We Got Married (Part 5)

Tittle : We Got Married

Author : Devi Hardiyanti

Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jinki

Cameo :

  • Park Ji Yeon
  • Kim Jong Hyun
  • And Other

Genre : Comedy,Romance,AU

Rating : PG+15

Length :Chaptered

Backsound : I’m In Love (Narsha – BEG)

Disclaimer : Fanfiction my own

We Got Married

-Devi Hardiyanti ©

.

.

(Author Pov)

Lampu-lampu hias di jalanan menambah marak dan indah jalanan Kota Seoul. Malam hari ini begitu ramai padahal waktu telah menunjukkan pukul 08.30 KST.

Tiffany menatap keluar jendela dengan tatapan sebal, di dalam benaknya ia ingin segera turun dari mobil itu meski harus pulang jalan sekalipun.

Jinki menjalankan mobilnya dengan menatap lurus ke depan,dan terkadang Jinki melirik pada Tiffany yang duduk di sampingnya.

Susana begitu hening, tak ada satupun dari mereka yang mau membuka suara dan berbicara kepada satu sama lain. Melihat Tiffany yang terus menerus diam dan hanya menatap ke luar jendela Jinki pun memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu.

“Hey.” Kata Jinki pelan untuk mencairkan suasana, Tiffany mendengar suara Jinki tapi ia tak mau untuk menggubrisnya.

Jinki menekuk wajahnya dan menyipitkan matanya karena tidak mendapat respon dari Tiffany.

“Hey!!” kata Jinki lagi kali ini lebih keras.

Tiffany menengok ke arah Jinki seraya memasang wajah malas.

“Kau tadi memanggilku?” tanya Tiffany pura-pura tak mendengar.

Jinki menarik nafasnya “Iya.”

“Oh… ada apa?” tanya Tiffany

“Aniya… errr aku mau tanya.” Ucap Jinki

Tiffany menaikan alisnya “tanya apa?”

“Apa sebelumnya kau sudah di beri tahu kalau kau akan di jodohkan denganku?” tanya Jinki

Tiffany menggembungkan pipinya seraya memasang raut wajah masa.

“Belum mereka tak memberitahuku terlebih dahulu. Apa kau sudah tahu?”

“Yeah aku sudah di berita…”

Pletak, sebuah jitakan mendarat dengan mulus di kepala Jinki, spontan Jinki langsung mengerem mobilnya. Ciiiit tubuh Tiffany terdorong ke depan dan kembali belakang.

“Awwww…” rintih keduanya bersamaan.

“Aishh… kenapa kau merem mobilnya mendadak?!” tanya Tiffany dengan nada membentak.

“Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau menjitak kepalaku?!” Tanya Jinki sebal

“Itu karena kau tidak memberitahuku kalau kita akan dijodohkan!” jawab Tiffany lantang

“Ya!! Bagaimana aku mau memberitahumu esok harinya saja kau tak masuk kampus.” Celoteh Jinki

“Argh… kau itu benar-benar namja menyebalkan, harusnya aku menolak perintah appa dan oemma tadi.” Ujar Tiffany geram.

Jinki tersenyum kecut “Kalau begitu kenapa kau mau mau saja di suruh?” tanya Jinki ketus

“Aku hanya tak mau mengecewakan mereka saja. Jika bukan karena tak mau mengecewakan mereka aku mana mau di suruh jalan-jalan denganmu.” Cerocos Tiffany

Jinki menrik nafas dan mendelik pada Tiffany begitu pula sebaliknya.

“Kalau begitu cepat turun dari mobilku!!” bentak Jinki

“Ok… lagian siapa juga yang mau berada lama-lama di mobilmu uwek.” Tiffany menjulurkan lidahnya seraya kemudian membuka pintu mobil dan turun dari mobil Jinki.

Brakkkk… Tiffany membanting pintu mobil Jinki dan sesaat kemudian mobil Jinki melesat kencang dan pergi jauh dari pandangan Tiffany.

“Kau kira aku tidak bisa pulang sendiri kerumahku apa!!!” seru Tiffany seraya berkacak pinggang.

***

Tiffany berjalan menyusuri pinggir jalanan kota Seoul, kakinya terkadang menendang kaleng-kaleng bekas yang ia temukan di depannya.

Raut wajahnya nampak sebal, bibirnya manyun, dan terkadang pipinya mengembung.

“Harusnya tadi aku tidak bicara seperti itu!!” sesal Tiffany.

Tiffany betul-betul kelelahan karena harus berjalan sekitar 25 Kilometer jauh dari rumahnya.

“Capek sekali.” Keluhnya seraya melap keringat yang bercucuran di dahinya.

Tiffany kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu bangku panjang yang terdapat di pinggir jalan.

Ia menopangkan kepalanya di telapak tangan kirinya seraya kemudian menatap kosong ke jalanan Seoul.

“Jeongmal baboya~. Nan jeongmal baboya.” Sesal Tiffany seraya menjitak kepalanya berkali-kali.

Tanpa di sadari oleh Tiffany dua bola mata tengah memperhatikannya dari kejauhan, pemilik kedua bola mata tersebutpun tertawa lepas melihat perilaku Tiffany barusan.

