We Got Married (Part 3)

Tittle : We Got Married

Author : Devi Hardiyanti

Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jinki

Cameo :

  • Park Ji Yeon
  • Kim Jong Hyun
  • And Other

Genre : Comedy,Romance

Rating : PG+15

Length : Series

Backsound : Vanilla Love (Lee Hyun Ji Feat. Onew)

Disclaimer : Fanfiction My Own

We Got Married

-Devi Hardiyanti ©

.

.

(Auhor Pov)

“Selalu saja.” Gerutu Tiffany seraya memasukan pelan lantai ke dalam ember yang berisi air sabun.

Jinki memendang Tiffany bingung seraya mengerutkan keningnya “wae?” Tanya Jinki

“Selalu saja aku di hokum berdua denganmu.” Balas Tiffany seraya memanyunkan bibirnya

“suruh siapa kau mentertawaiku.” Ejek Jinki

Tiffany memanyunkan bibirnya dan sebuah jitakan pun berhasil di layangkan ke kepala Jinki.

“Ya!” Jinki menatap Tiffany kesal

“Apa?” kata Tiffany dengan sedikit membentak

“kau itu benar-benar… aish menyebalkan.” Decak Jinki sebal

“aneh.” Gumam Tiffanny seraya melanjutkan hukumannya mengepel aula kampus

Tanpa di sadari oleh Jinki matanya sekarang tengah memperhatikan Tiffany yang tengah mengepel lantai aula, terkadang ia tersenyum sendiri melihat Tiffany yang harus balik ke belakang untuk memasukan pelan pada ember berisi air sabun.

‘cantik juga.’ Pikir Jinki, Jinki menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba melupakan pemikirannya tadi, namun di sisi lain ia juga tak dapat memungkiri bahwa Tiffany memang pada kenyataannya adalah sesosok yeoja yang amat cantik.

“Gwencahanayo?” Tiffany berdiri di depan Jinki dengan memiringkan kepalanya agar bisa melihat Jinki

Jinki yang sadar bahwa Tiffany ada di depannya saat ini langsung terlonjak kaget “Nan gwen…gwenchanayo.” Katanya tergagap

“Jinca? Ku lihat dari tadi kau bengong terus.” Ujar Tiffany ragu dengan perkataan Jinki barusan

“Aku tidak apa.” Ujar Jinki mencoba meyakinkan Tiffany

“Oh begitu.” Tiffany kemudian melanjutkan hukuman mengepelnya.

‘Fuih… untung saja dia tidak sadar bahwa tadi aku memperhatikannya.” Batin Jinki seraya kemudian kembali melanjutkan hukumannya.

***

Tiffany menyedot jus strawberry pesanannya dengan mata yang masih terfokus pada sebuah majalah fashion miliknya.

Tiba-tiba Tae Yeon dating dan duduk di hadapan Tiffany, Tiffany melirik Tae Yeon sekilas kemudia kembali fokus pada majalah fashion miliknya

“Aish, benar-benar melelahkan.” Keluh Tae Yeon

“Eh? Melelahkan? Kenapa?” Tanya Tiffany tanpa mengalihkan pandangannya

“Tentu saja melelahkan, tanganku harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas yang di berikan pak Jae Won.” Gerutu Tae Yeon

“Haha…” Tiffany tertawa kecil, Tae Yeon mengerutkan keningnya seraya menatap Tiffany aneh

“Ada yang lucu?”

“Aniya… hanya saja ternyata masih mending aku ya.” Balas Tiffany

“Kok bisa? Kamu kan di suruh membersihkan seluruh ruang Aula?” ujar Tae Yeon

“Tapi kan aku ada Jinki, jadi tidak begitu melelahkan.” Timpal Tiffany

Tae Yeon membulatkan mulutnya “Eh itu Jinki kan?” Tae yeon menunjuk seseorang yang berada jauh di belakang Tiffany dengan menggunakan dagunya.

Tiffany menengok ke belakang dan benar saja, di belakangnya ada Jinki bersama dengan Ji Yeon gadis yang di tabraknya tadi pagi.

“Yeah, dengan siapa dia?” Tanya Tiffany pada Tae Yeon

“Kalau tidak salah itu Park Ji Yeon, yeoja chingunya. Tumben kau menanyakan dia? Jangan-jangan…” Tae Yeon menggantungkan perkataannya

“Jangan berpikir macam-macam. Kau tahukan aku sudah punya Jong Hyun.” Cetus Tiffany seraya kemudian menyedot jus strawberry miliknya

“hehe… arraso.” Ujar Tae Yeon nyengir seraya kemudian melambaikan tangan pada salah satu pelayan di situ dan dengan sigap pelayan itu kemudian menghampiri meja mereka.

***

Jong Hyun duduk di pinggir lapangan basket, ia kemudian mengambil botol air mineral dari dalam tasnya dan membukanya kemudian di siramkannya air di dalam botol itu di wajahnya.

Minho menghampiri Jong Hyun “Nanti sore jangan lupa.” Ujarnya mengingatkan

“Aku ingin istirahat.”

