We Got Married (Part 2)

Tittle : We Got Married

Author : Devi Hardiyanti

Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Jinki

Cameo :

  • Park Ji Yeon
  • Kim Jong Hyun
  • And Other

Genre : Comedy,Romance

Rating : PG+15

Length : Series

Backsound : Vanilla Love (Lee Hyun Ji Feat. Onew)

Disclaimer : Fanfiction My Own

We Got Married

-Devi Hardiyanti ©

.

.

(Tiffany Pov)

“Kau…” aku menggantungkan ucapanku

Dan Jinki menatapku seolah tengah berbicara Apa

“Kenapa kau selalu mengambil milik ku dan yang akan jadi milikku.” Lanjutku

“Milik mu? Ini bukan milikmu arra.” Sindirnya

Aish, namja gila ini tuli apa? Aku kan juga bilang yang akan jadi milikku hu-uh. Aku memanyunkan bibirku

“Terserah kau mau bicara apa, tapi kesinikan sepatu ini.” Aku menarik sepatu yang juga di pegang oleh Jinki

Tapi Jinki kembali menarik sepatu itu “Shiro.”

“Ya! Bisa tidak kau mengalah sekali saja padaku.” Ujarku geregetan

“I Can’t.” ujarnya dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan

“Ya Lee Jinki! Kesinikan sepatunya.” Aku kembali menarik sepatu itu tapi Jinki lagi-lagi menariknya.

“Shir…”

“Hey!” aku dan Jinki menoleh bersamaan

(End Tiffany Pov)

(Author Pov)

“Bagaimana menurutmu baju ini? Bagus tidak?” Yuri mengambil sebuah hoodie berwarna merah muda dengan gambar mini mouse besar di punggung hoodie tersebut.

Tapi Yuri sama sekali tak mendengar komentar Tiffany, merasa di cueki Yuri pun marah pada Tiffany.

“Ya! Tif…” Yuri mengerutkan dahinya, dalam hati ia berkata kemana perginya si Tiffany.

Matanya mencari ke setiap sudut butik, dan tanpa sengaja kedua bola matanya menemukan sosok Tiffany yang tengah berebut sepatu dengan seorang namja yang tak di kenalnya.

“Siapa namja yang bersama Fany?” batin Yuri

Yuri berjalan menghampiri Jinki dan Tiffany yang tengah berebut sepatu itu.

“Hey!” Celetuk Yuri yang langsung membuat Tiffany dan Jinki melihat ke arahnya

“Waeyo?” ujar Jinki dan Tiffany bersamaan

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Yuri seraya memandang aneh Jinki dan Tiffany

“Aku ingin membeli sepatu ini tapi dia merebutnya.” Ujar Tiffany dan Jinki yang lagi-lagi bersamaan sambil menunjuk satu sama lain dengan jari telunjuk milik mereka masing-masing.

Tiffany dan Jinki kaget atas kesamaan yang mereka lakukan tadi, membuat mereka jadi terdiam membisu.

“Jadi kalian memperebutkan sepatu ini?” Yuri menarik sepatu yang di pegang oleh Jinki dan Tiffany

Jinki dan Tiffany mengangguk “Ya.”

Yuri menggelengkan kepalanya dan kemudian bicara.

“Hey… apa kau tidak bisa mengalah pada perempuan huh?” tanya Yuri pada Jinki ketus

“Sepatu ini untuk kekasihku, maka dari itu aku tak mau mengalah padanya.” Ujar Jinki

Yuri mengerutkan keningnya dan menatap Jinki aneh.

Tiffany mengambil sepatu yang kini tengah di pegang oleh Yuri dan menyerahkannya pada Jinki “Igeo.”

“Eh?” Jinki menaikan alisnya

“Kau berikan saja sepatu ini untuk kekasihmu, aku bisa cari yang lebih bagus dari ini.” Ujar Tiffany dingin

Seraya merangkul lengan Yuri dan mengajaknya pergi “Ayo kita pergi.”

“Tapi aku mau membayar hoodie yang tadi ku pilih?”

“Kau ke kasir dulu, baru kita pergi. Dasar babo.” Ujar Tiffany ketus

Jinki mengerutkan alisnya dan menatap punggung Tiffany dengan tatapan aneh

“Tumben yeoja gila itu mau mengalah padaku.” Gumamnya

“ah… whatever… yang penting aku dapat sepatu ini.” Ujar Jinki sumringah seraya berjalan ke kasir.

***

“Biasanya kau tak akan memberikan suatu yang kau inginkan pada orang lain.” Celetuk Yuri

“Aku malas merebutkan sepatu dengan seorang namja.” Ujar Tiffany malas

“Benarkah?” tanya Yuri tak percaya atas apa yang di katakan Tiffany barusan

Tiffany hanya mengangguk

“Ku kira kau memberikan sepatu itu karena namja tadi mau memberikan sepatu itu pada kekasihnya.” Timpal Yuri

Tiffany tercekat mendengar perkataan Yuri,

‘Mengapa Yuri bisa tahu?’ pikirnya

“Ya! Fany~ah! Waeyo?” tanya Yuri seraya melambaikan tangannya di depan wajah Tiffany

Tiffany menggelengkan kepalanya “Ah aniya.” Katanya salah tingkah

“Oh begitu ya.” Yuri memencet lift dan kedua sahabat itu pun masuk ke dalamnya.

***

“Maaf membuatmu menunggu.” Jinki menghampiri Ji Yeon yang berdiri di pinggir pintu mobil

“Kau lama sekali di dalam.” Keluh Ji Yeon, Jinki hanya menyengir mendengar keluhan Ji Yeon.

“Apa itu?” tanyanya seraya melirik ke sebuah plastic yang di pegang Jinki

Jinki mengangkat plastic besar yang di bawanya “maksudmu ini?”

