[Oneshot] Fiction

Tittle : Fiction

Author : Devi Hardiyanti

Cast : Lee Kikwang, Lee Yunmi

Cameo : Yoon Doo Joon, Yang Yoseob

Genre : Fantasy, Romance (maybe)

Rating : PG+13

Length : Oneshot

Disclaim : Plot my own

NB : Ini ff pertamaku yang peran utamanya beast dan cameonya juga beast. Dan jangan gebukin saya karena ff ini begitu nista dan tidak jelas, sama seperti saya selaku yang membuat #Ngek

Ketika tiba-tiba sesuatu menghilang dari muka bumi dan pikiranmu…

Apakah kau akan menganggap dia hanya sebuah ilusi dan fiksi belaka?

(Kikwang Pov)

Aku menggeliat di atas kasur sesaat sebelum akhirnya aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan terbangun dari tidurku. Aku membuka mataku dan segera mengubah posisiku dari yang tadinya terbaring di atas kasur menjadi duduk di atas tempat tidur. Aku terdiam dan melihat sekeliling kamar ini.

“Kau sudah bangun?” tanya seseorang yang membuatku sontak langsung terkejut.

Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke arah suara tadi berasal dan kudapati seorang gadis tengah berada di depan pintu kamarku dengan kedua tangan dilipat di atas dada, bersandar di dekat engsel pintu dan menatapku dengan senyuman yang khas dari wajahnya.

Aku mengangguk dan membalas senyumnya. Dia kemudian berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku, mendekatkan kepalanya ke arahku membuat jantungku berdegup kencang.

“Well, cepat bangun dan berangkat bekerja.” Bisiknya di telingaku , membuat jantungku kembali berdetak secara normal . Yeah , jujur aku fikir ia akan mencium pipiku,dahi, atau bibirku. Membisikan ‘I Love You’ , ku kira itu yang akan ia lakukan dan yang akan dia katakan, tapi ternyata dia hanya membisikkan sesuatu yang menurutku sedikit tidak penting.

Yunmi beranjak dari tempat tidurku dan perlahan berjalan pergi meninggalkanku. Aku hanya menghela nafas kemudian beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.

***

Aku duduk di meja kerjaku sambil mengobrol dengan kedua sahabat karibku, Yoseob dan Doo Joon. Membicarakan suatu hal yang lucu, aneh, ajaib, dan semua hal yang mungkin tidak masuk di akal abnormal??

“Apakah kalian tahu?” tanyaku pada Yoseob dan Doo Joon, melihat ke pada mereka secara bergantian.

Mereka saling menatap satu sama lain dan kemudian dengan kompak berkata “tidak.”

“Memangnya apa?” tanya Doo Joon , aku tersenyum seraya menggigit ujung bolpointku.

“Ya! Jangan hanya tersenyum!” pekik Yoseob , aku mendongak dan menatap keduanya.

“Yunmi…” kataku membuat Yoseob dan Doo Joon kembali menatap satu sama lain dan kemudian menatapku aneh dengan satu alis terangkat.

“Dia m…” belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku , Doo Joon dan Yoseob dengan kompak memotong perkataanku dan mengajukan sebuah pertanyaan untukku dengan kompak.

“Yunmi? Nugu?” tanya Doo Joon dan Yoseob bersamaan.

Aku mengeryitkan keningku, menatap keduanya aneh bergelirian. Mereka tidak tahu Yunmi? Oh God mana mungkin.

“Kalian tidak tahu Yunmi? Lee Yunmi? Istriku.” Kataku bertubi-tubi membuat mereka berdua langsung terdiam dan menatapiku dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Ya!” aku sedikit menggertak , Yoseob menatapku tajam.

“Hey kau masih waraskan ?” tanya Yoseob dengan nada meledek, berjalan menghampiriku dan menyentuh keningku dengan punggung tangan kanannya.

“tentu saja.”

Kulihat lagi-lagi Yoseob dan Doo Joon saling melihat satu sama lain sebelum akhirnya melihat kepadaku lagi.

“Ya! LEE KIKWANG!” kata Doo Joon penuh penekanan saat menyebutkan namaku.

Aku menatapnya heran “wae?”

“Lee Yunmi? Istrimu? Apa kau bercanda huh?” tanya Doo Joon dengan nada sinis

“tidak, aku tidak bercanda.”

“hhhhmmm…” Yoseob menghela nafas dan kembali menatapku sebagai focus utamanya

“Kau belum punya istri, dan lagi bagaimana bisa kau punya istri menikah saja belum.” Katanya tepat di hadapanku, aku membulatkan mataku dan menatap Yoseob tak percaya.

