We Got Married (Part 6 End)

Tittle : We Got Married

Author : Devi Hardiyanti

Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jinki

Cameo :

  • Park Ji Yeon
  • And Other

Genre : Comedy,Romance,AU

Rating : PG+15

Length :Chaptered

Disclaimer : Fanfiction my own

We Got Married

-Devi Hardiyanti ©

.

.

(Author Pov)

Tae Yeon mematikan laptopnya dan memasukkannya kedalam tas, seraya kemudian beranjak dari kursi dan hendak pergi meninggalkan kantin kampusnya.

Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya ketika ia melihat amplop yang dititipkan Jong Hyun padanya tadi. Diraihnya amplop berwarna merah dengan motif hati tersebut seraya hendak memasukkannya kedalam tas namun bukannya memasukkan kedalam tas Tae Yeon malah membuka isi amplop tersebut, ia membaca setiap paragraf yang terdapat di atas selembar kertas tersebut dan seketika itu juga Tae Yeon langsung tercekat dan segera memasukkan kembali kertas itu kedalam amplop dan berlari menuju parkiran kampusnya.

***

Jong Hyun menekan angka-angka yang tertera di atas keypad ponselnya dan kemudian menghubungi seseorang.

Setelah beberapa detik menunggu akhirnya Jong Hyun pun tersambung dengan orang yang di tuju.

“Yeobseyo.” Sapa wanita paruh baya di sebrang sana

“Oemma, besok aku akan berangkat ke Italy.” Ujar Jong Hyun to the point

“Mwo? Untuk apa? Dan bagaimana dengan kuliahmu jika kau pindah kesini eum?”

“Aku hanya tidak betah tinggal di Seoul, dan aku juga merindukan appa dan oemma.” Jawab Jong Hyun berbohong

“Lalu kuliahmu?”

“Aku bisa kuliah di Italy”

“Ok… jika itu kemauan mu Oemma tak bisa memintamu untuk tetap tinggal di Seoul.”

“Terimakasih karna oemma mau mengertiku.”

“Iya, kalau begitu sudah ya oemma masih ada pekerjaan.”

“Yap,selamat bekerja oemma. “ ujar Jong Hyun seraya kemudian memutus sambungan telponnya.

Jong Hyun membanting ponselnya asal seraya berjalan mendekat jendela.

“Tiffany.” Gumamnya sambil menatap pada langit sore seraya kemudian menutup gorden kamarnya.

***

Ting…tong…Ting…tong…

Cklek…

“Ada apa nona Tae Yeon?” tanya Hyun In

“Tiffany ada ahjumma?” tanya Tae Yeon

“Nona Tiffany belum pulang nona, memangnya ada apa?” tanya Hyun In

“Ah ani… nanti kalau Tiffany pulang tolong bilang ada pesan dari saya, katakan pada Tiffany saya meminta dia untuk menghubungi saya.” Tutur Tae Yeon

“Baiklah nona.”

“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ahjumma.” Pamit Tae Yeon seraya berlari ke mobilnya

Namun kemudian Tae Yeon mengurungkan niatnya dan kembali ke teras rumah Tiffany.

“Ada apa lagi non?” Tanya Hyun In seraya melirik Tae Yeon yang tengah mengaduk-aduk isi tasnya

Tae Yeon mengeluarkan tangannya dari dalam tas dan memberikan sebuah amplop pada Hyun In

“Ini tolong ahjumma berikan pada Tiffany.” Ujar Tae Yeon seraya menyerahkan amplop itu dan langsung di terima oleh Hyun In.

“Baiklah akan saya berikan.”

“Ya sudah saya permisi ahjumma.”

Tae Yeon kemudian berlari ke mobilnya dan membawa mobilnya pergi meninggalkan pekarangan rumah Tiffany

***

“Wah hari ini benar-benar melelahkan ya.” Ujar Tiffany seraya mengangkat kedua tangannya keatas

“Ini jam berapa?” tanya Jinki

Tiffany menurunkan tangannya dan melirik jam tangan yang terpasang di tangan kirinya

“Jam 05.45 KST” jawab Tiffany

“Sepertinya ini sudah sangat sore, ayo kita pulang.” Ajak Jinki seraya berjalan mendahului Tiffany

“Baiklah…” Tiffany kemudian berlari kecil menyusul langkah Jinki.

Mereka masuk ke dalam mobil Jinki dan pergi meninggalkan taman bermain itu. Di dalam mobil Jinki asyik dengan dunianya sendiri, ia asyik menyetir sambil mendengarkan music di telinganya sedangkan Tiffany ia kini tengah asyik memandangi wajah Jinki.

Ia memandangi setiap lekuk wajah Jinki, dan Tiffany pun baru menyadari bahwa Jinki memiliki paras yang bisa di bilang lumayan.

Jinki yang dari tadi asyik menyetir tanpa sengaja melirik ke pada Tiffany, dan ia juga memergoki Tiffany yang tengah asyik memandang wajahnya.

Jinki tersenyum cool dan menoleh ke arah Tiffany, yang langsung membuat Tiffany mati gaya. Tiffany langsung melihat ke depan dan membeku seperti es, bibirnya terkunci rapat.

Di dalam hati ia mengumpat ‘Baboy~ Jeongmal Baboya~ harusnya jika mau memperhatikannya kau harus lebih hati-hati Fany!!’ umpatnya

Jinki tertawa kecil seraya kemudian memanggil Tiffany

“Hey kenapa kau seperti maling yang tertangkap basah sih?” sindir Jinki

“Eh…” Tiffany menoleh dan menatap Jinki aneh

“Begitu ku lihat langsung diam membisu.”

“Aku kan dari tadi memang diam.” Ujar Tiffany

“Haha… bohong…”

“Ya terserah kau saja.” Ujar Tiffany tak peduli

Sesaat kemudian suasana kembali hening,keduanya terdiam sampai mobil Jinki memasuki pekarangan rumah Tiffany.

“Sudah sampai.” Ujar Jinki seraya mematikan mesin mobilnya

“Ah ne.” Ujar Tiffany seraya kemudian membuka sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu, namun ia kemudian berbalik dan melihat Jinki.

“Ada apa?” Tanya Jinki

“Kau tidak mau mampir dulu?” Tanya Tiffany

“Ah aniya, aku mau langsung pulang saja. Lagi pula ini sudah malam.” Tolak Jinki

“Oh begitu ya, kalau begitu aku turun dulu ya. Bye.” Tiffany turun dari mobil Jinki dan menutup pintu mobil Jinki.

Jinki memundurkan mobilnya dan perlahan membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Tiffany.

Setelah mobil Jinki meninggalkan pekarangan rumahnya, Tiffany kemudian langsung berjalan memasuki rumahnya.