“Kenapa kau bicara begitu huh? Beginikan jadinya kau harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah sekarang.” Omelnya pada dirinya sendiri.

Di saat Tiffany tengah asyik memarahi dirinya sendiri sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti tepat di depannya. Tiffany mendongak dan melihat mobil di depannya itu, kaca mobil terbuka dan nampak Jinki yang tengah menatapnya dengan memasang evil smilenya.

Tiffany menyipitkan dan memanyunkan bibirnya.

“Waeyo?!” tanya Tiffany ketus

“Kau mau pulang tidak??” bentak Jinki

Tiffany memanyunkan bibirnya seraya kemudian bangkit dari bangku yang tadi ia duduki, Tiffany pun masuk ke dalam mobil dengan lemas, Jinki menyeringai kecil seraya kemudian membawa laju mobilnya.

***

“Apa kau lapar” Tanya Jinki

“Sangat, kenapa?” Tanya Tiffany balik

“Mau mampir ke restarurant atau café dulu untuk makan?” tawar Jinki

Tiffany mengangguk “ne, oh ya di pinggir sebelah kiri ada café, kita mampir ke situ saja.” Ujar Tiffany seraya menunjuk salah satu bangunan yang ada di pinggir jalan sebelah kiri.

“Oh ne arraso.” Ujar Jinki mengerti seraya memutar setirnya menuju café tersebut.

Jinki mematikan mesin mobilnya seraya kemudian keluar dari mobil di ikuti kemudian oleh Tiffany.

Mereka kemudian duduk di salah satu meja yang ada di café tersebut.

“Kau mau pesan apa?” Tanya Jinki

“Aku mau Strawberry Milk Juice dengan Cake Cream Strowberry.” Ujar Tiffany

Jinki kemudian melambaikan tangannya sebagai isyarat agar pramusaji menghampirinya, sesaat kemudian seorang pramusaji di café tersebut mendatangi meja Jinki dan Tiffany.

“Mau pesan apa?” Tanya pramusaji itu seraya mengeluarkan sebuah bolpoint dan sebuah notebook kecil.

“Satu gelas strawberry milk juice dan segelas vanilla latte. Cake Cream Strawberry dan tiramisu.” Ujar Jinki

“Itu saja?” Tanya pramusaji itu seusai menulis semua yang di pesan Jinki

Jinki mengangguk pelan dan kemudian pramusaji itupun pergi meninggalkan meja mereka.

Keadaan hening sejenak, tapi Tiffany mencoba untuk menghilangkan keheningan ini dengan membuka suara terlebih dahulu.

“Apa aku boleh bertanya?” Tanya Tiffany ragu-ragu

Jinki melirik Tiffany seraya kemudian mengangguk pelan

“Kenapa kau mau di jodohkan denganku?” Tanya Tiffany pelan

Jinki tersenyum kecil seraya kemudian memajukan kursinya dan sedikit memperdekat jarak antara wajahnya dan wajah Tiffany.

“Karena aku mau membahagiakan orang tuaku, itu saja. Kau sendiri?” Tanya Jinki balik

Tiffany membuang muka dan menatap kosong ke sampingnya. Jinki mengerutkan keningnya dan kembali bertanya “Hey, kenapa diam saja.” Ujar JinkI

Tiffany kemudian tersadar seraya langsung menoleh pada Jinki “Aku juga hanya ingin membuat kedua orangtuaku bahagia, dan mungkin menikah denganmu bisa membalas sedikit budiku pada appa dan oemma.” Ujar Tiffany

“Oh begitu.” Jinki membulatkan mulutnya

“Jinki~sshi…” panggil Tiffany

Jinki mendongak dan menatap Tiffany aneh dan sesaat kemudian ia langsung tertawa terbahak-bahak, Tiffany menatapnya aneh seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, mencoba untuk mengetahu sebab Jinki tertawa.

“Kau kenapa?” Tanya Tiffany polos

“Hahaha…” Jinki terus tertawa dan tak menggubris pertanyaan Tiffany, Tiffany meletakkan kedua siku tangannya ke atas meja dan menopangkan wajahnya di antara kedua telapak tanganya seraya memasang wajah sebal dan bibir yang sedikit maju.

“Kenapa? Apakah ada yang lucu huh?” Tanya Tiffany sebal

“Tidak, tapi ha… hahahaha…” Jinki sekarang tertawa lebih keras lagi membuat semua orang yang berada di dalam café memandangnya aneh. Tiffany menutup wajahnya dengan telapak tangan kirinya karena merasa malu dengan orang-orang yang tengah melihatnya.

“Ya!” bentak Tiffany dengan pelan, tapi Jinki tak menghiraukannya akhirnya Tiffanypun menginjak kaki Jinki dan barulah Jinki bisa berhenti tertawa, namun tawanya itu langsung terganti menjadi sebuah teriakan kesakitan.