“Kalian salah, aku sudah punya istri dan aku sudah menikah.” Ujarku ngeyel

Yoseob dan Doo Joon menatapku dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Baiklah, kalau kau merasa telah menikah dan memiliki istri bawa istrimu itu untuk menemui kami berdua nanti malam di restaurant tempat kita biasa berkumpul.” Kata Doo Joon sedikit mengancam.

“Baiklah.” Kataku mantap

***

Aku membuka pintu mobilku dan membuka jasku, berjalan memasuki rumah. Aku membuka dua kancing teratas kemejaku dan mengendurkan dasiku, melangkah menuju kamarku.

“Yunmi…” panggilku dan sesaat kemudian kulihat sosok Yunmi dengan senyum manisnya menghampiriku.

“Kau mencariku?” tanyanya lembut seraya memeluk tubuhku erat.

Aku membalas pelukannya sesaat kemudian melepaskannya “Iya.” Jawabku, membuatnya langsung tersenyum seketika.

Aku menggenggam telapak tangan mungil milik Yunmi, membawanya mengikutiku masuk ke dalam kamar. Aku duduk di pinggir tempat tidur begitu juga dengan Yunmi.

“Kau mau bicara apa…?” tanya Yunmi lembut , aku menoleh dan memandanginya

“Aku mau mengajakmu makan malam bersama kedua sahabatku.” Kataku

“untuk apa ?” tanyanya lagi , kali ini senyumnya memudar.

“errr… mereka tidak mengenalmu.” Kataku , kulihat Yunmi seperti terkejut “Dan mereka ingin mengenalmu secara langsung.” lanjutku kemudian berbaring dan merebahkan kepalaku di atas paha Yunmi, menatap wajahnya dari bawah.

“Haha… mana mungkin mereka tidak mengenalku.” Kata Yunmi dengan sedikit memperdengarkan tawa pahit “aku kan istrimu, mungkin mereka hanya bercanda.” Tambahnya kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kamar kami.

Aku memandang dalam wajah Yunmi, tersirat kesedihan di dalam wajahnya. Apa benar ia Yoseob dan Doo Joon hanya bercanda tidak mengenal Yunmi? Tapi mengapa mimic wajah dan nada suara mereka terdengar tidak seperti sedang bercanda?

“Hanya sebentar… bisakan?” pintaku ragu-ragu dan dengan sedikit berhati

Yunmi menunduk dan menatap mataku dalam “bisakah aku menolaknya?” tanyanya dengan amat pelan

“Yunmi…” kataku lirih

“baiklah…” Yunmi kembali mendongak ke atas “aku mau pergi menemui sahabatmu.” Ucapnya dengan sedikit terpaksa, ya dapat ku dengar dari nada ia berbicara dan juga terlihat dari senyumnya.

Aku tersenyum tapi sedetik kemudian senyumku memudar ketika setitik air mata jatuh di atas pipiku, aku menatap Yunmi, ia menangis? Kenapa?

(End Kikwang Pov)

(Author Pov)

“Yunmi apa kau sudah siap?” tanya Kikwang pada Yunmi, gadis yang hanya mampu di lihat oleh Kikwang

“Iya..” jawab Yunmi seraya menghampiri Kikwang.

Kikwang tersenyum dan merangkul gadis itu keluar dari dalam rumahnya, mungkin saat ini bagi mata Kikwang ia tengah menggandeng seseorang, menggandeng seorang gadis yang ia anggap sebagai istrinya. Tapi tidak bagi mata orang lain yang berada di sekitarnya, hanya melihat Kikwang yang seperti sedang merangkul seseorang dan mengajaknya berbicara, itulah yang di lihat orang-orang.

Kikwang memasuki mobilnya dan membawa mobilnya melaju dengan cepat ke sebuah restaurant tempat dia,Yoseob,dan Doo Joon sering berkumpul bersama.

Sesampainya di sana Kikwang segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil yang satunya untuk seseorang. Di mata Kikwang mungkin ada seorang gadis yang turun dari mobil sembari mengangkat gaunnya sedikit ke atas dan meraih telapak tangan Kikwang, tapi di mata orang lain Kikwang membukakan pintu mobil tidak untuk siapa-siapa dan kemudian menutupnya kembali sebelum ia masuk ke dalam restaurant tersebut.

***

“Apa benar Kikwang sudah menikah?” tanya Doo Joon pada Yoseob seraya menyeruput coklat hangat yang sedari tadi berada di dalam cangkir yang tengah ia pegang.

“Ya! Apa kau percaya akan itu?”

Doo Joon menggeleng dan kembali menyeruput coklat hangatnya, sedang Yoseob ia sibuk menunggu kedatangan Kikwang samba melirik jam tangannya.