“Ayolah, kau tidak boleh begitu. Ini semua demi kita.”

“Tapi kita juga butuh waktu untuk mengistirahatkan tubuh kita dan pikiran kita.” Pekik Jong Hyun

Minho terdiam mencoba mencerna maksud perkataan Jong Hyun.

Sesaat kemudian Minho pun membuka mulutnya.

“Memang…” Minho menggantungkan kata-katanya

Jong Hyun menoleh dan menatapnya lekat, bermaksud memintanya untuk melanjutkan perkataanya.

“Memang tubuh dan pikiran kita perlu istirahat. Akan tetapi latihan ekstra ini di lakukan untuk mengurangi kesalahan kita pada saat pertandingan nanti.” Lanjutnya

Jong Hyun kembali menoleh kedepan dan menundukkan kepalanya.

“Tapi…” Jong Hyun menggantungkan katanya

“Aish… sudahlah aku mau pulang.” Jong Hyun bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh

“Tapi nanti sore kau turun kan?” Tanya Minho

Jong Hyun tak menjawab namun hanya memberikan isyarat pada Minho dengan mengangkat bahunya, yang menandakan bahwa ia tak tahu.

***

“Kau di sini.” Ujar JOng Hyun seraya duduk di samping Tiffany

Tiffany terkejut mendengar suara Jong Hyun “Eh?”

“Kenapa?” Tanya Jong Hyun seraya mengangkat alisnya

“Tak apa. Kau sudah selesai latihan?”

“Iya, tadi aku mencarimu ke kelas tapi ternyata kelasmu sudah bubar. Jadi ku putuskan untuk mencarimu di kantin.” Tutur Jong Hyun

“Oh begitu.”

Merasa tak mau mengganggu pasangan kekasih itu, Tae Yeon akhirnya pamit dari hadapan mereka.

“Aku kesana dulu ya. Bye.” Tae Yeon bangkit dari kursinya dan meninggalkan Jong Hyun dan Tiffany yang masih duduk di salah satu meja café.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Tiffany cemas

“Memang aku kelihatan tidak baik ya?”

Tiffany mengangguk tanpa menjawab dengan sebuah suara dan melihat itu Jong Hyun hanya dapat tersenyum simpul.

“Aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir.” Di belainya rambut Tiffany

“Jjong…!!” Ujar Tiffany dengan nada agak tinggi yang membuat Jong Hyun langsung tersentak kaget

“Aku ini yeoja chingumu, masa aku tidak perlu mengkhawatirkanmu? Harus berapa kali aku berkata seperti ini padamu huh?” ujar Tiffany kesal seraya membuang muka

“Mianhae, aku tidak bermaksud melukai perasaanmu, tapi…”

“Tapi aku tidak mau kau terlalu mengkhawatirkanku. Begitukan?” potong Tiffany

Jong Hyun terdiam

“Kau anggap aku ini apa? Aku yeoja chingumu, aku berhak mengkhawatirkan keadaanmu, tapi kau malah menyuruhku untuk tak mengkhawatirkanmu di mana perasaanmu Jjong?!” bentak Tiffany seraya beranjak dari kursi dan hendak berjalan pergi namun dengan sigap Jong Hyun menahannya dan menarik Tiffany kembali duduk di sampingnya.

Di dekapnya Tiffany dan di kecup keningnya mesra.

“Mianhae. Maaf jika kata-kataku tadi melukaimu.” Ujar Jong Hyun seraya memeluk Tiffay erat, sedang Tiffany hanya mampu menahan air matanya di dalam pelukan Jong Hyun.

Tanpa disadari oleh Jong Hyun dan Tiffany Nampak dari jauh dua buah bola mata yang tengah memperhatikan mereka.

***

“Kau kenapa?” Tanya Ji Yeon yang memergoki Jinki yang tengah bengong, seperti tengah memikirkan sesuatu

“Apa kau bilang tadi?” Tanya Jinki balik, Ji Yeon mendecak kesal seraya kemudian tersenyum kecut pada Jinki.

“Tidak jadi.” Ujarnya sebal

“Kau marah ya?”

“…”

“Ayolah, aku tadi benar-benar tak mendengar.”

“Aku tidak marah kok.”

“Benarkah? Kau pasti marah aku tahu itu.”

Ji Yeon menarik nafas dan mencoba tersenyum pada Jinki dengan penuh keterpaksaan.

“AKU TIDAK MARAH.” Ujar Ji Yeon seraya menekankan suaranya di setiap kata-katanya

“hehe… gitu donk.” Ujar Jinki seraya nyengir tak jelas

“Nanti sore kau bisa temani aku ke perpustakaan tidak?” Tanya Ji Yeon

“Apapun jika kau yang minta aku pasti bisa.”

“Kalau begitu jemput aku nanti sore jam 3 ya.”

“Ok.”

Ji Yeon melirik jam tangannya seraya kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“Aku harus kembali ke kelas sebentar lagi dosenku masuk.” Ujar Ji Yeon

“Oh begitu ya, kalau begitu pergilah ke kelasmu sekarang.”

Ji Yeon tersenyum senang karena pengertian Jinki.