“Hihihi…” Tiffany terkekeh kecil

“Yak au kenapa menginjak kakiku huh?! Sakit tahu!” bentak Jinki

“Ya!! Kau tidak malu apa di pandangi dengan tatapan aneh oleh orang-orang?” Tanya Tiffany seraya melirik sebentar ke beberapa orang yang masih melihat mereka

“Eh?” Jinki kemudian menoleh dan benar kata Tiffany banyak orang yang tengah memandangnya aneh

“Hhee…” Jinki tertawa kecil

“dasar…” Tiffany mendengus sebal

“Eh memangnya ada yang lucu ya? Kenapa kau tertawa?” Tanya Tiffany lagi

“Aku tertawa karena tadi kau memanggilku dengan embel-embel sshi.” Jawab Jinki

“Memangnya tidak boleh ya aku memanggilmu pakai embel-embel sshi?” Tanya Tiffany

“Boleh sih, tapi sepertiny terlalu asing di telingaku.”

“Oh begitu… Oh iya jika kita menikah bagaimana nasib Ji Yeon?” Tanya Tiffany yang langsung membuat Jinki terdiam

“Jinki…” Panggil Tiffany pelan, Jinki tersenyum kecil dan berkata “Entahlah, yang pasti dalam waktu dekat ini aku akan memutuskan hubungan kami berdua.” Jelas Jinki

Keduanya kemudian kembali terdiam dan kali ini Jinkilah yang membuka pembicaraan.

“Kau sendiri?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana nasib pemain basket itu jika kau menikah denganku?”

“Dia punya nama!! Namanya Kim Jong Hyun!!” bentak Tiffany

“Mianhae, aku lupa.” Ujar Jinki

“Besok aku akan memutuskan hubungan kami berdua, dan aku tahu pasti Jong Hyun akan sangat kecewa dengan keputusanku.” Ujar Tiffany lirih seraya menundukkan wajahnya

Suasana kembali hening hingga seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka.

“Selamat menikmati.” Ujar Pramusaji itu setelah menghidangkan makanan dan minuman di hadapan mereka.

“Fany ayo makan.” Ajak Jinki

“Ne.” Tiffany mengangguk pelan.

***

“Kita tidak perlu melakukan acara pertunangan, langsung saja kita antarkan mereka berdua ke depan altar gereja.” Ujar Ji Hoon

“Baiklah kalau begitu, tapi kapan hari pernikahan mereka?” Tanya Jung Dong

“Ini tanggal 31 April bukan?”

Semua yang ada di situ mengangguk pelan

“Kita buat acara meriah pada tanggal 25 mei mendatang, persiapan pernikahan harus sudah kita persiapkan mulai besok dari baju pengantin,makanan minuman untuk para tamu, kartu undangan, dan lain-lain.” Jelas Ji Hoon

“25 Mei? Apa tidak terlalu cepat sayang?” Tanya Goo Eun Jae

“Tidak, kita bisa siapkan itu semua secara maksimal.”

“Baiklah jika kau mau tanggal pernikahan mereka adalah tanggal 25 mei mendatang aku setuju setuju saja.” Ujar Jung Dong

“Baiklah kalau begitu mulai besok kita harus mulai menyiapkan segala halnya dan sekarang kita hanya tinggal menunggu mereka datang dan memberitahu mereka.” Cetus Kim Shin Hyu

“Yak au benar.”

“Oh iya silahkan minum, sebelum minumannya dingin.” Ujar Kim Shin Hyu

***

“Kenyang.” Ujar Tiffany kekenyangan seraya kemudian berjalan keluar dari café itu berdua dengan Jinki.

“Enak sekali ya.” Ujar Jinki sumringah

“Iya enak sekali.” Puji Tiffany seraya kemudian masuk ke dalam mobil Jinki.

Jinki menyalakan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan pinggir jalanan Seoul tersebut.

Setelah menempuh perjalanan selama sekitar lima 29 menit Jinki dan Tiffany pun sampai kerumah Tiffany, mereka keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam.

“Kalian sudah pulang?” Tanya Nyonya Kim

“Ne kami sudah pulang” jawab Jinki dan Tiffany bersamaan

“Duduk di sini.” Pinta Nyonya Kim

Tiffany dan Jinki kemudian duduk bersebelahan di sofa yang terdapat di ruang tamu milik keluarga Tiffany.

“Kami sudah menentukan tanggal pernikahan kalian, dan kalian akan resmi menjadi suami istri tanggal 25 mei mendatang.” Ujar Tuan Lee

“Mwo? Secepat itukah? Apa tidak terlalu terburu-buru?” Tanya Tiffany

“Tidak, waktu satu bulan cukup untuk menyiapkan semua hal untuk acara pernikahan kalian nanti.” Jawab Tuan Hwang

“Tapi kami mas…”

“Tidak ada tapi-tapian, kami sudah memutuskan kalian akan menikah tanggal 25 mei mendatang titik.”

“Huh.” Keduanya mendengus sebal.

(End Author Pov)

***

(Jinki Pov)

Aku menjatuhkan tubuhku di atas sofa kamar ku, aku kemudian melipat tanganku belakang dan menindihkan kepalaku di atasnya.

Kupandangi langit-langit kamarku yang berwarna putih bersih sambil memikirkan pembicaraan soal pernikahanku dan Tiffany di rumah keluarga Tiffany tadi.

Tanggal 25 mei? Aish apa mereka tidak berpikir kalau itu terlalu cepat untuk kami, dan apa mereka tidak berpikir kalau sebuah pernikahan itu direncanakan harus benar-benar matang dan pernikahan itu bukanlah soal mudah.

