Tell Me Your Wish (Genie) 2/2

Tittle      : Tell Me Your Wish (Genie)

Author  : Devi Hardiyanti

Cast       :

  • You As Genie & Park _____
  • Kim Kibum [Key]

Cameo  : Lee Jinki

Genre   : Fantasy,Romance

Rating   : PG+13

Length  :  2Shoot

Disclaimer : Terisnpirasi dari mv genie versi jepang. Plot My Own. Please leave a comment if you like ^^.

Poster By Shinbitoki18

Last Part :

Key menutup buku pelajarannya dan kemudian meletakan buku itu kembali di atas rak, seraya kemudian menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Sekarang yang ingin ia lakukan adalah mengobrol dengan Genie, seraya mengulur-ngulur waktu untuk bersama Genie, lagi pula jika seluruh permintaanya sudah terkabul semua Genie akan menghilang bersama lampu wasiatnya tersebut, jadi lebih baik ia terus mengajak Genie mengobrol kan daripada harus meminta permintaan yang aneh-aneh kepada Genie.

Key membuka laci meja belajarnya, dan betapa syoknya ia ketika melihat di dalam laci mejanya tidak terdapat lampu wasiat itu…

“Lampu wasiat? Genie? dimana? Kenapa tidak ada?” tanyanya dengan nada syok dan frustasi

 

 

(Key Pov)

Aku mengacak-acak kamarku, mencari keberadaan lampu wasiatku.

Dimana lampu wasiat itu? Kenapa tidak ada di mana-mana? Aku masih ingat kemarin malam aku menyimpannya di dalam laci meja belajarku tapi… Aku mengingat lagi kejadian beberapa hari yang lalu…

Dan …

Mungkinkah…

Ibu??…

Aku kemudian segera membuka pintu kamarku dan berlari-lari kecil menuruni tangga, menghampiri ibu yang tengah mencuci piring di dapur.

“Bu… apa kau melihat lampu wasiat yang ada di … errrr kamarku?” tanyaku sedikit ragu-ragu, seraya mengelus tengkukku.

Ibu menatapku dan menunjukkan ekspresi seolah tidak tahu.

“Seminggu yang lalu ibu memang melihatnya di laci me…”

“Apa tadi ibu melihatnya?” selaku membuat ibu mengangkat sebelah alisnya

“ehhh… sudahlah bu, tidak usah di pikirkan aku mau tidur dulu.” Kataku kemudian berlari menuju kamar.

Oh kemana Genie dan lampu wasiatku?

(End Key Pov)

(Author Pov)

Jinki House

Jinki memandangi lampu wasiat yang berada di meja belajarnya, seraya menggosok kedua tangannya sebelum akhirnya ia menggosokkan tangannya pada permukaan lampu wasiat tersebut.

Ia menggosok permukaan lampu wasiat tersebut, tak ada perbuhan sampai gosokan yang ketiga barulah terjadi hal yang mungkin sedikit bisa di bilang ‘menakjubkan’.

Sebuah cahaya yang cukup panjang dan berkilauan indah keluar dari dalam lampu wasiat itu, Jinki terlonjak dan terjatuh dari tempat duduknya.

Ia mengucek-ngucek kedua matanya dengan kedua tangannya, mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap tak percaya pada seorang gadis yang berdiri di hadapannya.

“A…apa…kau ge…genie??” tanya Jinki terbata-bata seraya melarikan jari telunjuknya kea rah Genie.

Genie mengangguk “Ya aku Genie dan Hai… siapa kau?” tanya Genie balik sambil melambaikan tangannya

“Aku Jinki… Lee Jinki. Dan aku adalah Tuanmu yang baru, kau tahu?”

“Lee Jinki? Tuanku yang baru? Haha…” Genie terkekeh mendengar pernyataan Jinki barusan dan Jinki ia memincingkan matanya dan menatap Genie heran.

“Kenapa? Apakah ada yang lucu?” tanya Jinki heran

“Errrr… tidak. Hanya saja aku tidak memiliki tuan yang baru, tuan ku adalah Key dan tidak akan pernah terganti sampai ia meminta tiga permintaan padaku.”

“eh? Tapi tetep saja aku adalah tuan barumu karena akulah yang mengeluarkanmu!” ujar Jinki Kesal

“Tuanku adalah Key. Bukan Kau!” pekik Genie dengan nada yang bisa di bilang cukup tinggi

“Haha… Key sudah memberikan lampu wasiat ini dan kau padaku, jadi kau sudah menjadi milikku.”

“Huh O.o? Key memberikanku dan lampu wasiatku padamu?? Tidak mungkin.”

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Kau pasti bohong.” Ujar Genie tak percaya seraya membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Unt…” Jinki tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Genie menghilang, menjadi sebuah cahaya yang berkilauan dan masuk ke dalam lampu.

