Marry You (Part 1)

Tittle : Marry You

Author : Devi Hardiyanti

Cast : Park Jiyeon, Choi Minho, Bae Suzy,Lee Jinki

Cameo : All you see in here hhahahay /plakk

Genre : Comedy (?), Romance (?) ,, arghhhh I Don’t Know #teriakfrustasi

Rating : PG+13

Length : Part

Disclaimer : Plot My Own. Please don’t give a comment if you don’t like,, but please leave a comment if you like ^^ #grammaracakadul

Thanks To Shinbitoki18 for poster

NB : Seluruh cerita di ambil dari sudut pandang saya sebagai seorang author yang geje

****

Hiruk pikuk kota Seoul masih sama seperti biasanya, ramai dan padat oleh manusia. Jalanan di penuhi oleh banyak mobil-mobil dan pejalan kaki yang melintas. Sedikit berpolusi tapi tidak begitu parah , cuaca matahari yang begitu panas membuat sebagian orang enggan untuk berjalan kaki tapi banyak juga yang tetap berjalan kaki meski mereka tahu terik matahari yang begitu panas tengah menerpa bumi.

“Ah… apa taxi-taxi juga takut akan terik matahari?” keluh Jiyeon seraya berjalan dengan malas bersama Suzy , memegangi tali tas selempangannya dan memanyunkan bibirnya.

Suzy melirik Jiyeon dengan sedikit tersenyum “mungkin…” katanya seraya kemudian memasang headset di telinganya dan menyetel music dengan volume yang begitu keras.

Jiyeon menendangi beberapa kaleng bekas yang berada di depannya sedangkan Suzy ia tidak memperdulikan apa yang di lakukan Jiyeon, ia tetap mendengar music dengan kepala yang sedikit demi sedikit mulai di goyangkan.

Jiyeon dan Suzy adalah sahabat karib, sejak kecil mereka sudah bersahabat. Memiliki karakter yang benar-benar jauh berbeda. Park Jiyeon atau sebut saja Jiyeon, ia lebih ceria, sedikit kekanak-kanakan, peduli dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, pemalas, manja, dan lebih girly. Sedangkan Bae Suzy atau kalian cukup memanggilnya Suzy ia cendereng pendiam, sangat tertutup, dewasa, tidak memperdulikan orang lain, rajin, tidak manja, dan bukan tipe gadis tomboy ataupun girly.

Suzy melepas headsetnya dan memalingkan wajahnya ke Jiyeon

“Naik bus?” tawarnya seraya mengangkat dagunya dan melirik sekilas pada bus yang berhenti di depan mereka.

Jiyeon menoleh ke belakang dan tersenyum kemudian kembali menghadap Suzy dengan wajah berbinar.

“Kajja…” Jiyeon menarik tangan Suzy, berlari cepat masuk ke dalam bus.

***

Di sebuah restaurant Nampak dua orang laki-laki paruh baya yang tengah mengobrol dengan begitu serius, dan tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang , berdiri beberapa bodyguard yang siap menjaga salah satu di antara mereka yang mungkin akan melarikan diri.

“Jadi apa kau bisa membayar hutang-hutangmu padaku?” tanya Mr. Choi pada Mr. Bae dengan mimik wajah sinis

“Untuk saat ini aku belum memiliki banyak uang untuk membayarmu.” Jawab Mr. Bae

“Kau berbicara seperti ini seolah kau mengizinkan aku untuk mengambil sahammu…”

Mr. Park mendongak dan menatap tajam Mr. Choi , membuat Mr. Choi tersenyum licik

“Baik… aku tidak akan mengambil saham mu dan bahkan aku akan menganggap hutangmu lunas, asal…” Mr. Choi menggantungkan kalimat perkataannya

“Asal apa?” tanya Mr. Park to the point

Mr. Choi menyeringai kecil “kau memiliki seorang putrikan?” tanyanya dan di jawab dengan sebuah anggukan oleh Mr. Park

“Jika kau mau menikahkan putrimu dengan putraku, semuanya bisa berjalan lancar.”