Sekarang aku malah memikirkan Ji Yeon, bagaimana dengan Ji Yeon nanti? Apakah dia bisa merelakanku pergi bersama wanita lain?

Tiba-tiba suara Taemin yang begitu menggelegar terdengar masuk ke dalam kamarku membuat semua yang tadi kupikirkan lenyap begitu saja.

“Hyung!!! Hyung!!!” teriaknya dengan suara yang bagiku amat-amat keras dan teramat sangat cempreng.

“Wae?” tanyaku

“Kita bertading main playstation yuk.” Ajak Taemin

“Mian Taemin, aku sedang capek kau main sendiri saja.” Tolakku halus

“Yah… dasar kau hyung… ya sudah kalau begitu.” Taemin berjalan keluar dari kamarku dan menutup pintu kamarku.

Aku kemudian bangkit dari sofa dan berjalan ke kasur, aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur dan perlahan aku mulai mengatupkan kedua kelopak mataku hingga akhirnya aku tertidur dan terbang ke alam mimpiku.

(End Jinki Pov)

***

(Tiffany Pov)

Aku menatap ke bawah, dapat kulihat dari atas balkon kamarku lampu-lampu penduduk kota Seoul yang bersinar terang bak ribuan bintang yang tengah menerangi bumi di malam yang indah.

Kurasakan semilir angin berhembus membelai tubuhku, membuatku terkadang mengangkat bahu untuk menahan dinginnya malam.

Aku memeluk tubuhku sendiri, kupandangi langit malam dengan raut muka yang begitu masam.

Aku hingga sekarang masih syok akan pernyataan kedua orang tuaku dan Jinki bahwa kami akan menikah tanggal 25, itu sebulan lagi. Hello!!! Mereka pikir pernikahan itu suatu yang mudah apa? Apakah mereka berpikir bahwa membuat sebuah acara pernikahan itu semudah membalikkan tangan? Tch… menyebalkan.

Angin malam makin bertiup kencang membuatku benar-benar sudah tak sanggup untuk merasakan dinginnya malam.

Aku masuk kedalam kamarku dan menutup pintu dan gorden kamarku. Aku berjalan ke dekat kasurku dan duduk dipinggiran kasur. Tanpa sengaja kedua bola mataku melirik sebuah frame yang berisi foto ku dan Jong Hyun tengah berpelukan.

Aku tersenyum kecil, aku kemudian mulai mengingat-ingat semuanya tentang kami, mulai dari pertama bertemu hingga terakhir aku bertemu dengannya. Saat tengah memikirkan Jong Hyun terkadang aku tersenyum-senyum sendiri tapi senyumku memudar ketika aku ingat bahwa besok aku harus putus dengan Jong Hyun.

Hati ini terasa dicabik-cabik dan terasa sangat perih, bagaimana mungkin aku bisa melepaskannya?

Aku mengambil fram photo itu dari tempatnya kemudian memeluk frame foto itu begitu erat dan aku kembali tertidur dengan keadaan memeluk frame photo tersebut.

***

Kring… Kring… Kring…

Suara jam weker ku berbunyi, terdengar begitu nyaring.

Aku mengeluarkan tanganku dari balik selimut dan mencari-cari jam waker yang berada di atas meja. Setelah aku mendapatkannya aku kemudian mematikan alarm jamku dan membuka mataku perlahan.

Kulihat jam waker ku yang menunjukkan pukul 04.42.

“Hoaammm!!” aku menguap lebar

Dengan malas aku bangkit dari kasurku dan langsung membereskan bekas tidurku semalam.

Setelah membereskan tempat tidurku aku segera membuka laci meja dan kembali mengaktifkan ponselku, sesaat kemudian ponselkupun menyala dan tada banyak sekali pesan yang masuk, hampir sekitar dua ratus pesan lebih dan kebanyakan semuanya berasal dari Jong Hyun,Tae Yeon, dan teman-teman lainnya.

Dari pada membuang waktu untuk membaca pesan yang pastilah semuanya berisi “Kau dimana dan kenapa tak masuk.” Lebih baik aku tinggal mandi dan segera berangkat ke kampus.

04.42 KST

Aku keluar dari kamar mandi sudah dengan menggunakan busana yang lengkap dan rapih. Aku menghampiri meja rias yang terdapat di sudut kamarku dan sedikit membenahi diri setelah selesai akupun turun ke lantai bawah dan langsung berangkat.

Aku masuk ke dalam mobil dan langsung membawa mobilku melajau di jalanan Seoul. Dalam perjalanan menuju kampus aku menyetir sambil mendengarkann alunan music yang mengalun di telingaku melalu perantara ipod.

Aku sesekali melihat kekanan atau kekiri jalan siapa tahu saja ada beberapa perubahan pada kota Seoul, tapi bukannya perubahan di kota Seoul yang kulihat malahan mobil Jinki yang kulihat.

Yeah, saat ini mobil Jinki tepa berada di samping kanan mobilku,kaca mobilnya terbuka, Jinki menengok padaku dan menyunggingkan evil smilenya, tch apa maksudnya? Dasar namja gila.