“Sampai jumpa nanti.” Ji Yeon melambaikan tangannya dan berjalan menjauh meninggalkan Jinki

“Yeah sampai jumpa.” Jinki melambaikan tangan pada Ji Yeon.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

Ji Yeon berjalan menjauh dariku, ku tatap punggungnya lekat hingga punggung itu menghilang dari pandanganku. Mataku kemudian kembali melirik ke meja Tiffany, dapat ku lihat mejanya sudah kosong tak berpenghuni. Kemana perginya Tiffany dan Kim Jong Hyun?

Aku beranjak dari kursiku dan berjalan meninggalkan kantin.

Baru beberapa langkah aku berjalan ku rasakan sebuah tangan memegangku. Aku menengok ke belakang dank u dapati Key yang tengah senyum-senyum tak jelas padaku.

“Kau kenapa?” tanyaku dengan nada yang terkesan sinis

“Hehe… aku senang sekali.” Ujar Key sumringah

Aku makin bingung dengan perkataannya barusan, seraya menatap Key dengan tatapan APA-MAKSUDMU-?-AKU-TAK-MENGERTI.

Key yang mengetahui maksud tatapanku hanya mampu mendengus kesal, seraya menggembungkan kedua pipinya yang membuatku harus menahan tawa.

“Aku akhirnya bisa mendapatkan yeoja idamanku.”

“Siapa? Lee Ji Eun? Choi Soo Young? Im Yoona?”

Key menggeleng “Bukan”

“Kim Hyuna? Sandara Park? Oh Ha Young? Park Cho Rong?”

Key menggeleng cepat “Bukan…Bukan…Bukan.”

Aku mengerutkan alisku “Park Soo Young alias Lizzy,Uee,Kahi,Lee Son G…”

Key sekali lagi menggeleng “Bukan itu semua.” Cetus Key

“lalu?”

“Jessica Jung.”

“Mwo?” aku tersentak kaget mendengar perkataan Key barusan, Jessica Jung? Mana mungkin. Jessica Jung itukan salah satu yeoja populer,cantik,dan pintar di sekolah ini, mana mungkin dia mau dengan Key yang notabene seorang anak yang bisa di bilang cukup berandalan meski berasal dari keluarga kaya,memiliki sifat playboy, dan sifat jahil, ya meski begitu ku akui Key memang cukup cerdas bahkan kecerdasannya melebih aku.

“Kenapa? Kau tidak percaya?”

“Bukan begitu, hanya saja memang Jessica mau dengan kamu apa?”

Key mendelik padaku “Itu sama saja kau tak percaya.” Ujarnya kesal

“Samakah?” tanyaku sambil tersenyum tidak jelas

“Menurutmu?” Tanya Key balik

“Sama sih hhe…” aku tertawa kecil

Key menyipitkan matanya yang sudah sipit padaku *vhiimulaigeje*

“Kau mau bukti?”

“Tidak terimakasih, aku percaya padamu kok.”

“Baguslah jika kau percaya, jadi aku tidak perlu lagi memberimu bukti.”

“Oh ya Key aku harus pulang, sampai jumpa besok.” Aku berpamitan pada Key seraya kemudian berjalan mendahuli Key.

***

Her Whisper Is The Lucifer

Aku mengambil ponselku yang ku letakkan di samping kursi kemudi kemudian aku membuka flip ponselku dan meletakkannya di telingaku.

“Yeobseyo.”

“Ya! Jinki, kau cepat datang ke kantor appa.” Seru Appa dari seberang telpon yang membuatku langsung menjauhkan ponselku dari telingaku

“Appa tidak perlu berteriak aku pasti dengar.” Ujarku kesal

“Haha… Mianhae… cepat ke kantor appa sekarang, ada yang mau appa bicarakan penting.”

“Ya… aku segera kesana.” Aku kemudian menutup flip ponselku tanpa sempat membiarkan appa bicara lagi, aku kemudian langsung melaju menuju kantor appaku.

***

“Apakah direktur Lee ada?” tanyaku pada sekertaris appa yang duduk di sebuah meja yang terletak di depan ruang kerja appa.

“Ada, silahkan masuk tuan.” Sekertaris appa tersenyum dan langsung mempersilahkanku masuk, tentu saja dia langsung mempersilahkanku masuk dia kan tahu aku anak appa.

Aku membuka kenop pintu ruang kerja appaku dan langsung masuk ke dalam ruangan appa.

“Kau sudah datang?” sambut Appa seraya berdiri dan kemudian menghampiriku

Di rangkulnya pundakku dan aku di suruhnya duduk di sebelahnya.

“Ada apa sebenarnya appa menyuruhku kesini?” tanyaku tanpa basa basi

“Ini, kenalkan dia sahabat appa Hwang Jung Dong.” Ujar Appa seraya memperkanalkan ku kepada sahabat karibnya.

