Tell Me Your Wish (Genie) 1/2

Tittle      : Tell Me Your Wish (Genie)

Author  : Devi Hardiyanti

Cast       :

  • You As Genie
  • Kim Kibum [Key]

Cameo  : Lee Jinki, Kim Yura

Genre   : Fantasy,Romance

Rating   : PG+13

Length  :  2Shoot

Disclaimer : Terisnpirasi dari mv genie versi jepang. Plot My Own. Please leave a comment if you like ^^.

Poster By Shinbitoki18

(Key Pov)

Aku turun dari mobilku dan menghambur ke pelukan nenek yang sudah menungguku di depan bersama paman,bibi, dan Yura sepupuku.

Aku memeluk nenek dan mencium kedua pipinya bergantian.

“Apa kau merindukan nenek Key?” tanya nenekku padaku

Aku mengangguk dan menyunggingkan senyum pada nenek.

“Neomu bogoshiposo.” Ujarku melepas rindu

“Key oppa, mau main bersamaku?” tanya Yura yang tiba-tiba menghampiriku

Aku melirik ke Ayah dan ibuku, mereka berdua tersenyum dan mengangguk. Aku mengalihkan pandanganku ke Yura dan mengangguk. Kemudian kami berlari bersama ke halaman belakang.

Oh ya aku Kibum, Kim Kibum. Kalian bisa panggil aku Key, aku masih duduk di bangku kelas tiga smp jadi wajar saja jika sifatku masih sedikit kekanak-kanakan dan masih suka bermain-main. Saat ini aku dan keluargaku berlibur ke Daegu, dan kami tinggal di tempat paman dan bibi. Kebetulan juga nenek tinggal bersama paman dan bibi di Daegu jadi keluarga kami serasa lengkap.

“Oppa bagaimana jika kita menangkap capung?” ajak Yura

“errrr…” aku menggaruk-garuk kepalaku sebentar dan kemudian mengangguk “Okay, tapi…” aku tak melanjutkan kalimatku, malah mengintari seluruh tempat di halaman belakang ini, mencari sesuatu benda.

“Tapi apa opp?” tanya Yura mengerutkan keningnya

“Jaringnya mana?” tanyaku , Yura terkekeh mendengar perkatanyaanku barusan.

“Jaringnya ada di loteng dan juga gudang…” jawab Yura

“maksudmu?” aku mengerutkan keningku, tak mengerti.

“Loteng atas di gunakan sebagai gudang, dan jaringnya terdapat di gudang.” jelas Yura

“Oh begitu aku baru mengerti hehe…” kataku sambil tertawa kecil

“Baiklah kalau begitu kau tunggu di sini, biar oppa yang mengambilnya.” Aku kemudian berlari kecil meninggalkan Yura. Aku masuk ke dalam melalui pintu belakang rumah paman dan bibi, kemudian aku menaiki tangga yang akan membawaku menuju loteng.

Aku mengangkat pintu loteng dan kemudian debu-debu bertebaran , begitu tebal hingga membuatku sedikit terbatuk. Aku naik ke atas dan membersihkan debu yang menempel di bajuku dan rambutku dan kemudian aku mencari-cari jaring untuk menangkap capung, melihat ke segala arah dengan kedua bola mataku,tapi keadaan loteng ini cukup gelap hanya di sinari sedikit cahaya yang masuk melalui jendela kaca transparan dengan posisi miring membuatku terpaksa harus berjalan dan mencarinya agar dapat di lihat oleh kedua bola mataku secara jelas.

Aku dengan hati-hati berjalan di loteng tersebut, mencari jaring untuk menangkap capung. Setelah sesaat mencari akhirnya aku menemukan jaring itu berada di atas sebuah peti, peti yang Nampak seperti peti harta karun. Aku menghampiri peti itu dan mengambil dua buah jaring yang terdapat di atasnya.

“Akhirnya kutemukan.” Gumamku kemudian hendak berbalik dan turun ke bawah, menemui Yura. Tapi kurasa ada sesuatu yang mengganjal pada diriku, hingga membuatku mengurungkan niatku untuk kembali ke bawah dan malah kembali berjalan menghampiri peti itu.