Aku kemudian memperlaju kecepatan mobilku dan akhirnya aku bisa menghindar dari samping mobil Jinki.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya akupun sampai ke kampus. Aku memarkirkan mobilku di parkiran sebelah barat dan langsung bergegas turun.

Ini adalah hari pertama aku masuk ke kampus lagi setelah beberapa hari ini tidak masuk.

Seperti hari-hari biasanya, sebelum ke kelas aku harus menemui Jong Hyun di lapangan basket. Tapi kali ini aku menemui Jong Hyun dengan maksud dan tujuan yang berbeda.

Jika biasanya aku menemuinya karena aku ingin meluapkan rasa rindu dan mensupportnya ataupun sekedar memberinya minuman atau bekal sekarnag aku menemuinya karena ingin melepaskan dirinya untuk orang lain.

Aku berdiri sekitar 3 meter jauhnya dari lapangan basket, seraya kemudian berteriak menyeru memanggil Jong Hyun yang tengah bermain basket.

“Jong Hyun~ah!!!” seruku

Setelah memasukan bola ke dalam ring Jong Hyun kemudian menengok padaku dan tak lupa juga ia menyunggingkan senyum termanisnya.

Seraya kemudian tanpa di perlu di komando lagi langsung berlari menghampiri ku dan memelukku erat.

“Kau kemana saja?!” tanyanya sumringah

“Ak…aku… perlu bicara.” Ujarku tergagap

***

Kami duduk berdua di sebuah bangku panjang yang terletak di belakang gedung universitas.

Aku mengepal kedua tanganku dan meletakkannya di atas paha, mulutku benar-benar terkunci rapat, aku benar-benar tak bisa mengeluarkan suara.

Sedih bercampur aduk dengan rasa takut membuat bibirku makin sulit dan semakin sulit untuk terbuka, sampai akhirnya sebuah keberanian datang menghampiriku membuatku berani membuka mulut.

“Jong Hyun~ah.”

“Ne… wae?”

“Aku… aku…”

“Aku apa?”

“Aku mau kita di jalan masing-masing.”

Jong Hyun mengangkat alisnya dan memandangku aneh.

“Maksudmu?” tanyanya bingung

“Aku mau kita sudahi semua ini sampai di sini.” Ujarku lantang seolah dia memang yang menginginkan semua ini

Jong Hyun tertawa lepas sambil memegang perutnya.

aku mengerutkan keningku dan memanyunkan bibirku beberapa centi

“Ya!! Waeyo? Kenapa tertawa?!” Tanyaku Judes

Jong Hyun terdiam dan kemudian berkata “Kau kali ini bercandanya benar-benar sangat lucu.” Jawab Jong Hyun

“Aku tidak bercanda! Aku sungguhan!” pekikku

Jong Hyun terdiam seraya memandangku lekat

Jong Hyun tertawa dan kemudian berkata dengan nada sedikit dingin “Hahaha… geotjimal…”

Mataku berkaca, bulir-bulir air matapun siap keluar dari pelupuk mataku namun aku mencoba membendung bulir-bulir air mata itu.

Aku berdiri “Sekali lagi aku bilang, yang ku katakana barusan itu sungguhan dan tidak bercanda.” Ujarku lantang.

“Aku permisi.” Pamitku seraya berjalan meninggalkan Jong Hyun

Baru beberapa langkah aku berjalan tiba-tiba kurasakan Jong Hyun tengah memelukku dari belakang dengan erat.

Aku menundukkan kepalaku dan menahan air mataku yang siap mengalir.

“Tolong katakana padaku bahwa yang tadi kau katakan ini semua hanya lelucon.” Ujarnya lirih

Kali ini aku tak dapat membendung air mataku lagi, air matapun jatuh kepipiku.

Aku melepas kedua tangan Jong Hyun yang tengah memlukku seraya kemudian berbalik menghadap Jong Hyun. Aku kemudian mendongak dan memandang Jong Hyun lekat begitu sebaliknya.

Jong Hyun menyeka air mata yang berada di pipiku dan menatapku untuk mengatakan sesuatu. Setelah beberapa lama aku terdiam akhirnyapun aku berani membuka mulutku.

“Ini bukan lelucon!” seruku seraya langsung berlari meninggalkan Jong Hyun, aku menutup mulutku dengan tanganku, air mata mengalir dengan derasnya di pipiku.

Sambil berlari terkadang aku menyeka air mataku yang tak ada henti-hentinya berhenti mengalir.

Brukk…

“Mianhae…” ujarku meminta maaf pada orang yang ku tabrak tadi seraya langsung kembali berlari, tapi tiba-tiba sebuah tangan menahanku.

Aku spontan langsung menoleh ke belakang dan menatap orang yang menahanku berlari. Aku menatapnya lekat begitu juga sebaliknya, mata kami saling beradu dalam beberapa saat.

“Matamu??”

“Eh??”

“Kenapa matamu merah? Kau habis menangis?” tanyanya bertubi-tubi

Aku menundukkan kepala seraya kemudian mengguncangkan tanganku keatas agar bisa terlepas dari tangan Jinki, tapi tidak bisa, Jinki memegang tanganku dengan erat.