Aku tersenyum pada Jung Dong ahjusshi lalu mengulurkan tangan padanya

“Lee Jinki imnida.” Ujarku memperkenalkan diri

“Hwang Jung Dong.” Jung Dong ahjusshi menjabat tanganku

“Kau gagah dan tampan ya Jinki.” Puji Jung Dong ahjusshi

“Tentu saja, anak siapa dulu. Kalau Lee Ji Hoon appanya pasti anaknya akan berparas tampan seperti appanya.” Ujar Appa percaya diri yang membuatku langsung menunduk karena malu.

“Jinki kau kuliah dimana?” Tanya paman Jung Dong

“Aku kuliah di Konkuk university.” Jawabku

“Jurusan?”

“Seni musik.”

“Sama seperti putriku kalau begitu, apa kau mengenalnya?”

“Putri ahjusshi, siapa?”

“Namnya Tiffany, tepatnya Tiffany Hwang.”

Mendengar perkataan Jung Dong ahjusshi barusan mataku langsung membelalak kaget dan merasa tak percaya, Jadi Tiffany adalah anak Jung Dong ahjusshi, sahabat ayahku? Mengapa aku tidak tahu ya? Oh iya aku kan baru mengenal Jung Dong ahjusshi sekarang, Jinki babo.

“Apa kau mengenalnya?” Tanya Jung Dong ahjusshi memecah lamunanku

Aku mengangguk “Ya aku sangat mengenalnya.” Jawabku, bagaimana tidak mau kenal dengannya, dia itu adalah yeoja gila yang pertama kali ku temui dan hamper setiap hari pula aku di hukum oleh Pak Jae Won berdua dengannya.

“Wah bagus kalau begitu, berarti kami tidak perlu lagi memperkenalkanmu dengan Tiffany.”

Aku mengerutkan keningku, tak mengerti dengan maksud appa.

“Eh? Maksud appa?” tanyaku tak mengerti

“Maksud appa, appa dan Jung Dong ahjusshi tidak perlu lagi memperkenalkanmu dengan Tiffany. Kalian berdua kan sudah saling mengenal.”

“Bukan… bukan itu maksudku… maksudku memang untuk apa Appa dan Jung Dong ahjusshi mau memperkenalkanku dengan Tiffany?”

“Tiffany, dialah yeoja yang akan appa jodohkan denganmu.”

“Mwo??”

(End Jinki Pov)

(Tiffany Pov)

Aku turun dari mobil dan melepas kacamataku, seraya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah dengan lemas.

“Nona kenapa?” Tanya Hyun In ahjumma padaku

“Tak apa.” Ujarku seraya melanjutkan langkah menuju kamarku.

Aku membuka kenop pintu kamarku dan baru saja selangkah aku masuk aku langsung menutup pintu kamarku dengan menggunakan punggungku dan langsung bersandar pada pintu kamarku.

Tak lama kemudian aku terduduk di belakang pintu dengan posisi punggung yang bersandar pada pintu dan tangan yang memeluk lututku.

Entah kenapa, aku merasa Jong Hyun tidak menganggapku sebagai kekasihnya, aku berpikir seperti itu karena dia selalu saja memintaku untuk jangan mengkhawatirkannya padahal kan aku yeojachingunya, wajarkan jika aku mengkhawatirkannya?

Tiba-tiba ponselku berbunyi, dapat ku lihat dari layar ponselku SATU PESAN DITERIMA

From : Lovely Jong Hyun

Kau masih marah?

Ayolah Fany, jangan marah. Aku minta maaf jika perkataanmu tadi menyakitimu.

Aku tak mau membalas pesan dari Jong Hyun dan mendiamkannya.

Tak lama kemudian ponselku kembali berdering, dan sekali lagi aku mendapatkan sebuah pesan.

From : Lovely Jong Hyun

Fany apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi.

“Pikir saja sendiri.” Aku mendecak kesal.

Tapi aku tak juga membalas pesan kedua darinya.

Aku beranjak dari dudukku dan melemparkan tasku sembarang tempat ku lempar ponselku di atas kasur bersamaan dengan tubuhku.

Baru saja aku merebahkan tubuhku di atas kasur tiba-tiba ponselku berbunyi lagi, tapi kali ini aku tidak menerima sebuah pesan melainkan sebuah panggilan.

Lovely Jong Hyun Memanggil

Aku mengabaikan panggilannya, sesaat kemudian ponselku pun berhenti berdering dan aku pun bernapas lega. Tapi tak lama setelah ponselku berhenti berdering ponselku kembali berdering lagi begitu seterusnya membuatku risih dan terpaksa mematikan ponselku dengan cara melepas batrainya.

“Masih ingin menelponku.” Gumamku

Aku menyalakan tape compo ku denganvolume yang cukup keras, seraya kemudian mengambil notebook yang tergeletak dengan rapih di atas meja belajar dan membawanya di atas kasur.

Aku membuka notebook ku dan mencolokkan modem.

Kemudian aku mulai browsing internet untuk menghilangkan kepedihan yang tengah ku alami sekarang, aku kemudian membuka twitterku dan dapat ku lihat banyak followers yang sudah mengantri untuk ku follow back.

Setelah memfollow back semua followers ku yang kira-kira 500 lebih *gedubrak* aku langsung mengupdate status terbaru

I’m sick cause of you.