Setelah beberapa menit matanya mengintari seluruh ruang restaurant ini, ia berhasil menemukan sosok yang dicarinya tengah berjalan menghampirinya.

Yoseob mengerutkan keningnya ketika melihat Kikwang yang tengah berjalan menghampirinya seperti berbicara dengan seseorang dan tangan yang seperti merangkul seseorang padahal tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Yooseob kemudian menyenggol Doo Joon.

“Apa?” tanya Doo Joon begitu pelan seraya meletakkan cangkir coklatnya ke atas meja

“apa kau percaya akan ini?” tanya Yoseob melihat pada Kikwang di ikuti oleh Doo Joon.

Doo Joon kemudian mengerutkan keningnya dan menatap Yoseob “apa kau pikir dia sudah kehilangan akal sehatnya?” tanya Doo Joon tiba-tiba yang di jawab oleh sebuah anggukan oleh Yoseob.

“Sudah lama menunggu?” tanya Kikwang saat sampai di meja tempat Yoseob dan Doo Joon menunggunya, keduanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

“Perkenalkan ini istriku, Lee Yunmi.” Kata Kikwang seraya menunjukkan sesuatu yang tidak dapat di lihat oleh kedua sahabatnya tersebut.

Yoseob dan Doo Joon saling melihat satu sama lain dan mengangkat satu alis mereka sebelum kemudian kembali menatap Kikwang.

“Siapa? Mana? Kau tidak membawa siapa-siapa!” kata Doo Joon dan Yoseob kompak dengan penuh penekanan.

“Kalian jangan bersandiwara terus, jelas-jelas Yunmi berada di sini.” Kata Kikwang seraya merangkul gadis yang tidak dapat di lihat oleh teman-temannya itu.

“kami tidak bersandiwara. Di sini mana?” tanya Yoseob dan Doo Joon dengan sedikit menaikkan volume suara mereka.

Kikwang mengerutkan keningnya kemudian menoleh ke sampingnya, tapi sosok yang selama ini dapat di lihat olehnya tiba-tiba saja menghilang.

“Yunmi! Yunmi! Kau dimana?!” teriak Kikwang mencari Yunmi, badannya berputar dengan pelan membawa bola matanya mencari keberadaan Yunmi yang tiba-tiba saja menghilang.

Kikwang berhenti berputar dan menatap Yoseob dan Doo Joon emosi sedang yang di tatap balik menatap Kikwang dengan tatapan aneh.

“Gara-gara kalian Yunmi pergi! Sial!” ujar Kikwang menyalahkan kedua sahabatnya kemudian berlari keluar dari restaurant tersebut.

Yoseob dan Doo Joon kembali melihat satu sama lain sebelum akhirnya kembali melihat punggung Kikwang yang telah berlari jauh.

***

“Yunmi!! Yunmi!! Kau di mana?!” teriak Kikwang seraya terus berlari melewati pinggiran jalan, mencari-cari keberadaan Yunmi.

“Lee Yunmi! Jangan pergi!!” serunya , membuat semua orang menatapnya dengan aneh.

Kikwang mulai putus asa dan mulai berjalan dengan gontai “Lee Yunmi! Kenapa kau pergi?!” racaunya sambil terus berjalan dengan gontai.

Sebuah mobil berhenti di depan Kikwang dan Nampak Yoseob dan Doo Joon yang turun dari dalam mobil.

Kikwang menatap keduanya nanar “mau apa lagi kalian? Puas telah memisahkanku dengan Yunmi?!” bentak Kikwang membuat kedua sahabatnya hanya mendengus pelan.

“Sudahlah, lebih baik kau pulang.” Yoseob menghampiri Kikwang dan mengulurkan tangannya serta memegang pundak Kikwang memberi tanda sipati, namun dengan cepat Kikwang menepis tangan Yoseob.

“Shiro! Aku tidak mau pulang sebelum ku temukan Yunmi!” pekik Kikwang

“Kau pulang dan istirahat, biar aku dan Yoseob yang mencari Yunmi.” Kata Doo Joon pada Kikwang, membaut Yoseob memendelikkan matanya pada Doo Joon, tapi laki-laki itu segera mengedipkan matanya membuat Yoseob mengerti maksud Doo Joon.

“Baiklah! Tapi kalian harus mencarinya sampai dapat.” Kata Kikwang

“Iya, kami akan cari Yunmi sampai dapat!” ujar Doo Joon kemudian masuk ke dalam mobil di ikuti kemudian oleh Kikwang dan Yoseob.

***

Yoseob dan Doo Joon merebahkan tubuh Kikwang di atas tempat tidurnya membiarkan laki-laki itu beristirahat sejenak. Ya, mereka tadi membengap Kikwang dengan obat bius saat di dalam mobil, membuat Kikwang langsung tak sadarkan diri.