“huh O.o?!”

***

Jiyeon dan Suzy melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman kampus mereka, terlihat banyak sekali yeoja yang berkerumun di daerah parkiran mobil dan dari tempat itu juga terdengar teriakan-teriakan tak jelas dari para yeoja tersebut.

“Pasti pangeran kampus lagi.” gumam Jiyeon membuat Suzy menatapnya

“Pasti.” Kata Suzy dengan nada acuh

“Suzy~a…” panggil Jiyeon rau-ragu

“apa?”

“aku mau ke sana, kau ma…”

“menemanimu?” sela Suzy , Jiyeon mengangguk sambil tersenyum dan Suzy hanya menghela nafas pendek.

“Baiklah, tapi aku tidak mau terlalu dekat dengan yeoja-yeoja kecentilan itu.” Ujarnya yang langsung di sambut dengan anggukan oleh Jiyeon.

“Baiklah, kau boleh menemaniku dari jarak lima meter.” Jiyeon kemudian berlari dan Suzy mengikutinya dari belakang dengan malas, tangannya di lipat di depan dada.

Suzy menatap malas ke arah yeoja-yeoja itu termasuk juga dengan Jiyeon yang mulai ikut berteriak-teriak, ia mencoba acuh dan kembali memasang headsetnya mendengarkan music dengan volume yang cukup keras, menutup matanya sambil menunggu Jiyeon selesai dari aksi teriak-teriak bersama kerumunan yeoja itu.

“Minho!!! Choi Minho!!!” teriak para yeoja itu seketika sang ‘PANGERAN’ mereka turun dari mobil dan berjalan melewati mereka, tapi langkah lelaki yang di anggap ‘PANGERAN’ itu terhenti ketika mendapati seorang yeoja yang tengah berdiri sendirian dan tak menghiraukan akan kehadirannya.

Laki-laki itu tersenyum kemudian berjalan menghampiri Suzy, gadis yang tengah berdiri sendirian itu. Membuat semua yeoja histeris.

“Baby I’m in love with you!” gumam Suzy langsung membuat Minho yang sudah berdiri di hadapannya tersenyum senang.

“Really?” tanya Minho dengan cool

Mendengar itu Suzy sontak membuka matanya dan langsung terbelalak kaget ketika mengetahui siapa yang tengah berdiri di depannya, tapi Suzy berusaha acuh dan berusaha untuk secuek mungkin.

“Apanya?!” tanya Suzy dingin

“Kau jatuh cinta padaku.” Ulang Minho yang langsung membuat Suzy menaikkan sebelah alisnya dan menatapnya dengan tatapan –Jatuh-Cinta-Padamu-?-Mana-Mungkin-!-

“Hahaha…” Suzy tertawa hambar kemudian diam dan kembali memasang raut wajah serius dan judes

“jangan pernah berpikir aku jatuh cinta padamu.” Ujar Suzy dingin, memandang Minho sinis kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Minho.

Jiyeon yang melihat Suzy berjalan pergi sontak lari mengejarnya dan berteriak memanggil namanya.

“Suzy~a!!! Bae Suzy!! Chamkkamanyo!!” teriaknya seraya mencoba lari secepat mungkin agar dapat menyusul Suzy.

“Gadis yang unik.” Gumam Minho seraya menyeringai kecil.

***

“Kau beruntung sekali.” Ujar Jiyeon membuat Suzy menghentikan langkahnya dan menatap Jiyeon sinis.

“Ini bukanlah suatu keberuntungan, tapi suatu kesialan.!” Kata Jiyeon dengan nada sedikit kesal kemudian melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan Jiyeon sedikit jauh.