Aku membuka peti itu dan kulihat sebuah cahaya terang keluar dari dalam sana, namun hanya sesaat. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sesaat, apa itu tadi? Cahaya apa itu? Pikirku.

Aku kemudian melihat ke dalam peti tersebut, dan kalian tahu apa isinya?

Lampu wasiat, dengan warna ke emasan dan juga debu yang melapisi lampu wasiat tersebut. Aku kembali mengerjap-ngerjapkan mataku. Apakah ini hanya sekedar khayalanku atau ini memang bukan khayalanku tapi ini kenyataan?

Aku mencubit pipiki, tidak sakit. Dari sini aku mengambil kesimpulan bahwa aku tidak sedang berkhayal ataupun bermimpi.

Aku mengambil lampu wasiat tersebut dan meniup debunya. Apakah jika aku menggosok lampu wasiat ini aka nada genie yang keluar dari dalamnya? Errr…. Seperti cerita dongeng dongeng dari timur tengah seperti yang sering aku baca.

Mungkinkah? Tapi siapa yang tahu jika belum di coba.

Aku menggosok-gosokan tanganku pada permukaan lampu wasiat tersebut, tapi tidak ada yang terjadi. Sampai tiga kali aku menggosok seperti itu, tapi tidak terjadi apa-apa. Mungkin aku hanya terlalu menganggap ini sama seperti yang di dongeng. Aku meletakkan kembali lampu wasiat tersebut, kali ini tidak di dalam peti melainkan di atas peti tadi, dan saat aku hendak beranjak pergi tiba-tiba sebuah sinar yang begitu terang menerpaku, membuat mataku benar-benar silau dan aku menutup mataku saking terangnya sinar yang di terima oleh mataku.

Sekitar 10 detik kemudian aku membuka mataku perlahan, mengerjapkannya sesaat sebelum aku benar-benar membukanya. Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati sesosok wanita cantik yang tengah berdiri di hadapanku.

Cantik, benar-benar cantik. Menggunakan gaun bak seorang putri. Benarkah dia adalah genie? Batinku

Dia mendekat ke arahku, tersenyum dan “Hai.” Ia melambaikan tangannya.

“Si…siapa kau??” tanyaku terbata , dia kembali tersenyum.

“Aku genie dan aku adalah budakmu…” ujarnya

“Eh? Budak?”

Kulihat genie (nama gadis itu) mengangguk

“dan aku…” aku menghentikan perkataanku, mencoba memikirkan lagi kalimat yang hendak ku lontarkan.

“Dan aku adalah tuanmu?” tanyaku tak yakin

Dia tersenyum dan kembali mengangguk “iya…” jawabnya

Oh Tuhan, ini bukanlah mimpi atau sekedar khayalan, ini nyata dan bukan khayalanku saja. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya.

“Karna kau telah membangkitkan aku dan mengeluarkan ku dari lampu wasiat tersebut…” Genie menggantungkan kalimatnya dan menatap lampu wasiat itu sesaat dan kemudian kembali menatapku.

“Aku akan memberimu tiga permintaan.”

“Bagaimana jika lima permintaan?”

“Oh tidak bisa, aku hanya bisa memberimu tiga permintaan saja.”

“tapi aku maunya lima.”

“baiklah lima permintaan.”

“Kalau tiga saja?”

“Baiklah, itu jumlahnya sama dengan permintaan yang ku tawarkan tadi.”

Aku terkekeh pelan, ternyata seorang Genie bisa juga di kerjai oleh anak yang bisa di bilang masih bocah sepertiku.

“Tell me your wish…” ujarnya

“Eh?”

“Katakan keinginanmu…” ulang Genie

Aku terdiam dan berpikir sejenak, meminta sesuatu? Sekarang? Apa yang harus ku minta saat ini? Kurasa tidak ada.

Aku mendongak dan menatap genie “Errrr… genie apa bisa aku tidak memintanya sekarang?” tanyaku hati-hati

“Apa kau yakin tidak akan memintanya sekarang?” tanya Genie padaku

Aku mengangguk pelan “Ya, karena sekarang aku tidak sedang menginginkan apapun.” Kataku

“Errrr… baiklah itu terserahmu saja.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya.