Dan selang beberapa meit sudah banyak sekali orang yang mengomentari statusku.

*Jendela Twitter*

Sakit kenapa? Gara-gara siapa? RT @BlingFanytastic

Sakit hati, mau tahu saja kau haha xD RT @KidLeader Sakit kenapa? Gara-gara siapa RT @BlingFanytastic

Kau ini… Oh iya nanti sore kita jalan-jalan yuk? RT @BlingFanytastic Sakit hati, mau tahu saja kau haha Xd rt @KidLeader

aku capek, butuh istirahat RT @KidLeader Kau ini… Oh iya nanti sore kita jalan-jalan yuk? RT @BlingFanytastic

Jadi kau tidak bisa ikut? RT @BlingFanytastic aku capek, butuh istirahat RT @KidLeader

Yupzz… RT @KidLeader Jadi kau tidak bisa ikut? RT @BlingFanytastic

Ya sudah tak apa RT @BlingFanytastic Yupzz… RT @KidLeader

Aku mau tidur dulu… Bye RT @KidLeader Ya sudah tak apa RT @KidLeader

Aku kemudian menutup notebook ku dan memejamkan mataku.

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

“Mwo?” Jinki terbelalak kaget

“Tiffany…Tiffany… dialah yeoja yang apa mau jodohkan denganku?” ujarnya gugup

“ya… memangnya kenapa?”

“Ah tidak apa, aku hanya tidak menyangka.” Ujar Jinki menutupi kepanikannya

‘Oh Tuhan, jadi yeoja yang akan di jodohkan denganku itu yeoja gila bernama Tiffany itu.’ Batin Jinki

“Oh iya aku harus kembali ke kantor ku sekarang Ji Hoon, ini sudah lewat jam makan siang.” Ujar Tuan Hwang

“Wah cepat sekali.”

“Hari ini aku sangat sibuk, jadi harus kembali ke kantor.”

“Oh begitu ya, baiklah aku mengerti.”

“Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya, sampai jumpa di rumahku minggu depan.” Pamit Tuan Hwang

“Ya sampai jumpa.”

Setelah Tuan Hwang keluar akhirnya Jinki pun mulai mengajak Tuan Lee bicara

“bertemu minggu depan? Maksudnya Jung Dong ahjusshi apa Appa?” Tanya Jinki bingung

“Minggu depan kita akan berkunjung ke kediaman Jung Dong ahjusshi untuk menghadiri undangan makan malam di rumahnya sekaligus membicarakan tanggal pernikahan kalian.” Jelas Tuan Lee

“Pernikahan? Apa tidak perlu bertunangan dulu?”

“Tidak perlu, umur kalian sudah sama-sama bisa dianggap cukup dewasa untuk langsung melakukan prosesi pernikahan. Arra?”

Jinki hanya diam dan tak dapat membantah perkataan appanya.

***

Jong Hyun terus mendrible bola basketnya tanpa henti, meski keringat telah mengucur di seluruh tubuhnya dan rasa lelah telah menghampirinya.

Jong Hyun kemudian berhenti mendrible bolanya, kemudian ia menepi di pinggir halamn rumahnya di minumnya air mineral yang berada di dalam botol miliknya seraya menatap layar ponselnya.

“Tidak ada pesan masuk dari Tiffany.” Gumam Jong Hyun

“Tiffany kali ini benar-benar marah. Kau juga sih Jong Hyun..” Jong Hyun mulai menyalahkan dirinya sendiri

“Harusnya kau tidak bicara seperti tadi, kau kan tahu Tiffany tidak suka kau bicra seperti itu. Sekarang lihat, Tiffany jadi salah sangka kan.”

“Kau harus meminta maaf padanya secara langsung.” Ujarnya pada dirinya sendiri

Jong Hyun bangkit dari tempat duduknya , seraya melap keringat yang mengucur dari seluruh bagian tubuhnya dengan menggunakan handuk kecil yang menggantung di lehernya. Seraya kemudian masuk ke dalam rumah dan sesaat kemudian keluar dengan mengunakan pakaian rapih dan dia pergi dengan membawa mobilnya.

***

Jong Hyun menghentikan mobilnya di halaman rumah Tiffany, namja bertubuh kekar itu kemudian turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Tiffany.

Tak lama kemudian pintu di buka dan Nampak seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu barusan.

“Mencari siapa?” Tanya Hyun In

“Apakah Tiffany ada?”

“Oh tunggu sebentar biar saya panggilkan.”

“Eh… ahjumma chamkkaman.”

“Ada apa?”

“Tolong jangan bilang bahwa yang ingin bertemu dengannya adalah saya.” Pinta Jong Hyun

“Baik.” Hyun In kemudian melanjutkan langkahnya

***

Tok…tok…tok…

Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Tiffany yang masih setengah sadar kemudian memerintahkan orang yag mengetuk pintunya masuk.

“Masuk saja tidak di kunci!!” seru Tiffany seraya menengkurapkan badannya

“Nona ada teman nona mencari!” seru Hyun In

“Nugu?” Tanya Tiffany

“Mollayo nona.” Ujar Hyun In

Dengan malas Tiffany beranjak dari tempat tidurnya dan turun ke lantai bawah untuk menemui orang yang mencarinya.