(End Author Pov)

***

(Jinki Author Pov)

Aku memasukan mobilku kedalam garasi dan kemudian berjalan memasuki rumahku, tiba-tiba oemma datang dan menghampiriku.

“Jinki…” panggil Oemma

“Ne…wae oemma?” tanyaku

“Kau dari mana saja?” Tanya oemma

“Aku tadi pergi jalan-jalan dengan Tiffany dan baru saja mengantarnya pulang.” Tuturku

“Jinca? Baguslah , kau harus sering-sering mengajak calon istrimu itu jalan-jalan.” Ujar Oemma

Aku hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata oemma barusan

“Oh iya apa masih ada yang mau oemma tanyakan? Jika tidak aku mau langsung ke kamar.” Ujarku

“Oh iya oemma baru ingat, besok kau ajak Tiffany fitting gaun pengantin di designer langganan oemma.”

“Baiklah, itu saja?”

“Ya.”

“Ok, kalau begitu aku ke kamar dulu.”

Aku kemudian berjalan meninggalkan oemma dan berjalan ke kamarku.

(End Jinki Pov)

(Tiffany Pov)

Aku masuk ke dalam rumah dan hendak berjalan menuju anak tangga rumahku, tapi tiba-tiba Hyun In berjalan menghampiriku.

“Ada apa ahjumma?” tanyaku

“Ini nona, ada titipan dari nona Tae Yeon.” Hyun In menyerahkan sebuah amplop padaku

“Oh.” Aku mengambil amplop itu dan kemudian kembali melontarkan pertanyaan

“Kapan Tae Yeon kesini?”

“Tadi sore nona.”

“Oh…” aku kemudian berjalan kembali ke kamarku.

Cklek

Aku membuka pintu kamarku dan melemparkan tas beserta amplop yang kuterima dari Hyun In ahjumma itu ke atas meja belajarku, seraya kemudian ke kamar mandi yang terdapat di kamarku untuk mandi dan mengganti pakaian.

Setelah selesai mandi aku kemudian berjalan keluar dari kamar mandi dan kemudian duduk di atas kursi depan meja belajar.

Ku raih amplop berwarna merah itu dan membuka isinya.

Kubuka lipatan kertas tersebut dan dapat kulihat goresan tintah yang membentuk sebuah kalimat di atas selembar kertas tersebut.

==================================================================================

To : Tiffany

From : Jong Hyun

Fany mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah tak berada di Seoul lagi.

Yeah kau tahukan orang tuaku tinggal di Italy? Hari ini aku akan berangkat ke sana dan tinggal dengan mereka.

Kau tahu pernyataanmu tadi membuat hatiku terluka,sakit,perih, dan hancur.

Aku tidak bisa jika harus terluka dan menderita jika nanti aku bertemu kamu dengan lelaki lain.

Jadi aku memutuskan untuk pindah ke Italy dan tinggal bersama kedua orangtuaku.

Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi kekasih yang baik bagimu.

Maaf jika selama ini aku selalu melukaimu.

Kau harus tahu meski kau tak mencintaiku lagi,

Aku selamanya akan tetap mencintaimu.

Maaf sebelumnya, karena aku pergi tak memberi kabar.

Salam Hangat

Kim Jong Hyun

==================================================================================

Ini..

Bulir air mata keluar dari pelupuk mataku dan membasahi pipiku.

Aku benar-benar tak menyangka, hanya karna berpisah denganku Jong Hyun sampai berniat pergi ke Italy.

Tuhan, kenapa jadi begini?

Hiks hiks…

Aku menyeka air mataku dan meremas kertas iu, dan kulemparkan sembarang ke dalam tong sampah.

Aku beranjak dari kursi dan menjatuhkan tubuhku ke atas kasur dengan posisi tengkurap.

Aku menangis sejadinya, tapi tanpa ada suara.

Tiffany Hwang! Kenapa kau begitu bodoh huh?!

***

Sinar matahari menerpa setiap sudut kamarku, dan sinarnya yang begitu terang juga membuatku agak silau.

Aku membuka mataku perlahan , dapat kulihat dari jendela kamarku yang belum ditutup gordennya, bahwa matahari sudah meninggi.

Aku bangkit dari kasurku dan berjalan ke kamar mandi dengan malas, aku melihat wajahku di depan cermin kamar mandi.

Rambutku benar-benar berantakan, wajahku begitu lusuh, dan mataku sangat-sangat sembab akibat menangis semalam.

Aku membuka keran wastafel dan membasuh mukaku dengan sabun cuci muka, seraya kemudian berjalan keluar dan menuju balkon kamarku.

Aku memegang pembatas balkon dan menatap kota Seoul pagi ini.

Dapat kulihat jalanan ibukota sudah mulai ramai dengan mobil yang berlalu lalang di jalan.

Aku meletakkan kedua siku tanganku di atas pembatas balkon dan menopang kepalaku di antara kedua telapak tanganku.

Mungkin seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan, ya karna yang kulakukan sekarang hanya melihat mobil yang mondar-mandir melintasi jalanan Seoul

Kuliah? Oh sepertinya hari ini aku malas untuk kuliah.

Tok…tok…tok…

Ku dengar pintu kamarku di ketuk

“Masuk.”

Cklek… pintu kamarku terbuka, aku berbalik dan melihat Hyun In datang dengan membawa nampan berisi sarapan pagi untukku.

“Nona ini sarapannya.”

“Taruh di situ saja ahjumma.” Ujarku seraya kemudian kembali menatap jalanan

“Nona tidak kuliah?”

“Tidak, hari ini aku sedang malas kuliah.” Ujarku

“Oh begitu, baiklah saya permisi dulu nona.”

Ku dengar suara Hyun In ahjumma melangkahkan kakinya dari kamarku dan menutu pintu.

Aku beralih ke dalam kamar dan mulai memakan sarapanku.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

Jinki berjalan mengelilingi kantin namun ia tak juga menemukan sosok Tiffany , tapi ia malah berjumpa dengan sahabatnya Tae Yeon,

Di lihatnya Tae Yeon yang tengah sibuk membaca majalah, berniat menanyakan keberadaan Tiffany akhirnya Jinki berjalan menghampiri meja Tae Yeon.

“Tae Yeon~sshi apa kau melihat Tiffany?” Tanya Jinki

Tae Yeon mendongak dan menatap Jinki aneh

“Tumben kau mencari Tiffany.” Ejek Tae Yeon

“Aku ada urusan dengannya makanya mencari dia. Kau tahu di mana dia?” Tanya Jinki

“Aku tidak tahu.”

“Benarkah?”

“Iya, dari tadi pagi dia belum datang.”

