[Oneshot] Mr. Taxi Season 2

Tittle      : Mr. Taxi Season 2 (Taxi Station In Korea)

Author  : Devi Hardiyanti

Cast       : Choi Minho as Mr. Taxi , Park Sun Hye (Me)

Cameo  : Lee Yunmi, Key

Genre   : Fantasy

Rating   : PG+13

Length  : Oneshot

Disclaimer : It is real my imagination , not plagiarize and this story real my own. Please don’t share this fanfiction in other site.

Poster by : cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

(Sun Hye Pov)

Seoul, 24 April 2011

Aku melirik ke arah jarum jam tanganku, masih pukul setengah lima sore. Hari ini aku akan makan malam dengan kekasihku, Oh tidak tidak. Key bukan kekasihku , dia bisa di bilang hanyalah temanku. Meski aku selalu berharap bisa lebih dari itu atau bisa di bilang tidak hanya sekedar teman tapi sepasang kekasih.

Aku bangkit dari kursi meja belajarku dan berjalan menghampiri jendela kamarku yang bisa di bilang cukup besar. Aku membuka daun jendela kamarku dan duduk di jendela kamarku.

Ku pandangi langit yang telah senja dan berwarna mulai oranye. Burung-burung terbang bebas sambil berkicauan dan transportasi di jalanan makin padat. Indahnya pemandangan kota Seoul di sore hari memang membuat orang terkagum-kagum.

Tiba-tiba aku teringat lagi dengan… ‘makan malam’ berdua dengan Key.

Berdandan seperti apa?

Memakai gaun apa?

Harus bersikap seperti apa?

Aigo… jujur aku tidak pernah memikirkan hal sampai sebegininya. Karna jujur (lagi) aku bukanlah tipe orang yang ribet aku lebih suka sesuatu yang simpel dan praktis. Tapi untuk makan malam dengan Key nanti, aku merasa aku jadi berubah total. Aku merasa menjadi orang yang ribet.

Dari pada pusing-pusing memikirkan apa-apanya, lebih baik aku telpon Yunmi. Aku turun dari jendela dan mengambil ponselku yang terdapat di atas tempat tidur.

“Yeobseyo…”

“Yunmi~a can u help me?”

“Huh? Bantu apa?

“errr… aku mau kau membantuku untuk…untuk…” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak kadal, mencoba mencari kata-kata yang tepat dan enak.

“Itu aku…”

“AKU APA?” bentak Yunmi

Dan secara tidak sengaja aku langsung dapat mengemukakan semua yang ingin ku sampaikan dengan lancar “nanti malam aku akan berkencan dengan Key. dan aku butuh bantuanmu untuk memilihkan pakaian yang cocok untuk ku dan mendandaniku.”

“Huh?”

***

18.15 KST

“Aigo…neomu yeppo…” puji Yunmi saat melihat wajah dan penampilanku , membuatku semakin menunjukkan raut wajah tak sukaku.

“Bisakah dandanannya tidak seperti ini?” keluhku , membuat Yunmi melotot.

“Ya! Kau itu sudah terlihat cantik seperti ini, mau yang seperti apa lagi?” ujar Yunmi sewot , membuatku hanya mengangguk-angguk dengan mulut yang sedikit mengerucut.

“Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku mau pulang dan bersantai. Semoga makan malam mu lancar ya bye.” Yunmi berlari meninggalkan aku di dalam kamarku sendirian. Aku berdiri dan menatap pantulan wajahku di cermin. Ok tidak jelek, malah justru sebaliknya. Cantik. Seperti yang di katakan Yunmi barusan.

Aku memakai dress hitam dengan tali kecil yang panjangnya sepuluh centi di atas lutut, rambutku di biarkan tergerai ke belakang dan sebagian di sisakan ke depan, poniku di gulung ke atas dan make up yang ku gunakan cukup simpel tapi terkesan elegant.

Aku berpose-pose sesaat di depan cermin sampai akhirnya tersadar bahwa aku harus segera berangkat. Aku memakai high heels berwarna silver dengan tinggi sepuluh centi dan mengambil tas kecil yang juga berwarna silver seraya kemudian segera bergegas keluar.