“Okay, karena kau tidak ingin meminta sesuatu dari ku saat ini, jadi ku rasa aku harus kembali ke lampu wasiat itu dan beristirahat sejenak.”

“tapi apa aku dapat memanggilmu kembali genie?” aku menatapnya ragu

“Bisa, hanya perlu menggosokan tanganmu ke permukaan lampu wasiat seperti yang tadi kau lakukan.”

Aku mengangguk mengerti “Baiklah, aku mengerti.”

Genie tersenyum padaku sebelum akhirnya ia berubah menjadi sebuah cahaya panjang yang berkilauan dan masuk ke dalam lampu wasiat itu. Dan setelah Genie masuk barulah aku teringat bahwa Yura tengah menungguku di halaman belakang, menungguku mengambil jaring di loteng dan membawanya turun ke bawah untuk kami gunakan sebagai alat menangkap capung.

Aku meraih dua buah jaring yang tadi ku geletakan begitu saja di lantai loteng dan segera berlari turun ke bawah dan keluar menuju halaman belakang.

Kulihat Yura duduk di bawah pohon akasia di belakang rumahnya, wajahnya Nampak begitu bosan.

Aku berlari kecil dan menghampirinya “maaf membuatmu menunggu lama.” Kataku menyesal seraya duduk di samping Yura.

“Oppa kemana saja?” tanya Yura

“Aku di loteng, mencari jaringnya. Benar-benar sulit, aku saja sampai mengintari seluruh loteng.” Kataku berbohong.

“Apa kita jadi mencari capung?” tanyaku ragu-ragu

Yura menatapku kemudian tersenyum simpul “hummm… sebaiknya menangkap capungnya besok saja, sekarang sudah sore. Waktunya untuk mandi.” Kata Yura seraya bangkit dari duduknya dan tersenyum menatapku, mengulurkan tangannya dan aku meraih tangannya. Ia membantuku berdiri, aku membersihkan celana bagian belakangku dan kemudian berjalan mengikuti Yura yang sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.

***

Aku masuk ke dalam kamarku, kamar ini memang di siapkan khusus oleh paman dan bibi untukku. Kamarnya tidak terlalu luas tapi tidak  juga terlalu kecil. Kamar ini terasa begitu sejuk ketika malam tapi akan terasa begitu panas ketika siang, mungkin itu karena factor kamar ini berada di atas tapi hanya ‘mungkin’. Aku berjalan menghampiri jendela kamar ini dan membuka daun jendela kamarku dan duduk di atasnya.

Aku menatap cahaya remang-remang yang berasal dari kunang-kunang yang berterbangan di atasku dan kemudian menatap ke langit-langit yang hanya di hiasi oleh beberapa bintang dan bulan sabit.

Aku menatap bulan itu, begitu indah.

“Bulan itu begitu indah. Seperti genie.” Gumamku tanpa ku sadari

Dan Hey! Kenapa aku bisa bergumam seperti itu? Dan kenapa aku tiba-tiba teringat dengan Genie?

Aku turun dari daun jendela dan berdiri hendak berjalan keluar kamar dan pergi ke loteng tapi tiba-tiba ku dengar pintu kamarku di ketuk.

Aku terdiam dan tak melanjutkan langkahku seperti tubuhku ini tidak dapat bereaksi sama sekali, atau bisa di sebut tak dapat bergerak sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh otakku. Dan sesaat kemudian ku dengar suara Yura yang memanggilku.

“Oppa apa kau sudah tidur?”

“…” Aku diam, bukan tidak mau menjawab tapi entah kenapa mulutku tidak bisa terbuka dan tak dapat mengeluarkan suara. Tidak bisa bekerja sama dengan otakku, anggap saja begitu.

“Baiklah jika kau sudah tidur, maaf jika aku mengganggu.” Kata Yura lirih, seperdetik setelah Yura berkata seperti itu aku kemudian mendengar suara derap langkah yang berjalan menjauh dari kamarku.