***

Tiffany mengucek-ucek matanya seraya keluar dari dalam rumah.

“Ada apa ya?” Tanya Tiffany tanpa melihat siapa yang mencarinya

“Ayo ikut aku.” Sergah Jong Hyun seraya menarik tangan Tiffany dan memasukan Tiffany ke dalam mobilnya seraya kemudian membawa pergi mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Tiffany.

Di dalam mobil Jong Hyun

“Kau mau membawaku kemana?” Tanya Tiffany dingin

“Ke tempat yang bisa membuatmu memaafkanku.” Ujar Jong Hyun seraya sesekali melihat ke pada Tiffany dengan tersenyum manis

Tiffany mengerutkan keningnya , tak mengerti dengan maksud ucapan Jong Hyun

“Maksudmu?” Tanyanya dingin

“Kau akan tahu nanti.” Ujar Jong Hyun sambil tersenyum kecil

“Tch… dasar.” Tiffany mendecak sebal.

***

Tok…tok…tok…

“Ya tunggu sebentar!” sahut Ji Yeon seraya berlari untuk membukakan pintu rumahnya.

Cklek, di lihatnya sosok Jinki sudah berdiri di depannya dengan mengenakan pakain yang bisa di bilang cukup rapih.

“Kau sudah datang?”

“Ya baru saja. Apa kau sudah siap?”

“Ne, tunggu sebentar aku mau mengambil tas.”

Ji Yeon masuk ke dalam rumahnya dan sesaat kemudian ia keluar dengan membawa tasnya.

“Ayo berangkat.” Ajak Ji Yeon

Jinki tersenyum dan merangkul pundak Ji Yeon, seraya membukakan pintu mobilnya untuk Ji Yeon, seperti seorang pangeran yang membukakan pintu untuk putri dan mempersilahkannya masuk ke dalam kereta kencana.

***

Jinki menemani Ji Yeon mencari buku favoritnya di perpustakaan umum yang terletak di pusat kota Seoul, merea mondar mandir di depan rak-rak buku yang berjajar rapih di depan mereka, setengah jam mereka mencari buku favorit Ji Yeon tapi tak membuahkan hasil sama sekali, buku itu tak ketemu.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk bertanya pada penjaga perpustakaan dan ternyata buku itu sudah di pinjam oleh orang lain 2 jam yang lalu.

Merekapun keluar dari perpustakaan itu dengan tangan hampa.

“Sial.” Umpat Ji Yeon

“Sudahlah.” Jinki merangkul pundak Ji Yeon

“…” Diam

Jinki memandang Ji Yeon, dapat di lihat oleh kedua bola matanya raut wajah Ji Yeon yang begitu masam dan memancarkan rasa kecewa yang teramat sangat.

Jinki yang tidak mau melihat Ji Yeon bersedih pun akhirnya menawarkan Ji Yeon untuk membeli buku favoritnya.

“Bagaimana kalau kita pergi ke took buku untuk membeli buku favoritmu. Kau mau?” tawar Jinki

Ji Yeon mengangguk semangat, Jinki tersenyum seraya kemudian merangkul Ji Yeon dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.

***

Jong Hyun menghentikan mobilnya di sebuah taman hiburan.

“Untuk apa kesini?” Tanya Tiffany dingin

“Sudahlah ayo turun. Kita nikmati hari ini.” Jong Hyun membuka pintu dan turun terlebih dahulu dari mobil di ikuti kemudian oleh Tiffany.

Mereka kemudian mencoba berbagai wahana hiburan yang terdapat di taman bermain tersebut, dari mulai wahana yang paling lucu,mengasyikan, hiongga yang paling ekstrim sekalipun. Merekapun menyempatkan diri untuk menyaksikan drama musikal yang sedang berlangsung di Taman hiburan tersebut.

“Kau suka?” Tanya Jong Hyun pada Tiffany di tengah ricuhnya suara penonton

Tiffany menoleh kepada Jong Hyun “Neomu jeohayo.”

“Apa kau mau memaafkanku?”

Tiffany Nampak berpikir sejenak, mencoba menimbang-nimbang.

“Mollayo.” Jawab Tiffany sambil tertawa kecil

Jong Hyun memajukan bibirnya beberapa centi saat mendengar jawaban Tiffany.

2 Jam berlalu akhirnya drama musikal pun habis, merekapun keluar dari tempat acara itu berlangsung.

“Semua wahana sudah kita coba, apalagi ya yang belum?”

“Itu.” Tiffany menunjuk sebuah bianglala yang cukup besar.

“Kau mau naik bianglala?”

“Iya hehe…”

“Kalau begitu kajja.”

***

“Apa buku favoritmu sudah ketemu?” Tanya Jinki

Ji Yeon menggeleng “belum”

“Ya sudah kita cari di tempat lain saja ya.” Ujar Jinki

“Tidak usah.” Ji Yeon menggeleng kecil

Jinki mengerutkan alisnya

“Kenapa?”