***

Aku duduk di halte bus yang jaraknya sekitar setengah kilometer dari rumahku, jauh bukan. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak ke halte bus yang ada di sini aku tidak bisa pergi makan malam bersama Key. Mengingat di sekitar rumahku tak ada taksi yang berkeliaran.

Hampir 15 menit aku duduk di halte bus ini, menunggu bus yang datang. Tapi…

Oh sh*t, tidak ada satupun bus yang datang sampai aku merasa ada sesuatu yang dingin jatuh tepat di atas pahaku.

“Salju?” aku mendongak ke atas dan kulihat langit telah menurunkan salju di Seoul.

“Oh tuhan kenapa hari ini aku begitu kesal.” Umpatku dalam hati sambil mengepal tangan.

Bus tidak lewat, hujan salju, dan aku lupa membawa jaket, mengingat suhu saat ini sangat sangatlah dingin, membuatku hampir membeku disini ><.

Ponselku berdering, segera saja aku mengambil ponselku dari dalam tasku.

Terpampang besar di layar ponselku nama ‘Key’ , bagaimana ini? Ottohke?

Aku mengangkatnya “yeobseyo…” ucapku ragu-ragu

“Yuri~a hari ini kita tidak jadi dinner…”

“huh o.O? wae?”

“Karena kau tidak datang juga sampai detik ini dan secara tidak sengaja aku bertemu dengan Nicole jadi sekarang aku makan malam dengan Nicole.”

Prakkk…

Ponselku terjatuh ke lantai, mataku memburam dan setetes air mata keluar dari pelupuk mataku.

“Tidak jadi… Bersama Nicole… Sh*t…” umpatku seraya menangis.

Jahat, tidak memikirkan persaanku. Menunggu bus di halte sendirian, menahan dingin di tengah hujan salju. Keterlaluan. Padahal aku sudah bersiap-siap dan berdandan demi dia tapi…

Aku mengambil ponselku di tanah, untung saja tidak rusak dan masih bisa menyala. Kalau tidak bisa mati aku di bunuh oleh umma. Sekarang aku harus pulang begitu? Berjalan setengah kilometer lagi begitu? Ish benar-benar menyebalkan, awas kau Key suatu saat aku akan perlakukanmu seperti ini jika kau tergila-gila padaku. Jika kau tergila-gila (==”)

Aku berdiri dan bersiap untuk berjalan kembali ke rumahku, tapi sesaat kemudian aku mendengar suara klakson. Aku berhenti dan menoleh ke sumber suara tersebut.

“Taxi.” Batinku

Taxi Station, aku tidak pernah dengar nama taxi station di Seoul. Taxi barukah?

Kaca mobil taxi tersebut terbuka dan menyembul dari dalamnya kepala manusia, untuk bukan kepala hantu, batinku.

“Hey Nona!! Apa nona mau terus berdiri di situ sampai seluruh tubuh nona membeku?” tanya supir taxi tersebut membuatku tersadar dalam sekejap.

“Eh… iya…” tanpa buang-buang waktu lagi aku langsung masuk ke dalam taxi tersebut dan duduk di dalamnya. Sesaat kemudian mobil taxi itu jalan.

Aku membuka kaca jendela mobil itu dan menyandarkan tubuhku di kursi sambil melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong. Jujur aku seperti malas menatap dunia karena Key.

“Nona, kau tidak apa?” tanya supir taxi tersebut, sekali lagi ia menyadarkanku dari lamunanku.

“aku tidak apa. Memangnya kenapa?”

“tidak, hanya saja dari tadiku lihat nona hanya diam dan menatap kosong keluar. Apa nona mempunyai masalah?”

O.o baru kali ini aku menemukan supir taxi yang ingin tahu masalah penumpangnya, aneh ==”.

Aku menggeleng pelan “tidak apa.” Kataku , menampakan senyum pahit.

“Oh iya siapa namamu?” tanyaku

“Namaku Mr. Taxi.” Jawabnya singkat

Mr. Taxi? Oh Jinca? Benarkah itu? Ahahaha kurasa ia bercanda

“Aku tidak sedang bercanda.”

“aku juga nona.” Katanya, menatapku dari kaca spion dengan tatapan serius.

“Errr… baiklah kalau begitu boleh aku bertanya sekali lagi?” tanyaku ragu dan dia mengangguk

“Mr. Taxi…. Errrrrr…. Itu nama asli atau sekedar…. Errrr nickname?”