“Oh ya sudah kalau begitu, aku kesana dulu ya.” Ujar Jinki seraya kemudian berjalan meninggalkan Tae Yeon.

***

Jinki berlari melewati koridor kampusnya dengan terburu-buru, matanyapun tak henti-henti melihat kesegala arah. Saat Jinki tengah berlari, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang di depannya hingga terjatuh.

Brukkk…

Terdengar suara yang agak gaduh, yang berasal dari buku-buku yang jatuh berserakan di lantai.

“Ah mianhae.” Ucap Jinki seraya langsung duduk berjongkok untuk memantu membereskan buku-buku milik orang yang tanpa sengaja ia tabrak tadi.

“Kenapa kau begitu terburu-buru?” Tanya orang yang di tabrak Jinki tadi, orang yang tak lain dan tak bukan adalah Park Ji Yeon kekasih Jinki sendiri.

Jinki tercekat saat mendengar suara Ji Yeon, ia mendongak dan di lihatnya Ji Yeon yang sudah berjongkok di depannya dan memberikan tatapan maut padanya.

“Ah…”

“Kenapa?” Tanya Ji Yeon dingin

“Ah aniya.” Ujar Jinki seraya kembali menyusun buku-buku yang berserakan tersebut

“Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!” bentak Ji Yeon

“Oh… sebentar lagi dosenku masuk jadi aku berlari terburu-buru.” Ujar Jinki asal

“Oh begitu ya.”

“Eum ya begitulah.” Ujar Jinki seraya meletakkan buku terakhir yang di pungutnya di atas tumpukan buku lainnya.

“Ini…” ujar Jinki seraya menyerahkan 7 buku yang sudah di tumpuk rapih pada Ji Yeon

“Kau mau langsung ke kelas?” Tanya Ji Yeon

“Yap… aku sedang buru-buru.”

“Tapi…”

“Tapi apa?” Jinki menatap Ji Yeon

“Aku perlu bicara empat mata denganmu.”

“Huh? Apakah bisa lain kali saja? Aku sedang buru-buru.”

“Aku perlu bicara sekarang, bukan lain kali.” Pekik Ji Yeon

“Baiklah, kita bicara di taman saja ya.” Pinta Jinki

“Ye.”

***

Jinki dan Ji Yeon duduk berdua di bangku panjang yang terletak di taman belakang kampus mereka. Tak ada yang mereka bicarakan, hanya terdiam seperti patung sambil memandangi pancuran elok yang terdapat di depan mereka.

Jinki yang sedang buru-buru pun akhirnya membuka suara terlebih dahulu

“Kau mau bicara apa?”

“Eh…” Ji Yeon terkejut

“Kau mau bicara apa?” ulang Jinki

“Eummm… aku mau Tanya kemana kau kemarin?” Tanya Ji Yeon seperti seorang polisi

“Aku ke kantor appaku.”

“Benarkah?” Tanya Ji Yeon pura-pura tak tahu

“Ya.”

“Lalu kenapa bisa bersama Tiffany?”

“Bagaimana kau bisa tahu aku bersama Tiffany?” ujar Jinki keceplosan seraya langsung menutup mulutnya

Ji Yeon tersenyum kecut, seraya membuang muka.

“Kenapa kau berbohong huh? Kenapa kau tega membohongiku?!” pekik Ji Yeon

“Bukan… bukan begitu maksudku.”

“Kau sudah berbohong Jinki!” ujar Ji Yeon tak peduli seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan 3 langkah kedepan

Jinki tertunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, ia benar-benar tak menyangka Ji Yeon bisa tahu.

“Kau ben…”

“Kurasa kita harus berhenti.” Ujar Jinki tiba-tiba

Ji Yeon menoleh kebelakang dan menatap Jinki tak percaya

“Maksudmu?”

“Maksudku, sebaiknya kita sudahi hubungan ini.” Jelas Jinki

“Mwo?! Kenapa? Apa kau lebih menyayangi Tiffany ketimbang aku eum?!” Tanya Ji Yeon

“Kau tak tahu apa-apa Ji Yeon~ah!!” pekik Jinki seraya bangkit dari bangkunya

“Aku memang tak tahu apa-apa… Lee Jinki, jadi karna aku tidak tahu apa-apa ku harap kau bisa memberitahuku.” Timpal Ji Yeon dengan nada membentak

“Aku… aku dan Tiffany di jodohkan…” ujar Jinki lirih

Mendengar itu Ji Yeon tertawa terbahak-bahak.

“Haha…” tawa Ji Yeon

“Apa ada yang lucu?” Tanya Jinki

“Alasanmu itu terlalu mengada-ada, kau kira ini zaman apa? Sampai kedua orang tuamu dan Tiffany menjodohkan kalian haha…” tawa Ji Yeon

Jinki menarik nafas dan menatap Ji Yeon lirih.

“Aku idak mengada-ada! Dan aku benar-benar di jodohkan dengan Tiffany!!” seru Jinki yang langsung membuat Ji Yeon terdiam

“Dan kau mau?” Tanya Ji Yeon tiba-tiba

“Ne, aku mau. Karna aku ingin membahagiakan orangtuaku.”

“…” Ji Yeon diam

“Apa masih ada yang ingin kau bicarakan?” Tanya Jinki

“…” Ji Yeon masih diam

“Jika tidak aku pamit.” Ujar Jinki seraya berjalan meninggalkan Ji Yeon yang begitu Jinki pergi langsung jatuh terduduk.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

“Mianhae Ji Yeon~ah.” Gumamku lirih seraya kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.

Aku mengambil ponselku dari saku celanaku dan kemudian menghubungi Tiffany.

Sesaat kemudian aku terhubung dengan Tiffany dan tak lama setelah telponku tersambung, Tiffany mengangkat Telponku

“Yeobseyo…” sapa Tiffany, suaranya begitu lucu.

Baru kusadari bahwa ini adalah kali pertama aku menelpon Tiffany.

“Kau dimana?” tanyaku

“Aku dirumah,wae?” tanyanya

“Aku kesana sekarang.” Ujarku

“Mau apa?”

“Nanti kau juga akan tahu… pokoknya aku sampai di rumahmu kau sudah harus siap Arra?!” ujarku langsung mematikan ponselku

Haha… aku yakin dia pasti sebal dan marah saat ini.

Aku menghidupkan mesin mobilku dan membawanya turun ke jalanan kota Seoul.

(End Jinki Pov)

(Tiffany Pov)

“Nanti kau juga akan tahu… pokoknya aku sampai di rumahmu kau sudah harus siap Arra?!”

Tut…tut…tut…

Aish sial sudah dimatikan lagi, dia sebenarnya mau apa datang kerumahku? Dan mau mengajakku kemana?