Ji Yeon mengangguk

“Ah ini untukmu.” Jinki menyerahkan plastic itu pada Ji Yeon

Ji Yeon mengerutkan alisnya “Untuk ku? Apa ini?” Tanya Ji Yeon seraya melihat isi plastic itu

“Buka saja sendiri.” Perintah Jinki

“hanya sebuah kotak kardus.” Canda Ji Yeon yang langsung membuat Jinki cemberut

“Hahaha…” Ji Yeon terkekeh kecil seraya mengambil kotak kardus itu.

“Sepatu.” Pikir Ji Yeon seraya membuka kardus itu untuk mengetahui apa isinya.

Ji Yeon tercekat saat ia tahu bahwa di dalam kardus bergambar sepatu itu adalah sepatu yang di lihatnya di butik di dalam departmen store di dalam tadi.

Ji Yeon mendongak dan melihat pada Jinki yang saat ini tengah tersenyum dengan memamerkan jajaran giginya yang putih “Jinki.” Ujar Ji Yeon sumringah

Ji Yeon memeluk Jinki dan Jinki balas memeluk Ji Yeon

“Gomawo.”

“Ne cheonma, apa kau suka?”

“Neomu…. Neomu choayo.”

“Haha…” Jinki tertawa kecil seraya kemudian melepaskan pelukan Ji Yeon

“Mau aku pasangkan princess?” tawar Jinki

Ji Yeon mengangguk “ne.”

Jinki tersenyum seraya kemudian mengambil sepatu itu dari tangan Ji Yeon. Jinki berjongkok di depan Ji Yeon dan memasangkan sepatu itu ke kaki Ji Yeon.

“Cocok sekali untukmu.” Puji Jinki seraya memandang kedua sepatu yang sudah terpasang di kaki Ji Yeon. Ji Yeon tak menjawab pujian Jinki tapi hanya tersenyum malu.

***

“Bagaimana kalau kita nanti ke café biasanya?” tawar Yuri

“Aku malas, aku ingin langsung pulang.” Tolak Tiffany

“Ayolah, kita kan sekarang sudah jarang bertemu.” Pinta Yuri memohon

Tak ada jawaban dari Tiffany, Yuri menoleh ke pada sahabatnya itu, di lihatnya Tiffany yang tengah bengong melihat sesuatu.

“Fany! Fany! Fany Fany Tiffany!!” seru Yuri seraya melambaikan tangannya di depan wajah Tiffany

“Eh…” Tiffany tercekat

Yuri menaikan alisnya seraya melihat ke tempat Tiffany tadi melihat, Di lihatnya Jinki yang telah berlutut di depan Ji Yeon.

“Itu kan namja yang tadi. Benarkan.” Ujar Yuri

“Ne.”

“Apakah itu kekasihnya?” tanya Yuri

“Mollayo~.” Jawab Tiffany ketus

“Haha…” Yuri tertawa kecil

“Wae?” Tiffany menaikan alisnya

“Ada yang lucu?” tambah Tiffany

“Tidak ada. Tapi kurasa kau cemburu.” Cetus Yuri

Tiffany mendelik dan menjitak kepala Yuri “Baboya!.”

“Aigo…” rintih Yuri seraya mengelus kepalanya yang di jitak Yuri

“Kenapa kau menjitakku?” tanya Yuri kesal

“Karena kau ngomongnya ngelantur.” Sahut Tiffany sebal

“Kok bisa? Kau kan memang seperti orang yang cemburu.” Celetuk Yuri

Lagi-lagi Tiffany mendelik tapi kali ini tak melayangkan jitakan ke kepala Yuri karena Yuri telah mengantisipasinya dengan menutupi kepalanya dengan kedua telapak tangannya.

“Aku itu sudah punya kekasih. Dan lagi, untuk apa cemburu sama Jinki dan pacarnya itu.” Jelas Tiffany seraya kemudian masuk ke dalam mobilnya

Melihat sahabatnya Yuri hanya dapat menggelengkan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobil miliknya.

Yuri membuka kaca mobilnya lalu memanggil Tiffany.

“Fany~ah!” teriak Yuri

Kaca mobil Tiffany terbuka, Tiffany menoleh ke kiri dan melihat Yuri dengan tatapan Ada-apa

“Kita ke café dulu ya.” Ajak Yuri

“Aku capek, lain kali saja ya. Aku ingin langsung pulang.” Tolak Tiffany halus

“Please, ayolah.” Pinta Yuri memohon

Tiffany nampak menimbang-nimbang permintaan Yuri.

“Baiklah.” Ujar Tiffany akhirnya seraya kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melengos pergi.

***

20.00 KST

Jinki menghentikan mobilnya di halaman sebuah rumah yang bisa di bilang cukup sederhana, rumah yang kira-kira besarnya tidak samapi seper empat rumah milik kedua orangtuanya.

“Kau mau mampir dulu?” tawar Ji Yeon

“Ah aniya, aku mau langsung pulang.” Tolak Jinki halus

“Oh begitu ya, kalau begitu aku turun ya.” Ji Yeon berbalik hendak membuka pintu mobil namun tiba-tiba tangan Jinki memegang pundaknya.

Ji Yeon menoleh ke belakang, di lihatnya Jinki yang perlahan mendekatkan jarak wajah mereka. Ji Yeon menutup matanya seketika, Jinki yang melihat kepolosan Ji Yeon hanya bisa tersenyum nakal.

“Kau pasti sedang memikirkan yang macam-macam ya.” Celetuk Jinki yang langsung membuat Ji Yeon membuka matanya dan memanyunkan bibirnya.

“kau ini suka sekali mengerjaiku.” Gerutu Ji Yeon

“Haha…” Jinki tertawa kecil membuat Ji Yeon sebal

“Aku hanya ingin mengambil ini.” Ujar Jinki seraya mengambil sehelai bulu mata yang ada di bawah mata Ji Yeon.