Dan tiba-tiba tubuhku kembali dapat bereaksi, dapat bergerak seperti semula. Kenapa bisa begini? Ah apa peduliku? Toh yang penting sekarang aku dapat kembali bergerak dan berjalan menuju loteng.

(End Key Pov)

(Author Pov)

Key berjalan dengan pelan dan sedikit mengendap-endap di tangga yang akan membawanya menuju loteng. Ia mengintai kebawah, memeriksa bahwa keadaan di bawah sekarang sedang aman, atau bisa di bilang tidak ada orang yang melihatnya berjalan dengan mengendap menuju loteng.

Kibum sampai di atas dan segera mengangkat pintu loteng tersebut dan sekali lagi tubuhnya di hujam oleh debu yang bertebaran, tapi tidak separah yang tadi siang.

Gelap, itulah suasana yang terasa di loteng ini sekarang. Hanya ada penerangan dari sinar bulan dan bintang yang masuk melalui jendela kaca yang transparan.

Key melirik ke segala arah, ke segala sesuatu yang masih mampu di lihat oleh kedua matnaya

“Mana lampu wasiat itu?” gumam Key seraya berjalan dan mencoba meraba-raba tempat-tempat atau benda-benda yang berada di loteng itu.

Dimana tadi sore aku meletakannya? Apa aku letakkan kembali di dalam peti? Tapi tidak mungkin karena setelah genie masuk aku lang… ah ya lampu wasiat itu tergeletak di atas lantai loteng ini… pikir Key.

Key segera duduk dan membungkukkan badannya, kemudian dia merangkak dan meraba-raba permukaan lantai loteng, mencari lampu wasiat itu. Lampu wasiat yang seingatnya masih tergeletak di atas lantai.

Sesaat kemudian, setelah cukup lama meraba permukaan lantai loteng yang bisa di bilang cukup berdebu, Key akhirnya berhasil menemukan lampu wasiat tersebut.

Dia mengambilnya dan segera menggosok-gosokan tangannya tiga kali pada permukaan lampu wasiat tersebut dan cring, sebuah cahaya panjang dan berkilauan indah keluar dari dalamnya, sesaat kemudian Genie terlihat lagi di mata Key, dan tanpa Key sadari bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman ketika ia mendapati Genie keluar dari lampu wasiat tersebut.

“Ada apa Key?” tanya Genie

“Errr…” Key menggaruk kepalanya yang tak gatal, seraya memutar matanya ke segala arah. Mencoba berpikir mencari alasan yang tepat untuk di lontarkannya pada Genie.

“Aku…a…aku…” ia berkata dengan sedikit gugup membuat Genie menatapnya bingung

“Ada apa?” tanyanya lembut

“Aish… tidak jadi…” kata Key seraya berdiri dan berjalan ke depan, namun sungguh di sayangkan ia menabrak sebuah pondasi kayu yang terdapat di loteng itu karena kurangnya penerangan.

“Ish… sial!! Bisakah di tempat ini menjadi terang!” ujarnya kesal dan beberapa saat kemudian, loteng ini menjadi begiu terang.

Key hampir terlonjak dengan apa yang di lihatnya namun sesaat kemudian ia melihat Genie tersenyum padanya.

“Tinggal dua permintaan lagi.” ujar Genie, tersenyum pada Key seraya memamerkan jajaran gigi putihnya.

“Tapi aku tidak memintanya padamu Genie!” Ujar Key kesal

“tapi karena yang kau ucapkan itu sebuah harapan jadi aku mengabulkannya.” Ujar Genie tak peduli

“Ayolah, tapi aku itu hanya berharap dan tidak meminta. Jadi jumlah permintaanku masih tetap tiga.” Kata Key ngotot membuat Genie mendelik padanya namun kemudian hanya mengehela nafas dan mengiyakan apa yang di katakan Key.

“Baiklah terserah kau saja. Permintaanmu tetap tiga.” Ujarnya sebal.

Membuat Key tersenyum penuh kemenangan dan terkekeh kecil.

Enak sekali bisa mengerjai seorang Genie… aku ini hebat ya kekeke… , batin Key.

Key kemudian berbalik dan menuju jendela dengan kaca transparan itu. Ia membuka jendelanya dan mengangkat daun jendelanya ke atas, ia kemudian meletakkan tangannya di atap dan meloncat.