“Ish… selalu saja jika sedang sebal pasti aku yang kena imbasnya.” Keluh Jiyeon sambil menginjak-injakkan kakinya di lantai koridor *gayaorangsebel*

Jiyeon kemudian kembali berjalan untuk menyusul Suzy tapi tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya, membuatnya kemudian berbalik dan menatap orang itu.

“ada apa?” tanya Jiyeon ramah

“apa kau tahu di mana kelas seni music?” tanya laki-laki bertubuh tinggi yang baru pertama kali ia lihat wajahnya di kampus ini.

Jiyeon mengangguk “ya aku tahu, kenapa?” tanya Jiyeon lagi

“Aku mau kesana.” Jawab Jinki seperlunya “oooh…” Jiyeon membulatkan bibirnya

“mahasiswa baru?” tanya Jiyeon lagi, kali ini melarikan jari telunjuknya tepat di depan hidung lelaki itu.

Laki-laki itu mengangguk “ne, aku mahasiswa baru di sini. Dan namaku Jinki.” Kata Jinki tersenyum manis seraya menglurkan tangannya, Jiyeon menatapinya seperti menyelidik namun kemudian menerima uluran tangan Jinki “Park Jiyeon imnida…” usai menyebutkan namanya Jiyeon langsung berbalik dan melambaikan tangannya , meminta Jinki untuk mengikutinya.

***

“Hey apa hari ini kau bisa ke rumahku?” tanya Suzy pada seseorang di belakangnya, entah siapa karena di belakangnya tidak ada orang.

“Ya! Kenapa tidak menjawab?!” bentak Suzy tapi tetap tidak ada suara yang menyahutinya

Suzy berbalik “Ya! Park Ji…” ia menghentikan kata-katanya, matanya mengedar ke seluruh arah.

‘kemana Jiyeon?’ batinnya dan sesaat ia langsung memukul-mukul kepalanya.

“Aigo… nan jeongmal baboya!!” gerutunya seraya menggembungkan kedua pipinya “aku baru sadar jika aku berjalan terlalu cepat.” Ujarnya pada dirinya sendiri dengan pelan.

“gwenchana?” tanya seseorang di sebelahnya, Suzy menengok orang tersebut dan ketika melihat wajah orang tersebut, ekspresi wajah Suzy langsung berubah total.

“kau…” Suzy menunjuk Minho dengan jari telunjuknya dan Minho tersenyum.

“kenapa bisa ada di sini?!” tanya Suzy lagi

“apakah itu penting?” tanya Minho dengan gaya yang bisa di bilang cool

Suzy terdiam kemudian menggelengkan kepalanya, membuat Minho tersenyum simpul.

“Berarti aku tidak perlu mengatakannyakan.” Kata Minho seraya memamerkan senyumnya

“tidak perlu, lagi pula jika kau mengatakannya aku tidak akan mendengarmu.” Ujar Suzy ketus seraya kemudian berjalan , bemaksud meninggalkan Minho. Tapi langkahnya tertahan ketika tangan Minho dengan cepat menangkap pergelangan tangannya dan menariknya mendekat.

“kau mau pergi kemana?” tanya Minho tepat di telinga Suzy, membuat Suzy melirik tajam ke arahnya.

“bukan urusanmu.” Suzy kemudian menghentakkan tangannya yang di pegang Minho dan mencoba melepas tangan Minho yang memegang pergelangan tangannya dan ketika terlepas Suzy segera meninggalkan Minho.

“Kau benar-benar menarik.” Gumam Minho seraya menyeringai kecil, mengelus rambutnya dengan penuh gaya kemudian berjalan pergi.

***

“Ini ruang seni music…” kata Jiyeon pada Jinki

“ahh… Gomawo Jiyeon~ah, sampai jumpa lain waktu.” Kata Jinki seraya kemudian masuk ke dalam ruangan itu.