Ji Yeon menekuk wajahnya “dasar kau.” Umpat Ji Yeon sambil tersenyum kecil seraya kemudian berbalik lagi dan hendak membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi tangan Jinki memegang pundaknya.

Ji Yeon berbalik ke belakang “Apa lag…” kata-kata Ji Yeon terhenti saat ia merasakan bibir sexy Jinki *boong banget -_-* menempel di bibir tipisnya, membuatnya terpaku dan tak dapat mengeluarkan sepatah katapun, matanya pun menatap Jinki tak percaya.

Jinki menjauhkan wajahnya dari wajah Ji Yeon, seraya kemudian tersenyum pada Ji Yeon sambil memamerkan jajaran giginya yang putih,bersih, dan mengkilat *pletak,Vhii di jitak Mvp*

Sedang Ji Yeon masih terpaku dan membisu di tempat, dia masih tak percaya akan perlakuan Jinki barusan terhadapnya.

“Baby kau kenapa?” tanya Jinki khawatir melihat Ji Yeon yang dari tadi hanya diam

“Eh?” Ji Yeon tersentak

“Kau kenapa?” tanya Jinki lagi

“Ah aniya… hanya sedikit syok.” Balas Ji Yeon

“Syok karena yang barusan?” tanya Jinki

Ji Yeon mengangguk “Ne”

“Haha…”

“Wae? Ada yang lucu?”

“Aniya, hanya saja kau tidak perlu syok karena hal barusan. Itu sudah biasa bagi sepasang kekasih.” Jelas Jinki

“Yeah aku tahu, hanya saja itu tadi adalah yang pertama bagiku, jadi wajar sajakan kalau aku syok.”

“Ne… ne… ne… arraso.”

“Err… ya sudah ya aku mau masuk, ini sudah hampir setengah sembilan.”

“Masuklah.”

Ji Yeon keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumahnya,sesampainya di depan pintu Ji Yeon berbalik dan melambaikan tangan pada Jinki kemudian masuk ke dalam rumah.

Jinki membalas lambaian tangan Ji Yeon seraya kemudian menyalakan mesin mobilnya dan kembali membawa mobilnya turun ke jalanan Seoul.

***

“Appa pulang.” Seru tuan Hwang yang baru masuk ke dalam rumahnya

Nyonya Kim menyambut kedatangan suaminya dengan hangat, Nyonya Kim kemudian membantu Tuan Hwang melepas jas berwarna hitam yang di kenakan olehnya, kemudian membawakan tasnya.

Sepasang suami istri itu kemudian duduk di sofa ruang keluarga.

“Ini kopimu.” Ujar Nyonya Kim seraya menyodorkan secangkir kopi pada suaminya

“Kau letakkan saja di situ, nanti aku minum.” Perintah Tuan Hwang seraya mengendurkan dasi yang tengah di kenakannya

“Err… ngomong-ngomong Tiffany mana?” tanya Tuan Hwang

“Kata Hyun In, Tiffany tadi keluar dengan Yuri, Waeyo? Tidak biasanya.” Ujar Nyonya Kim

“Aku perlu bicara dengan anak itu.”

“Bicara soal apa?”

“Soal perjodohan.”

“Perjodohan!!” pekik Nyonya Kim

Tuan Hwang mengangguk pelan seraya kemudian menyeruput kopi yang sudah di suguhkan untuknya

“Kau mau menjodohkan Tiffany? Dengan siapa?” tanya Nyonya Kim bertubi-tubi

“Kau kenal Lee Ji Hoon bukan?” tanya Tuan Hwang

Nyonya Kim mengangguk “bagaimana mungkin aku tak tahu, seorang Lee Ji Hoon, sahabat suamiku sendiri.”

“Nah, aku akan menjodohkan Tiffany dengan putra sulungnya.” Timpal Tuan Hwang

“Tapi apakah Ji Hoon mau menjodohkan anaknya dengan anak kita?”

“Tentu saja mau, yang menawarkan perjodohan ini kan dia.”

“Oh jadi Ji Hoon yang menyarankan agar putri kita dan putranya di jodohkan?”

“Ya begitulah.” Tuan Hwang menyeruput kopi miliknya lagi

“siapa nama putranya?”

“Nama putranya Lee Jinki, dia cukup baik dan dewasa, penurut dan menyayangi keluarganya.” Jelas Tuan Hwang

“Kau tahu dari mana?” Nyonya Kim mengerutkan alisnya

“Tadi aku bertemu dengan Ji Hoon di kantor, lalu kami saling bertukar cerita.” Jelas Tuan Hwang

“Oh.” Nyonya Kim membulatkan mulutnya

***

Tiffany mengaduk jus strawberrynya tanpa selera, berbeda sekali dengan Yuri yang kini tengah menikmati chocolate cake pesanannya dengan lahap sambil terkadang menyedot susu coklat dingin pesanannya.

Yuri mengerutkan keningnya, melihat Tiffany yang tak begitu bersemangat hari ini. Di lihatnya jus di dalam gelas milik Tiffany masih penuh sedangkan susu coklat dingin miliknya sudah tinggal setengah, di lihatnya juga strawberry cake Tiffany yang masih penuh sedangkan chocolate cake miliknya sebentar lagi sudah mau habis.

“Fany.” Panggil Yuri

“Ya?” Tiffany mengalihkan pandangannya pada Yuri

“Gwencahanayo?” tanya Yuri sedikit khawatir

“Nde, nan gwenchanayo.” Jawab Tiffany dengan senyum sedikit terpaksa

“Benar kau tidak apa?” tanya Yuri memastikan

Tiffany mengangguk

“Tapi kok kamu tak menghabiskan makananmu?” tanya Yuri lagi

“Aku hanya tidak lapar.” Jawab Tiffany malas

“Oh.” Yuri membulatkan bibirnya kemudian kembali menyedot susu coklatnya

“Ayo pulang.” Ajak Yuri seraya bangkit dari kursinya

Tiffanypun beranjak dari kursinya, mereka kemudian membayar makanan pesanan mereka tadi di kasir dan kemudian keluar dari dalam café itu.