Dia tersenyum, senyum yang cukup manis menurutku “Nickname.”

“Benarkah? Lalu siapa nama aslimu?”

“Kurasa nona tidak perlu tahu.”

“tapi aku mau tahu.”

“Hummm…baiklah jika nona mau tahu.” Dia menatapku dengan tatapan nakal atau apa aku juga tidak tahu, tapi menurutku itu tatapan yang sedikit atau mungkin memang nakal. Plin-plan ya.

“Kita sekarang ada di Italia.”

“Huh? Hahahahaa…” aku tertawa hambar seraya kemudian menatapnya serius

“Aku tanya namamu, bukan tanya kita sekarang berada di mana. Babo.” Decak ku kesal

“Nona tidak percaya?”

“Percaya apa?”

“Kita sekarang benar-benar ada di Italia.” Katanya dengan nada serius, dapat ku dengar itu.

Huh? Masa sih? Tapi kan ini di Seoul mana mungkin dalam waktu sesingkat dan dengan mobil bisa berada di Italia,  aku menengok keluar jendela dan ok aku melihat menara Pizza atau sebut saja menara miring italia. Benar-benar ada di depan mataku saat ini.

Katakan bahwa aku sedang berkhayal! Atau bermimpi! Ish… ini tidak mungkin! Katakan bahwa ini adalah Imajinasiku atau ini hanyalah sebuah fiksi.

Aku mengucek mataku tak percaya, pemandangannya masih sama.

Benarkah aku berada di Italia?

Kurasa tidak, aku mencubit tangan kananku dan “awwwww…” rintihan kecil keluar dari bibir mungilku , membuat supir yang nicknamenya ‘Mr. Taxi’ itu terkekeh kecil, aku meliriknya sekilas dengan sinis, membuatnya berhenti tertawa.

“Bagaimana bisa?” tanyaku setengah tak percaya

“Jika aku mau apapun bisa kulakukan… hehehe…” katanya dengan tawa kecil yang mengiringi perkataannya.

Aku menaikan alisku “Baiklah ku rasa itu tidak penting, mungkin ini hanyalah halusinasi yang k…”

Dia menyela ucapanku “Ini bukan halusinasi ini memang kenyataan, kita memang ada di Italia.”

Ok, kurasa dia serius “Baiklah kali ini aku percaya…” aku menghela nafas panjang “Bisa kau jelaskan siapa kau sebenarnya? Dan kejailan apa ini?” kataku setengah membentak.

Dia tersenyum dan mulai menceritakan semuanya padaku, bahkan dia memberi tahu nama aslinya padaku kkkkkk~.

“Jadi Taxi Station itu adalah Taxi… errrr yang bisa membawa orang keliling dunia begitu?”

Mr. Taxi atau Minho mengangguk.

“Kau orang Korea tapi kenapa bekerja di sana?” tanyaku

“Semenjak pertama kali mendengar nama Taxi Station pada tahun 2008 aku jadi tertarik dan berniat untuk bekerja di sana setelah lulus smu nanti.”

“appa dan ummamu?”

“mereka menyetujui pekerjaan yang ku tekuni ini, meski berat tapi karena ini memang impianku jadi aku sangat senang.”

“Hahaha… tapi pekerjaanmu hanyalah seorang supir Taxi, bagaimana kau bisa senang?”

“Hey~ Taxi Station bukanlah perusahaan Taxi biasa dan yang bisa menjadi supir taxi dari taxi station itu bukanlah orang biasa melainkan…” Minho atau Mr. Taxi ah ribet sekali, menggantungkan kalimatnya dan menarik nafas sejenak…

“melainkan apa?” aku mengangkat sebelah alisku

“Melainkan adalah orang-orang pilihan dan hanyalah orang-orang tertentu saja yang bisa.” Lanjutnya

“Oooh begitu. Maaf aku tidak tahu.”

“tidak apa.” Dia tersenyum padaku

“Apakah kita masih di Italy?” tanyaku mengalihkan pembicaraan

“Tidak, kita sekarang berada di Bali.”

“Bali?!” aku membulatkan mataku “Jinca?” tanyaku sekali lagi dan Minho mengangguk. Dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung membuka kaca mobil dan omona… neomu areumdawon… Benar-benar… aku benar-benar ternganga saat ini.

