Because I’m A Woman (1/2)

Because I‘m A Woman”

Written By Devi Hardiyanti

Poster Belong to Cute Pixie @ pinkhive.wordpress.com

“Ya gadis bodoh! Kenapa disini tidak ada makanan sama sekali huh?!” Jonghyun membentak Sunhye yang kini tengah berdiri ketakutan di hadapannya seraya menjambak rambut Sunhye yang ikal dengan kuat.

“Persediaan makanan di kulkas sudah habis dan aku ti..tidak bisa ke supermarket karena pintu rumah kau kunci Jjong.” suara Sunhye terdengar lirih dan ketakutan. Ia berbicara sambil sesekali menutup mata dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.

“Ah, sialan!! Kenapa kau tidak mengatakannya sebelum aku pergi huh?” bentak Jonghyun tepat di telinga Sunhye, membuat gadis itu berjengit kaget.

“Kau selalu meninggalkanku sebelum aku selesai berbicara.” ucap Sunhye terisak

“Tch!! Dasar wanita tidak berguna!” ujar Jonghyun seraya memebenturkan kepala Sunhye ke dinding.

Sakit, itulah yang dirasakan Sunhye ketika kepalanya dibenturkan oleh Jonghyun ke dinding. Pada saat itu juga ia merasakan adanya darah segar yang mengalir keluar dan kepalanya terasa sangat pusing sekarang. Ia ingin berteriak meminta pertolongan, namun ia tahu semua itu percuma. Itu tak akan pernah menyelamatkannya dari kekejaman Jonghyun namun justru akan segera mengantarnya ke alam baka. Yang dapat ia lakukan sekarang hanya menangis dalam diam sambil menahan rasa sakitnya.

Jonghyun berdiri dan hendak meninggalkan dirinya sendirian lagi. Sunhye merasa lelah menerima perlakuan buruk Jonghyun terhadapnya, ingin rasanya ia menghalangi Jonghyun dan memohon pada Jonghyun untuk melepaskannya namun ia tak sanggup, ia terlalu takut untuk melakukan itu. Sekarang ia hanya dapat memandangi punggung Jonghyun yang berjalan menjauh dengan sedih.

“Jonghyun~a…”

Jonghyun berhenti dan berbalik memandang Sunhye yang tengah terduduk di atas lantai sambil menahan rasa sakitnya.

“Apa?” suara itu terdengar sangat dingin di telinga Sunhye.

“Kau mau kemana lagi? Jangan pergi, ku mohon.” Gadis itu kali ini benar-benar terlihat menyedihkan , ia memohon pada seorang Kim Jonghyun yang jelas-jelas tak mempedulikannya.

Jonghyun menghela nafas pelan dan tak menjawab pertanyaan Sunhye, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.

Sunhye berusaha berdiri untuk menahannya. Namun belum sempat ia mengejar Jonghyun, pintu rumah sudah tertutup dan terkunci kembali.

Sunhye terduduk lemas dan mulai menangis.

“Jonghyun~a, jangan pergi! buka pintunya! Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Aku mohon…” gadis itu meronta.

Batinnya pastilah tersiksa. Sejak ia menikah dengan seorang Kim Jonghyun, hidupnya berubah total. Ia kira Jonghyun akan mencintainya dan memperlakukannya dengan baik, namun kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang ia bayangkan. Selama ini Jonghyun tidak pernah mencintainya, menyayanginya, bahkan memperlakukannya dengan baikpun tidak tapi Jonghyun justru selalu menyiksanya, mencemooh dan melukai hatinya.

Well, Sunhye pun sadar bahwa seharusnya waktu itu ia menolak perjodohan itu. Seharusnya pada saat pertama kali bertemu dengan Jonghyun ia tak boleh terpesona. Tapi Sunhye juga sadar bahwa penyesalannya sekarang ini tidak ada gunanya. Ia sudah menikah dengan Jonghyun dan itu berati ia harus menjalani kehidupan pernikahan seperti yang diinginkan Jonghyun, bukan seperti kehidupan pernikahan yang ia bayangkan selama ini.