***

“Aku pulang dulu ya!” Seru Yuri dari dalam mobilnya kemudian melesat kencang meninggalkan jalanan yang terdapat di depan pagar rumah Tiffany.

Tiffany membawa mobilnya masuk ke dalam rumah dan memarkirkannya di depan pintu utama.

Seraya kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

***

Tiffany berjalan menaiki anak tangga yang berada di rumahnya, dan baru saja dia berada di anak tangga yang kelima sebuah suara memaksanya untuk berhenti dan berbalik ke arah sumber suara.

“Baru pulang?” tanya Nyonya Kim dari ruang keluarga

Tiffany berbalik dan bersandar di pegangan tangga *Vhiigaktahunamanya*

Tiffany mengangguk “Ne,waeyo oemma?” tanya Tiffany

“Appa dan oemma sudah menunggumu sejak tadi, kami ingin bicara denganmu.” Jelas Nyonya Kim

Tiffany memanyunkan bibirnya dan menekuk wajahnya “bisakah bicaranya besok saja?” tanya Tiffany

“Sayang, kami mau bicara denganmu sekarang juga, ini sangat penting.” Timpal Nyonya Kim

“Oemma aku benar-benar lelah.” Ujar Tiffany melas

“Sayang , biarkan Tiffany beristirahat dulu. Biar kita bicarakan ini besok saja.” Celetuk Tuan Hwang

“Ne arraso.” Kata Nyonya Kim pelan

“Baiklah, sekarang lebih baik kau masuk ke kamar dan beristirahatlah.” Perintah Nyonya Kim

“Terimakasih oemma atas pengertiannya.” Tiffany kemudian kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Tiffany langsung mengunci pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pajama berwarna pink dengan motif mini polkadot berwarna putih *costumGEETiffanydiSBSGAYODAJEUN2009*, seraya kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

(End Author Pov)

(Jinki Pov)

Aku memasukan mobilku di garasi rumah, seraya kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.

Ku lirik jam tangan yang terpasang di tangan kiriku, pukul 21.30 KST. Ini adalah pertama kalinya aku pulang sebegini larutnya.

Aku berjalan menaiki anak tangga rumahku dengan sedikit mengendap-endap, tapi sayangnya appa mengetahui keberadaanku.

“Kau dari mana saja?” tanya Appa

Aku menoleh dan menatap Appa.

“Mian appa aku tadi habis mengerjakan tugas di rumah temanku.” Ujarku berbohong seraya kembali menunjukan sikap dewasaku di rumah

“Appa dari tadi menunggumu.” Ujar Appa dengan nada sedikit kesal

“Mian appa, aku tidak tahu. Appa ada perlu apa denganku?” tanyaku pada Appa

“Appa mau bicara penting denganmu.”

“Oh.” Aku berjalan menuruni tangga dan menghampiri Appa.

Appa menyuruhku duduk di sofa sepertinya saat ini.

“Appa mau bicara apa?” tanyaku tanpa basa basi

“Begini appa mempuyai seorang sahabat namanya Hwang Jung Dong.” Tutur appa

‘lalu apa hubungannya denganku.’ Batinku

“Lalu?” tanyaku lagi

“Jung Dong memiliki seporang putri namanya, kau tidak perlu tahu yang pasti sekarang umurnya telah mengijak 21 tahun.” Jelas Appa

Aku tercekat, kenapa jadi tersambung pada putri sahabat appa? Apa jangan-jangan appa dan oemma mau… aish… jangan berpikir negatif Jinki berpikirlah positif, ku buang jauh-jauh pikiran negatif yang sempat menghampiriku sejenak tadi.

“Jinki.” Panggil appa yang membuatku tersadar dari lamunanku

“Ye.” Respon ku

“Apa kau dari tadi tak memperhatikan appa bicara huh?” tanya Appa dengan nada sedikit kesal

“Aniya, aku memperhatikan kok, bisa appa lanjutkan?” pintaku

“Yeah, Appa dan sahabat appa itu berniat untuk menjodohkan mu dan putrinya.”

Mendengar perkataan appa barusan mataku mendelik, aku terkejut dengan kata-kata Appa barusan. Oh Tuhan katakan padaku bahwa appa hanya main-main tidak sungguhan.

Aku menaikan alisku “Appa tidak bercandakan?” tanyaku gugup

“Appa tidak bercanda Jinki, lagi pula usiamu sudah cukup dewasa untuk membina sebuah rumah tangga.” Tutur Appa

“Tapi aku sudah punya Yeoja Chingu. Mana mungkin aku meninggalkan yeoja chinguku hanya karena mau dijodohkan oleh putri teman appa.” Ujarku geram

“Jadi kau lebih menyayangi Yeoja Chingumu dari pada Appa dan Oemmamu huh? Kau lebih memilih Yeoja Chingumu dari pada di jodohkan dengan putri sahabat Appa dan Oemma huh?” Perkataanappa barusan benar-benar membuatku terpojok dan kehabisan kata-kata

“Kau bilang, tak ada yang lebih penting dari pada kebahagiaan Appa dan Oemma, Kau bilang akan melakukan apa saja demi Appa dan Oemma, tapi kenyataanya kau…”

“Cukup Appa!” seruku pada Appa

Appa terdiam

“Aku…aku mau di jodohkan dengan putri teman Appa itu.” Kataku akhirnya

Appa tersenyum senang, tapi sebaliknya aku, aku tak menampakan senyum sama sekali.