“Kau antarkan aku pulang saja.” Ji Yeon tak menjawab pertanyaan Jinki

“Baiklah kalau begitu.”

Jinki dan Ji Yeon kemudian berjalan keluar meninggalkan toko buku tersebut.

***

Dari bianglala dapat mereka (JongNy) lihat pemandangan kota Seoul yang begitu indah di waktu senja.

Tiffany menempelkan wajahnya di kaca bianglala

“Tiffany.” Panggil Jong Hyun

Tiffany menoleh dan mengangkat dagunya seolah bertanya ADA-APA?

“Apa kau mau memaafkanku?”

Tiffany berpikir sejenak seraya kemudian mengangguk kecil

“Jeongmal?”

“Nde… tapi ingat jangan bicara seperti itu lagi.”

“Ok…”

“Yaksok?” Tiffany mengacungkan jari kelingkingnya

“Ne yaksok.” Ujar Jong Hyun seraya menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany

Tanpa sengaja, Jong Hyun membaca sebuah tulisan yang terdapat di bangku Tiffany. Tulisan itu berbunyi

*Sepasang kekasih yang berciuman di bianglala ini saat bianglala yang mereka naiki sudah mencapai puncak maka cinta mereka akan abadi*

Setelah membacanya Jong Hyun menunjuk tulisan itu dengan dagunya pada Tiffany, Tiffany pun menoleh kebelakang dan membaca tulisan itu.

Jong Hyun melihat keluar.

“Kita sudah berada di puncak.” Ujarnya

“Jjong…”

Jong Hyun memperdekat jarak antara wajahnya dan wajah Tiffany dan sebuah ciouman manis pun mendarat di bibir pink nan tipis milik Tiffany.

Sesaat kemudian Jong Hyun melepas ciumannya dan melihat keluar jendela, pipinya kini telah merona merah.

“Pipimu merah.” Ejek Tiffany

“Pipimu lebih merah.” Timpal Jong Hyun

Tiffany memanyunkan bibirnya

“Merah merona juga karena kamu.”

Mendengar ucapan Tiffany , Jong Hyun hanya tersenyum kecil.

Mereka kemudian keluar dari dalam bianglala.

“Habis ini kita kemana?” Tanya Tiffany

“Ke tempat favoritku.” Ujar Jong Hyun

“Dimana?”

“kau akan tahu nanti. Ayo masuk.” Perintah Jong Hyun. Tiffany kemudian masuk ke dalam mobil di susun kemudian oleh Jong Hyun.

***

18.30 KST

“Tiffany mana?” Tanya Tuan Hwang pada Nyonya Kim

“Entahlah, tadi kata Hyun In dia pergi dengan seorang namja.” Ujar Nyonya Kim

“Dengan namja? Siapa?”

“Molla.”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu?”

“Aku di butik. Dan Hyun In sendiri tidak tahu siapa anak muda itu.”

“Aduh…” Tuan Hwang mendecak kesal seraya melihat pada frame berisi foto putrinya.

***

“Pantai ini adalah tempat favoritku.” Tutur Jong Hyun

“Benarkah? Bagaimana bisa?”

“Tentu bisa, tempat ini lah yang pertama kali memperkenalkanku pada basket dan tempat ini juga yang membuatku langsung mencintai basket. Dan di sini juga dulu aku berlatih basket, maka dari itu aku senang berada di sini dan patai ini adalah tempat favoritku.” Jeals Jong Hyun

“Oh.” Tiffany membulatkan bibirnya

“Dan sejak saat itu, aku berjanji hanya mau kesini dengan orang yang kucintai.” Jelas Jong Hyun

“Berarti tidak banyak orang yang tahu bahwa tempat favoritmu di sini?”

“Hanya kau.”

Tiffany tercekat kaget “eh?”

“Maksudmu”

“Tak ada yang tahu kalau tempat ini tempat favoritku selain kamu.” Ujar Jong Hyun seraya menyentuh hidung Tiffany dengan jari telunjuknya.

“Kenapa hanya aku yang tahu? Aku yakin pasti sudah banyak yang tahu kalau ini tempat favoritmu.”

“Tidak ada, hanya kau yang tahu. Karena sudah sejak dua belas tahun yang lalu aku tidak pernah kesini lagi dan inilah pertama kalinya aku kesini lagi sejak dua belas tahun yang lalu.”

“Oh begitu.”

Tiffany melirik jam tangannya, ia kaget saat mendapati jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 20.30 KST.

“Jong Hyun,ayo kita pulang. Ini sudah sangat larut.” Pinta Tiffany

“Eh ayo.” Jong Hyun dan Tiffany pun kembali ke mobil dan langsung meninggalkan pantai itu.

***

20.30 KST

“Besok kau ada acara?” Tanya Jinki pada Ji Yeon

“Tidak , wae?” Tanya Ji Yeon balik

“Aku mau mengajakmu dinner besok malam. Bisakan?”

“Tentu saja.”

“Aku jemput jam delapan malam.”

“Baiklah aku tunggu.”

“Ya sudah kau masuk ke dalam, kau harus tidur besok kau kan harus kuliah pagi.” Ujar Jinki mengingatkan

“Baiklah.”