Jiyeon terdiam, memeluk erat buku yang di bawanya, tersenyum-senyum sendiri. Senyuman yang bisa di bilang senyum bahagia. Tiba-tiba sebuah suara menyadarkannya membuatnya langsung mencari sumber suara tersebut.

“Suzy~a!” pekiknya seraya kemudian berlari menghampiri Suzy

“mianhae… aku tadi berjalan meninggalkanmu…” ujar Suzy penuh penyesalan

Jiyeon tersenyum “gwenchana…” kata Jiyeon membuat Suzy kembali tersenyum

“Oh iya Suzy aku mau curhat padamu, bolehkan?” tanya Jiyeon hati-hati dan Suzy dia mengangguk pada Jiyeon membuat Jiyeon kembali melebarkan senyumnya.

***

Minho berjalan menuju bekas ruang gedung olahraga, sesampainya di gedung ruang olahraga ia mengambil satu bola basket yang berserakan di dekat bangku panjang yang terdapat di samping lapangan basket di dalam gedung tersebut.

Minho tersenyum menatap bola tersebut kemudian mulai mendribble bola basketnya dan melemparnya ke ring , begitu terus sambil berlari-larian hingga menimbulkan suara decitan kecil dari sepatunya yang bergesekan dengan lantai.

Tap…tap…tap…

Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke ruangan itu, Minho mendengarnya tapi ia mencoba tak memperdulikannya.

Seorang yeoja masuk ke gedung tersebut dan benar-benar terlonjak ketika mendapati sosok Minho yang tengah bermain basket di situ.

Minho berhenti dan berbalik menatap gadis itu kemudian tersenyum.

Mereka berdua kemudian duduk berdampingan di bangku panjang yang berada di pinggir lapangan, gadis itu atau kalian tahu Jiyeon, yeah dia Jiyeon tengah menatapi pemuda di sampingnya memakan roti yang ia bawa dengan begitu lahap.

Dan ini bukan mimpikan? Tapi sepertinya aku hanya mimpi. Pikir Jiyeon.

Gadis itu mencubit pelan pipi kanannya dan terasa sakit begitu juga saat ia mencubit pipi kirinya terasa sakit juga, kini ia ingin mencubit pergelangan tangannya tapi suara Minho membuatnya jadi mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Minho.

“Gomawo…” ujar Minho sebelum kembali membuka bungkusan roti yang satunya lagi

Jiyeon mengangkat satu alisnya “untuk?” tanya Jiyeon tak mengerti

“Untuk rotinya.” Jawab Minho

“Ahhh… ne cheonmaneyo.” Jiyeon tertunduk malu sekaligus menyembunyikan wajahnya yang telah

memerah.

Itu sebenarnya untuk aku makan tapi kenapa ku berikan padanya? Pikir Jiyeon dalam hati.

“Errrr… oh iya kau teman dekat gadis tadi pagi bukan?” tanya Minho sambil melahap potongan roti yang tadi ia potong dengan tangannya *ngerti gak?*

“Gadis tadi pagi?” gumam Jiyeon sambil berpikir

“eum…” Minho mengangguk secara tidak kentara

“Maksudmu Suzy? Bae Suzy gadis ya…”

“Ya, gadis yang tadi ku hampiri.” Sela Minho sambil terus melahap roti di tangannya

Jiyeon mengangguk sambil menyunggingkan senyum “iya, memangnya kenapa ?” kini giliran Jiyeon yang melemparkan pertanyaan pada Minho.

Minho menggeleng pelan kemudian menatap Jiyeon “Aniya… hanya bertanya.” Jawab Minho kemudian kembali memakan rotinya.

Jiyeon membulatkan bibirnya “Oh.”

***

Hari yang tidak akan bisa di lupakan mungkin bagi Jiyeon. Bisa duduk dan berbicara sedekat itu dengan seorang Choi Minho.

Hari sudah senja Jiyeon Nampak berjalan menyusuri koridor kampusnya yang cukup panjang itu dan ia terhenti di depan ruang music ketika mendengar pemainan piano yang begitu indah dari dalam ruangan tersebut.