“Benarkah?” tanya appa tak percaya

“Nde, demi kebahagiaan Appa dan Oemma, aku mau di jodohkan dengan putri teman appa itu.” Appa merangkul pundakku sambil tertawa kecil

‘Kalau appa ngomongnya tidak membuatku terpojok mungkin aku akan menolaknya.” Umpatku dalam hati

“Aku mau masuk ke kamarku dulu Appa, aku mau tidur.” Ujarku seraya berjalan menaiki anak tangga dan berlalu masuk ke dalam kamarku.

Aku melepas hoodie yang ku kenakan dan melepas kaos putih yang tadi kukenakan, membiarkan tubuhku bertelanjang dada. Aku berjalan menuju balkon kamarku dan berdiri di dekat pembatas balkon. Kurasakan angin malam yang berhembus hingga ke bulu romaku, malam ini begitu cerah, bulan bersinar terang begitu juga bintang, tapi kenapa? Di saat bulan dan bintang bersinar begitu cerah aku malah gelisah.

Hemm… aku menarik nafas perlahan dan mengeluarkannya. Di otak ku sekarang hanya ada Ji Yeon, aku tidak tahu bagaimana perasaan Ji Yeon nanti jika aku meninggalkannya?

Tuhan kenapa appa dan oemma berniat menjodohkan aku?

Semuanya membuatku pusing.

Aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu yang menuju balkon kamarku. Ku matikan lampu kamarku dan langsung merebahkan tubuhku di atas kasur.

(End Jinki Pov)

(Author Pov)

23.00 KST

Jong Hyun membuka matanya, entah mengapa malam ini namja tampan itu begitu merindukan kekasihnya. Jong Hyun bangkit dari kasurnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kecil yang terdapat di sebelah kasurnya. Seraya kemudian berjalan menghampiri jendela kamarnya dan bersandar di tepi jendela kamarnya. ‘Lovely Tiffany’ nama itu lah yang terpampang di layar ponsel Jong Hyun, tangan Jong Hyun ingin menekan tombol ok untuk menelpon kekasihnya itu, namun di urungkan niatnya itu. Seraya kemudian memilih untu mengirim pesan terlebih dahulu pada Tiffany baru menelponnya.

Jari-jari Jong Hyun dengan lincah menekan Keypad yang terdapat di ponsel miliknya.

To : Lovely Tiffany

Apa yang kau lakukan sekarang?

Sudah tidurkah?

Aku ingin menelponmu, bolehkan?

Jong Hyun menekan tombol send, da sesaat kemudian muncul sebuah pesan di layar ponselnya yang menandakan pesannya telah terkirim.

Lima detik, sepuluh detik, tiga puluh detik, satu menit, dua menit, lima menit. Tiffany tak kunjung membalas pesan Jong Hyun, membuat Jong Hyun sedikit khawatir.

‘Tidak biasanya.’ Gumam Jong Hyun pelan

Jong Hyun kemudian mencari nama Tiffany di kontak ponselnya dan kemudian menghubunginya.

***

Di Kamar Tiffany…

Gee Gee Gee Gee Baby Baby Baby Gee Gee…

Oh Neomu neomu yeppo mami neomu yeppo cheotneune banhaeso kkok jibeun girl

Suara ponsel Tiffany nyaring berdering, membuat Tiffany terpaksa bangun, Tiffany mencari-cari ponselnya yang terdapat di atas kasur, setelah ia menemukan ponselnya Tiffany kemudian menerima telpon dari orang yang menghubunginya.

“Yeobseyo.” Sapa Tiffany dengan nada seperti orang yang masih mengantuk

“Kau sedang apa?” tanya Jong Hyun dari sebrang sana

“Kau siapa?” tanya Tiffany

“Aku Jong Hyun, apa kau lupa.”

Tiffany membuka matanya lebar-lebar saat ia tahu siapa manusia yang menelponnya saat ia sedang asyik tidur “Oh… Mianhae, aku benar-benar tidak tahu.” Ujar Tiffany seraya kemudian duduk di tempat tidurnya

“Gwenchana, kau sedang apa?”

“Aku baru saja bangun tidur.”

“Kau tadi tidur?”

“Yeah, tapi saat mendengar telpon aku langsung bangun.”

“Oh begitu, lebih baik kau tidur saja lagi. Aku tidak mau mengganggu waktu tidurmu.”

“Ah tidak-tidak , kau tidak menggangguku. Lagi pula aku tidak ngantuk… hoam..” Ujar Tiffany berbohong

Tapi Jong Hyun tidak dapat di bohongi, ia sempat mendengar suara Tiffany menguap barusan.

“Sudahlah, kau jangan berbohong. Lebih baik kau tidur sekarang.” Pinta Jong Hyun

“Baiklah, kau juga tidur ya.” Ujar Tiffany

“Ya, aku pasti tidur.,” ujar Jong Hyun

“Ok… Jong Hyun~ah.”

“Wae?”

“Give me kiss hhe :D .” canda Tiffany

“Besok ya.”

“Tidak usah aku hanya bercanda hha.” Tiffany tertawa kecil

“Aku akan memberikannya sungguhan besok.” Ujar Jong Hyun yang membuat Tiffany bergidik ngeri

“Tidak usah, sudah ya aku mau tidur dulu. Annyeong.” Tiffany mengakhiri hubungan telponnya seraya kemudian menaruh ponselnya di meja dan kembali tidur, namun kali ini tidurnya di bayangi oleh bayang-bayang wajah Jong Hyun.

***

Jong Hyun menutup flip ponselnya, hatinya sudah merasa cukup lega setelah mendengar suara Tiffany meski hanya melalui telpon, baginya itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya.

Jong Hyun tertawa kecil mendengar suara Tiffany yang seperti orang ketakutan saat ia bilang akan menciumnya sungguhan. Padahal dia hanya mengerjai Tiffany.