“Tch…” Jinki tersenyum sinis

“Kau mau lari huh? Ayo ikut aku.” Jinki kemudian langsung menarik tanganku untuk mengikutinya.

(End Tiffany Pov)

(Jinki Pov)

Aku berjalan melwati koridor kampus, seraya berjalan menuju kelasku. Dalam perjalananku dapat ku lihat Tiffany yang tengah berlari sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Seperti tak mau peduli dengan segala sesuatu ia berlari dengan asal dan tanpa melihat depan, kiri, dan kanan dan hasilnya dia menabrakku.

“Mianhae…” ujarnya meminta maaf tanpa melihatku sedikitpun dan diapun kembali berlari namun dengan cepat aku memegang pergelangan tangannya bermaksud untuk menahannya pergi.

Tiffany menoleh seraya kemudian menatapku lekat begitupula denganku. Aku menatapnya begitu lekat juga, mata kamipun saling beradu, dapat ku lihat mata Tiffany yang merah seperti habis menangis, akupun memberanikan diri untuk bertanya.

“Matamu??” tanyaku

“Eh??”

“Kenapa matamu merah? Kau habis menangis?” tanyaku bertubi-tubi

Tiffany menundukkan kepala seraya kemudian mengguncangkan tangannya keatas agar dia bisa terlepas dari tanganku, namun sayang usahanya tak berhasil karena aku memegang tangannya begitu erat.

“Tch…” aku tersenyum sinis seakan meremehkan kekuatannya

“Kau mau lari huh? Ayo ikut aku.” Aku langsung menarik tangan Tiffany untuk mengikutiku.

Tiffany tak melawan, ia hanya mengikutiku dengan pasrah saat aku menarik tangannya.

***

Aku melirik Tiffany sekilas, dapat kulihat Tiffany tengah menatap kosong keluar jendela mobil.

“ehm…” aku berdehem agar bisa membuat suasana hening ini menjadi sedikit bersuara.

Tapi, Tiffany tak meresponku sama sekali, ia tetap menatap kosong keluar.

“Fany.” Panggilku

Tiffany tak bergeming

“Fany! Fany! Tiffany!” seruku pada Tiffany

“Eh…” Tiffany melihat padaku seraya mengerutkan alisnya

“Waeyo?” tanyanya

“Kita mampir ke café semalam yuk.” Ajakku

“Shiro.” Ujarnya dingin

Aku menggembungkan pipiku seraya kemudian merem mendadak mobil yang kukendarai ini.

“Ya apa kau sudah gila huh?” Tanya Tiffany seraya menatapku dengan pandangan berapi-api

“Kau itu kenapa?!” Tanya ku to the point

Dia mengangkat alis kanannya “maksudmu?”

“Kenapa kau menangis?”

“Hahaha…” Dia tertawa

“Menangis? Siapa yang menangis?” ujarnya seolah mau menutupi kenyataan yang ada

“Kau jangan menutup-nutupinya padaku arra?!” ujarku

“Aku tak menutup-nutupi sesuatu darimu.” Pekiknya

“Aku tahu kau tadi menangis.”

Aku terdiam kemudian melanjutkan lagi perkataanku

“Karena aku calon suamimu aku berhak tau kenapa kau menangis tadi.”

Tiffany terdiam seraya mendengus pelan.

“Apa ada hubungunannya dengan Jong Hyun?” tanyaku

Tiffany mendongak seraya menatapku tajam

“Tidak!!!” ujarnya lantang

“Lantas kalau tidak ada hubungannya dengan Jong Hyun, kau menangis karena apa? Please tell me.” Pintaku

“Kau tak perlu tahu.” Ujarnya seraya membuang muka

“Baiklah aku tak akan mau tahu, tapi ada syaratnya.” Ujarku

“Syarat? Syarat apa?” tanyanya balik

“Kau harus tersenyum.” Jawabku

Tiffany menoleh padaku, seraya kemudian memasang senyum yang dipaksakan.

“Nah begitu kan lebih baik…”

“Hhe…” Tiffany tertawa yang dipaksakan juga

“Apa kau mau ke taman bermain?” tanyaku

“Up To You.” Ujar Tiffany

Aku tersenyum kemudian menyalakan mesin mobilku seraya membawnaya melaju di jalanan Seoul.

(End Jinki Pov)

(Author Pov)

Jong Hyun duduk di pinggir lapangan basket seraya menjambak rambutnya frustasi.

“Arrrrghhhh!!!” serunya

Minho yang tengah asyik mendrible bolapun saat mendengar teriakan Jong Hyun barusan langsung berhenti mendrible bola dan berjalan kearah Jong Hyun sambil menenteng bola basket.

Minho menepuk pundak Jong Hyun “Kau kenapa?” Tanya Minho seraya kemudian duduk di samping Jong Hyun

“Tiffany…” ujar Jong Hyun lirih

“Kenapa denga n Tiffany?”

“Dia…Dia…”

“Kenapa dia? Bicara yang jelas sedikit.”

“Dia memutuskan hubungan kami.”

“Mwo?!” Minho membelalakkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang barusan di katakana oleh Jong Hyun barusan.