Ah whatever, yang terpenting sekarang aku harus bersiap seperti yang diperintahkannya tadi.

Aku beranjak dari kasurku dan berjalan menuju kamar mandi.

***

25 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi sudah dengan mengenakan pakaian yang cukup rapih. Aku menggunakan kemeja putih dan blazer berwarna sama untuk bagian atas sedang untuk bagian bawah aku hanya menggunakan skirt bewarna sama juga.

Aku mengikat rambutku kebelakang dan menyisakan poniku, kutaburkan bedak ke permukaan wajahku, member sedikit polesan lipgloss pada bibir mungilku yang berwarna pink, dan member sedikit mascara pada bulu mataku.

“Perfect” pujiku pada diriku sendiri.

Sesaat setelah aku selesai berdandan, dapat kudengar suara sebuah mobil memasuki pekarangan rumahku. Dan dapat ku dengar juga bunyi klakson yang berbunyi berulang-ulang kali, membuat telingaku sedikit risih.

Aku mengintip keluar dan kulihat mobil Jinki sudah bertengger di pekarangan rumahku.

Aku memasang high heels yang tingginya 9 cm dan mengambil tas kecil seraya kemudian berjalan keluar kamar.

***

“Ne chamkkaman!!” seruku seraya berjalan menuruni tiap-tiap anak tangga yang menuju lantai satu, aku keluar dari rumah ku dan berjalan masuk ke dalam mobil Jinki.

Brakkk…

Aku duduk di samping Jinki dan segera memasang sabuk pengaman.

“Kita mau kemana?” tanyaku to the point setelah memasang sabuk.

“Kita mau fitting gaun pernikahan!” ujarnya

“Mwo?! Sekarang?!” tanyaku tak percaya

“Ya sekaranglah , kau harus tahu pernikahan kita sebentar lagi akan di laksanakan jadi semuanya harus sudah matang sebelum hari H.” tuturnya

“Ne… ne… arraso…” ujarku seraya menundukkan wajahku.

Jinki kemudian menyalakan mesin mobilnya dan memundurkan mobilnya.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

Mobil Jinki berhenti di depan sebuah butik yang cukup besar. Tiffany dan Jinki kemudian turun dari mobil.

Tiffany berjalan beberapa detik lebih cepat dari Jinki dan Jinki kemudian berlari mencoba menyamai langkah mereka.

Saat Jinki berhasil mengejar langkah Tiffany, spontan ia langsung merangkul tangan Tiffany.

Tiffany terkejut seraya kemudian langsung menoleh kesamping kanannya, dan dilihatnya Jinki yang tengah memamerkan jajaran gigi putihnya.

“A…apa yang kau lakukan?!” Tanya Tiffany gugup

“Agar orang tahu bahwa kita adalah calon suami istri.” Ujar Jinki

“Ta..tapi…”

“Sudahlah ayo masuk, dan jangan lepaskan tanganmu sampai kita masuk ke ruang designer itu arra?!”

“Ne arraso…” ujar Tiffany pasrah

Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang Designer yang telah dipilih oleh orang tua Jinki.

Tok…tok…tok…

“Masuk.”

Jinki dan Tiffany kemudian masuk , sesuai Designer yang bernama Kim Soo Hee

“Kalian berdua sudah datang?”

“Ne…” ujar Jinki seraya berjalan terlebih dulu ke sofa di ruangan Soo Hee

“Aku sudah menyiapkan beberapa gaun pengantin untuk kalian berdua, kalian bisa mencobanya sekarang.”

“Ne, tapi bisakah aku melihat gaunnya?” Tanya Tiffany

“Oh tentu saja, tunggu akan ku ambilkan.” Ujar Soo Hee seraya berjalan keluar ruangan tersebut.

“Hey apa kau mau terus menerus berdiri di situ huh?!” Tanya Jinki

Tiffany menoleh pada Jinki seraya kemudian berjalan dan duduk di samping Jinki.

Sambil menunggu Kim Soo Hee datang , Tiffany mengambil ipod dari dalam tasnya dan hendak memasangkan headset ketelinganya, namun dengan cepat Jinki menahan pergelangan tangan Tiffany.

Tiffany menengok ke arah Jinki dan menatapnya sebal.

“Wae?” Tanya dengan sebal

“Aku sudah putus dengan Ji Yeon.” Ucap Jinki seketika

Tiffany terdiam dan menatap Jinki dengan tatapan yang sulit di artikan.

“Oh…” Tiffany membulatkan mulutnya dan membuang muka kea rah lain

“….” Keadaan hening sesaat

“Kenapa kau memutuskannya?” Tanya Tiffany seraya menatap lurus kedepan

“Karna aku tidak ma uterus menerus membohonginya.” Ujar Jinki lirih

“Begitu kah?”

“Ne…”

“Oh ya pemain basket itu di…”

“Sudah ku bilang dia punya nama, namanya Kim Jong Hyun.” Ujar Tiffany kesal

“Mian maksudku Jong Hyun, tumben dia tidak ada di lapangan apa dia sakit?” Tanya Jinki

Tiffany terdiam, matanya yang bening mulai berkaca saat Jinki mengatakan hal barusan.

“Dia…” Tiffany menggantungkan kata-katanya

Jinki menunduk untuk melihat wajah Tiffany, seolah ingin mengetahui jawaban Tiffany lewat mimic wajahnya.

“Dia sudah pindah ke Italy.” Lanjut Tiffany

“Mwo? Kapan? Kenapa pindah?” Tanya Jinki tanpa henti

“Mungkin tadi pagi, dia tak memberitahu kapan ia pindah secara detail, tapi pindahnya Jong Hyun ke Italy, karena aku memutuskan hubungan dengannya.” Jelas Tiffany

“Miris.” Ujar Jinki lirih

“Ya begitulah…”

Tiba-tiba Kim Soo Hee masuk ke dalam ruangan dengan beberapa asistennya sambil menenteng beberapa gaun pengantin dan beberapa tuxedo untuk di coba oleh Jinki dan Tiffany.

Tiffany menyeka air matanya dan kemudian berdiri “Aku coba sekarang ya.” Ujar Tiffany seraya menghampiri Kim Soo Heed an mulai mencoba gaun pengantin yang dibawa Kim Soo Hee begitu juga dengan Jinki.

***

2 Jam kemudian…

Setelah mencoba beberapa gaun akhirnya pilihan Tiffany jatuh pada sebuah gaun pengantin berwarna putih tulang yang begitu elegant, Gaun tanpa lengan dengan payet-payet yang terletak di bagian dada, bagian depan yang tingginya sekitar lima sepuluh centi di atas lutut dan dengan ekor yang panjangnya mencapai tiga meter lebih.