“Kau suka bali?” tanya Minho dan aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari pemandangan indah di kota Denpasar ini. Yeah aku suka Bali dan aku bisa di bilang tahu banyak tentang Bali. Selama ini aku ingin ke Bali tapi yeah ‘jujur’ aku tidak bisa kesana karena kesibukanku tapi sekarang impianku itu dapat terwujud.

“Kenapa kita bisa sampai di bali?” tanyaku girang

“Apa perlu ku jelaskan padamu?” tanya Minho balik

“Tidak sih… hehehe tapi bisakah kita berhenti?”

“Tidak.”

“Huh? Mwo? Masa tidak bisa?!” tanyaku tanpa henti pada Minho , masa tidak bisa berhenti barang sebentar atau mampir ke pantai kuta sebentar? Ish menyebalkan.

Minho mengangguk “Jika kita berhenti taxi ini tidak akan bisa keliling dunia lagi dan kita tidak akan bisa kembali ke Seoul.” Jawab Minho membuatku menunduk kecewa dan sedih.

“Aku ingin mampir sebentar ke pantai kuta.” Ujarku lirih

“Lain kali saja ya.” Katanya padaku

“Hummm…” aku melirik keluar jendela , pemandangan malam yang indah di kota bali saat ini. Sungguh di sayangkan aku atau kami tidak bisa berhenti sejenak di sini L.

“Mau melihat gunung Olympus?” tanya Minho

“Jangan gila, untuk apa jauh-jauh ke Yunani hanya untuk melihat gunung olympus?!”

“Aku tidak gila, aku hanya menawarkanmu saja.”

“Tidak… aku tidak mau ke gunung Olympus. Aku maunya kita ke Spanyol, kemudian ke Tokyo, Lalu  kembali ke Seoul.” Aku banyak maunya ya… hehehe.

“Baiklah aku akan membawamu ke spanyol.” Kata Minho sambil menyunggingkan senyumannya yang manis itu, membuatku… yeah kurasa aku mulai suka dan sedikit tertarik dengan senyumnya itu.

Aku tersenyum senang kemudian menatap keluar jendela, memandang kota Bali pada menit-menit terakhir sampai akhirnya Minho akan membawaku ke Spanyol.

“Nona…” Minho memanggilku dan aku menoleh “Ada apa Minho?”

“Sssshhh… jangan panggil aku dengan nama asliku! Panggil aku dengan Nicknameku, Mr. Taxi.”

“Ok…ok Mr. Taxi ,, tapi kau jangan panggil aku nona terus aku punya nama dan namaku itu adalah Sun Hye, Park Sun Hye!” kataku penuh penekanan saat menyebutkan namaku.

“Errrr… baiklah Sun Hye. Maaf sebelumnya, karena tadi aku tidak tahu namamu. Kau tahu kan aku hanyalah manusia biasa tidak bisa membaca pikiran orang dan menebak seseorang dengan mudah.”

Aku membulatkan matau “Manusia katamu? Bisa membawa orang keliling dunia manusia biasa katamu?!” ujarku tak percaya

“Hey, aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai kekuatan itu taxinya bukan aku.”

“apa?”

“eh tidak jadi.”

“katakan.”

“tidak apa.”

“aku dengar tadi yang punya kekuatan adalah taxinya, benar begitu?”

“tidak usah di pikir.”

“tapi aku…”

“sudahlah kita sudah sampai di Spanyol.” Katanya mengalihkan pembicaran dan ddara benar kami sudah ada di Spanyol, aigo senang sekali jika bisa naik Taxi dari Taxi Station setiap hari, bisa keliling dunia terus hihihi.

“Kau kenapa Sun…errr…”

“Sun Hye.” Lanjutku

“Yeah Sun Hye, kau kenapa?” tanya Minho, menatap aneh padaku.

“Tidak apa hanya sedang berkhayal saja hihi…” aku terkekeh kecil, sembari menatap senang ke langit.

“Berkhayal?”

“Ya berkhayal. Berkhyal bisa naik taxi dari taxi station setiap hari. Dan keliling dunia terus hihi…”

“Semoga bisa terwujud…” kata Minho

“Maksudmu?”

“tidak apa.”

“ish…dasar kau.” Umpatku , tersenyum lagi dan menatap keluar jendela.

