningnya sekilas dan kemudian segera keluar dari dalam mobilnya.

Dan sesaat kemudian kulihat mobil Jinki telah melesat pergi.

***

Sudah satu jam aku berkeliling ke dalam gedung pusat perbelanjaan ini dan setelah mendapat cukup banyak belanjaan aku langsung segera keluar dari gedung ini untuk menuju cafe langgananku, sebenarnya aku tidak mau jauh-jauh pergi ke cafe itu , toh di dalam pusat perbelanjaan ini banyak sekali bertebaran. Akan tetapi karna aku sudah terbiasa pergi kesitu saat lelah, jadinya ya harus kesitu.

Saat aku berjalan melewati gang kecil atau jalan pintas agar aku bisa segera sampai ke cafe langgananku itu. Kulihat seorang anak laki-laki berseragam SMA sedang di ancam atau di ganggu oleh beberapa preman.

Sepertinya preman-preman itu ingin merampas uang anak laki-laki itu.

“Hey! Lepaskan dia!” teriakku pada preman-preman itu, membuat mereka mengalihkan pandangannya padaku.

“Hey Siapa kau?!”

“A…aku kakak anak itu.” kataku berbohong

“Hahaha benarkah?!” tanya salah satu dari mereka dengan nada sedikit tidak percaya.

“Benar… sekarang jauhi adikku sebelum aku menelpon polisi!!” ancamku pada mereka

“Telpon saja kalau berani.” kata preman itu seolah tidak memperdulikan ancamanku.

Ish sial, bagaimana mau menelpon polisi , nomor kantor polisi saja tidak punya.

Aku pura-pura menelpon polisi dan pura-pura memanggil mereka untuk kesini.

“Hey kau.” preman itu merebut ponselku dan membantingnya.

Sial , apa yang harus ku lakukan sekarang. Dua orang preman itu menghampiriku dan seperti hendak melakukan sesuatu padaku.

Aku segera mengambil tindakan, ku lepas high heels ku dan melemparnya tepat ke kepala salah satu dari dua preman tersebut hingga membuatnya terjatuh. Dan preman yang satunya marah dan benar-benar menghampiriku , dia mencengkram bahuku dan aku menutup mataku.

Tapi sesaat kemudian kurasakan cengkramannya tidak sekuat tadi, aku membuka mataku dan kulihat ia sudah terkapar di tanah.

Aku menatap kedepan dan kulihat pemuda tadi terengah-engah sambil membawa sebuah kayu dengan ukuran yang cukup besar.

Ia mengambil high heelsku dan meraih pergelangan tanganku, menarikku berlari keluar dari gang ini.

***

“Kau… kenapa bisa bertemu dengan preman-preman itu?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Saat aku sedang pulang sekolah mereka tiba-tiba menghampiriku dan menyeretku ke dalam gank tadi, untung ada nuna.” katanya lirih

“Oooh… begitu. Siapa namamu?”

“Shin Dongho… Nuna?” tanyanya balik

“Aku Tiffany, oh ya Dongho sekarang kau kelas berapa?” tanyaku

“Sekarang aku sudah kelas tiga sma nuna, nuna sendiri?”

“Aku sudah tidak kuliah.”

“Kenapa?”

“Tidak apa.”

“Oh iya… ini semua biar aku yang membayarnya ya nuna, sebagai tanda terimakasihku.” tawar Dongho padaku.

Ya Tuhan, anak ini. Ia saja belum bisa menghasilkan uang sendiri tapi mau membayar semua makanan yang ada disini haha benar-benar lucu.

“Tidak usah, biar aku saja yang membayarnya.” kataku

“Ayolah nuna sebagai tanda jasa.” pintanya dengan memasang puppy eyesnya

“Baiklah, terserah kau saja. Tapi jika uang jajan mu habis jangan salahkan nuna ya.” kataku padanya mengingatkan.

“Baik nuna… Oh ya nanti aku yang antar nuna pulang ya.”

“Ahahaha… tidak usah nanti nuna minta di jemput kok.”

“Sudahlah biar aku saja yang antar nuna pulang.” paksanya

“Tidak, tidak terimakasih nanti nuna di jemput.”

“Baiklah, tapi jika menemani nuna menunggu jemputan nuna bolehkan?” tanyanya membuatku terkekeh kecil.

“Baiklah terserah kau saja.”

“Hehe… kalau begitu aku mau membayar ke kasir dulu ya nuna.”

Dongho beranjak dari kursi di depanku dan berlari ke meja kasir.

Aku mengambil ponselku dan segera menghubungi Jinki.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

Tiffany dan Dongho duduk di meja yang terdapat di depan cafe tersebut, menunggu jemputan Tiffany datang.

“Nuna akan di jemput oleh siapa?” tanya Dongho membuat Tiffany mengalihkan pandangannya.

“Kenapa memangnya?” tanya Tiffany sambil menyunggingkan seulas senyum pada Dongho

“Tidak, habis lama sekali sih.”

“Oooh….” Tiffany mengalihkan pandangannya dan saat itu juga sebuah mobil bmw berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka.

Jinki turun dari mobil itu dan menghampiri Tiffany.

“Ayo kita pulang jagi.” ajak Jinki seraya meraih tangan Tiffany.

“jagi? kenapa laki-laki ini memanggil Tiffany nuna dengan sebutan jagi? siapa laki-laki ini? kekasih Tiffany nunakah?” batin Dongho

Jinki terdiam dan menatap Dongho “Siapa anak ini?” tanya Jinki pada Tiffany

“Ooohh dia Dongho, tadi aku membantunya dari gangguan preman.” tutur Tiffany

“Huh? benarkah? tapi kau tidak apa kan?” tanya Jinki panik , dan Tiffany hanya berkacak pinggang

“Tenanglah, aku baik-baik saja kok.” kata Tiffany

“Fuih syukurlah kalau begitu, ayo kita pulang.” ajak Jinki

Tiffany bangkit dan tersenyum pada Dongho

“Nuna pulang dulu ya, jika ada waktu kita bisa bertemu lagi.” pamit Tiffany

“Ah ne nuna…” kata Dongho sedikit gugup

“Baiklah,, sampai jumpa bye.” Tiffany kemudian pergi dan mengikuti Jinki ke mobil.

***

“Kau suka sekali dengan anak kecil.” ejek Jinki seraya menghidupkan mesin mobilnya

“Hey ,, aku tidak suka dengannya.” ujar Tiffany

“Lagipula masa tidak boleh aku menolongnya?”

“Tentu saja tidak, itu berbahaya bagi kandunganmu.” bentak Jinki

“Itu terlalu berlebihan.” kata Tiffany sedikit sebal

“Baiklah, mungkin terlalu berlebihan tapi ini demi kandunganmu.”

“Ne arraso.”

Jinki menghela nafas kemudian membawa mobilnya melaju dari sekitar cafe tersebut.

***

Dongho bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kepinggir trotoar, menatap mobil Jinki dan Tiffany yang menjauh.

“Bisakah aku mendapatkanmu?”

Tbc…

Advertisements

5 responses to “We Got A Baby (Part 1)

  1. Aigo…jadi dongho suka ma tifany emang ga nyadar ma status tifany?bakal seruh nih

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s