Jong Hyun membuka gorden jendelanya, di lihatnya bulan dan bintang yang tengah menerangi bumi di malam hari ini dengan sinar mereka yang begitu terang.

“Tiffany adalah bulan, sedangkan aku adalah bintang.” Gumam Jong Hyun tanpa sadar seraya kemudian tersenyum kecil saat melihat ada salah satu bintang yang benar-benar berada di dekat bulan.

“Itu aku.” Cetusnya seraya menunjuk pada bintag itu.

Jong Hyun tersenyum kecil seraya kemudian menutup jendela dan gorden kamarnya. Namja tampan itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba tidur dengan di temani bayang-bayang wajah Tiffany agar rasa rindunya bisa sedikit terobati.

***

04.00 KST

Matahari belum menunjukan sinarnya, namun Tiffany sudah bangun. Hari ini Tiffany bangun lebih awal dari seekor ayam jantan.

Tiffany masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah 25 menit berada di dalam kamar mandi Tiffany keluar dengan mengenakan bathrobe pink bermotif kelinci kesayangannya seraya kemudian keluar menuju balkon kamarnya.

“Segarnya!” ujarnya sambil merentagkan kedua tangannya

Di hirupnya dalam-dalam udara segar di pagi hari ini, matanya memandang rumah-rumah penduduk yang nampak dari balkon kamarnya.

Dapat juga di lihat jalanan Seoul yang masih ramai, maklum saja Seoul adalah ibu kota Korea Selatan dan salah satu kota metro politan, jadi wajar jika jalanan Seoul di jam sepagi ini masih ramai.

Setelah sekitar sepuluh menit Tiffany menikmati semilir angin dan pemandangan Seoul lewat balkon kamarnya, akhirnya Tiffany memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju.

Hari ini Tiffany berdandan cukup casual, Yeoja manis itu hanya menggunaka blouse berwarna pink dan dengan celana jeans yang tidak begitu ketat sehingga tak menampakkan lekuk tubuhnya yang sexy. Seraya kemudian menguncir kuda rambutnya dan sedikit mempoles wajahnya dengan alat make up miliknya.

Setelah selesai berdandan, Tiffany kemudian mengambil ponselnya dan memainkan jarinya dengan lincah di atas keypad ponselnya .

To : Lovely Jong Hyun

Annyeong, bagaimana? Apa kau mimpi indah semalam?

Kuharap kau bermimpi indah

Dan sudahkah kau bangun di pagi hari ini?

Ku harap sudah agar aku dapat mengucapkan

Good Morning Baby hhe :D

Tiffany menekan tombol send, dan tak berapa lama kemudian pesan nya pun terkirim pada Jong Hyun.

Tak lekang beberapa lama akhirnya Tiffany menerima balasan dari Jong Hyun

From : Lovely Jong Hyun

Yeah, tadi malam aku mimpi sangat indah.

Aku bermimpi hidup bahagia dengan seorang putri cantik bernama Tiffany.

Dan kurasa aku sudah bangun, bahkan lebih dulu dari mu hhe :D .

Morning Too :*

Tiffany tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Jong Hyun, merasa tak puas hanya bicara lewat pesan Tiffany pun menelpon Jong Hyun.

“Yeobseyo.” Sapa Jong Hyun

“Bogoshipo.” Ujar Tiffany

“Na Do bogishipo…”

“Kau sudah mandi?”

“Sudah, bagaimana denganmu? Apa kau sudah mandi?”

“Tentu saja sudah, sebentar lagi aku mau berangkat ke kampus.”

“Oh begitu ya, apa kau sudah sarapan?”

“Belum, aku masih di kamar dan belum sempat keluar.”

“Cepat sarapan.” Perintah Jong Hyun

“Iya… iya. Tapi memangnya kau sudah sarapan?”

“Aku sudah sarapan, sekarang aku tengah memanaskan mobilku.”

Terdengar suara raungan mobil Jong Hyun

“Oh begitu, ya sudah aku mau turun ke bawah dulu. Tunggu aku di kampus ya.”

“Ok…”

“Tiffany…”

“Eum?”

“Saranghae.”

Tiffany tersenyum kecil

“Na do saranghae.” Seraya kemudian mengakhiri percakapannya di telpon dengan Jong Hyun.

Tiffany memasukan ponselnya ke dalam tasnya seraya kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.

***

Di rumah Jinki

“Hyung! Bangun!!” seru Taemin seraya mengguncang-guncangkan tubuh Jinki

“Ya! Taemin, aku masih nagntuk.” Racau Jinki

“Hyung!! Ayolah bangun! Ini sudah siang, apa kau tidak kuliah?”

“Kau ini.” Jinki beranjak dari kasrunya dan meraih handuk yang terdapat di belakang pintunya seraya kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.

Taemin hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Hyungnya itu

“Hyung… hyung.” Gumamnya seraya kemudian keluar dari kamar Jinki.

***

“Apa Jinki sudah bangun?” tanya Tuan Lee

“Jinki hyung sudah bangun appa, sekarang dia tengah mandi.” Balas Taemin seraya duduk di samping Eun Ji adiknya

“Eun Ji habiskan sarapanmu.” Ujar Nyonya Goo pada Eun Ji

Eun Ji hanya mengangguk pelan seraya kemudian memakan nasi gorengnya dengan lahap.

Sesaat kemudian Jinki nampak menuruni anak tangga, seraya kemudian menghampiri Kedua orang tuanya dan kedua adiknya di ruang makan.