“Kau tidak bercanda kan?” Tanya Minho

Jong Hyun menggelengkan kepalanya seraya menunduk lemas

“Kau harus sabar.” Ujar Minho seraya mencoba menguatkan batin Jong Hyun dengan menepuk punggung Jong Hyun.

“Aku tidak bisa lama-lama disini…” ujar Jong Hyun tiba-tiba

Minho mengerutkan keningnya “Maksudmu?”

“Hemmm….” Jong Hyun menarik nafas sebentar kemudian berkata

“Aku akan menyusul kedua orang tuaku ke Italy besok.”

“Hahaha… jangan bercanda Kim Jong Hyun.” Tawa Minho

“Aku tidak bercanda Choi Minho.” Ujar Jong Hyun lantang yang langsung membuat Minho berhenti tertawa dan menatap Jong Hyun dengan serius

“Lalu bagaimana dengan tim basket kita? Bagaimana dengan latihanmu selama ini? Kau harus memikirkannya sekali lagi.”

“Aku sudah memikirkannya dengan matang, soal Tim basket banyak yang bisa menggantikan posisiku di tim basket kita. Arra.”

“Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa memaksamu lagi.” Ujar Minho

“terimakasih karena kau bisa mengerti aku.” Ujar Jong Hyun seraya kemudian memeluk Minho erat.

***

“Hahaha… aku kapok masuk ke rumah Hantu lagi.” Ujar Tiffany seraya tertawa terbahak-bahak

“Dasar penakut.” Ejek Jinki

“Aku tidak takut, Cuma ngeri.” Canda Tiffany

“Sama saja babo.” Ujar Jinki

“Kita main itu yuk.” Ajak Tiffany seraya menunjuk ke salah satu wahana permainan

Tiba-tiba ponsel Jinki berbunyi, di ambilnya ponsel yang terletak dari kantong Celananya.

“Yeon Jinki” nama itulah yang kini tertera di layar ponsel Jinki.

“Kau kesana duluan, aku nanti menyusul.” Perintah Jinki

“Ya sudah kalau begitu aku duluan ya.” Ujar Tiffany seraya kemudian berlari meninggalkan Jinki.

Jinki kemudian berjalan agak jauh.

“Ne yeobseyo.”

“Kau dimana?”

“Ada apa princess? Apa kau merindukanku?”

“Tidak, siapa yang merindukanmu.”

“Sudahlah mengaku saja.”

“Okok… aku mengaku aku merindukanmu.”

“Hahaha… begitukan lebih baik.”

“Oh ya kau belum menjawab pertanyaanku, kau dimana?”

Jinki terdiam, seraya mencari alasan yang tepat untuk dikatakan pada Ji Yeon

“Yeobseyo… Jinki kau masih bisa mendengarku bukan?”

“Ah… ne…”

“Aku sekarang ada di kantor appaku .” ujar Jinki akhirnya

“Oh begitu ya, apakah aku mengganggu?”

“Tidak, kau tidak mengganggu sama sekali.”

“Kalau begitu sudah ya.”

“Kenapa sudah?”

“Kau bicara saja dulu dengan appamu. Jika sudah baru kau telpon aku lagi.”

“Ah ne arraso.”

“Kalau begitu ku matikan ya. Love You…”

“Love you t….” belum selesai Jinki menghabiskan kalimat yang hendak di lontarkannya Ji Yeon langsung mengakhiri percakapan mereka.

“Hha… dasar.” Jinki menggelengkan kepala sambil tertawa kecil seraya kemudian memasukkan ponselnya ke saku celananya.

***

“Love You T…” Ji Yeon langsung mematikan ponselnya seraya kemudian tersenyum cerah.

Ji Yeon memasukkan ponselnya kedalam tas dan berjalan melewati koridor kampusnya.

Tiba-tiba Eun Jung datang menghampirinya.

“Dia lagi… dia lagi… kali ini apa yang akan di sebarkan padaku.” Batin Ji Yeon sebal

“Hey Ji Yeon~ah.” Sapa Eun Jung dengan memasang senyum khasnya
“Hey.” Ji Yeon memasang senyum terpaksa

“Oh iya tadi aku melihat Jinki bersama dengan seorang wanita.” Tutur Eun Jung

Ji Yeon mengangkat alisnya dan menatap Eun Jung Heran

“Wanita? Nugu?” Tanya Ji Yeon penasaran

“Kalau tidak salah dia tadi pergi dengan Tiffany, Tiffany itu yeoja yang sejurusan dengannya.” Jelas Eun Jung

“Ah ne arraso… tapi kau tahu dari mana?” Tanya Ji Yeon ragu

“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Jinki menarik tangan Tiffany dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil, kemudian mobil Jinki melesat keluar.” Jelas Eun Jung

“Ohh begitu ya…” Ji Yeon memasang senyuman yang sungguh terpaksa

“Ya begitulah… Oh ya aku kesana dulu ya.” Ujar Eun Jung seraya berjalan lebih dulu dari Ji Yeon.

Ji Yeon menghentikan langkahnya, di dekapnya erat buku-buku tebal yang di pegangnya itu di dada.

Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya, kepalanya menunduk menyembunyikan air mata yang telah jatuh itu.