“dia itu benar-benar Genie yang aneh.” Umpat Jinki dalam hati.

***

Key dan Jinki berjalan bersama di koridor sekolah mereka, berjalan menuju ruang kelas.

Raut wajah Key hari ini tak Nampak seperti biasanya, kelihatan murung dan tak bersemangat.

“Kau kenapa?” tanya Jinki membuat Key tersadar dan menatapnya

“Aku hanya sedang tidak…errrr… kurasa aku sedang tidak baik.” Kata Key kemudian menunduk

“Kamu dapat menceritakan masalahmu padaku… tapi jika kau mau.”

Key terdengar menghela nafas sebentar dan kemudian kembali mengeluarkan suara.

“Genie… kau tahu kan?” kata Key membuat Jinki sedikit kaget

“Me…memangnya…a…ada apa dengan Genie?” tanya Jinki sedikit terbata

“dia dan lampu wasiat itu… menghilang.”

“Maksudmu? Tidak ada? Hilang? Musnah? Begitu?” Jinki melontarkan begitu banyak pertanyaan pada Key.

Key menggeleng pelan dan mengangkat kedua bahunya, menatap Jinki frustasi “entahlah, aku juga tidak tahu.” Kata Key lirih

“Oh…oh begitu.” Jinki bernafas lega kemudian melihat ke arah lain.

“tapi ada bisa juga…” Key tak melanjutkan kalimatnya.

Jinki menoleh dan menatap Key penuh tanya “errr… bi…bisa juga apa?” tanya Jinki sedikit gugup

“Bisa saja Lampu wasiat itu dan Genie tidak hilang,musnah, atau apalah. Tapi dicuri.”

“Di curi? Siapa yang mau mencurinya? Tidak mungkin kan.” Kata Jinki

“Iya, aku tahu itu mana ada yang mau mencuri lampu wasiat yang terlihat seperti mainan itu.” Kata Key sedih

“ahhh sudahlah lebih baik kau coba lupakan lampu wasiat itu, siapa tahu lampu wasiat itu memang tidak di takdirkan untumu.” Kata Jinki

“mungkin.” Kata Key lirih.

Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangku masing-masing.

***

Hari ini Jinki pulang lebih dulu dan ia juga meninggalkan Key.

Ia membuka pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam, di ambilnya lampu wasiat milik Key itu dari bawah tempat tidurnya, ia menggosok-gosok lampu wasiat itu dan Genie keluar.

“Ada apa lagi kau memanggilku?” tanya Genie dengan nada tak suka

“Hey! Aku ini tuanmu! Jadi kau harus bersikap sopan padaku.” Jinki membentak

“Kau bukan tuanku! Kau telah mencuriku dari Tuanku yang sesungguhnya!” Pekik Genie seperti mengetahui yang sesungguhnya.

“Aku tidak mencurimu dari tuanmu! Tuanmu sendirilah yang memberikanmu padaku!” elak Jinki

“Aku tidak percaya.” Genie berkata dengan sinis seraya membuang muka

“Terserah kau mau percaya atau tidak yang penting sekarang aku ingin di hadapanku terhidang berbagai jenis makanan enak.” Perintah Jinki

“Tch… kau bukan tuan ku jadi aku tidak akan mengabulkan permintaanmu!!” pekik Genie

“Haha…” Jinki tertawa setan (?) seraya menatap tajam kepada Genie

“Mau atau tidak, yang pasti kau harus mau.”

“Tidak!!” seru Genie seraya kemudian menghilang dan masuk ke dalam lampu wasiat.

Jinki menyeringai dan menatap lampu wasiat itu dengan tatapan yang cukup sadistic.

“Jika aku tidak dapat menjadi tuanmu, maka Key juga tidak dapat.” Katanya

***

Key berjalan menyusuri pinggiran jalan sekitar rumahnya, ini kali pertama kalinya ia keluar dari rumah sejak Genie tidak bersamanya lagi.

Hari ini dia akan jalan-jalan atau sebut saja berkencan dengan Nicole. Tapi ini bukan kehendaknya, ini kehendak Nicole. Nicole yang memaksa dan memintanya untuk berkencan dengannya.

Sebenarnya Key sudah mencoba menolak, tapi Nicole terus memaksanya. Hingga akhirnya Key pun dengan terpaksa menyetujui ajakan Nicole tersebut.

Key berhenti dan tak melanjutkan langkahnya, ia melihat Jinki tengah berjalan sambil membawa sebuah benda yang suah taka sing lagi di matanya, benda yang tak lain adalah ‘lampu wasiat’ miliknya.

Dilihatnya Jinki berlari dan tanpa perlu di komando, Key langsung berlari mengejar Jinki tapi keberuntungan tidak berpihak padanya. Jinki menghilang. Namun ia yakin bahwa tempat tujuan Jinki adalah tempat pembuangan sampah.