Tiba-tiba Sunhye teringat akan Ibunya, biasanya jika ia sedang sedih ia akan menceritakan segala keluh kesahnya pada ibunya tapi sekarang tak ada Ibu yang bisa ia jadikan tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah yang ada di hatinya. Ia ingin menghubungi ibunya sekarang dan menceritakan semua perlakuan buruk Jonghyun terhadapnya, tapi ia sudah tak memiliki handphone. Semua alat komunikasi di simpan Jonghyun di dalam kamarnya agar Sunhye tak dapat menggunakannya.

Sunhye akhirnya berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan lesu. Ia berdiri di depan cermin yang ada di kamar dan mulai menatap bayangan wajahnya di cermin. Darah, banyak darh kering di dahinya saat ini. Sunhye tersenyum kecut melihat keadaan wajahnya yang begitu berantakan. Dulu wajahnya begitu mulus tapi kini penuh dengan luka dan lebam di setiap permukaan kulit wajahnya. Ia menghidupkan wastafel dan mulai mencuci mukanya sembari membersihkan bekas darah kering yang ada di wajahnya.

***

Kim Jonghyun, lelaki itu nampak fokus mengendarai mobilnya. Namun siapa sangka, di balik wajahnya yang terlihat fokus berkendara ternyata ada sesuatu yang tengah di pikirkannya. Ia teringat dengan suara-suara Sunhye yang begitu memohon dan juga wajah penuh luka serta darah Sunhye. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa sangat berdosa telah melukai seorang perempuan yang sesungguhnya tak memiliki dosa padanya.

Sungguh, ia sendiri mengutuk dirinya yang selalu menyakiti Sunhye namun ia juga tak dapat memungkiri bahwa sikapnya adalah bentuk pelampiasan karena belum bisa menerima Sunhye sebagai istrinya. Pernah ia mencoba untuk menerima Sunhye tapi ia tak bisa. Ia juga tak tahu mengapa bisa begitu, namun yang jelas setiap ia berada di dekat Sunhye ia selalu merasa harus membenci perempuan itu.

Jonghyun menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Se Kyung. Ia keluar dari mobil dan segera berlari pada pintu rumah Sekyung. Dan belum sempat ia mengetuk pintu, Sekung sudah membukakan pintu itu terlebih dulu untuknya.

“Jonghyun~a! Aku merindukanmu!” Sekyung memeluk Jonghyun dengan erat, merasa begitu senang karena Jonghyun-nya telah datang.

Jonghyun tersenyum dan membalas pelukan Sekyung “Aku juga merindukanmu baby~

Sekyung melepas pelukannya dan menatap Jonghyun penuh cinta sebelum akhirnya menarik Jonghyun untuk masuk ke dalam rumahnya.

***

Saat ini Jonghyun dan Sekyung tengah duduk di sofa sambil menonton televisi. Kedunya terlihat begitu mesra dengan Sekyung yang tidur di atas paha Jonghyun.

“Jonghyun~a…” panggil Sekyung manja saat Jonghyun tengah asyik menonton siaran televisi.

“Apa?” tanya Jonghyun seraya menunduk menatap Sekyung yang saat ini tengah memainkan kancing bajunya.

“Kapan kau akan menceraikan perempuan itu?” tanya Sekyung.

Jonghyun menaikkan sebelah alisnya “Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”

“Aku hanya ingin kepastian.” Jawab Sekyung.

“Uh?” Jonghyun tersentak, mencoba mencerna pernyataan Sekyung barusan.

Sekyung beranjak dan sekarang hanya duduk di samping Jonghyun sambil menatap lelaki itu dalam.

Well, perempuan mana yang mau terus menerus di jadikan simpanan oleh suami dari wanita lain.” lirih Sekyung.