“Jadi Jinki membohongiku? Dia pergi bersama yeoja lain? Aish neomu appo.” Gumam Ji Yeon seraya mengepal tangannya dan kemudian berlari dengan cepat di koridor kampusnya.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

Setelah mengakhiri pembicaraanku di telpon dengan Ji Yeon akupun bergegas menyusul Tiffany, aku mencarinya ke wahana yang di tunjuknya tadi tapi aku tak melihat batang hidungnya sedikitpun.

Kemana perginya anak ini sih? Bikin susah saja.

Aku kemudian berjalan lagi untuk mencari Tiffany, dan tanpa sengaja aku melihat sosok Tiffany yang tengah tersenyum dan tertawa bahagia menikmati permainan komedi putar.

Tanpa kusadari bibirku melengkung membuat sebuah senyuman, entah mengapa melihatnya Nampak bahagia akupun ikut bahagia, aku senang melihat Tiffany yang seperti barusan, Tiffany yang selalu menunjukkan kecerian menunjukkan tawanya yang membuat semua orang merasa hangat, aku suka itu semua.

“Ya! Kamu ngapain disini?” Ujar Tiffany seraya memukul bahuku, membuat semua yang kulamunkan barusan hilang.

“Kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu tadi sedang main komedi putar?” tanyaku balik

“Oh aku sudah selesai main komedi putarnya, kenapa?”

“Oh tidak apa.”

“Kamu tidak mau main komedi putar?” tanyanya

“Tidak aku bosan main komedi putar.”

“Alasan… bilang saja kau tidak mau di anggap anak kecil.” Cibirnya

“Ya terserah kau sajalah mau berkata apa.” Ujarku pasrah

“Oh iya ngomong-ngomong ini jam berapa?” tanyaku

Tiffany mengangkat tangannya dan melihat pada jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

“Jam 12.00 PM.” Cetus Tiffany

“Waktunya makan siang kalau begitu, sekarang ayo kita pergi ke café yang ada di sekitar sini.” Aku menarik tangan Tiffany dan mengajaknya berlari ke café yang berada di sekitar tempat ini.

(End Jinki Pov)

***

(Author Pov)

“Tae Yeon~sshi.” Panggil Jong Hyun pada Tae Yeon yang tengah asyik berkutat dengan laptopnya

Tae Yeon mendongak dan mengumbar sedikit senyum pada Jong Hyun.

“Waeyo Jong Hyun~sshi? Mencari Tiffany?” tanyanya bertubi-tubi

“Aniya aku hanya mau menitipkan ini.” Ujar Jong Hyun seraya memberikan sebuah amplop berwarna pink pada Tae Yeon.

“Igeo mwoya?” Tanya Tae Yeon bingung

“Ini surat, berikan pada Tiffany yah. Tapi jangan kau berikan sekarang berikan saja besok siang sekitar jam satu.” Pinta Jong Hyun

“Baiklah.”

“Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya.”

“Ne.”

Jong Hyun kemudian berjalan meninggalkan meja Tae Yeon sedang Tae Yeon kembali sibuk dengan laptopnya lagi.

***

Jinki dan Tiffany berjalan keluar café sambil memegangi perut mereka yang agak besar akibat makan berlebih tadi.

“Kenyang.” Ujar Tiffany kekenyangan

“Haha…” Jinki tertawa kecil

“Waeyo?” Tanya Tiffany ketus

“Ah aniya… hanya saja baru pertamakali.”

“Pertamakali apa?”

“Entahlah aku lupa.”

“Pertama kali apa?” Tiffany memukul-mukul lengan Jinki

“Entahlah!!” seru Jinki seraya berlari mendahului Tiffany

“Lee Jinki!!!!” seru Tiffany seraya kemudian bergegas mengejar Jinki.

Actually after our first meeting
Saying I like you
Isn’t something easy for me

If I don’t contact you first
I’m afraid of missing you
I type out the text, hesitate a bit, then delete it again
I keep repeating this process over and over

If my love for you gets any deeper
It will only result in getting hurting
My fears are filling my mind
This is the truth

Praying with all my heart, the person I’m yearning for
I believe that person is you

Woo… I’m in love
Woo… I’ll fall in love
Never feel any more fear
As long as I’m with you
The world is so beautiful

I thought I’m never gonna fall in love
But I’m in love, cause I wanna love you baby

Actually from the first time I met you
Somewhere deep in my heart
You crashed in like a strong wave
You’re the only thing in my mind all day
I can be your good lover
Wanna be your four-leafed clover
It feels like I’ve become the happiest woman in the world

Please you gotta believe me
Make you never gonna leave me
I won’t be suspicious, I’ll trust you

Ahhh… I’m in love
Ahhh… I’ll fall in love
Never feel any more fear
As long as I’m with you
The world is so beautiful

Woo… I’m in love (I’m so deep in love)
Woo… I’ll fall in love
Never feel any more fear
As long as I’m with you
The world is so beautiful

You are so beautiful

Tbc~

Advertisements

2 responses to “We Got Married (Part 5)

  1. wah jonghyun hebat. langsung dapat menerima perpisahannya tanpa mengetahui alasan fany memutuskannya.
    kapan jinki memutuskan ji yeon ya?
    lanjut

  2. Pingback: Storyline | Little Fairy·

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s