“Pagi semua.” Sapa Jinki lemas seraya menarik kursinya dan duduk di samping Nyonya Goo

“Pagi.” Jawab Tuan Lee

“Kau kenapa Jinki?” tanya Nyonya Goo cemas

“Tak apa oemma, hanya sedikit lelah.” Ujar Jinki

“Oh, kalau begitu kau habiskan nasi gorengmu biar kau kembali vit.” Pinta Oemma

“Baik oemma.” Jinki kemudian muali menyuapakan sendok berisi nasi goreng itu ke mulutnya.

Suasana di ruang makan itu pun menjadi hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu saja.

***

Tiffany menyuapkan potongan roti terakhirnya ke dalam mulutnya seraya kemudian menyeruput segelas air putih yang memang di sediakan untuknya, di liriknya jam tangannya sekilas seraya kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya.

“Appa oemma aku berangkat dulu ya.” Pamitnya

“Tiffany, kami mau bicara penting padamu.” Cetus Nyonya Kim

“Nanti malam saja ya oemma, aku harus berangkat.” Tiffany mencium kedua pipi Nyonya Kim

“Tapi…”

“Oemma, kita masih punya nanti malam untuk bicara dengan Tiffany, sekarang Tiffany harus berangkat kuliah.” Ujar Tuan Hwang yang langsung membuat Nyonya Kim mendengus kesal

“Terimakasih appa atas pengertiannya.” Tiffany mencium kedua pipi Tuan Hwang

“Fany.”

“Ye appa?”

“Nanti malam jangan pulang lebih dari jam tujuh.”

Tiffany mengerutkan keningnya, tidak biasanya appanya menyuruhnya pulang cepat.

Tiffany mengangguk karena mungkin yang ingin di bicarakan oleh kedua orang tuanya memang benar-benar penting.

“Baik appa. Kalau begitu aku berangkat dulu ya.” Tiffany kemudian berjalan meninggalkan appa dan oemmanya yang masih duduk di meja makan.

“Kau itu selalu saja menunda-nunda.” Nyonya Kim mendecak kesal

“Sudahlah, toh kita masih memiliki banyak waktu untuk bicara dengan Tiffany.” Tuan Hwang melanjutkan makannya.

***

Tiffany berjalan menuju lapangan basket dengan terburu-buru, namun lagi-lagi high heels yang di pakainya membuatnya harus sedikit tersendat-sendat. Dan lagi-lagi ia harus menabrak seseorang saat tengah berjalan.

Bruk

Tiffany jatuh dengan posisi duduk lagi.

“Aigo… mianhaeyo.” Ujar Ji Yeon meminta maaf

“Ah ne gwenchanayo… harusnya aku yang meminta maaf karena tak melihat ke depan.” Ujar Tiffany balik meminta maaf

Ji Yeon mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Tiffany berdiri dan dengan senang hati Tiffany menerima uluran tangan Ji Yeon.

“Gomawo.” Ujar Tiffany berterimakasih, di lihatnya wajah Ji Yeon seksama, dan barulah ia sadar bahwa gadis yang menabraknya barusan (Ji Yeon) adalah yeoja yang kemarin bersama Jinki.

‘inikan yeoja yang kemarin bersama Jinki.’ Batin Tiffany

“Sekali lagi aku minta maaf.” Ujar Ji Yeon merasa bersalah seraya membungkuk kan badannya Berkali-kali, Tiffany menahan tubuh Ji Yeon yang hendak membungkuk lagi.

“Aigo… kau tidak perlu membungkukkan badan, aku bukan siapa-siapa. Lagi pula aku juga salah.” Ujar Tiffany

Ji Yeon tersenyum manis.

“Kenalkan aku Tiffany.” Tiffany mengulurkan tangannya

“Park Ji Yeon, kau bisa memanggilku Ji Yeon.” Ujar Ji Yeon seraya menjabat tangan Tiffany

“Nice To Know You.”

“Me Too.”

“Kalau begitu aku ke sana dulu ya, see you.” Tiffany berjalan meninggalkan Ji Yeon

“Yeah see you too.” Ujar Ji Yeon seraya kembali melanjutkan langkahnya.

***

“Hai.” Tiffany menghampiri Jong Hyun yang tengah duduk sendiri di bangku panjang yang terdapat di pinggir lapangan basket, seraya kemudian duduk di samping Jong Hyun

Jong Hyun mendongak dan melihat ke samping kirinya “Hai.” Jawab Jong Hyun

“Kau tumben sendirian duduk di sini.” Ujar Tiffany

“Yang lain belum datang, dari tadi aku latihan sendiri.” Tutur Jong Hyun.

Tiffany melihat Jong Hyun dari atas sampai bawah, di lihatnya tubuh Jong Hyun yang bermandikan keringat.

“pantas saja kau seperti orang mandi.” Celetuk Tiffany

Jong Hyun hanya nyengir mendengar perkataan Tiffany barusan

“Kau masih mau di sini?” tanya Tiffany

“Yeah, aku harus menunggu teman-temanku yang lain.” Jawab Jong Hyun

“Oh begitu, aku temani ya.” Tawar Tiffany

“Tidak usah lebih baik sekarang kau kembali ke kelasmu. Jangan sampai kau di hukum seperti kemaren.”

“Oh baiklah.” Tiffany kemudian beranjak dari bangku panjang itu, namun tiba-tiba tangan Jong Hyun menahannya.

Tiffany menoleh ke belakang dan Jong Hyun menarik tangannya, membuat wajah Tiffany dan Jong Hyun dekat, dan memudahkan Jong Hyun untuk merengkuh bibir pink mungil milik Tiffany. Dapat dirasakan oleh Jong Hyun bibir Tiffany yang berasa strawberry.

Jong Hyun melepaskan ciumannya dengan malu-malu, ingin rasanya ia tertawa melihat wajah Tiffany yang berwarna merah padam karena malu.