“Kau bukan simpanan Sekyung~ah, kau kekasihku.” tegas Jonghyun

“Tidak Jjong, aku bukan kekasihmu lagi tapi aku simpananmu Jjong. Itulah kenyataannya sekarang.” Suara Sekyung terdengar parau sekarang. Dan ucapan Sekyung barusan mampu membuat Jonghyun diam seribu bahasa.

“Jadi kapan? Kapan kau akan menceraikannya?” tanya Sekyung.

Jonghyun masih diam dan tak merespon.

“Jonghyun~a.” rengek Sekyung meminta jawaban.

“Sekyung~ah… Ku mohon jangan menyakan itu dulu sekarang!” gertak Jonghyun

Raut wajah Sekyung berubah kesal dan marah, ia menunduk kecewa.

“Kau mulai menyukainya, kau mencintainya.” ucap Sekyung sakartik.

“Tidak.” Tegas Jonghyun.

“Kau mulai menyukainya, hanya saja kau kurang peka.” desis Sekyung

“Kau mencintainya dan kau tidak mencintaiku, iyakan?”

“Aku bilang, aku tidak!” Jonghyun berkata penuh penekanan. Ia menarik nafasnya sebentar sebelum kemudian kembali berbicara. “Jika aku mencintainya aku tidak mungkin memilih untuk bersamamu sekarang!” pekik Jonghyun.

“Tapi kau…”

“Baiklah, aku akan menceraikannya.” ucap Jonghyun memotong.

“Sungguh? Kapan?” Sekyung tiba-tiba menjadi sangat senang dan menunjukkan raut wajah bahagia.

“Secepatnya.”

Terima kasih Jjong. Saranghaeyo” ucap Sekyung seraya mengecup pipi kiri Jonghyun.
***

Tok…tok…tok…

Sunhye membuka matanya ketika ia mendengar suara ketukan pintu. Ia melirik pada jarum jam yang menunjukkan pukul setengah satu siang. Sunhye tiba-tiba menyadari bahwa yang datang kerumahnya pasti bukanlah Jonghyun, mengingat Jonghyunlah yang membawa kunci pintu rumah mereka.

“Siapa?!” teriak Sunhye seraya beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu rumahnya.

“Sunhye~ah, ini aku Kibum!” jawab Kibum diluar sana.

Mata Sunhye membelalak, ia merasa begitu senang karena akhirnya ada seorang teman yang datang ke rumahnya dan mungkin akan menjadi malaikat penolongnya.

“Kau sungguh Kibum?!” tanya Sunhye haru

“Iya Sunhye, aku Kibum!” jawab Kibum meyakinkan.

“Kibum~a! Tolong bukakan pintu rumah ini! tolong aku! Ku mohon tolong aku!”

“Ada apa memangnya Sunhye? apakah pintunya terkunci? Jonghyun kemana?”

“Tidak, tidak! sekarang kau bukakan pintunya saja, cepat ! Aku mohon!” teriak Sunhye.

“Baiklah, kau menjauhlah dari pintu!” seru Kibum sambil mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu.

“Kau sudah jauh dari pintu kan?!” tanya Kibum.

“Iya sudah.” balas Sunhye

Dan…

Brakkkkk!! Pintu rumah itupun akhirnya terbuka.

“Sunhye~ah?” Kibum berjalan masuk dan mencari sosok Sunhye didalam. Kibum tertegun saat akhirnya ia menemukan sosok Sunhye yang tengah duduk sambil memeluk tubuhnya ketakutan.

“Sunhye~ah, kau tak apa kan?” Kibum berjongkok di depan Sunhye dan mencoba melihat keadaannya lebih dekat.