Merasa penasaran Jiyeonpun membuka pintu tersebut, dan mendapati sosok laki-laki tengah duduk di depan piano sambil memainkan tuts tuts paino tersebut.

Jiyeon mengangkat alisnya “jam segini masih ada yang di kampus? Ku pikir hanya aku.” Batinnya kemudian berjalan turun dan duduk di salah satu kursi penonton.

Mendengarkan permainan laki-laki tersebut, permainan piano yang begitu indah dan memukau.

Saking terhanyut dengan permainan yang di bawakan laki-laki itu, Jiyeon terkadang memiringkan kepalanya ke samping dan kekiri, sambil menggumamkan lagu yang di mainkan laki-laki itu.

Sesaat kemudian laki-laki itu mengakhiri permainannya dan menutup tutup pianonya, Jiyeon memberinya sebuah tepuk tangan membuat laki-laki itu terlonjak dan menoleh ke belakang. Menatap Jiyeon yang tengah duduk di kursi penonton. Memasang senyum manis dan bertepuk tangan untuknya.

Laki-laki itu menunduk, pertanda bahwa ia mengucapkan terimakasih pada Jiyeon.

Jiyeon berdiri dan menghampiri laki-laki itu di atas panggung.

“Mau memainkan satu lagi? bersamaku?” tanya Jiyeon

Laki-laki itu Nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk setuju dan kembali menghadap pada piano, membuka tutup piano dan menatapi satu demi satu tuts yang berada di situ.

Jiyeon duduk di samping laki-laki itu.

Jiyeon memiringkan kepalanya dan menatap laki-laki itu “Kau masih ingat aku kan?”

Laki-laki itu mengangguk “Park Jiyeon?” katanya sambil menunjuk Jiyeon.

Jiyeon mengangguk “Lee Jinki?” Jiyeon tersenyum dan laki-laki bernama Jinki itu tersenyum.

Jinki memainkan pianonya sedangkan Jiyeon, ia yang menyanyi.

Mereka kemudian bermain piano sambil bernyanyi bersama dengan begitu hikmat.

***

Suzy berjalan dengan malas di gang rumahnya sambil membawa dua buah plastic hitam besar yang berisi sampah rumah tangga keluarganya.

Gadis itu kemudian berjalan kepinggir jalan saat telah keluar dari gang rumahnya dan membuang kedua plastic itu di tempat penampungan sampah sementara.

Suzy melemparnya sembarangan kemudian membersihkan tangannya.

Suzy berbalik hendak kembali ke rumahnya, tapi gadis itu malah diam dan membeku di tempat saat mendapati sosok yang tak asing di matanya tengah berdiri di hadapannya.

“K…kau?” kata Suzy terbata seraya menunjuk Minho yang berdiri di hadapannya dengan tangan yang masuk ke dalam kedua kantong hoddienya dan tersenyum pada Suzy.

“Hai.” Minho melambaikan tangannya.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Suzy ragu

“Apakah aku harus member tahumu?” tanya Minho balik

“errr…” Suzy menunduk sesaat kemudian kembali mendongak dan menatap Minho.

“Tidak.” Ujar Suzy angkuh kemudian berjalan melewati Minho.

Minho menatap Suzy yang berjalan meninggalkannya “Ya!” teriak Minho tapi Suzy tak menghiraukannya dan terus saja berjalan menuju gang menuju rumahnya.

“Ish… gadis itu benar-benar.” Minho mendecak kesal kemudian berlari menyusul Suzy.

Dia memberi jarak 3 langkah dengan Suzy, Minho berjalan di belakang Suzy dengan Cool, sebelah tangan yang di masukan ke kantong celana dan tangan yang satunya terkadang mengelus tengkuknya.