Tubuhnya sekarang berada di atas atap, ia berdiri dan berjalan dengan hati-hati, mencari posisi aman untuk duduk. Setelah mendapatkan tempat dan posisi yang aman untuk duduk Key menatap sinar bulan dan bintang yang berada di langit, sama seperti yang ia lakukan sekitar 19 menit lalu di kamarnya.

Genie ikut keluar dan duduk di samping Key, ia juga ikut memandangi sinar bulan dan bintang yang begitu indah.

Keadaan di antara mereka dua benar-benar hening, hanya terdengar suara jangkrik yang berasal dari halaman belakang dan hanya terasa hembusan angin saja yang membelai tubuh mereka.

“Errrr… genie…” panggil Key dengan nada yang terdengar begitu ragu.

Genie menatap Key dengan tatapan –ada-apa-key-?- tapi sayang Key tak melihatnya sehingga ia harus mengeluarkan suara.

“Ada apa Key?”

“aku tahu.”

Genie mengerutkan keningnya “tahu? Tahu apa?” tanyanya penasaran

“tahu apa yang harus aku minta.” Kata Key sumringah

“apa? Coba katakan padaku.” Pinta Genie

“Hmmmm…” Key menarik nafasnya sejenak dan ia menatap bintang-bintang di langit

“bintang?” Genie mengerutkan keningnya

“aku ingin langit mala mini bertabur bintang, bisakah?” tanya Key pelan namun terdengar penuh harap

Genie tersenyum dan mengangguk menyanggupi dan sesaat kemudian, sesuai dengan yang di harapkan oleh Key. Langit mala mini benar-benar bertaburan bintang. Bintang begitu banyak dan bersinar begitu terang, menampakan cahaya yang indah dan berkilau, membuat semua mata yang melihatnya hanya bisa tertegun memandangi keindahan sinarnya.

“Wow… it’s fantastic…” ujar Key fantastis dengan apa yang di lihatnya barusan, ia menengok pada Genie dan menyunggingkan sebuah senyuman.

“Terimakasih Genie…” ucapnya seraya kemudian menengadahkan kepalanya ke atas dan menatap langit malam yang bertabur bintang. Dalam hati Key terus mengucapkan kata terimakasih kepada Genie.

***

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi jendela kamar Key, membuat Key sedikit merasa silau dan berbalik membelakangi cahaya yang menerpanya sambil sedikit menarik selimutnya.

Tap…tap…tap…

Terdengar suara langkah kaki yang berjalan menuju kamar Key, dan cklek suara knok pintu yang berputar membuat Key langsung membuka matanya, berbalik dan menatap pintu yang sudah terbuka dan dilihatnya ibunya sudah berdiri di depan pintu.

Samar-samar dilihat ibunya menggeleng pelan dengan tangan yang dilipat di atas dada dan kaki.

“Ib…”

“Lekas bangun, mandi, dan sarapan.” Sela Ibu Key atau sebut saja Mrs. Kim

“Errrr… bisakah aku meminta 5 menit lagi?” tanya Key

“tidak, cepat bangun dan mandi!” ujar Mrs. Kim dengan suara yang mulai meninggi dan berjalan menghampiri Key dan bersiap menyeretnya dari kasur, tapi sebelum Mrs. Kim melakukan itu Key sudah bangkit dan berlari menghambur ke kamar mandi, membuat Mrs. Kim tidak dapat menahan tawanya dan langsung tertawa lepas melihat tingkah anaknya tersebut.

Mrs. Kim kemudian menghentikan tawanya dan keluar dari kamar itu, menutup pintu kamar ‘sementara’ Key dan berjalan menuju dapur.

***

10 Menit Kemudian…

Key keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit di bagian bawah tubuhnya atau bisa di bilang ia tengah bertelanjang dada (bukan bertelanjang bulat).

Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan kemudian setelah merasa rambutnya cukup kering ia kemudian menyampirkan handuknya tersebut di gantungan yang terdapat di belakang pintu kamarnya.

Ia segera mengganti pakaian dan menata penampilannya sesaat.