Sunhye tiba-tiba mendongak dan memeluknya erat. Ia menangis sejadinya.”Kau terlihat begitu menyedihkan, kau kenapa?” tanya Kibum khawatir.
“Aku… aku.. ahhh…bawa aku pergi dari sini Kibum~a, ku mohon.” pinta Sunhye memelas.Kibum mengangguk seraya kemudian membawa Sunhye pergi dari rumahnya.***Kibum membawa Sunhye pulang ke rumah kedua orang tua Sunhye. Dan di dalam mobil ia terus saja menanyakan sesuatu pada Sunhye tanpa henti, well ia nampak seperti seorang detektif sekarang.”Jadi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kibum menyelidik.”Kenapa tubuhmu bisa jadi seperti ini?” tanya Kibum lagi “Kau terlihat menyedihkan.”

“Ia menyiksaku Kibum~a.”

“What? Jonghyun menyiksamu?” tanya Kibum kaget.

Sunhye mengangguk mengiyakan.

“Sekejam inikah perlakuannya? apa ia tidak sadar bahwa ia telah menyiksa istrinya sendiri selama ini?”

“Itu wajar Key, ia melakukan itu karena ia tak mencintaiku.”

“Kau bilang itu wajar Sunhye? Hey! itu perbuatan tidak manusiawi , lagi pula kenapa dia menikahimu bila dia tak mencintaimu? Kenapa juga dia harus menyiksamu? Jika dia tidak menginginkanmu lebih baik dia menceraikanmu kan dari pada menyiksamu begini.” ucap Kibum panjang lebar.

“Sudahlah Key, semuanya sudah terjadi.”

“Tapi ini kekerasan Sunhye.” Tegas Kibum “Ini tak bisa diterima.” hardiknya.

“Sudahlah, aku sudah memaafkannya Kibum.”

“Kau benar-benar perempuan yang sabar, aku kagum padamu Sunhye~ah.” puji Kibum tulus.

Sunhye tersenyum seraya mengalihkan pandangannya keluar jendela.

***

Mobil hitam mengkilap itu berhenti di depan sebuah rumah mewah , rumah yang tak lain adalah rumah milik keluarga Sunhye. Kibum dan Sunhye turun dari dalam mobil dan kemudian berjalan memasuki rumah itu.

Pintu rumah terbuka sesaat setelah Kibum menakan bel. Dan Ibu Sunhye kaget bukan main melihat putri semata wayangnya berdiri dihadapannya dengan keadaan yang begitu berantakan.

“Sunhye~ah! Kau kenapa ?! apa yang terjadi padamu nak?!” Nyonya Kim memeluk Sunhye erat, sedih melihat keadaan anaknya saat ini.

“Mana Jonghyun?” tanya Tuan Park pada Sunhye yang masih menangis dalam pelukan nyonya Kim.

“Aku tak tahu ayah.” jawab Sunhye terisak.

“Ada apa denganmu? kenapa kau bisa seperti ini?” tanya tuan Park kaget.

“Ini semua ulah Jonghyun paman.” jawab Kibum

“Kenapa kau bisa ada disini Kibum~a?” tanya Tuan Kim

“Dia yang menolongku ayah, Dia yang menyelamatkanku.”

“Sebenarnya apa yang terjadi Sunhye?”

“Jonghyun tak mencintaiku, ia selalu menyakitiku Ibu.” Sunhye menangis sejadinya, perasaannya saat ini terasa begitu sakit.

“Apa?! Berani sekali dia melakukan itu padamu! Apakah ia tak tahu bahwa aku memberikan kepercayaan yang besar padanya?! Kau harus berpisah dengannya, ayah tak sudi melihatmu begini hanya karena Kim Jonghyun!”

“Astaga Sunhye, ibu tak tahu bahwa kau akan jadi seperti ini. Apakah luka-luka ini juga karena Jonghyun?” tanya nyonya Kim dan Sunhye hanya mengangguk, membuat nyonya Kim menangis dan memeluknya erat.