“Hey! Bisakah kau bersikap sedikit lebih baik terhadapku?!”kata Minho dengan suara yang cukup keras

Suzy tak menghiraukannya dan tetap berjalan. “Ish…” Minho mendecak kesal ketika Suzy tak membalas perkataannya. Minho berlari kecil mencoba menyamai langkah gadis itu.

Ia kini tengah berjalan di samping Suzy, Suzy meliriknya dengan sinis tapi sesaat kemudian menatap lurus ke depan lagi.

Minho kemudian mencoba mencairkan suasana, dengan menanyakan hal-hal yang tidak penting, menceritakan sesuatu yang tidak masuk di akal, bahkan bercerita tentang kisah hidupnya yang tak pernah ingin di dengar sama sekali oleh Suzy.

Merasa risih, Suzy berhenti dan merubah posisinya menjadi ke samping, begitu juga dengan Minho yang sadar jika Suzy tengah menghadap ke arahnya, namja itu segera merubah posisinya.

“Kau mengikutiku?!” ujarnya kesal

“mengikutimu? Siapa yang mengikutimu?” tanya Minho dengan memasang wajah sok polos

“Kau…”

“Aku…”

Suzy mengangguk mantap membuat Minho menyeringai kecil.

“Aku tidak mengikutimu tahu.”

“lantas kenapa berjalan di samping ku terus?”

“memang tidak boleh?”

“kau…” Suzy mengepal tangan kanannya dan hendak melayangkan sebuah bogem mentah di wajah tampan Minho, namun segera ia urungkan niatnya dan kembali melanjutkan langkahnya.

Setidaknya dia bisa menjadi bodyguardku, kalau-kalau nanti ada lelaki jalan yang mengganggunya.

Minho tersenyum seraya kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

***

“Every night I Pray, Down on bended knee. That you will always be My everything, Ohh my everything.”

Jinki dan Jiyeon menyanyikan syair terakhir dari lirik lagu yang mereka bawakan tersebut.

Jiyeon menatap Jinki dan tersenyum, senyuman kepuasan begitu juga sebaliknya.

Jiyeon melirik jam tangannya dan kembali tersenyum pada Jinki.

“Well, kurasa ini sudah cukup larut dan aku belum kembali ke rumah.” Tuturnya

“kau mau pulang sekarang?” tanya Jinki

Jiyeon mengangguk “Dan kau?” Jiyeon menatap Jinki “tetap di sini?” sambung gadis itu.

Jinki terkekeh pelan “mana mungkin aku tetap di sini, bisa-bisa orang tuaku menelponku terus menerus dan bahkan bisa menyuruh polisi untuk mencariku.” Ungkapnya secara blak-blakan

“Oooh… begitu.” Kata Jiyeon di sambut dengan sebuah anggukan dari Jinki.

“Kalau begitu aku pulang dulu ya. Annyeong, see you tomorrow.” Pamit JIyeon kemudian berjalan meninggalkan Jinki.

“Chamkkaman…”

Jiyeon berhenti dan berbalik menatap Jinki, menaikan sebelahnya dan mengerutkan keningnya, menatap Jinki dengan tatapan –ada-apa-?-

“mau ku antar?” tawar Jinki dan Jiyeon hanya mengangguk sebagai jawaban dari tawaran Jinki barusan.

***

Suzy berhenti di depan sebuah rumah minimalis namun terkesan elegan, halaman rumah itu tidak begitu luas hanya terdapat rumput china yang mulai tertutupi salju dan sedikit tanaman bunga serta sebuah pohon akasia besar yang terdapat di sudut pagar kayu bercat sama dengan cat rumah tersebut, putih.

“Ini rumahmu?” tanya Minho

Suzy mengangguk “kenapa?”

“kau tinggal de…”

Tahu arah pertanyaan Minho Suzy langsung menyelanya dan menjawab pertanyaan Minho

“Aku tinggal bersama seorang adikku yang masih kelas 5 sd dan juga appa ummaku, wae?”