Sedan Jinki, ia memilih Tuxedo berwarna hitam yang begitu elegant *takbisadideskripsikan*

Setelah selesai fitting gaun pernikahan mereka berdua kemudian pergi meninggalkan butik itu dan menyempatkan diri untuk jalan-jalan mengelilingi kota Seoul.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

Sudah hampir setengah jam setelah kami pulang dari Butik Designer ternama Kim Soo Hee kami hanya mengelilingi kota Seoul. Aku melirik Tiffany yang tengah melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Tiba-tiba saja terpikir di otakku untuk mengajaknya pergi ke Villaku yang terdapat di pinggir pantai.

“Hey apa kau mau ikut denganku ke villaku?” tawarku

“Dimana?” Tanya Tiffany

“Mau tidak? Tempatnya indah dan menarik.”

“Baiklah…” ujarnya menyetujui

Tanpa pikir panjang lagi aku langsung memutar balik arah dan membawa mobilku menuju villaku.

***

Tiffany turun dari mobil duluan, ia melihat keseliling pantai dengan tatapan yang begitu bahagia, dapat kulihat dari dalam mobil matanya yang memancarkan kebahagiaan.

Aku turun dari mobil dan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, aku kemudian berjalan menghampiri Tiffany.

“Kau suka?” tanyaku

“Yeah,, sangat suka.” Ujarnya sumringah

Entah apa yang terbesit di pikiranku saat ini hingga aku memberanikan diri untuk merangkul bahu Tiffany dan mendekatkan tubuhnya ke padaku.

Tiffany melirik padaku sambil tersenyum tipis begitu juga aku.

Suasana di antara kami sempat hening beberapa saat tapi aku mencoba mencairkan suasana dengan memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Hey, apa kau mau ke Villa ku?” tanyaku

“Boleh, tapi dimana?” Tanya Tiffany

“Dekat saja kok, tapi biar lebih mudah kita pakai mobil saja kesananya.” Jelasku

“Oh…” gumam Tiffany

“Ayo masuk.” Ajakku seraya melepas tanganku dari bahunya dan berjalan lebih dulu ke dalam mobil.

(End Jinki Pov)

(Tiffany Pov)

“Ayo masuk.” Ajak Jinki seraya melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan lebih dulu ke dalam mobil. Aku menatap punggungnya, benar-benar di luar dugaan, Jinki ia merangkulku barusan.

Dan kenapa saat ia merangkulku tiba-tiba aku langsung deg deg’an apa ini berarti aku mulai menyukainya? Tapi mana mungkin! Aku kan hanya menyuai Jong Hyun.

“Aish… apa sih yang kupikirkan!” aku menggeleng-gelengkan kepalaku

Tiba-tiba kudengar suara Jinki “Ya! Sampai kapan kau mau terus berdiri di situ?! Cepat masuk!” serunya

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari masuk ke dalam mobil Jinki.

Setelah aku masuk, Jinki langsung menghidupkan mesin mobilnya dan membawa mobilnya melaju.

Aku meliriknya sekilas, kulihat ia yang tengah focus menyetir, tapi saat aku tengah memperhatikannya tiba-tiba saja mata Jinki melirik ke arahku dan dengan cepat aku langsung melirik kea rah lain agar ia tak berpikir yang macam-macam terhadapku.

Sesaat kemudian, mobil Jinki berhenti di sebuah rumah yang begitu indah, itukah Villa Jinki?

“Ini Villamu?” tanyaku

“Ne… mau masuk?” tawarnya

“Tentu.” Ujarku sumringah seraya turun dari mobil bersamaan dengan Jinki.

Jinki berjalan mendekati pintu Villa itu dan membuka pintunya.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam begitu juga dengan Jinki, rumahnya begitu rapih dan terjaga. Bersih dan Nampak nyaman, rumah berdesign modern dengan berbagai macam interior rumah yang modern pula, benar-benar keren rumah modern yang berada di pinggir pantai.

“Kau suka?” Tanya Jinki

Namja bernama Lee Jinki itu lagi-lagi bertanya padaku ‘Kau suka?’ apakah tak ada pertanyaan lain yang bisa keluar dari mulutnya.

“Neomu.” Jawabku

“Rumah ini nanti akan menjadi rumah kita.”

“Eh?”

“Hanya bercanda hhe…” ia tertawa

“dasar…” ujarku sebal seraya menjitak kepalanya

“Awww…” rintihnya

“Kenapa kau menjitakku?” ia mengelus kepalanya

“Suruh siapa bercanda denganku.” Timpalku seraya berjalan melihat-lihat villa ini.

Aku benar-benar terpesona dengan tatanan di dalam maupun diluar villa ini, benar-benar modis dan elegant.

Aku membuka dua pintu yang berada di lantai dua, dan saat aku membuka pintu itu, mataku di suguhi oleh pemandangan pantai yang begitu indah membuatku benar-benar kagum.

Aku berjalan mendekat ke pembatas balkon dan melihat-lihat pemandangan pantai, pinggiran pantai terlihat agak ramai, banyak orang yang piknik ke sekitar pantai.

“Sepertinya kau benar suka dengan Villa ini.”

Aku menoleh dan ku dapati Jinki sudah berada tepat di belakangku

“Tentu saja, siapa yang tidak kagum melihat rumah semodis dan seelegant ini, tatanan rumahnya juga mempesona, terlagi jika berada di atas balkonnya. Mata kita benar-benar dimanjakan disini.” Ujarku nyerocos seraya kemudian kembali melihat ke arah pantai.

“Oh ternyata begitu, baru kutahu.” Ujar Jinki seraya berdiri di sampingku, tapi aku tak mengindahkannya aku malahan tetap melihat pemandangan didepanku.

Melihat anak-anak yang berlari-lari di pinggir pantai, pohon kelapa yang bergoyang karena terkena sapaan angin sore dan langit sore yang begitu indah.

“Tiffany.” Panggil Jinki

Aku menoleh “ap…”

Oh my God, saat ini wajah Jinki hanya tinggal beberapa centi dari hadapanku, oh Tuhan apa yang harus ku lakukan?

Ku yakin wajahku saat ini merah seperti udang rebus, bagaimana ini aku benar-benar malu. Aduh bagaimana jika dia tahu dan sadar bahwa aku begitu tegang? Huftt santai Tiffany, santai. Aku terus mencoba membuat diriku sesantai mungkin.

Jinki makin memperkecil jarak di antara kami dan kemudian bibirnyapun menempel di bibirku.

Benar-benar di luar dugaan.

(End Tiffany Pov)

(Jinki Pov)

Aku memandangi Tiffany yang tengah asyik memandang pemandangan pantai, ku rasa dia benar-benar kagum dengan suasana di tempat ini.