“Hey kapan kita sampai ke Tokyo?” tanyaku tak sabaran.

“Sabarlah sebentar… apa kau tidak mau menikmati spanyol sebentar?” tanyanya

“Tentu saja mau,, tapi aku lebih ingin meinkmati Jepang saat ini.” Kataku , mengalihkan pandangan dari luar dan menatap Minho. Melipat kedua tanganku di atas dada.

“Sudah sampai.” Kata Minho dengan agak ketus, apa dia marah?

“Secepat itukah?” tanyaku tidak percaya

“tadi kau yang minta untuk sege…”

“Ok baiklah…” kataku memotong perkataannya, jujur aku tidak mau di marah-marahi.

Wow… indah sekali pemandangan malam di Tokyo. Jadi ingin tinggal di Tokyo.

“Errr… Min…eh maaf maksudku Mr. Taxi sejak kapan kau bergabung menjadi anggota Taxi Station?” tanyaku ragu-ragu

“Sejak bulan juli tahun 2009…”

“berarti  baru dua tahunan ya.” Kataku

“Emmm… begitulah…” katanya sambil terus menyetir, apa tidak capek ya?

“Oooh…” aku membulatkan bibirku dan menatap keluar jendela.

“Boleh aku tahu sesuatu?” tanyanya, terlihat dari sorot matanya menunjukkan suatu keraguan.

Dia menghela nafas “Kenapa kau tadi menunggu di halte dengan pakaian terbuka seperti itu? Tadi kan hujan.”

Aku menunduk dan kurasa mataku kini mulai berkaca lagi.

“Rencananya aku mau makan malam dengan keka…aish sorry maksudku orang yang kusuka. Makanya aku dandan habis-habisan dan memakai pakai seperti ini, meski jujur temanku yang melakukan makeover ini. Dan untuk pergi ke restaurant kami janjian aku harus ke halte bus dulu untuk menunggu bus dan berangkat ke sana…”

“Kenapa mesti naik bus jika ada banyak taxi yang berkeliaran di jalanan Seoul?” tanya Minho

“Di sekitar rumahku jarang ada taxi yang lewat maka dari itu aku harus ke halte bus terlebih dahulu.”

“Oooh.. lanjutkan ceritamu.” Perintahnya

“Dan saat aku sedang menunggu hujan salju turun dan sesaat kemudian ponselku berbunyi, dia bilang dia tidak jadi makan malam denganku karna aku lama datangnya dan dia makan dengan ‘mantan’ gadisnya.” Kataku lirih

“Miris.”

“begitulah…haha…” kataku sambil memperdengarkan tertawa hambar, tapi entah mengapa menceritakannya pada Minho aku merasa plong dan seperti tak terbebani oleh perasaanku ini.

Tanpa ku sadari mataku tak berkedip memandang ketampanan wajah Minho, ya dia cukup tampan, postur tubuhnya bisa di bilang ideal dengan tinggi badannya. Rambut coklatnya yang sedikit panjang tapi belum bisa di sebut gondrong Nampak huh… benar-benar lelaki sempurna sampai aku saja sulit untuk mendeskripskiannya.

“Kau kenapa lagi?” tanyanya membuatku lagi-lagi tersadar dari lamunanku

“errr… tidak hanya melamun saja.”

“Oooh…”

Ciit ,, mobil Taxi berhenti aku terkejut dan menatap heran ke pada Minho

“Kenapa berhenti? Bukannya nanti kita tidak bisa kembali ke Seoul?” tanyaku pada Minho, jujur aku masih tidak mau berhenti dan aku ingin terus di dalam taxi ini, berkeliling dunia dan mengobrol dengan Minho si supir taxi yang murah senyum ini.

“Kita sudah sampai, jadi untuk apa berhenti.”

“Huh?” aku menoleh dan ku lihat kami sudah berada di depan pagar rumahku, Hey aku belum memberi tahunya alamat rumahku kan, kenapa dia bisa berhenti di depan rumahku.

“apa aku tadi memberitahumu alamat rumahku?” tanyaku dan Minho menggeleng

“lantas bagaimana bisa kau…” aku menggantungkan kalimatku “kau bisa tahu rumahku?” lanjutku

“Taxi ini yang memberitahuku rumahmu.” Minho tersenyum

“Kau tidak turun?” tanya Minho

“Eh…ah…Oh iya…” kataku kikuk kemudian membuka pintu dan hendak turun tapi baru satu kakiku yang menginjak tanah aku langsung menatap Minho lagi.