Minho menggeleng “Ani… hanya bertanya.”

“Oh..” Suzy membulatkan bibirnya “apa kau akan tetap mengikutiku masuk eh?” tanya Suzy dengan nada menyindir

Minho tersenyum lantas kemudian menggeleng “aniya…” ujarnya

“Bagus kalau begitu, sekarang lebih baik kau pulang!” kata Suzy dengan nada mengusir (mungkin) dan kemudian berjalan masuk ke halaman rumahnya, di rasakan olehnya salju mulai turun, ia mendongak dan benar saja ada hujan salju.

Gadis itu buru-buru masuk ke dalam rumahnya dan mengambil sebuah payung, berlari keluar dan mencari sosok Minho.

Ia melihat Minho yang masih berada di sekitar rumahnya berjalan dengan pelan.

“Ya!” teriak Suzy, ia lantas berlari menghampiri Minho. Minho berhenti dan berbalik, ia menaikan alisnya ketika mendapati Suzy yang tengah berlari menghampirinya dengan membawa sebuah payung.

“Igeo…” ujar Suzy dengan nafas yang terdengar begitu memburu

“Igeo mwoya?” tanya Minho dan membuat Suzy melayangkan sebuah jitakan di kepalanya

“awwww…” rintihnya kesakitan seraya mengelus kepalanya yang di jitak oleh Suzy

“Ini payung, saat ini tengah hujan salju.” Ujar Suzy

“aku bawa mobil.” Kata Minho santai, membuat Suzy menarik nafas geram.

“Ya aku tahu kau bawa mobil, tapi mobilmu berada jauh dari rumahku dan kau tetap membutuhkan payung ini.” Ujar Suzy panjang lebar

“Baiklah.” Minho mengambil payung itu, membukanya dan meletakkannya di atas kepala.

“Gomawo.” Ujar Minho, tersenyum manis kemudian berbalik. Ia lantas berjalan pergi meninggalkan Suzy yang masih berdiri di tempatnya, Sesaat kemudian Suzy berbalik dan berjalan menuju rumahnya.

***

Mobil Jinki berhenti di depan pagar sebuah rumah yang cukup besar dan dapat di bilang cukup ‘mewah’

“Jadi ini rumahmu?” tanya Jinki

Jiyeon mengangguk “iya, mainlah kapan-kapan kesini jika kau mau.” Ujar Jiyeon seraya menyunggingkan senyuman pada Jinki

“Baik, kapan-kapan aku akan bertamu ke rumahmu hehe…” kata Jinki setengah bercanda

“Ok kalau begitu aku turun dulu ya dan terimakasih atas tumpangannya.” Jiyeon tersenyum dan turun dari mobil Jinki.

Jinki membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Jiyeon sebelum akhirnya ia membawa mobilnya kembali melesat kencang.

Jiyeon tersenyum dan berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya.

***

“huh? Menikah? Dengan putranya Choi Jinman? Jangan bercanda yeobo!” pekik Mrs. Park tak percaya

“tapi mau bagaimana lagi? hanya itu cara satu-satunya.”

“tapi tidak bisakah dengan cari lain?”

“tidak, kita hanya bisa menikah…” belum sempat ia selesai berbicara sudah terdengar suara JIyeon

“Aku pul…” Jiyeon terdiam ketika mendengar kalimat menikah dari mulut Mr. Park

“siapa yang akan menikah?” tanya Jiyeon seraya melirik Mr. Park dan Mrs. Park bergiliran

Sedangkan Mr. Park dan Mrs. Park saling menatap satu sama lain, berharap putrinya tidak mendengar semua yang tengah mereka bicarakan.

“Umma! Appa!”

Tbc…

Well, apa ada yang tertarik??

klu responnya sedikit berarti ff ini gak di lanjutin hehe soalnya sudah saya anggap produk gagal (?)

Advertisements

4 responses to “Marry You (Part 1)

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s