Jinki mengecup kening Ji Yeon dan kemudian kembali ke dalam mobil.

Pipi Ji Yeon bersemu merah seraya kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya.

***

21.00

Tuan Hwang berjalan mondar mandir di depan pintu utama rumahnya, menunggu kepulangan putrid tunggalnya. Detik demi detik terlewati, dan menit demi menitpun terlewati namun putrinya tak kunjung pulang juga.

Tuan Hwang semakin cemas pada Tiffany yang tak kunjung pulang juga.

Sepuluh menit kemudian sebuah mobil berhenti di pekarangan rumah Tuan Hwang, Tuan Hwang yang kebetulan berada di teras rumah langsung menengok ke mobil itu dan dilihatnya putrid tunggalnya turun dari dalam mobil seraya melambaikan tangan kepada si pengemudi mobil yang tak lain adalah Jong Hyun, sesaat kemudian mobil itu pun menghilang dari pekarangan rumah Tuan HWANG DAN Tiffanypun berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Namun langkahnya langsung terhenti saat ia melihat Tuan Hwang yang tengah berdiri dan mendelikkan mata padanya.

“Dari mana saja kau?!”

(End Author Pov)

(Tiffany Pov)

Rasa penat menghampiriku, sudah hamper setengah jam aku di ceramahi oleh Appa dan Oemma.

“Kau itu tidak boleh keluar dengan laki-laki.” Ujar Appa

Yang sontak langsung membuatku terbelalak kaget, tidak biasanya appa melarangku seperti ini.

“Benar Tiffany tidak seharusnya kamu keluar dengan laki-laki.” Timpal oemma

Aku mengerutkan keningku, sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orangtuaku yang tiba-tiba berubah begini.

“Tapi appa…oemma…”

“Fany! Kau jangan membantah!” ujar Appa dengan nada yang cukup tinggi

Akupun hanya diam dan memanyunkan bibirku.

“Kau itu wanita, pualng kerumah larut malam seperti ini dengan laki-laki lagi. Apa kau tidak takut di bicarakan orang huh? Kalau kau dibicarakan orang Appa dan Oemmalah yang akan malu.”

“App…”

“Sudah kau jangan menjawab.”

Aku memanyunkan bibirku

“Kau itu sudah besar harusnya kau bisa tahu sendiri tanpa perlu di beri tahu. Kau ini sudah besar tapi selalu saja membuat orang tua khawatir.”

“maaf.” Hanya itu sekarang yang mampu ku ucapkan dari bibirku, karena jika aku menjawab mungkin appa lagi-lagi akan memotongnya.

‘Pokoknya Appa tidak mau tahu. Mulai besok kau tidak boleh bepergian dengan laki-laki lagi arra?” hardik appa

“Tapi tidak bisa begitu juga Appa.” Ujarku lantang

“Pokoknya appa tidak mau tahu kau harus menuruti perintah Appa!”

“Tapi…”

“Fany jangan bantah appamu lagi.” Ujar Oemma seraya mendekapku erat

“Tapi kenapa appa tidak mengizinkanku pergi dan berteman dengan laki-laki?”

“…” Appa diam

“Jika appa mengkhawatirkanku tidak perlu sampai seperti ini.”

“Bukan begitu, sebenarnya appa tidak mempermasalahkannya, hanya saja…”

“hanya saja apa appa?”

“Appa akan menjodohkanmu dengan putra sahabat Appa, maka dari itu appa tidak mengizinkanmu berpergian dengan lelaki, kecuali jika bersahabat biasa atau perginya beramai-ramai.”

Mendengar perkataan appa barusan aku sontak kaget, mataku memndang appa tanpa berkedip, dan sungguh Appa akan bicara seperti ini benar-benar di luar dugaanku.

“Mwo???!!!”

Ever since I fell in love, I can only see you

my heart is beating so fast

Hug me deep against your chest, while walking on the sidewalk, lbe sure to kiss me

To throw little tantrums on purpose, and to put on a cute act

To know your heart by the look of your eyes, to stay close together even when it’s hot

To link arms tight while walking, and infront of your house, give you a sweet kiss

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

If i don’t see you even for one day, I want to give you a kiss

I want to kiss, the sweet you

’til you can’t breathe and are about to burst,

I’ll hug you

Until the end of time,

I’ll love you

even when i see sexy women, i’ll look straight ahead and keep walking

Late at night, i call you. I love you, I tell you countless times

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

If i don’t see you even for one day, I want to give you a kiss

I want to kiss, the sweet you

’til you can’t breathe and are about to burst,

I’ll hug you

Until the end of time,

I’ll love you

After meeting you, each day is exciting,

after meeting you, each day my heart greets with flutters

after meeting you, each day grows shorter

after meeting you, each day’s end leaves me wistful

after meeting you, each day is mild and soft

after meeting you, each day is filled with happiness

after meeting you, I became a princess and,

after meeting you, I’m a happy girl

I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

Tbc~

Advertisements

2 responses to “We Got Married (Part 3)

  1. Pingback: Storyline | Little Fairy·

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s