“Oppa…” panggil Yura dari luar kamarnya

“ada apa?” tanya Key tanpa mengalihkan padangannya dari cermin

“Boleh aku masuk?” tanya Yura ragu

“Tentu saja… masuklah.” Kata Key mempersilhakan Yura masuk ke dalam kamarnya.

Cklek, terdengar suara knok pintu kamar berputar dan Yura masuk ke dalam kamar Key, gadis manis yang hanya berusia satu tahun lebih muda dari Key itu kemudian duduk di pinggiran kasur kamar Key.

“Oppa…” panggil Yura sambil menunduk dan tangannya mencengkram erat seprai yang terpasang di atas tempat tidur Key.

“Ada apa?” tanya Key tanpa menatap ataupun menengok barang sejenak ke Yura.

“Errr… apa semalam kau sudah tidur??” tanya Yura membuat Key diam dan Nampak berpikir sebentar sebelum akhirnya Key mengangguk.

Yura membulatkan bibirnya “Oh…”

“Hummm…” Yura menghela nafas sejenak kemudian berdiri dari tempat duduk Key, berjalan menghampiri jendela kamar dan membuka gordennya seraya kemudian membuka daun jendela kamar Key, membiarkan cahaya masuk menerpa seluruh ruang kamar Key.

Dia meletakan kedua siku tangannya di atas daun jendela dan menopangkan kepalanya di situ.

“Oppa…”

“Eummm…”

“Apa kau…” Yura menghentikan kalimatnya, terlihat sekali di wajahnya terpancar sebuah keraguan untuk melanjutkan kalimatnya.

Key menatap Yura dan mengeryitkan keningnya.

“Hummmmmmm…” gadis itu sekali ‘lagi’ menarik nafas , kali ini lebih panjang.

“Apa?” Key memiringkan kepalanya

Yura berbalik dan menutup matanya kemudian kembali membukanya dalam waktu seper setengah detik.

“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Yura spontan membuat Key hanya menatapnya dengan tatapan ‘Aneh’

Key : ==”

(End Of Author Pov)

(Key Pov)

“apa kau sudah punya pacar?” tanya Yura spontan, membuat keningku langsung berkerut dan aku menatapnya aneh.

Aku mengangkat sebelah alisku dan menatapnya dengan tatapan –maksud-mu-?-

“errr… aku hanya asal tanya tadi, tidak usah di pikir… Ayah, ibu, paman, bibi dan nenek sudah menunggu di ruang makan turunlah.” Kata Yura gugup kemudian berjalan keluar dari kamarku dengan tergesa-gesa.

“Ada apa dengannya? Jangan bilang ish…”

Menuruti permintaannya aku tidak memikirkan pertanyaannya tadi dan juga tak memikirkan maskud pertanyaannya. Aku segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.

***

Selesai menikmati sarapan pagi, aku segera berjalan meninggalkan ruang makan dan beralasan hendak kembali ke kamar, padahal sesungguhnya aku ingin pergi ke loteng.

Aku masuk ke dalam loteng dan mengambil lampu wasiat yang tadi malam masih tergeletak di atas lantai loteng ini dan aku lupa memasukannya ke dalam peti. Setelah mengambil lampu wasiat itu aku kemudian menyembunyikannya di balik pakaian ku dan membawanya ke kamarku.

Aku mengunci pintu kamarku dan menggosok-goskkan lampu wasiat itu, dan ‘lagi-lagi’ keluar cahaya panjang yang berkilauan dari lampu wasiat tersebut.

“Hey Key.” sapa Genie yang langsung duduk di pinggir tempat tidurku.

“apa kau mau meminta permintaan lagi padaku?” tanya Genie padaku sambil menggosok-gosok kukunya.

“Errrr… tidak aku hanya mau melihatmu saja.” Ungkapku secara blak-blakan namun sedikit malu-malu.

Good Key, kau sudah menjadi orang yang blak-blakan, pikirku.

“Jangan bilang kau menganggumi ku Key.” ujar Genie sedikit bercanda

“Errrr….” Aku menggaruk kepalanya “Mungkin.” Kataku dengan wajah yang sudah kupastikan mulai memancarkan semburat kemerahan.