Ia kemudian berbalik dan berjalan dengan lesu menuju rumah Nicole.

***

Sepulang berkencan dengan Nicole, Key langsung berlari menuju tempat pembuangan sampah sementara itu dan melihat sampah-sampah di sana sudah tidak ada.

“Jangan bilang… aish sial…” Key langsung berlari sekencang mungkin, menuju tempat pembuangan sampah akhir yang berada sekitar 10 Kilometer dari tempat pembuangan sampah di dekat rumahnya itu, cukup jauh tapi demi Genie 10 Kilometer tidak terasa jauh baginya.

Key berhenti, membungkuk dan memegang kedua lututnya. Ia terengah-engah, nafasnya begitu memburu. Sesekali Key menghirup udara begitu panjang untuk mengambil banyak oksigen sebelum akhirnya ia masuk ke dalam pembuangan sampah akhir itu.

Key mencari-cari lampu wasiat itu, ia mengelilingi dan mengintari seluruh tempat pembuangan akhir yang luas itu. Matanya mencari, dan tangannya terkadang menggali-gali tumpukan sampah di sana.

Hampir tiga jam Key mencari  lampu wasiat itu, tapi tak di temukannya juga. Hari sudah gelap sejak 2 jam yang lalu, dan Key pulang juga.

Dalam hati ia mengutuk Jinki yang telah mencuri serta membuang lampu wasiatnya itu.

“Sh*t!! awas kau Lee Jinki!!” umpat Key seraya kemudian kembali mencari-cari lampu wasiat itu, Sekian lama Key mencari tapi ia tak kunjung juga menemukan lampu wasiat itu. Ia putus asa dan menyerah, sedih dan kecewa. Ia berdiri dan berjalan dengan langkah gontai, berjalan menuju pintu keluar dari tempat pembuangan ini, tapi tiba-tiba sebuah sinar terang terpancar di belakangnya membuat Jinki berbalik dan segera berlari menghampiri tempat asal sinar tersebut keluar.

Digalinya tumpukan sampah itu dan kemudian ia melihat lampu wasiat itu, sinar itu ternyata berasal dari lampu wasiat tersebut.

Key yang begitu senang langsung memeluk lampu itu dan menggosok-gosoknya dan cring…

Genie keluar dari lampu dan tersenyum pada Key.

“Tuanku…”gumamnya

“Genie…” Pekik Key seraya langsung memeluk Genie dan Genie pun balas memeluknya

“Bogoshipo Genie.” Ujar Key seraya memperkencang pelukannya

“Nado…”

“Boleh aku minta satu permintaan?” tanya Key

“Tentu tuanku…”

“bawa aku pulang dan langsung berada di kamarku.” Kata Key

“baik tuanku.”

Dan

Cring

Sepersekian detik kemudian Key sudah berada di dalam kamarnya bersama Genie dengan pakaian dan diri yang sudah bersih.

“Gomawo Genie~ah…”

“Ya sama-sama Key, tuanku.” Balas Genie seraya menyunggingkan senyumnya.

“Aku tidak mau terpisah denganmu lagi Genie…” kata Key lirih seraya menatap Genie dengan lirih juga

“Key…”

“Aku ingin kau menemaniku disini, selamanya, dan nanti menikah denganku.”

“Itu tidak mungkin Key…” ujar Genie dengan lirih

“Mungkin saja jika kau mau mengabulkan permintaanku…”

“eh? Memang kau mau meminta apa?”

“Tetaplah di sini dan jadilah seorang manusia yang di takdirkan untuk menemaniku dan bersama dengan diriku.”

“Huh O.o?”

FIN

Epilog :

Key dan Jinki mereka sudah berbaikan, dan Genie. Ia menghilang semenjak Key mengucapkan permintaan ketiganya dan anehnya permintaan ketiga Key itu tidak terwujud.

Key duduk dengan malas di tempat duduknya yang berada di samping tempat duduk Jinki, ia meletakkan tangan kirinya di atas meja dan menopang wajahnya di tangannya tersebut.

Mrs. Jang , guru mereka masuk dan semua murid di kelas Key langsung kembali ke tempat masing-masing dan menyapa Mrs. Jang.

“Hari ini kita kedatangan murid baru.”

Semua siswa langsung berteriak heboh sampai akhirnya Mrs. Jang memanggil Siswa baru tersebut.

Semuanya ternganga kagum, gadis yang cantik tak terkecuali Key, ia melihat sosok itu begitu familiar dengannya, sosok Genie, Genienya.

“Annyeonghaseyo… Park _____ imnida.” Gadis itu membungkukkan badannya

“Genie!”

Hahaha udah ada epilog tapi masih aja tetep gantung ya kkkkkk~

 

Advertisements

One response to “Tell Me Your Wish (Genie) 2/2

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s