“Kurasa ia benar-benar menjadikan khayalannya seperti nyata.” Tutur Yoseob

“Yeah, ia menjadikan fiksi menjadi nyata. Sesuatu yang mungkin menjadikan khayalannya menjadi nyata untuk dirinya tapi tidak untuk orang lain.” Tambah Doo Joon

“apa setelah ia dia di bius dia bisa kembali menjadi normal?” tanya Doo Joon ragu

“Entahlah, tapi kurasa bisa.” Kata Yoseob

“sudahlah, sekarang lebih baik kita tinggalkan dia sendiri.” Usul Yoseob seraya kemudian berjalan keluar terlebih dahulu di ikuti kemudian oleh Doo Joon.

Sesaat setelah Yoseob dan Doo Joon tak berada di situ Kikwang meracau hebat di atas tempat tidurnya “Lee Yunmi!! Lee Yunmi!! Oddicho??!! Kajjima!!” begitu terus berulang-ulang kali.

***

Semburat matahari membangunkan Kikwang dari tidurnya, matanya mengerjap-ngerjap terlebih dahulu sebelum akhirnya dapat terbuka lebar. Ia merubah posisinya dari berbaring menjadi setengah duduk.

Dengan lunglai dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan menatap setiap benda-benda yang terdapat di dalam ruang tamunya, dan ia berhenti di depan sebuah piano yang berada di sudut ruangan. Ia mengelap debu tebal yang berada di atas tutup piano dengan telapak tangannya kemudian menekanan tuts tuts piano sembarang. Menatapi tuts-tuts tersebut sampai akhirnya dia duduk di depan piano dan mulai memainkan tuts-tuts piano tersebut sampai menghasilkan sebuah alunan music yang indah.

Kikwang begitu menghayati permainannya dan saat ia tanpa sengaja menoleh ke sampingnya, di dapati oleh kedua matanya sosok wanita yang semalam ia cari. Ia menghentikan permainannya dan kemudian menatap sosok Yunmi dalam.

“kenapa berhenti? Ayo mainkan lagi musicnya.” Pinta Yunmi dengan lembut sambil menyunggingkan senyuman khasnya di wajah.

Kikwang mengangguk kemudian kembali memainkan permainan pianonya tapi wajahnya tak terfokus pada tuts piano melainkan wajah Yunmi.

Air matanya tiba-tiba mengalir dan menetes dengan sempurna dari pelupuk matanya, senyum Yunmi memudar, gadis itu kemudian mencoba menghapus air mata Kikwang tapi tiba-tiba secara perlahan tangannya mulai memburam dan menghilang, Yunmi Nampak terkejut saat melihat tangannya mulai menghilang begitu pula dengan Kikwang.

Kini giliran air mata Yunmi yang tumpah, Kikwang kali ini yang ingin menghampus air mata Yunmi tapi tangannya tak dapat menyentuh tubuh Yunmi, bahkan jika boleh di kata tangannya tembus.

Sebelum seluruh tubuh Yunmi hilang seluruhnya, gadis itu sempat mengeluarkan kalimat terakhir pada Kikwang

“Lupakan aku, karena aku tidaklah nyata aku hanya ilusi dan khayalanmu. Aku hanya sebuah fiksi yang ingin kau buat jadi nyata.” Kata Yunmi dan Yunmi pun sirna dari pandangan Kikwang.

“Yunmi! Yunmi! Oddicho?!” racau Kikwang seraya menelusuri seluruh ruangan dengan kedua bola matanya, tapi ia tidak menemukan sosok Yunmi sampai akhirnya sosoknya ikut hilang dan musnah.

***

“Arrrrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggh!!!!” Laki-laki itu terbangun dari tidurnya, posisinya yang tadi terbaring kini berubah menjadi setengah duduk. Tubuhnya penuh keringat, begitu basah.

Laki-laki itu kemudian meraih sebuah gelas yang berada di atas meja samping tempat tidurnya dan meneguknya sampai habis.

“Mimpi?” gumamnya kemudian melirik jam dinding yang bertengger di atas pintu kamarnya.

“Oh Tuhan berapa lama aku bermimpi sampai aku bisa bangun sesiang ini?!” Kikwang bangkit dari atas tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.

Dan dari sudut ruangan, seorang gadis dengan gaun serba putih (?) memandanginya dengan senyuman manis.

Kikwang berhenti tepat di pintu kamar mandi dan kemudian berbalik, menatap sudut ruangan kamarnya yang kosong, mengangkat bahu kemudian masuk ke dalam kamar mandi

FIN

Advertisements

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s