Good Key, bahkan kau sudah bisa berbicara sengelantur itu, gerutuku dalam hati.

Genie terkekeh pelan mendengar pernyataanku barusan.

“Lucukah?” tanyaku seraya menaikan alisnya

“tidak, hanya ingin tertawa saja.”

“Oh…”

“errr… genie…” panggilku

“ada apa?” tanyanya

“tidak jadi.”

“ayolah… jangan permainkan aku.”

“memang siapa yang mempermainkanmu?”

Ke dengar Genie menghela nafas dan aku hanya terkekeh pelan mendengar itu.

***

Sebulan telah berlalu, liburan musim panas akan segera berakhir dan aku akan kembali ke Seoul, dan selama sebulan ini aku selalu berada di dalam kamar di temani oleh Genie, dan hanya keluar jika waktunya sarapan, makan siang, dan makan malam. Dan untunglah orang tuaku tidak curiga akan tingkahku itu, mereka malah mengira aku tidak memiliki teman di sini makanya memilih untuk diam di kamar, keberuntungan memang selalu berpihak padaku.

Aku masuk ke dalam mobil dan mengunci pintu, seraya membuka jendela dan melambaikan tangan pada Paman,Bibi,Nenek, dan Yura yang dari sorot matanya dapat kulihat seperti ‘kehilangan’ sesuatu yang ‘berharga’ baginya.

Apa tapi itu? Lampu wasiat itukah? Errr… sepertinya bukan.

Ngomong-ngomong soal lampu wasiat, Genie memintaku untuk membawa lampu wasiat ini ke Seoul malam tadi. Dan aku dengan senang hati menuruti permintaannya hehe.

***

Aku sampai di Seoul, perjalanan yang cukup lama ini benar-benar membuatku lelah , meski aku tidak menyetir mobil seperti appa tapi aku juga tetap merasa lelah.

Aku turun dari mobil dan memakai tas ranselku dan masuk ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam kamarku aku langsung meletakkan tasku di atas meja belajar dan segera melempar tubuhku ke atas kasur, menutup mataku dan berusaha untuk tidur, tapi bayangan sesuatu menggangguku, ‘Genie’.

Aku bangkit dari atas kasur dan membuka ranselku, mengambil lampu wasiat itu dan meletakkannya di atas meja dan kemudian aku mengunci pintu kamarku sebelum akhirnya aku kembali menggosok-gosokan tanganku di permukaan lampu wasiat dan cahaya yang sama keluar.

Aku tersenyum melihat kehadiran ‘Genie’ di hadapanku begitu juga dia, dia melihat ke seliling ruangan dan katanya kamarku berubah, tentu saja ini kan kamarku yang sesungguhnya jelas saja berbeda dengan kamar yang ada di tempat paman dan bibi.

(End Of Key Pov)

(Author Pov)

Perkiraan Key salah, orangtuanya bukan tidak curiga malah semakin curiga dengan tingkah laku Key. Terlebih saat mereka sudah sampai Seoul, Key tetap lebih sering berada di kamar dan mengunci kamarnya, dan hanya keluar untuk sarapan, sekolah, makan siang, makan malam, dan mandi.

Bermain playstation? Hobbynya sepulang sekolah itupun tidak pernah ia kerjakan lagi.

Hari ini Mrs. Kim sudah bertekad untuk mengontrol kamar anaknya, mencari tahu apa yang membuat anaknya sampai berubah seperti itu.

Setelah Mr. Kim dan Key berangkat, Mrs. Kim dengan sesegera mungkin langsung menutup pintu dan berlari menuju kamar anaknya. Ia membuka handle pintu dan menatap sekeliling kamar anaknya,

tidak berubah masih tetap sama, pikir Mrs. Kim.

Ia memeriksa semua yang terdapat di kamar anaknya, tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan sampai akhirnya Mrs. Kim menemukan lampu wasiat milik Key di dalam laci meja belajar anaknya tersebut, awalnya Mrs. Kim sempat curga dengan lampu wasiat tersebut tapi kemudian ia menganggap itu mungkin hanya sebuah mainan!.