“kau…” pekik Tiffany

“Haha…” Jong Hyun tertawa

Tiffany memanyunkan bibirnya “Kenapa kau mendadak begitu sih, ini tempat umum tau.” Gerutu Tiffany

“Aku hanya ingin menepati janjiku.” Celetuk Jong Hyun

“Dasar.” Umpat Tiffany

“Aku ke kelasku dulu ya. Bye.” Tiffany melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Jong Hyun yang masih tertawa.

***

Jinki berjalan di koridor kampusnya, dari jauh dapat di lihat oleh matanya, Ji Yeon yang tengah berdiri di memperhatikan sesuatu di depan mading.

Jinki berjalan menghampiri Ji Yeon dan mengejutkannya.

“Dddddoooorrrr…!!:” seru Jinki yang langsung membuat Ji Yeon tersentak kaget.

“Ya! Inki! Kau ini.” Gerutu Ji Yeon seraya berbalik menatap Jinki

“Hehe..”

“Tidak lucu.” Ujar Ji Yeon ketus

“Begitu saja marah.” Cetus Jinki

“Aku tidak marah.”

“Lalu apa namanya kalau bukan marah?”

“Kesal.”

“Oh begitu ya.”

“…” Ji Yeon tak menyahut

“Berapa menit lagi kau ke kelas?”

Ji Yeon melirik jam tangannya

“Aku harus kembali ke kelas. See You.” Ujar Ji Yeon seraya hendak berbalik dan meninggalkan Jinki

“Ji Yeon~ah, Jinki memegang pergelangan tangan Ji Yeon.”

“Wae?” tanya Ji Yeon

“Popo.”

“Mwo?? Popo? Shiro.” Tolak Ji Yeon

“Ayolah, di pipi saja.” Pinta Jinki

“Ya! Ini di kampus, aku tidak mau menciummu.” Ujar Ji Yeon kesal

“Ayolah~ please.” Pinta Jinki

“Shiro.” Tolak Ji Yeon

“Kalau kau tidak mau biar aku saja yang menciummu.”

Mendengar kata-kata Jinki, Ji Yeon langsung mendelik tapi seolah tidak takut dengan tatapan Ji Yeon, Jinki tetap mencium pipi Ji Yeon yang langsung membuat pipi Ji Yeon merona merah.

“Bye… hhe…” Jinki tertawa lalu berlari meninggalkan Ji Yeon yang masih terpaku di tempatnya.

“Kau…” pekik Ji Yeon saat ia sudah sadar, Ji Yeon hanya menggelengkan kepalanya seraya kemudian berjalan kembali ke kelasnya.

***

08.30 KST

Tiffany duduk di bangkunya dengan nyaman, sambil menunggu dosennya datang, Tiffany menyetel musik melalui ipodnya.

Tiffany menelungkupkan wajahnya di meja dan mulai terbang bersama seluruh nyawanya ke alam mimpi.

Tapi baru beberapa saat Tiffany tertidur sebuah suara membuatnya harus bangun.

“Fany~ah ireona.” Pekik Tae Yeon seraya mengguncang-guncangkan tubuh Tiffany.

“Ah…aku masih mau tidur Tae Yeon~ah.” Racaunya

“Pak Jae Won sudah datang apa kau masih mau tidur?” tanya Tae Yeon dengan suara yang sangat pelan seperti setengah berbisik

“Mwo…!!!” Tiffany buru-buru melepas headset yang terpasang di kedua telinganya dan buru-buru memperhatikan pak Jae Won di depan kelas.

Setelah sekitar 25 menit Pak Jae Won menjelaskan tiba-tiba Jinki mengetuk pintu, dan saat pak Jae Won melihat wajah Jinki, Pak Jae Won hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan lagi-lagi harus marah-marah.

Melihat Jinki yang habis-habisan di ceramahi oleh Pak Jae Won, karena dia sering terlambat Tiffany langsung tertawa terbahak-bahak, membuat seluruh mata yang ada di situ melihat kepadanya tak terkecuali Jinki dan Pak Jae Won.

“Tiffany!!!!!!!!!!!!!!!” Seru Pak Jae Won geram

Tiffany langsung diam dan langsung terdiam di bangkunya

Melihat ekspresi Tiffany yang seperti tersengat arus listrik, kini giliran Jinki yang tertawa terbahak-bahak. Membuat Pak Jae Won bertambah Marah.

“Lee Jinki!!! Tiffany Hwang!!”

Ever since I fell in love, I can only see you
my heart is beating so fast

Hug me deep against your chest, while walking on the sidewalk, lbe sure to kiss me
To throw little tantrums on purpose, and to put on a cute act

To know your heart by the look of your eyes, to stay close together even when it’s hot
To link arms tight while walking, and infront of your house, give you a sweet kiss

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU
CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

If i don’t see you even for one day, I want to give you a kiss
I want to kiss, the sweet you
’til you can’t breathe and are about to burst,
I’ll hug you
Until the end of time,
I’ll love you

even when i see sexy women, i’ll look straight ahead and keep walking
Late at night, i call you. I love you, I tell you countless times

CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU
CAUSE I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

If i don’t see you even for one day, I want to give you a kiss
I want to kiss, the sweet you
’til you can’t breathe and are about to burst,
I’ll hug you
Until the end of time,
I’ll love you

After meeting you, each day is exciting,
after meeting you, each day my heart greets with flutters
after meeting you, each day grows shorter
after meeting you, each day’s end leaves me wistful
after meeting you, each day is mild and soft
after meeting you, each day is filled with happiness
after meeting you, I became a princess and,
after meeting you, I’m a happy girl

I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU
I LOVE YOU, CAUSE I NEED YOU

Tbc~

Advertisements

One response to “We Got Married (Part 2)

  1. kayaknya memang benar2 berjodoh deh. apa yang mereka lakukan sering samanya. itu tiffany sudah suka ya ma jinki? trus jinkinya gimana? lanjut ya

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s