“Min…eh maaf maksudku Mr. Taxi… bisakah kita bertemu lagi?” tanyaku penuh harap dan lagi-lagi Minho tersenyum. Oh bisakah kau tak tunjukan senyuman mautmu itu?, batinku

“tentu saja.”

“kapan?” tanyaku sumringah

“kapanpun saat takdir mempertemukan kita kembali.” Kata Minho , benar-benar tidak spesifik.

“ish… tapi kita tetap bisa bertemukan?” tanyaku lagi

Minho mengangguk “tentu saja, tapi tak tahu kapan dan waktunya.” Jawab Minho, membuatku mengerucutkan bibirku.

“Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu waktu di mana kita bisa bertemu lagi.” kataku , menyunggingkan sebuah senyuman padanya. Senyuman yang manis teramat manis bagiku dan kemudian aku turun dari mobil dan menutup pintunya.

“Bye Mr. Taxi.” Kataku pada Minho sambil melambaikan tangan, Minho tersenyum padaku.

“Bye Mrs. Park Sun Hye.” Aku tersipu malu karena ucapannya barusan, meskipun hanya kalimat biasa yaitu ‘Mrs. Park Sun Hye’ tapi entah kenapa itu membuat jantungku sedikit ‘berdebar’. Aku berbalik dan melangkahkan kakiku dan baru sekali melangkah aku langsung berbalik lagi, ingin melihat taxi yang tadi aku tumpangi itu. Dan aneh bin ajaib, taxi itu sudah tak ada lagi di pandangan mataku, kemana perginya? Benar-benar menakjubkan.

Aku menghela nafas sejenak kemudian masuk ke dalam rumahku dan pertemuanku dengan Minho serta perjalanan keliling duniaku ini akan ku simpan dan kuingat selalu dalam hati maupun pikiranku.

FIN

Epilog :

Gadis dengan baju kantor berwarna hitam dan putih itu berdiri di pinggir halte bus tempat biasa ia menunggu bus atau taxi ‘ajaib’ datang menghampirinya. Gadis itu melepas kacamatanya dan memasukannya ke dalam tas miliknya, ia semakin memeluk bukunya erat. Tiba-tiba sebuah taxi berhenti di depannya. Ia memperhatikan taxi itu secara keseluruhan, gadis itu Nampak tak asing lagi dengan taxi dan sesaat kemudian ia ingat dan benar-benar terkejut, meski sebenarnya ia ingat kejadian malam itu tapi ia sedikit lupa dengan bentuk taxi yang membawanya pada saat itu.

Hampir sama dengan kejadiaan malam itu , sebuah kepala menyembul keluar dari dalam mobil.

“Hey nona! Apa kau akan terus berdiri di situ sampai kulitmu menjadi gelap karena terbakar matahari?”

Gadis itu membelalakan matanya tak percaya dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.

“Mis…mis…mister taxi??” kata gadis itu terbata sambil menunjuk kea rah lelaki yang berada di dalam taxi tersebut sambil menyunggingkan senyuman.

Ngegantung kah? Kalau iya hahaha saya berhasil menjadi author yang suka menggantung cerita /plak plak

Errr… ini ff terinspirasi gara-gara Mr. Taxi Ver. Korea jadi pingin bikin cerita versi koreanya juga gitu tapi cast cewenya beda-beda… okeh menurut kalian bagus Season 1 (Versi Jepang) atau Season 2 (Versi Korea) ??? ayo bagus yang mana??? Kalau kataku sih dua-duanya sama… sama-sama gantung kakakakak~

Advertisements

4 responses to “[Oneshot] Mr. Taxi Season 2

  1. O.o ,, bener2 fantasy … keren banget…

    Season 2??? errr brarti ada cerita sebelumnya nich…
    kudu baca hehehe…

    aku pengunjung baru ^^ kamu mau percaya or no gpp…
    yg pnting kenalin aku nana suka kyuhyun n seohyun suka couple Kyuseo dan suka couple Kyuna alias kyuhyun + nana hehe… cry malah jadi curcol he

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s