***

Selama ini tidak ada yang pernah tahu tentang Genie dan lampu wasiat. Tapi saat ia sampai di Seoul dan di sekolah, ia langsung memberitahu sahabatnya Jinki, menceritakan dari awal bagaimana ia bisa menemukan lampu wasiat itu dan mengenal genie sampai saat ia sampai di Seoul dan bla bla bla.

Membuat Jinki iri dan ingin merebut lampu wasiat itu dari Key, memilikinya , menjadikan lampu wasiat itu sebagai miliknya, menjadikan Genie sebagai budaknya.

Dan Key tidak mengetahu niat buruk Jinki itu, karena yeah Jinki adalah sahabat baiknya. Dan Key tahu Jinki tidak mungkin akan berbuat buruk.

***

Key masuk ke dalam kamarnya dan memperhatikan sekeliling kamarnya.

“banyak yang berubah.” Gumamnya dan pemikirannya benar ketika ia mendapati lampu wasiatnya berada di atas meja.

“aku meletakannya di laci bukan di atas meja.” Gumam Key seraya kemudian menguni pintu kamarnya dan menggosok lagi lampu wasiat itu untuk kesepersekiankalinya.

Dan sosok yang ia harap untuk keluar pun muncul.

“Kau tahu genie?” tanya Key seraya duduk di atas meja belajarnya, dan menatap ke samping bukan ke Genie yang tengah duduk di kursi belajarnya.

“apa?”

“kurasa orang tuaku mulai curiga padaku.”

“eh?”

***

Sejak saat itu, saat di mana lampu wasiatnya tidak berada dalam laci. Setiap mau berangkat ke sekolah dan pergi meninggalkan kamarnya Key selalu mengunci pintu kamarnya.

Hari ini Jinki mampir ke rumah Key, alasannya untuk meminjam buku catatan fisika padahal sesunggunya tidak, ia mampir hanya untuk mengambil lampu wasiat itu, lampu wasiat milik Key.

“Kau tunggu di sini, aku mau ke dapur ambil minum.” Kata Key seraya kemudian berjalan meninggalkan JInki dan kamarnya.

Jinki tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia langsung menggeledah seluruh isi kamar Key, mencari-cari tempat dimana Key meletakkan lampu wasiat itu.

Dan saat ia membuka laci meja belajar Key, Oh Great Jinki tak menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung saja ia mengambil lampu wasiat tersebut dan memasukannya ke dalam ranselnya dan segera menutup resleting ranselnya.

“kau sedang apa?” tanya Key dengan nada curiga

“eh?” Jinki hampir saja terlonjak ketika mendengar suara Key, tapi dia mencoba menghadapi situasi dan mencoba sesantai mungkin, menutupi rasa gugupnya.

“hanya melihat jalanan Seoul, dari kamarmu Nampak berbeda…” kata Jinki

“benarkah? Kurasa sama saja. Oh ya ini minumlah aku ambilkan dulu buku catatan fisikaku.

“ne…” Jinki mengambil gelas berisi sirup jeruk tersebut dan segera meminumnya seraya bernafas lega karena Key nampak tidak curiga lagi padanya.

“Fuih…” Jinki bernafas lega seraya mengelus dadanya.

***

Malam harinya…

Key menutup buku pelajarannya dan kemudian meletakan buku itu kembali di atas rak, seraya kemudian menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Sekarang yang ingin ia lakukan adalah mengobrol dengan Genie, seraya mengulur-ngulur waktu untuk bersama Genie, lagi pula jika seluruh permintaanya sudah terkabul semua Genie akan menghilang bersama lampu wasiatnya tersebut, jadi lebih baik ia terus mengajak Genie mengobrol kan daripada harus meminta permintaan yang aneh-aneh kepada Genie.

Key membuka laci meja belajarnya, dan betapa syoknya ia ketika melihat di dalam laci mejanya tidak terdapat lampu wasiat itu…

“Lampu wasiat? Genie? dimana? Kenapa tidak ada?” tanyanya dengan nada syok dan frustasi

Tbc…

Advertisements

2 responses to “Tell Me Your Wish (Genie) 1/2

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s