Aku semakin lama semakin dalam memperhatikannya, hingga tanpa kusadari aku memperkecil jarak di antara kami dan tanpa sengaja pula aku menggumamkan namanya.

“Tiffany.” Gumamku

Tiffany menoleh “Ap…” ia tak melanjutkan kata-katanya, ia malah langsung diam. Pipinya merona merah, merah sekali bahkan seperti udang rebus.

Aku semakin memperkecil jarak di antara kami dan menempelkan bibirku ke bibirnya yang mungil dan berwarna pink itu.

Aku dan Tiffany terdiam, tapi tak melepas bibir kami satu sama lain hanya menempel dan tak melakukan apa-apa.

Tiffany menjauhkan wajahnya dan langsung melihat ke arah pantai lagi, sedang aku, aku tetap terpaku di tempat merenungkan hal yang barusan kulakukan.

“Jinki , aku harus pulang bisa kau antarkan aku sekarang?” Tanya Tiffany

“Ya….ten..tentu…” ujarku gugup

Tiffany berjalan keluar terlebih dahulu sedang aku masih berada di atas balkon untuk memukul-mukul kepalaku.

“Kenapa kau begitu bodoh Lee Jinki?!!” umpat ku dalam hati seraya kemudian langsung berlari menyusul Tiffany.

***

Aku mematikan mesin mobilku dan menengok kea rah Tiffany.

“Soal tadi…” aku menggantungkan kalimatku

Tiffany menatapku dan mengeluarkan suara “gwenchanayo~” ujarnya

“Sekali lagi aku minta maaf.” Ujarku penuh penyesalan

“Itu tidak jadi masalah, itu mungkin bisa menjadi awal yang baik bagi hubungan kita.” Tutur Tiffany

“…” aku diam

“aku masuk ya, bye.” Tiffany turun dari mobilku dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Ku tatap punggung Tiffany yang perlahan menghilang dari mataku, dan saat tak kutemukan dirinya lagi entah kenapa aku merasa ada yang kurang. Apakah aku ada errr…

Ah sudahlah lebih baik sekarang aku pulang. Aku menghidupkan mesin mobilku dan memundurkannya kemudian kembali kerumah.

(End Jinki Pov)

(Author Pov)

2 Minggu Kemudian

Sudah 2 Minggu setelah Ji Yeon dan Jinki berpisah, Ji Yeon menjadi yeoja yang begitu pendiam. Prestasinya menurun, hampir tugas yang diberikan oleh dosen tak ia kerjakan, ia benar-benar terpuruk dan hatinya benar-benar kecewa dan sedih.

Yeoja yang dulu selalu memancarkan keceriaan dari matanya sekarang telah berubah, keceriaan dari matanya kini berganti memancarkan kesedihan.

Sebaliknya, Jinki dan Tiffany mereka semakin dekat dan semakin tahu tentang satu sama lain, bahkan mereka berdua satu sama lain telah menyadari telah tumbuh benih cinta di hati mereka, namun keduanya tetap bersikukuh untuk menyembunyikan benih yang mulai tumbuh itu.

14.30 KST

Hujan melanda kota Seoul, hujan yang begit deras.

Banyak mahasiswa yang tertahan di kampus karena hujan begitu pula dengan Jinki dan Tiffany.

“Jinki~sshi aku mau ke toilet sebentar ya.” Ujar Tiffany seraya langsung berlari meninggalkan Jinki

Jinki tersenyum kecil melihat Tiffany yang berlari dengan terburu-buru ke kamar kecil.

Jinki memeluk tubuhnya seraya berjalan mendekat ke dekat air hujan yang jatuh dari atas genting.

Di lihatnya air yang tak berhenti-henti mengalir itu sambil memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya, tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Jinki.

“Kau sendiri?” Tanya Ji Yeon

Jinki tersentak seraya menoleh ke arah Ji Yeon.

“Iya, kau masih ada kelas?” Tanya Jinki basa basi

“Tidak, hanya saja masih hujan jadi aku memutuskan menunggu sampai hujan reda.” Tutur Ji Yeon

“Oh begitu.”

“Eumm.. mana Tiffany?” Tanya Ji Yeon

“Dia sedang ke kamar kecil.” Ujar Jinki santai

“Jinki.” Panggil Ji Yeon

“Apa?”

“Apa kau masih mencintaiku?”

“Eh?”

“Apa kau masih mencintaiku?” ulang Ji Yeon

“Haha… kenapa kau bicara seperti itu?” ujar Jinki dengan tertawa yang di paksakan

“Aku tahu kau masih mencintaiku kan?!” seru Ji Yeon

“Kau ini apa-apaan ?!” bentak Jinki seraya berjalan meninggalkan Ji Yeon namun dengan sigap Ji Yeon menahan tangan Jinki.

“Kau masih mencintaiku kan?! Iyakan?!” ujar Ji Yeon seraya mengeluarkan cairan bening dari matanya

“…” Jinki diam

“Ayo bicaralah!! Katakan kau masih mencintaiku.” Pekik Ji Yeon

Namun Jinki tetap Diam.

“Uljimma…” ujar Jinki seraya mendekap Ji Yeon kedalam pelukannya dan membelai rambut Ji Yeon, berusaha untuk menenangkannya.

Dan tanpa di sadari oleh kedunya, dua buah bola mata tengah memperhatikan mereka

***

Tiffany keluar dari toilet seraya kemudian berjalan menyusuri koridor untuk kembali ke tempat ia tadi bersama dengan Jinki. Dalam perjalanan ia tanpa sengaja bertemu dengan Tae Yeon.

“Kau mau kemana Tiffany?” Tanya Tae Yeon

“Oh mau ke tempat Jinki, kau sendiri?” Tanya Tiffany balik

“Aku mau kekelas, bagaimana jika kita sama-sama.”

“Ayo…”

Tiffany dan Tae Yeon kemudian berjalan bersama, sambil membicarakan hal-hal yang menarik untuk di ceritakan.

“Oh iya aku langsung kekelas ya…” kata Tae Yeon seraya kemudian berjalan terlebih dahulu

Tiffany tersenyum seraya kemudian melanjutkan langkahnya, ia berjalan sambil menyanyikan lagu-lagu favoritnya, ia tersenyum manis sambil memandang air hujan yang terus berjatuhan ke bumi.

Tapi senyumannya seketika menghilang ketika ia dari jauh melihat, Jinki memeluk Ji Yeon erat dan terkesan begitu romantis.

Ia terdiam, dan membeku di tempatnya.

“Jadi Jinki masih mencintai Park Ji Yeon? Ia masih berhubungan dengannya? Oh harusnya aku berpikir ke situ, sekarang mungkin aku akan di anggap pengrusak hubungan orang.” Gumam Tiffany lirih.