“Maafkan ibu, ibu tak bisa menjagamu dengan baik Sunhye

“Ini memang benar-benar keterlaluan, kau harus berpisah dengannya! Akan ayah uruskan perceraian kalian, kau segeralah masuk sekarang!” Tuan Kim kemudian berjalan masuk ke rumahnya dengan kesal.

Sunhye kemudian berjalan masuk ke rumah dengan di tuntun Ibunya dan Kibum.

***

Jonghyun termenung memandangi frame foto pernikahannya dengan Sunhye.

Well semenjak Sunhye meninggalkan rumah ini, ia merasa sangat kesepian dan kehilangan. Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia menyesal telah menyiksa dan menyia-nyiakan perempuan itu. Ia merasa sangat bersalah dan merasa sangat terkutuk, terlebih ketika ayah dan ibunya memakinya karena melakukan perbuatan tak manusiawi pada Sunhye. Ia mulai menangis dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Sekyung benar, bahwa ia tak mencintai Sekyung lagi tapi ia mulai mencintai Sunhye. Tapi tetap saja, Jonghyun tak bisa meninggalkan Sekyung. Ia harus selalu berada di sisi Sekyung sekarang.

“Kau menangis Jjong?” tanya Sekyung yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah Jonghyun.

Jonghyun menoleh dan menggeleng pelan “Tidak, ini karena kelilipan.” elaknya

“Sungguh?” tanya Sekyung seraya meletakan tasnya di atas meja dan duduk di samping Jonghyun. Ia memegang bahu Jonghyun dan menarik tubuh itu mendekat. “Biar aku liat.” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Jonghyun dan tiba-tiba…

Tok…tok…tok…

Jonghyun segera menjauhkan wajahnya dan beranjak keluar.

“Siapa sih?” gerutu Sekyung

“Aku tak tahu.” kata Jonghyun sambil membukakan pintu rumahnya.

Jonghyun membelalakan matanya ketika ia menangkap sosok Sunhye dihadapannya. Saat itu ia ingin langsung memeluk Sunhye tapi tentu saja ia tak bisa karena ia harus menjaga perasaan Sekyung. Sungguh ia berharap Sunhye mau kembali padanya.

“Mau apa kau kesini?” tanya Sekyung sinis , sambil berjalan mendekat.

“Kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan Jonghyun sebentar, bisakah ?”

“Kau tidak boleh bicara dengan Jonghyunku.” tolak sekyung dengan sedikit penekanan.

“Sekyung~ah, lebih baik kau ke atas sekarang.” perintah Jonghyun

“Aku tidak mau!” ujar Sekyung enggan.

“Cepatlah naik ke atas Sekyung~ah!” kata Jonghyun memaksa.

“Tapi…”

“Kalau aku bilang naik maka kau harus naik sekarang.” hardik Jonghyun yang membuat Sekyung mau tak mau harus menurut dan segera naik ke atas.

“Masuklah.” ucap Jonghyun

“Tidak, disini saja. Aku tak lama.” balas Sunhye

“Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Jonghyun dingin, seakan tak peduli.

Sunhye membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop besar berwarna coklat. “Ini…” Ucapnya sambil menyerahkan amplop itu pada Sunhye.

“Apa ini?” tanya Jonghyun herat.

“Itu berisi surat-surat perceraian kita, kau cukup membubuhkan tanda tanganmu dan membirakannya padaku.” Jelas Sunhye.

“Kau tidak bercandakan?” tanya Jonghyun tak percaya.

“Tidak, lagi pula bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu.” Ujar Sun Hye

“Tapi…”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jika kau sudah memberikan tanda tanganmu,hubungi aku segera. Sampai Jumpa.” Sunhye pamit dan segera pergi meninggalkan Jonghyun sendirian di depan pintu.

Jonghyun terduduk lemas dan ia hanya bisa merutuki kebodohannya selama ini. Begitu bodoh karena harus menyia-nyiakan seorang Park Sunhye.

To Be Continued.

BIAW Remake @ 2013

Advertisements

Reply ^____^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s