Tiffany mundur beberapa langkah seraya kemudian berlari dengan derap langkah yang begitu cepat, bulir air mata tak dapat terus tertahan di pelupuk matanya dan seketika itu pula bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.

Ia kemudian berlari meninggalkan halaman kampus tanpa perduli derasnya hujan.

***

Jinki melepaskan pelukannya.

“Ji Yeon~ah mianhamnida.” Ucap Jinki lirih

Ji Yeon menundukkan kepalanya

“Apa kau sudah mencintainya?” Tanya Ji Yeon

“Ne… aku mencintainya.” Jawab Jinki mantap

“Dan tak adakah sisa cintamu padaku?” Tanya Ji Yeon lagi

“…” Jinki terdiam

“Ne arraso… kau sudah tak mencintaiku lagi. Berbahagialah dengan Tiffany.” Ujar Ji Yeon seraya kemudian berbalik dan berjalan menjauh dari Jinki.

“Ji Yeon~ah!!!” seru Jinki sebelum Ji Yeon melangkah terlalu jauh

Ji Yeon berhenti dan berbalik seraya menatap Jinki lekat.

“Meski aku sudah tak mencintaimu lagi, tapi kau akan selalu terkenang di hatiku sebagai kenangan yang terindah.” Ujar Jinki

Ji Yeon tersenyum “Sebaliknya, aku akan tetap menyimpanmu di relung hatiku yang paling dalam.” Ujar Ji Yeon seraya kemudian pergi meninggalkan Jinki.

Jinki terdiam seraya kemudian melirik pada Jam tangannya.

“Sudah 25 menit berlalu, tapi kenapa Tiffany tidak datang-datang ya?” gumam Jinki

“Jangan-jangan… Oh tidak…” Jinki kemudian langsung berlari melewati koridor kampusnya.

(End Author Pov)

(Tiffany Pov)

Aku masuk ke dalam rumah dengan baju yang begitu basah, aku berjalan menuju tangga dengan langkah gontai.

Tiba-tiba kudengar suara oemma yang berteriak kaget menyerukan namaku.

“Tiffany!!!” seru Oemma aku menoleh sekilas ke arah oemma.

Dan baru saja aku mau melanjutkan langkah, tiba-tiba kurasakan kepalaku begitu pusink, langkahku begitu berat, dan tiba-tiba saja semuanya jadi gelap.

***

“Tiffany kau sudah siuman?”

Samar-samar ku dengar suara oemma

“Oemma…” gumamku

“Ne ada apa sayang?” Tanya oemma dengan nada khawatir

Aku membuka mataku perlahan, dan dapat kulihat oemma yang tengah menatapku sendu sambil memegang tanganku kuat.

“Aku kenapa?” tanyaku

“Kau tadi pingsan sayang.” Jawab oemma

“…” Aku diam dan tak bertanya lagi pada oemma.

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan ku lihat Hyun In ahjumma memasuki kamarku.

“Nyonya bisa bicara sebentar…” ujar Hyun In ahjumma

“Ya… tunggu sebentar sayang.” Oemma beranjak dari kursi di pinggir ranjang dan menghampiri Hyun In Ahjumma.

Aku mentap keluar jendela. Entah kenapa bayangan Jinki dan Ji Yeon berpelukan tiba-tiba terlihat lagi olehku.

“Sial.” Umpatku dalam hati

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

Mobil Jinki berhenti di halaman rumah Tiffany, ia memegang setir mobilnya dengan perasaan yang bisa di bilang agak sedikit kacau.

Jinki menarik nafas seraya kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah Tiffany.

Di pencetnya bel rumah Tiffany beberapa kali dan sesaat kemudian pintu rumah Tiffany terbuka. Dan dapat ia lihat sosok Hyun In, pembantu Tiffany berdiri di depannya.

“Ada perlu apa Tuan Jinki kesini?” tanya Hyun In sopan

“Aku mau bertemu dengan Tiffany. Bisa?” tanya Jinki

“Oh iya, tunggu sebentar, saya bilang dulu pada nyonya. Soalnya Nona Tiffany sedang sakit.” Tutur Hyun In

Jinki tersentak kaget, matanya menatap Hyun In tak percaya.

“Sakit? Sakit apa? Bu…bukannya tadi pagi ia baik-baik saja.” Ujar Jinki tak percaya

“Nona Tiffany tadi siang pulangnya basah kuyup dan tiba-tiba saja ia jatuh pingsan.” Jelas Hyun In

“Oh begitu…”

“Tuan masuk dulu saya mau memberitahu Nyonya Kim.” Ujar Hyun In seraya mempersilahkan Jinki masuk kemudian pergi meninggalkan Jinki.

Jinki masuk dan duduk di salah satu sofa ruang tamu keluarga Hwang dan merutuki kebodohannya tadi di kampus.

***

Hyun In membuka pintu kamar Tiffany dan memanggil Nyonya Kim

“Nyonya bisa bicara sebentar…” ujar Hyun In

“Ya… tunggu sebentar sayang.” Nyonya Kim beranjak dari kursinya dan berjalan menemui Hyun In.

“Ada apa?”

“Ada Tuan Jinki nyonya.”

“Oh iya…”

Nyonya Kim kemudian turun menuruni anak tangga dan berjalan menemui Jinki.

“Ada apa Jinki malam-malam kesini?” tanya Nyonya Kim

“Begini Ahjumma ada terjadi kesalah pahaman antara aku dan Tiffany, dan aku harus menjelaskannya pada Tiffany.” Tutur Jinki

“Oh begitu, kalau begitu segera jelaskan pada Tiffany agar ia tak semakin salah sangka.”

“Baik Ahjumma, kalau begitu aku permisi ke kamar Tiffany.” Ujar Jinki seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Tiffany.

Cklek…

Jinki membuka kamar Tiffany dan di lihatnya Tiffany yang tengah terbaring di atas ranjang.

(End Author Pov)

(Tiffany Pov)

Cklek….

Terdengar suara pintu kamarku di buka, aku menoleh dan ku lihat Jinki masuk ke dalam.

Mau apa dia kesini? Aku segera membuang muka.

“Kau kenapa?” tanyanya

“…” aku diam dan tak menggubris pertanyaannya

“Apa kau cemburu ?” Tanya Jinki lagi

Tapi aku tetap tak menjawabnya

“Ayolah, jangan berpikir yang macam-macam itu semua hanya salah paham.” Ujar Jinki lagi.

Aku langsung bangkit dari tidurku dan menatap Jinki lekat dari atas tempat tidur.

“Aku lihat sendiri dengan mataku kau memeluk Park Ji Yeon dengan mesra, apakah itu bisa di sebut hanya salah paham?!” ujarku emosi

“Haha…” Jinki tertawa

“Wae? Ada yang lucu?” tanyaku

“Tentu saja, ternya kau bisa cemburu juga.” Ejeknya

“Tentu saja aku bisa cemburu.” Ujarku seraya membuang muka

Ku rasakan sebuah tangan membelai rambutku lembut, aku menoleh dan dapat kulihat Jinki sudah duduk di hadapanku.

“Antara aku dan Ji Yeon benar-benar sudah tak terjadi apa-apa, aku tadi hanya mencoba menenangkannya yang masih belum bisa melepasku. Sungguh.” Ujar Jinki meyakinkanku

Aku menatapnya lekat “Benarkah? Kau tidak bohongkan?” tanyaku

“Ne… untuk apa aku bohong pada orang yang aku cinta.” Ujar Jinki yang langsung membuat wajahku memerah

“Haha…” lagi-lagi Jinki tertawa

“Wae?” tanyaku

“Wajahmu merah seperti udang rebus tuh…” ejek Jinki

“dasar.” Umpatku

“Tapi tetap cantik.” Rayu Jinki

“Kau ini…” ujarku malu seraya menundukkan kepala

“Kenapa? Kau pikir aku merayu eum?? Aku tidak merayu tahu… aku berbicara sesuai kenyataannya.” Ujar Jinki seraya kemudian mendekapku ke dalam pelukannya.

“Tiffany…” panggilnya lembut

“Apa?” tanyaku seraya mendongak ke atas

“Saranghaeyo.” Ujar Jinki

“Na do…”

Jinki kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku dengan lembut.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

Beberapa hari kemudian…

Tiffany menatap pantulan dirinya yang terbalut gaun pengantin di cermin, di usia yang masih 21 satu tahun ia nampak lebih dewasa dengan mengenakan gaun pengantin berwarna putih tulang yang telah di pilihnya beberapa minggu yang lalu.

“Neomu yeppo…” celetuk Eun Ji dari pintu yang terbuka sedikit

Tiffany menoleh dan tersenyum pada Eun Ji

“Gomawo Eun Ji~a.” ujar Tiffany

“Onnie, ayo sebentar lagi pemberkatannya.”

“Ah ne…” Tiffany keluar dari kamarnya di temani oleh Eun Ji, Seraya kemudian memasuki mobil yang akan mengantarnya ke gereja di mana ia akan mengucapkan janji suci dengan Lee Jinki, namja yang di jodohkan dengannya, namja yang dulunya begitu ia benci namun kini begitu ia cinta.

***

Jinki menunggu kedatangan Tiffany di altar gereja dengan di temani oleh adiknya yang kedua yaitu Taemin.

“Hyung…” panggil Taemin

“Wae?” tanya Jinki

“Apa kau deg degan?” tanya Taemin

“Tentu saja, setiap orang jika akan menikah pasti deg-degan. Kau juga akan begitu nanti.” Tutur Jinki

“Oh begitu…”

“Oh ya Taemin…”

“Apa?”

“Jika aku sudah tidak tinggal dirumah, kau jangan berkelahi terus dengan Eun Ji arra? Jadilah kakak yang baik untuknya.”

“Baik Hyung.”

“Bagus kau memang sudah mulai tumbuh dewasa.” Puji Jinki

***

Perjalanan Tiffany menuju gereja tempat di mana ia akan mengucap Janji suci begitu lancar. Mobil yang membawanya berhenti di depan gereja tepat pada waktunya, ia sampai sekitar pukul 07.30 KST. Tiffany kemudian membuka pintu mobil dan turun dari dalam mobil.

Tuan Hwang mengulurkan tangannya dan dengan senang hati, Tiffany menyambut uluran tangan Tuan Hwang yang notabene adalah ayah kandung Tiffany.

Dengan senyum manis yang terpasang di wajahnya dan di damping sang appa tercinta, Tiffany dan Tuan Hwang berjalan menuju altar gereja.

Mereka berjalan menuju altar gereja dengan diiringi alunan music pernikahan khas agama mereka.

Sesampainya di depan altar Tuan Hwang melepas Tiffany dan menyerahkannya pada Jinki.

Tiffany kemudian berjalan dan berdiri di samping Jinki, pastor yang sudah siap kemudian mengucapkan kalimat yang kemudian di ikuti oleh keduanya sebagai janji pernikahan mereka.

Dan setelah janji mereka ucapkan, Jinki dan Tiffany kemudian menyematkan cincin pernikahan ke jari mereka masing-masing.

Setelah itu keduanya saling memandang dan tersenyum lega.

Tapi tiba-tiba semua orang yang berada di dalam gereja menyoraki mereka.

“Cium! Cium! Cium!!” seru semua yang berada di dalam gereja.

Dengan malu-malu Jinki kemudian membuka penutup kepala Tiffany, ia mendekatkan wajahnya dan merengkuh bibir mungil Tiffany, dan semua orang yang ada di situ langsung bersorak kegirangan.

Mereka melepas ciuman mereka, dan saling memandang satu sama lain dengan malu-malu.

“Saranghae…” ucap Jinki

“Na do…”

Jinki dan Tiffany kemudian keluar dari gereja dengan status sudah sebagai suami istri, semua orang menyirami mereka dengan kelopak bunga mawar merah dan putih. Dan saat Tiffany hendak masuk ke dalam mobil, ia langsung melemparkan sebucket bunga yang dibawanya tadi ke tamu undangan, dan bunga yang di lemparnya barusan langsung di perebutkan oleh gadis-gadis yang menyaksikan pernikahannya tadi.

Tiffany dan Jinki tersenyum, mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil dengan hati bahagia.

Jinki kemudian membawa mobilnya melesat kencang meninggalkan gereja tempat mereka mengucap janji sehidup semati tadi.

***

END

Akhirnya end juga… mian kalau endnya geje dan tak seperti yang reader semua harapan…

Harapan Vhii, semoga reader yang tadinya ngunci mulutnya untuk ngasih comment langsung member comment…

Demi ubur-ubur #spongebobmania# Vhii ngerjainnya begadang semaleman mantengin laptop dan baru selesai pukul 23:28 WIB tanggal 27 Mei 2011.

Insya Allah, kalau sempat Vhii bakal bikin sequelnya dengan judul yang hampir sama, tapi kalau sempat. Mengingat ulangan semester 2 yang sudah berada di depan mata.

Ok segitu aja,, sekali lagi mian kalau endingnya jelek dan geje and Vhii harap commentnya… don’t be sider okeycakep but become a good reader

Advertisements

One response to “We Got Married (Part 6 End)

  1. Pingback: Storyline | Little Fairy·

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s